WONDERFUL HUSBAND? Referensi wajib para suami!

Tadinya saya membeli buku terbitan Era Adicitra Intermedia Surakarta ini untuk dihadiahkan kepada suami tercinta pada ulang tahunnya di Bulan Februari. Namun saya tergelitik untuk curi start membacanya karena judulnya yang eye catching! Wonderful Husband: Menjadi Suami Disayang Istri. Lembar-lembar pertama karangan Cahyadi Takariawan atau akrab disapa @PakCah ini, saya “dipaksa” senyum dengan opening humor yang menyegarkan. Mengenai perbedaan pasangan pengantin baru dengan pengantin lama. Intinya ada penurunan ekspresi dan kapasitas cinta pada suami istri pengantin lama. Mengapa saya katakan “dipaksa” senyum? Karena saya kaget dengan intro berupa kutipan lelucon populer di awal buku setebal 314 halaman dengan ukuran 14,4 cm ini. Mengingat bahwa penulisnya adalah seorang ustadz, sebelumnya saya sudah membayangkan isi buku ini pastilah sedikit banyak memuat hal-hal normatif mengenai aturan agama mengenai hak dan kewajiban suami dalam rumah tangga. Ternyata tidak. Penulis mampu mengemukakan konsep-konsep wonderful itu dengan universal, ringan dan jauh dari kesan menggurui. Itulah mengapa saya seolah-olah dipaksa senyum. Transisi antara fokus serius saya tentang gambaran konten buku ini dengan permulaan bahasan yang dibuka dengan canda. Definisi bahagia dalam rumah tangga sederhana namun kaya makna. Perasaan bahagia menurut penulis adalah saat masing-masing suami dan istri saling menerima keadaan pasangannya dengan ketulusan jiwa. Sama-sama merasa jauh dari ideal, sehingga tidak pernah menuntut pasangannya untuk menjadi ideal. Itulah bahagia. Penulis menuntun pembaca untuk dengan mudahnya menemukan apa saja karakter wonderful husband menurut penulis. Tampaknya buku yang merupakan buku Seri Wonderful Family ini memang dirancang untuk dibaca para suami sibuk sehingga apabila belum sampai pada penjelasan mendalam bagian demi bagian dari sembilan karakter wonderful husband, itu tidak masalah. Pembaca diberi kebebasan untuk membacanya dari sub topik mana saja sesuai kebutuhan. Itu keren. Tidak mendikte harus runtut secara kaku dari karakter pertama, kedua dan selanjutnya. Buku tipe seperti ini sangat khas otak kanan. Cerita-cerita dibuat mengalir tanpa beban namun powerful. Menelisik jauh ke sudut hati yang paling dalam. Membongkar semua kejujuran suami. Karakter pertama dalam buku ber-ISBN 978-602-1680-03-2 ini, memimpin keluarga dengan cinta. Penulis mengingatkan bahwa esensi suatu kepemimpinan itu adalah melayani. Tidak tepat bila seorang pemimpin itu malah minta diperlakukan bak raja. Apalagi institusi yang dipimpinnya adalah keluarga, yang khas serta penuh keunikan, kepemimpinan 24 jam! Makna keluarga begitu dalamnya hingga tak pantas disamakan dengan organisasi apa pun di dunia ini. Ada sub judul menarik, suami surplus cinta. Suami tak boleh kehabisan cinta untuk istri dan anak-anaknya karena cinta itu justru menjadi kekuatan bagi kepemimpinannya dalam keluarga. Memimpin dengan kasih sayang. Sub judul yang membuat saya sangat bersemangat membacanya adalah memimpin istri menuju prestasi. Kebetulan karena berprofesi sebagai dosen pastilah saya memendam keinginan untuk melanjutkan ke jenjang doktor. Namun diskusi saya dan suami selalu berakhir dengan diam atau salah satu akan menjadi terdiam karena tak menemukan solusinya. Dengan sangat adil penulis merangkai konsep sensitif ini sehingga jika dipandang dari segi suami maupun istri menjadi seimbang. Tidak layak bagi suami untuk menghambat kemajuan dan perkembangan potensi istri. Pernikahan bukanlah lembaga untuk mensterilkan berbagai potensi salah satu pihak. Justru dengan pernikahan itu akan semakin mengoptimalkan berbagai potensi kebaikan dari suami dan istri. Adanya pemisahan antara prestasi dengan sikap hidup suami istri. Peran suami dan istri dalam rumah tangga harus selalu diingat sehingga keduanya saling melengkapi bukan saling berkompetisi secara negatif. Bukan persaingan tetapi tim. Apapun prestasi yang berhasil dicapai suami atau istri, itu adalah prestasi bersama dan dirayakan dengan gembira bersama-sama. Buat kesepakatan dan temukan format prestasinya. Dengan kaidah, selama tidak menyebabkan telantarnya pendidikan dan perhatian terhadap anak-anak juga tidak menyebabkan lunturnya keharmonisan hubungan dengan pasangan. Saya lama mengeja dan mengulang kembali membaca kalimat tersebut. Simpel tetapi cukup berkekuatan mengingatkan saya betapa besarnya peran istri dan ibu dalam rumah tangga. Saya menemukan ‘berlian’ ini justru di buku yang seharusnya diperuntukkan bagi suami. Mampu menundukkan ego adalah karakter kedua dari wonderful husband. Dalam berumah tangga ada saatnya suami dan istri bertengkar. Untuk segera mengakhiri pertengkaran keduanya harus saling mengalah, menundukkan ego, segera meminta maaf, dan mengakui kesalahan di hadapan pasangan. Karena, dalam setiap konflik dan pertengkaran suami istri, selalu ada andil kesalahan dari kedua belah pihak. Ada ego laki-laki, ada pula ego perempuan.. Jika lelaki mampu menundukkan egonya maka ia telah berhasil melewati sisi-sisi tersulit dalam perjalanan kehidupan rumah tangganya. Suami yang berjiwa pemaaf tentunya menyimpan banyak maaf untuk istrinya. Cadangan ini sangat penting karena perjalanan kehidupan berumah tangganya Tentunya diperlukan pembiasaan yang baik untuk mencapainya. Meminta maaf tidak akan merendahkan diri suami. Sebagaimana pada penjelasan karakter pertama yang dilengkapi dengan tips-tips menarik dan aplikatif, diakhir bab karakter kedua ini juga demikian, ada sepuluh langkah percakapan yang saling mendekat antara suami dan istri. Karakter ketiga dimuat dalam buku yang diterbitkan Nopember 2013 ini, selalu berusaha membahagiakan istri. Dengan ucapan, perbuatan, sikap, bahasa tubuh yang membuat istri merasa tentram. Jadilah suami yang mampu membahagiakan istri sehingga istri akan dengan senang hati memberikan bantuan tanpa diminta. Apapun akan diberikan demi sang suami. Istri merasa nyaman dan tenang sehingga suami akan lebih optimal dalam menunaikan berbagai macam kegiatan dalam kehidupan. Betapa bahagia seorang istri, jika suaminya pandai mengambil hatinya. Suami akan ditemani dan didampingi istrinya tanpa diminta. Mereka saling memberi, saling berbagi selamanya sampai usia senja. Hingga maut memisahkan. Fokus mengingat kebaikan istri adalah karakter wonderful husband yang keempat. Sangat banyak perbuatan baik yang oleh pasangan dilaksanakan setiap hari dianggap sebagai sesuatu hal yang biasa, bahkan sebagian besar suami menganggapnya sebagai kewajiban, bukan kebaikan. Tak jarang kekuranganlah yang nampak. Hal-hal kecil tidak pantas dibesar-besarkan. Menghargai kesetiaan istri yang tidak ada bandingannya dengan pelayan mana pun yang hanya setia dengan uang semata. Analogi yang menarik ketika penulis mengajak pembaca membandingkan pelayananan profesional yang berorientasi uang (pramugari di pesawat, room boy di hotel) dengan kesetiaan 24 jam seorang istri! Mengingat kebaikan istri dan melupakan kelemahannya adalah poin penting jika ingin meraih karakter ini. Karakter kelima yaitu memahami kondisi istri. Ada yang berubah setiap hari. Tidak hanya fisik tapi juga psikis. Suami dianjurkan memiliki peta kasih untuk setiap hari sejak menikah mengenali dan memahami istri. Suami harus menjadi orang pertama yang lebih dahulu memahami setiap perkembangan dan perubahan jiwa istrinya. Pemahaman yang mendalam tentang berbagai perubahan pasangan akan memunculkan secara tiba-tiba karena setiap bentuk perubahan sekecil apa pun telah diketahui bersama. Andaikan tiap suami mengerti ilmu yang satu ini, mungkin tak akan ada terdengar kisah perselingkuhan istri dengan lelaki lain karena kuncinya intensitas dan frekuensi komunikasi diantara suami istri. Cara yang paling sederhana untuk mengetahui detail perubahan dan perkembangan pribadi istri adalah dengan selalu mengobrol setiap saat, setiap waktu. Meng-update kesepakatan yang sudah pernah dibuat dan menyesuaikannya dengan kondisi terkini keluarga juga cara yang layak untuk diterapkan. Tidak membandingkan istri dengan istri orang lain dan sering-seringlah memberikan pujian tulus kepada istri merupakan trik efektif juga agar suami lebih mengenali dan memahami segala bentuk perubahan dalam diri istrinya. Menjadi teladan dalam kebaikan merupakan karakter keenam jika suami ingin mencapai predikat suami yang wonderful. Suami hebat adalah teladan bagi keluarganya. Figur utama dalam kebaikan bagi istri dan anak-anaknya. Ada beberapa cara bagi para suami untuk memberikan keteladanan yang positif bagi seluruh anggota keluarganya. Dengan perbuatan nyata, dengan sikap positif, dengan pikiran positif, dengan kebersihan hati. Suami yang hebat juga seorang ayah yang smart. Pemikiran ini senada dengan Ayah Edy penggagas Indonesian Srong from Home. Dalam bukunya Ayah Edy Menjawab, seorang ayah haruslah menjadi role model yang baik bagi anak-anaknya. Ia menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam menyelesaikan suatu masalah. Tenang dan menjauhi bersikap emosional dalam menghadapi berbagai macam persoalan keluarga. Karakter ketujuh dari buku yang saya beli online dengan harga Rp. 55 ribu -tetapi manfaatnya luar biasa berkali lipat bagi hubungan saya dan suami- adalah memelihara kesetiaan. Jangan pernah selingkuh ya para suami. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya perselingkuhan antara lain: pelarian dan kebosanan, pelarian dari konflik rumah tangga, mendapatkan orang lain selain istri sebagai tempat curhat dan diskusi, menemukan harapan lain, komunikasi dan interaksi yang berlebihan. Ada juga soal Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK). Cara menghindarinya: beningkan pikiran Anda, orang yang sepertinya sangat care kepada Anda saat ini, mampu menampung curhat Anda, dan sedemikian nyaman berbincang dengan Anda, dia adalah orang yang tidak bisa nyaman berbincang dengan pasangannya di rumah. Dia tidak care dengan keluarganya, jadi sesungguhnya dia sedang berpura-pura dan bermain sandiwara di depan Anda. Bersihkan hati, jadikan rumah sebagai kontrol Anda, mendekatlah pada pasangan Anda, ajak ia refreshing berdua, jadilan orang yang dekat dengan anak-anak. Selalu menjaga kehangatan cinta adalah kuncinya. Karena jika kehangatan cinta sudah memudar, bahkan hilang maka apa pun bisa menjadi sarana perselingkuhan, konflik dan akhirnya perceraian. Tak perlu jejaring social atau apalah untuk bisa cerai karena itu semua hanya sebagai sarana. Karakter kedelapan, selalu tampil young and fresh di depan istri. Kalau selama ini banyak buku yang kerap menganjurkan istrilah yang mestinya habis-habisan memperbaiki penampilan di depan suami. Kali ini sebaliknya. Suami harus menjadi orang yang paling ganteng, paling segar, paling harum di depan istrinya. Jangan sampai istri dan anak-anak hanya kebagian leceknya saja. Sering-seringlah mengobral senyum buat keluarga terutama istri. Selain meredakan ketegangan, tersenyum ternyata sangat menyehatkan. Secapek apa pun suami di luar rumah, tinggalkan masalah pekerjaan hanya sampai batas pintu masuk ke rumah. Setelah suami berada di dalamnya, hadirkanlah keceriaan, kemesraan dan kasih sayang untuk keluarga. Last but not least, suami hebat itu memberikan yang terbaik bagi istrinya. Untuk anak-anaknya. Bukan menuntut istrinya harus baik terlebih dahulu. Tetapi berikanlah semua yang terbaik. Perasaan terbaik, pelayanan terbaik, penampilan, sikap dan perlakuan terbaik. Kata-kata terbaik. Banjiri istri dengan pesan cinta. Jangan biarkan ada celah orang lain untuk masuk mendahului Anda melakukannya. Jangan pelit dan kaku mengekspresikan cinta. Istri berharap kepada siapa lagi kalau bukan dari suaminya. Bantu ia dalam urusan praktis kerumahtanggaan. Itu tidak menurunkan harga diri Anda sebagai seorang laki-laki. Malah membuat Anda semakin berkilau di matanya (silau, Man). Berbagilah peran dengan sebaik-baiknya. Wonderful husband dapat dicapai dari proses dan usaha yang dilakukan bersama antara suami dan istri. Satu-satunya salah ketik yang saya jumpai adalah kata ‘profokasi’ di halaman 220 buku ini. Seharusnya diketik provokasi. Salut buat mbak-mbak editornya ya. Kemudian di awal halaman tiap karakter ada karikatur lucu yang mewakili pokok bahasan karakter terkait. Yang membuat saya tersenyum simpul di halaman 188 pada karakter keenam, menjadi teladan dalam kebaikan. Karikatur itu menggambarkan seorang anak dengan mainannya memandang penuh tanda tanya plus kebingungan melihat sang ayah bercelana pendek yang dengan santainya membaca koran sembari merokok! Pembaca dapat menebak teladan seperti apakah yang sedang ia berikan kepada putranya. Satu gambar beribu makna. Rugi kalau belum baca buku ber-cover warna jingga ini dari A sampai Z nya. Orange/jingga, kata ahli makna warna, melambangkan kehangatan, antusiasme, persahabatan, kesuksesan, kesehatan pikiran, keadilan, daya tahan, ketertarikan dan kegembiraan. Sesuai dengan misi buku ini untuk lebih memotivasi para suami menciptakan suasana dan nuansa baik-baik tersebut ke dalam rumahnya. Saran saya, jangan sampai ada kalimat yang terlewatkan karena setiap karakter selalu ada analogi menarik, ada contoh nyata keseharian yang seringkali ditemui dalam kehidupan berumah tangga. Semuanya dituturkan dengan apik, penuh dengan kejujuran, dan selalu menyelipkan humor segar pelepas lelah. Semoga yang tergerak membaca buku ini nantinya sukses menjadi a wonderful husband. Keluarga Indonesia berhutang budi pada Pak Cah. Terima kasih atas pencerahannya. Rekomendasi saya untuk buku ini: “wajib beli dan baca!”. Artikel ini diikutkan dalam GIVE AWAY RESENSI BUKU WONDERFUL HUSBAND. Pada tulisan yang yang diblok di link dengan : http://ida-nurlaila.blogspot.com/2013/12/give-away-resensi-buku-wonderful-husband.html

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Komentar untuk "WONDERFUL HUSBAND? Referensi wajib para suami!"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel