Mewaspadai Maraknya Penculikan Anak


Dimuat di surat kabar Forum Indonesia Baru, 13 Februari 2012.

Penculikan anak kembali ramai diperbincangkan. Kasus yang terbaru di Jakarta adalah Jovan, batita 1,5 tahun diculik saat akan dimandikan ibunya. Hanya beberapa menit ditinggalkan di ruang depan rumahnya karena si ibu sedang menyiapkan seember air untuk memandikan Jovan. Kembali ke depan, Jovan sudah raib entah kemana. Dicari ke sekitar rumah tidak ada, bertanya ke tetangga ada yang melihat Jovan dibawa tiga orang tak dikenal yang beberapa hari ini sering lewat di lingkungan mereka. Kabar hilangnya Jovan ini dibahas secara live di salah satu televisi berita dan beberapa penelepon melaporkan bahwa melihat para penculik itu di Balikpapan.   
Kasus diatas merupakan contoh teranyar dari sekian banyak penculikan anak yang telah terjadi atau sedang terjadi.  Berbagai macam motif pelaku penculikan, karena balas dendam, iri hati sampai sebab murni kejahatan. Yang paling mengkhawatirkan adalah kejahatan yang sudah terorganisir secara internasional. Sindikat penculikan anak yang melibatkan para pelaku di luar negeri.
Beragam pula tujuan penculikan tersebut. Ada yang untuk dijual kembali kepada suami istri yang menginginkan anak pungut. Ada yang akan dipelihara untuk dijadikan pembantu keluarga. Tragis sekali, anak tersebut diculik untuk diambil organ-organ penting dalam tubuhnya dan diperjualbelikan dengan harga tinggi. Tak kalah jahatnya, bila anak itu masih tergolong gadis di bawah umur, maka akan diperjualbelikan untuk dijadikan wanita Penjaja Seks Komersial (PSK). Kejahatan ini disebut (human trafficking) atau perdagangan orang.
Indonesia sebagai salah satu negara yang menandatangani Konvensi PBB yang diratifikasi menjadi Undang-Undang Republik Indonesia No. 5 Tahun 2009 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Transnational Organized Crime (Konvensi Perserikatan Bangsa-bangsa Menentang Tindak Pidana Transnasional yang Terorganisasi) tentunya sudah menyadari ancaman penculikan anak yang berujung pada perdagangan manusia. Belakangan, ancaman kejahatan ini telah diorganisasi secara internasional oleh kelompok pelaku sehingga perlu peraturan perundangan yang efektif.
Sebelumnya perangkat hukum yang mengatur tentang penculikan anak diatur dalam Pasal 328 KUHP tentang penculikan jo Pasal 77 KUHP jo Pasal 79 KUHP dan Pasal 83 Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Mereka terancam hukuman di atas 5 tahun penjara. Belum lagi jika penculikan anak itu berhubungan dengan kegiatan perdagangan orang, maka bisa dijerat dengan Undang-Undang Republik Indonesia No. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Dengan berbagai tingkatan kegiatan yang diancam maksimal pidana penjara 15 (lima belas) tahun penjara dan denda sebesar enam ratus juta rupiah.
Sudah seharusnya kita lebih mewaspadai terjadinya penculikan anak di sekitar tempat tinggal. Berikut beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi kejahatan penculikan anak, yaitu:
1.      Mengaktifkan kembali sistem keamanan lingkungan (siskamling). Tentunya upaya ini bisa diprakarsai oleh perangkat desa/kampung/RT,RW/lingkungan/lorong. Aturan yang sudah dibuat selama ini sudah cukup baik, salah satu diantaranya adalah “tamu wajib lapor 1x24 jam”. Hal ini untuk mengantisipasi masuknya orang-orang asing yang sangat mungkin bermaksud melakukan penculikan anak.
2.      Meningkatkan pengawasan ekstra terhadap anak-anak. Hal ini perlu menjadi fokus perhatian karena biasanya orang tua, baik suami maupun istri yang bekerja di luar rumah, cenderung menyerahkan pengawasan anak-anaknya yang masih kecil kepada pekerja rumah tangga (baby sitter, pembantu rumah tangga, penjaga rumah, dan lain-lain). Jangan terlalu percaya seratus persen dengan si pekerja, sekali-kali kalau ada kesempatan, coba dicek dengan pulang tiba-tiba ke rumah, apakah pekerja memang benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik. Telepon anak atau pekerja secara teratur untuk memastikan bahwa anak sedang baik-baik saja. Sampaikan pada pekerja tentang kondisi maraknya penculikan anak sekarang ini agar ia menjadi lebih waspada.
3.      Sebelumnya untuk menentukan memakai jasa pekerja rumah tangga, ada baiknya kita mengetahui secara detail profil calon pekerja. Latar belakang keluarga, alamat jelasnya, track recordnya di tempat kerja bila sebelumnya sudah pernah bekerja.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

11 Komentar untuk "Mewaspadai Maraknya Penculikan Anak"

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. wah, pengecut nih ya...
      masa' sudah memberikan komentar malah dihapus?

      Hapus
  2. penculikan anak adalah kejahatan yang "mudah" untuk dilakukan. mengapa demikian karena orang yang melakukan kejahatan ini tidak harus menghadapi perlawanan. anak dianggap merupakan objek yang lemah jadi anak tidak akan pernah melawan.kejahtan penculikan anak ini bukanlah kejahatan kecil. para pelaku biasanya melakukan hal itu secara terorganisasi. hal ini harus menjadi perhatian bukan hanya pihak orang tua tapi juga negara melalui aparat penegak hukum karena negara yang baik adalah negara memiliki sember daya manusia yang unggul yang dimulai dari anak-anak yang unggul pula.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ok. pendapatnya menekankan dari sisi si anak, namun menaruh harapan yang cukup besar pada peran serta pemerintah dalam meningkatkan keamanan negara.
      sutrisno, dipertahankan dan ditingkatkan terus belajarnya ya..

      Hapus
    2. mudah-mudahan ya bu....

      Hapus
  3. saleh manurung berkata...

    hal yang paling utama dalam mengantisipasi terjadinya penculikan anak adalah faktor dari orang tuaitu sendiri...
    setiap orang tua harus senantiasa mengawasi anaknya.Ia jg harus selalu waspada. Ia tidak boleh terlalu mudah percaya dengan orang yang baru ia kenal..
    setiap orang tua juga harus cerdas dalam memilih orang yang ingin dijadikan sebagai pekerja di rumahnya.
    karena sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita tentang anak yang di culik oleh pembantunya sendiri.
    faktor yang lain adalah keamanan lingkungan sekitar,dimana perlunya kesadaran semua masyarakat sekita untuk memnjaga keamanan tempat tinggal mereka.
    faktor yang terakhir adalah negara.
    disini negara harus mampu memberikan rasa aman kepada seluruh rakyatnya.
    dengan adanya hukum yang berlaku memberikan efek jera badi para penculiknya.
    selain itu, negara darus mampu memberikan memberikan pekerjaan kepada masyarakatnya,karena para pelaku penculikan anak banyak yang mengaku yang menyebabkan ia melakukan pencilkan karena faktor ekonomi.
    jadi,dibutuhkan kerja sama dari semua pihak untuk memberantas kasus penculikan anak di negara kita ini.

    28 September 2012 10:23

    BalasHapus
    Balasan
    1. hmm..argumentasinya sudah cukup baik, bisa komentar banyak tentunya karena banyak membaca juga kan, Saleh..?
      komennya bagus ^^

      Hapus
  4. jaman sekarang sudah payah mencari uang dan kebutuhan ekonomi keluarga.

    Dan semakin payah mencari uang dan ekonomi,semakin banyak juga yang menganut ilmu untuk penculikan anak.

    himbau saya kepada para ibu2 yang mempunyai anak yang usianya 5 tahun sampai dengan 6 tahun, antisipasilah terhadap penculikan anak.
    Kenapa?

    Karena dalam se usia merekalah banyak yang menjadi korban terhadap penculikan anak.


    kasus penculikan anak di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.

    Kendatipun demikian,polisi bersama masyarakat tetap harus meningkatkan kewaspadaan dan dapat bekerja sama.

    Tanggung jawab terhadap anak itu ada dua golongan yakni
    1.orang tua : pada saat dirumah diharap kan penjagaan yang ekstra ketat kepada anak,anak tidak diperbolehkan memakai perhiasan saat sekolah karena akan menimbulkan tindak kejahatan.

    2.guru : saat disekolah guru juga harus mampu menkontrol anak didiknya,...dan tidak membenarkan sianak bebas keluar dari lingkungan sekolah tanpa ada pngawasan guru.

    BalasHapus
  5. Nama saya septi ayu pertiwi ..
    Menurut saya seharus nya orang tua lebih selektif menjaga anak tidak langsung hanya percaya kepada pengasuh anak ..
    Kalau mencari pengasuh anak haruslah dari agen resmii yang ada surat perjanjian kerja nyaa ..
    Yang didalam nya terdapat sanksi sansii apa bila dia lalai dalam menjalankan tugas nya untuk mengasuh anak ..
    Bersasarkan undang undang no 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia bahwa perlindungan yang diberikan kepada anak terdapat pasal 65 sbb :
    Setiap anak memperoleh perlindungan dari kegiatan exprloritasi dan pelecehan sexul penculikan perdagangan anak sertA berbagai bentuk penyalahgunaan narkotika dan zat adiktif lain nya ..

    Aparat kepolisian juga harus siap dan siaga bila ada nya penculikan terhadap anak ..

    Mencegah penculikan anak juga dapat dilakukan dengan mengetatkan sistem meamanan lingkungan .

    BalasHapus
  6. menurut saya
    kita sebagai orang tua harus waspda dan teliti
    karena terkadang kejahatan timbul atau terjadi bukan karena keinginan tetapi karena adanya kesempatan
    kejatahatan apapun itu termasuk penculikan orang tua yang teledor

    BalasHapus
  7. maraknya penculikan anak mungkin ada faktor ekonominya juga ya bu'
    kalau sudah cerita ekonomi,kita gak tau yang salah pemerintah atau rakyatnya.yg pasti masyarakat masih banyak yang berada dibawah garis kemiskinan.jadi menurut saya ekonomi juga salah satu penyebab maraknya penculikan anak.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel