KIAT SUKSES KULIAH BAGI MAHASISWA BARU

Oleh: Nurhilmiyah*, SH., MH *Dosen Kopertis Wilayah I Sumut – Aceh dpk (dipekerjakan) pada Fakultas Hukum Universitas Asahan sejak T.A. 2005/2006 *Ketua Program Studi Ilmu Hukum di Fakultas Hukum Universitas Asahan Menyandang gelar sebagai mahasiswa adalah suatu prestise tersendiri bagi alumni SMA. Banyak dari mereka karena berbagai faktor tidak memiliki kesempatan menduduki bangku kuliah. Peluang menjadi seseorang yang kelak bertitel sarjana kini telah berada di depan mata. Tugas serius yang membentang dihadapan seorang mahasiswa baru adalah bagaimana ia menguasai bidang ilmu yang menjadikannya mumpuni di bidang tersebut pada masa yang akan datang. Ibarat menyusun sebuah puzzle setiap waktu ia menyusun keping demi keping potongan ilmunya sehingga pada akhirnya nanti ia menemukan potret utuh kemampuannya sebagai seseorang yang telah lulus kuliah dan siap menerapkan ilmu pengetahuannya di dunia kerja. Berdasarkan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional atau lazim disebut UU Sisdiknas, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Jadi peserta didik dalam hal ini mahasiswa diharapkan memiliki kesadaran penuh dan perencanaan yang matang untuk meraih cita-citanya menjadi orang-orang yang terdidik/terpelajar. Apa jadinya jika mahasiswa tidak memiliki kesiapan dalam menyelesaikan studinya. Hari-hari kuliah dilewatkan begitu saja tanpa kesungguhan, maka yang terjadi kemudian adalah ruang-ruang puzzle pencapaian ilmunya yang kosong, tidak lengkap. Ironisnya, waktu terus saja berjalan tanpa bisa ditunda. Semester terus bertambah, hingga ada istilah “semester melayang”, atau MA (Mahasiswa Abadi) bagi mahasiswa yang tidak tepat waktu menuntaskan SKS (Sistem Kredit Semester)nya. Usia pun merambat naik tanpa henti, belum lagi desakan dari pihak orang tua agar segera lulus kuliah, karena pada umumnya setelah kuliah agenda berikutnya adalah bersaing merebut lowongan pekerjaan. Setelah bekerja, rencana untuk melangsungkan pernikahan pasti menanti. Meski proses demikian tidaklah harus persis sama dan sebangun, bisa menikah dahulu baru bekerja atau lulus kuliah tetapi konstruksi budaya di masyarakat kita terlanjur memersepsikannya secara serial seperti itu. Lulus kuliah, bekerja, lalu menikah. Lama lulus berakibat telat mendapatkan pekerjaan,efeknya menjadi lama membangun rumah tangga. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan motivasi dan kiat sukses kuliah bagi mahasiswa Perguruan Tinggi, sebenarnya tidak hanya ditujukan bagi mahasiswa baru tetapi juga bagi mahasiswa yang sudah lebih dahulu berada di kampus. Kiat-kiatnya adalah sebagai berikut: pertama, temukan cara belajar Anda. Menurut Dryden dan Vos dalam bukunya The Learning Revolution belajar itu akan efektif kalau Anda dalam keadaan fun. Maka berusahalah untuk menciptakan suasana yang kondusif dengan hati Anda. Bisa membaca sambil mendengarkan musik, dengan alunan instrumental Kenny G, Mozart atau Yanni. Belajar di ruangan yang hening tanpa gangguan suara berisik, Anda sendirilah yang tentunya paling memahami bagaimana kondisi yang menyenangkan itu. Kedua, jadikan kegiatan kuliah menjadi suatu kebutuhan yang penting bagi Anda. Soedarso dalam bukunya Tips Sukses Studi Proses Aktif Mengikuti Kuliah Mendengarkan dan Mencatat Basis Belajar menekankan bahwa mengikuti kuliah dan membaca buku adalah kegiatan yang saling melengkapi, tetapi tidak saling menggantikan. Dengan hadir mendengarkan kuliah dari dosen, mahasiswa dapat mengetahui hal-hal penting yang harus dipelajari. Mahasiswa akan lebih mudah menguasai ilmu dan terlibat dalam diskusi bersama dosen dan rekan-rekannya daripada ia hanya belajar sendirian. Kuliah membantu mahasiswa menemukan pemikiran kritisnya. Dalam ruang kuliah cara belajar mahasiswa dibantu oleh berbagai perasaan yaitu; melihat dosen menjelaskan hal-hal penting, mendengarkan nada suara dan penekanannya di sana sini, sambil mahasiswa mencatat materi yang dianggap essensial. Mengikuti kuliah adalah cara yang pas bagi mahasiswa untuk mengenal topik bahasan baru, meningkatkan minat, dan menyerap informasi terkini. Ketiga, memahami tipikal dosen. Dalam mengikuti perkuliahan mahasiswa perlu mengenal dan memahami tipe dosen-dosennya. Tentunya mengenal yang dimaksud bukanlah sampai mengetahui seluk beluk pribadinya karena itu telah menjadi bagian dari ruang privasi seseorang. Stephen R. Covey dalam buku populernya The 7 Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif) berpendapat bahwa sangat efektif apabila kita berusaha mengerti orang lain terlebih dahulu baru minta dimengerti. Kaitannya dengan dosen yang memberikan kuliahnya, tidak salah bagi para mahasiswa berusaha mengerti kebiasaan dosennya. Setelah mengikuti kuliah seorang dosen beberapa kali, mahasiswa pasti dapat merasakan naik turun intonasi suaranya, bahasa, organisasi materi kuliahnya, dan hal-hal yang dapat Anda jadikan catatan untuk lebih memahami kuliah yang diajarkannya. Mahasiswa jadi lebih mengenal cara dosen memberikan penilaian, kedisiplinan dosen, tata tertib yang wajib dipatuhi ketika dosen tersebut mengajar di depan mimbar akademik. Sehingga jika mahasiswa mengenal dengan baik kebiasaan-kebiasaanya dosennya, ia dapat menghindari kemungkinan penyebab ketidaksukaan dosen tersebut. Perlu diwaspadai, berawal dari tidak menyenangi dosennya akhirnya mahasiswa juga dapat kehilangan minat belajarnya di suatu mata kuliah. Mahasiswa yang mengenal dosennya dapat mementahkan istilah-istilah dosen killer, tidak bersahabat dengan mahasiswa dan sebagainya. Untuk hal yang satu ini dengan adanya Peraturan Pemerintah No. 37 Tahun 2009 tentang Dosen juncto Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, yang mengikutsertakan mahasiswa sebagai salah satu unsur penilai persepsional portofolio sertifikasi dosen, maka selayaknya dosen memperlakukan mahasiswa dengan baik. Rendahnya angka penilaian persepsional mahasiswa terhadap dosen memungkinkan dosen tersebut tidak lulus sertifikasi dosen. Ada sinergi yang positif antara dosen dengan mahasiswanya sebagai civitas akademika yang saling terkait dan berada dalam suatu sistem, dosen sebagai fasilitator belajar dan mahasiswa selain sebagai peserta didik, juga diposisikan sebagai mitra belajar. Keempat, buatlah manajemen catatan kuliah. Coret-coretan yang Anda buat pada waktu kelas berlangsung bisa jadi adalah hal-hal yang pokok. Meski ada pula tipe dosen yang melarang mahasiswa mencatat selagi ia menerangkan materi kuliahnya. Tetapi lazimnya, dengan hanya duduk mendengarkan dosen berceramah, apalagi kalau cara menyampaikannya enak, tak terasa waktu membawa mahasiswa ke akhir jam kuliah. Alangkah sayangnya apabila materi yang enak didengarkan itu tidak ada pertinggalnya untuk mahasiswa. Memang, waktu mendengarkan kuliah, materi terasa mudah dimengerti tetapi ingatan itu tidak akan lama tertanam di benak Anda. Selang beberapa minggu kemudian ia akan hilang, padahal dosen mengharapkan Anda menyimpannya dalam waktu yang lama. Maka mau tidak mau Anda harus membuat catatan yang baik. Menurut riset di Amerika Serikat, mahasiswa yang banyak membuat catatan dapat lebih banyak belajar dibandingkan dengan mahasiswa yang tidak mencatat. Mereka yang mencatat dapat mengingat lebih banyak 2 sampai 7 kali. Ada untungnya juga apabila sesama mahasiswa saling membandingkan catatannya masing-masing dengan catatan temannya. Hal ini untuk menghindari subyektivitas yang berlebihan karena tiap-tiap orang memiliki kekhasan dalam pemilihan kata, penyerapan persepsi dan struktur catatan. Kesalahan mencatat bisa diminimalisasi dengan saling mengoreksi catatan dan berdiskusi diantara mahasiswa. Kiat terakhir adalah milikilah pikiran dan sikap positif. Adapun contoh-contoh bersikap positif menurut Soedarso ketika mengikuti perkuliahan adalah: menumbuhkan minat terhadap materi kuliah, dengarkanlah dosen dengan rasa ingin tahu yang besar, menerima ide orang lain meski tetap secara kritis, jangan terpusat pada detail karena justru akan mengaburkan garis besar topik bahasan, memperkaya diri dengan ide dan informasi baru, jangan terganggu dengan penampilan fisik dosen karena hal tersebut akan mengalihkan Anda dari konsentrasi menyerap apa yang disampaikannya, pahami saja bahwa tiap orang itu memang berbeda-beda, jangan buru-buru menyalahkan pembicara dalam hal ini bisa jadi rekan Anda sedang ditugaskan untuk mempresentasikan makalahnya. Mendengarkan dengan baik adalah suatu cara untuk menguasai pembicaraan. Jangan ikut ngobrol ketika dosen menerangkan. Kendalikan teman di sebelah Anda dengan ramah agar tidak membuyarkan fokus Anda mendengarkan dosen. Jadi dalam meraih tujuan akhir kuliah yaitu menguasai ilmu pengetahuan, memperoleh gelar sarjana, dan meraih kesuksesan, mahasiswa sebaiknya senantiasa menginternalisasikan pikiran dan sikap yang positif dalam kesehariannya. Terkait dengan pikiran positif, Ibrahim Elfiky, motivator muslim dunia dalam buku Internastional Best Seller-nya, Terapi Berpikir Positif, mengungkapkan tentang pentingnya berpikir positif. Apa yang Anda alami hari ini adalah dampak dari pikiran Anda kemarin. Apa yang akan Anda alami esok hari adalah dampak dari pikiran Anda hari ini. Pikiran yang sedang Anda bayangkan saat ini sedang menciptakan kehidupan masa depan Anda. Mudah-mudahan kiat sukses kuliah dalam tulisan ini memberikan motivasi bagi Anda para mahasiswa. Selamat belajar semoga sukses.    

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "KIAT SUKSES KULIAH BAGI MAHASISWA BARU"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel