💰 Balasan yang Berlipat Ganda 💰

Hari kosong jadwal mengajar, saya manfaatkan untuk berbelanja kebutuhan dapur di pasar dekat rumah. Hanya beda satu jalan saja dari tempat tinggal saya, bisa ditempuh dengan berjalan kaki juga. Saya memilih pasar tradisional meski keadaannya agak kotor, becek, ramai dan bercampur baur antara bau ikan dan lain-lainnya.

Selalu ada kebahagiaan tersendiri melihat lalu lalang para pembeli. Senyum optimisme para pedagang di pagi hari. Menjemput rezekinya masing-masing hari ini. Di tengah menurunnya daya beli masyarakat, khusus pasar tradisional tetap memainkan peranan penting bagi kehidupan sehari-hari tiap keluarga.

Keberadaan pasar tradisional yang kini terus tergerus dengan hadirnya pasar-pasar modern. Adanya regulasi diharapkan mampu mengatasi kekhawatiran itu. Perpres, Permendagri, dan Perwal/Perbup yang mengatur tentang penataan dan pembinaan pasar tradisional dan pasar modern seharusnya mampu mengantisipasi ketegangan yang timbul diantara keduanya.

Kali ini saya tidak ingin membahas penerapan peraturan pada kenyataannya. 'Law in the book' dan 'law in action', atau 'das sollen' dan 'das sein'. Biar diangkat mahasiswa saja menjadi permasalahan dalam skripsinya.

Di pasar tadi selain membeli kebutuhan dapur, terdapat penjahit pakaian atau celana panjang yang sobek tetapi masih ingin dipakai. Istilah lainnya permak. Namun di tempat saya kata itu tidak lazim digunakan sehari-harinya. Cukup disebut tukang jahit saja, selesai.

Kebetulan celana pramuka putra saya robek, sembari berbelanja saya bawa ke kios tukang jahit. Sebenarnya bisa saya jahit sendiri, namun karena hasil jahit jelujur dengan tangan, khawatir hasilnya kurang rapi.

Tak butuh waktu lama, celana anak saya selesai dikerjakan. Ongkosnya lima ribu rupiah. Saya menyodorkan tiga lembar uang dua ribuan. Ibu setengah baya itu pun sibuk mencari kembaliannya. Saya katakan tidak usah saja karena ia jadi tampak repot. Saya pun ingin segera berbelanja lagi.

Hanya karena uang seribu rupiah itu, beliau sampai tersenyum lebar sekali. Saya terharu, coba kalau tadi saya membayarkan sepuluh ribu, bukankah masih tersisa lebih banyak. Atau dua puluh ribu. Ah, tapi saya tahu, orang-orang seperti ibu tukang jahit itu pasti tidak ingin kesannya terus-terusan dikasihani. Mereka punya harga diri.

Keajaiban pun dimulai. Ya, rasanya seperti keajaiban saja. Saya memasuki bagian tengah pasar untuk membeli tahu. Mumpung ada waktu luang, nanti saya ingin membuat cemilan buat anak-anak berbahan dasar tahu. Setelah membayar dan hampir membawa pergi sekantong kresek tahu, penjualnya malah menambahkan lagi satu potong tahu. Bonus, katanya.

Saya tak mengambil kembalian seribu rupiah di tukang jahit, sedemikian cepatnya diganti dengan sepotong tahu dengan harga sama? Padahal baru berjalan beberapa meter dari kios tukang jahit. Jantung saya berdegup lebih kencang. Selesai berbelanja saya angkat keranjang saya ke sepeda motor matic dan bersiap meninggalkan tempat parkir.

Sambil mencari-cari juru parkir (jukir) yang biasa mangkal, saya menyiapkan uang dua ribu rupiah. Beberapa menit tak kunjung datang, saya tetap berusaha menunggu. Sampai akhirnya dari kejauhan  jukirnya kelihatan melambaikan tangan ke saya. Saya melambaikan uang dua ribuan juga sebagai kode agar dia cepat menghampiri. Namun dia terus mengibaskan tangan dan mengatakan tidak usah bayar.

Saya tertegun. Apa maksudnya ya. Ternyata si jukir sedang ditraktir sarapan lontong oleh temannya sampai-sampai ia juga menggratiskan retribusi parkir atas kendaraan saya. Saya pandangi uang kertas di tangan. Ya Allah, hikmah apa yang sedang berlangsung hari ini. Gara-gara kembalian seribu rupiah, balasannya jadi berlipat ganda.

Sumber foto: Google










Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "💰 Balasan yang Berlipat Ganda 💰"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel