Merefleksi Emansipasi Kartini

Oleh:
Nurhilmiyah, SH., MH*

(Artikel ini dimuat di Koran Cerdas UMSU edisi 28 April 2017)

Tulisan ini nyaris saja tidak saya selesaikan mengingat rutinitas pekerjaan yang menyita waktu keseharian. Ditambah lagi dengan tugas utama saya mendidik generasi yang saya lahirkan sendiri. Saya tertantang oleh diri saya sendiri ketika mengingat zaman kuliah S1 dahulu, saya pernah diminta menjadi narasumber sebuah forum diskusi di suatu elemen gerakan eksternal kemahasiswaan di lingkungan kampus Gadjah Mada. Saya ingin mengetes sejauh mana ingatan saya dalam menganalisis isu kesetaraan gender yang selalu hangat dibicarakan orang menjelang atau setelah peringatan Hari Kartini.
Ada satu buku menarik, menimbulkan polemik, namun berkesan di hati saya. Membiarkan Berbeda. Waktu itu saya memberikan kode “wajib beli” pada buku ini. Tidak sekadar “wajib baca” saja. Dikarang oleh seorang perempuan cerdas yang segera menjadi salah satu idola saya setelah saya melahap habis isi bukunya. Pelopor pendidikan holistik berbasis karakter yang sedang menjadi tren sekarang ini. Dia adalah Ir. Ratna Megawangi, M.Sc., Ph.D. Profil beliau ingin sekali saya jadikan role model tapi rasanya bagaikan pungguk merindukan bulan, antara saya dan beliau begitu jauh perbedaannya.
Ibu empat orang anak yang menamatkan S2 dan S3-nya di Tufts University, Massachussets, Amerika Serikat ini justru makin teguh dengan konsepnya memperkuat institusi keluarga pada saat ia menimba ilmu di negeri barat. Tentunya hal ini tak lepas dari aktivitas kesehariannya sebagai dosen Mata Kuliah Pengantar Ilmu Keluarga di Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga di IPB.
Saya merasa beruntung mengenal beliau meski hanya dari karyanya. Karena dari pemikirannya itulah saya menemukan sudut pandang baru tentang relasi gender yang rasanya pas sekali untuk perempuan Indonesia. Tanpa perlu ‘ngotot’ meminta hak untuk total disetarakan, karena laki-laki dan perempuan memang diciptakan untuk saling bekerjasama, bukan untuk saling bersaing secara diametral, tetapi berdampingan dengan perbedaan fisik yang telah dikaruniakan Allah SWT. Kesetaraan dalam keragaman.
Setiap tanggal 21 April kita memperingati Hari Kartini. Sedari mengenyam pendidikan dasar, para guru menceritakan sosok perempuan Indonesia yang menjadi simbol kebangkitan semangat perubahan kaum perempuan. Kumpulan surat-surat Kartini untuk sahabat-sahabat korespondensinya, antara lain Rosa Abendanon dan Estella H. Zeehandelar di Belanda sungguh fenomenal, Habis Gelap Terbitlah Terang. Surat-surat tersebut menjadi satu buku. Diakui bahwa sedikit banyak, pemikiran Kartini dipengaruhi pemikiran sahabat-sahabat Yahudinya itu. Namun tulisan ini tidak hendak memfokuskan diskusi pada bahasan tersebut.
Perempuan yang hidup setelah era Kartini merasakan efek kebangkitan spirit dahsyat emansipasi. Pemikiran kartini mengubah mindset bahwa perempuan yang sebelumnya hanya berkutat di tiga area “ur”-meminjam istilah seorang ulama kondang- di sumur, di dapur dan di kasur, menjadi leluasa berkiprah di ranah publik sebagaimana halnya laki-laki. Perempuan bisa bersekolah setinggi-tingginya, berkreativitas, bekerja di luar rumah dan melahirkan ide-ide inovatif dari pikirannya.
Namun sayang belakangan nilai-nilai positif yang diusung oleh Kartini ini sedikit demi sedikit tereduksi menjadi pengertian terhadap emansipasi yang salah kaprah oleh sebagian perempuan itu sendiri. Dengan mengatasnamakan kaum feminis, mereka menggaungkan tuntutan yang dinamakan kesetaraan gender sama rata sama rasa (50/50, baca: fifty fifty). Sepintas gerakan ini tampak baik sekali. Secara etika, moral dan agama kita memang dianjurkan untuk membantu kaum yang lemah. Dalam hal ini pihak yang disebut lemah, tertindas dan termarginalkan adalah perempuan. Penerjemahannya dalam level praksis seringkali teori feminisme mainstream yang bermula dari awal abad 20 itu dipahami secara parsial oleh generasi muda sekarang ini. Terkadang tuntutan-tuntutan kesetaraan gender dilontarkan tanpa pemahaman yang komprehensif, pada akhirnya malah menjadi alat propaganda untuk mencapai tujuan politis golongan tertentu.
Feminisme memiliki kemiripan dengan paradigma Marxis yang selalu membenturkan antara si kaya dan si miskin, si kuat dan si lemah, si berkuasa dan si tertindas. Marxisme melihat institusi keluarga adalah ‘musuh’ pertama yang harus dilenyapkan jika ingin menciptakan kesetaraan gender secara kuantitatif, yaitu pria dan wanita harus sama-sama berperan baik di luar maupun di dalam rumah.
Keluarga dianggap cikal bakal dari segala ketimpangan sosial yang ada, terutama hubungan yang dirasa tidak setara antara suami dan isteri. Suami mengambil peran di ranah publik sementara sang isteri lebih banyak berjibaku dengan peran-peran pengasuhan. Feminis menganggap para perempuan perlu disadarkan akan kondisi ‘tertindas’ ini.
Sejalan dengan bahasa dan istilah yang sering digunakan oleh paham Marxis seperti pemberdayaan kaum tertindas, perubahan struktural atau revolusi, penyebaran isu antikemapanan atau antikaum borjuis/patriarkal. Feminis memberi label bahwa perempuan-perempuan yang rela meninggalkan karirnya di luar rumah meski ia memiliki ijazah adalah korban dari indoktrinasi stigma romantisasi peran sebagai ratu rumah tangga yang selalu ditanamkan ke benaknya oleh kaum laki-laki, khususnya sang suami.
Di saat yang sama, dunia membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, bermoral baik dan tetap peduli kaum yang lemah. Individu-individu seperti ini mustahil dilahirkan dari relasi sosial yang tidak harmonis. Lembaga keluarga yang sehat adalah salah satu wadah yang paling efektif untuk menciptakan pribadi-pribadi berakhlak mulia, sebagai tempat anggotanya belajar untuk saling menghormati, membina hubungan saling menghargai, melindungi dengan penuh kasih sayang walaupun peran masing-masing anggotanya berbeda-beda. Yang sebaiknya kita lakukan untuk membenahi semuanya adalah menggali potensi rasa cinta dalam hati kita, sehingga relasi sosial yang harmonis, penuh kedamaian, dan rasa saling menghormati itu dapat terwujud.
Kesetaraan yang diupayakan dengan jalan kebencian terhadap si berkuasa tidak akan membuahkan hasil secara optimal. Sesuatu yang dimulai dengan kemarahan hanya akan mendatangkan kemarahan lagi. Itulah salah satu poin ketidaksepakatan dengn paham Marxisme dalam hal kesetaraan gender ini.
Tak dapat dipungkiri bahwa antara laki-laki dan perempuan tetap memiliki perbedaan secara kodrati. Kaum feminis bersikeras menyatakan bahwa perbedaan peran antara laki-laki dan perempuan semata-mata karena produk budaya atau konstruksi sosial yang patriarkal, bukan karena perbedaan biologis, nature atau genetis. Terjadi kontradiksi di negara asalnya sendiri, Amerika Serikat, kaum feminis mendapati banyak contoh perempuan modern yang mengidap suatu sindrom menurut Colette Dowling, yaitu Cinderella Complex. Kondisi di saat para perempuan yang sudah bebas mandiri, ternyata jauh di dalam lubuk hatinya masih memerlukan perlindungan dari laki-laki. Namun para laki-laki ternyata juga telah terbebaskan, mereka sudah tidak mau lagi memberikan perlindungan kepada kaum perempuan. Karena dianggap sudah setara dan menjadi saingan mereka.
Akhirnya suka atau tidak suka tuduhan penyebab kondisi tersebut berbalik, menjadi bumerang, kembali mengarah kepada paham feminisme, kesalahan ditujukan pada kaum feminis. Pertanggungjawaban dimintakan kepada pengusung kesetaraan gender yang benar-benar ingin setara tanpa menyadari bahwa secara alamiah perempuan dan laki-laki memang diciptakan berbeda untuk saling mengisi dan saling melengkapi.
Saya sepakat dengan sudut pandang yang arif untuk membenahi carut marut definisi kesetaraan gender menurut Ratna Megawangi, yaitu memandangnya sebagai relasi yang komplementer. Walaupun perempuan dan laki-laki memiliki peran yang berbeda namun bersatu dalam mencapai tujuan yang sama. Meredefinisikan pengertian kesetaraan gender, mengakui bahwa memang ada perbedaan alamiah antara perempuan dan laki-laki, yaitu melalui konsep kesetaraan dalam keragaman.
So, masih ingin ngotot benar-benar setara?

*Penulis adalah peminat kajian hukum dan sosial, dosen Fakultas Hukum UMSU, anggota Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UMSU

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Merefleksi Emansipasi Kartini"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel