Buku (Antologi) Pertamaku


Pertengahan September 2016, buku karya bersama sejawat dosen-dosen Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) terbit. Buku Catatan Kecil Seputar Hukum di Indonesia yang diterbitkan UMSU Press. Penerbitan buku itu sebagai salah satu program dalam rangka rangkaian acara Milad Fakultas Hukum UMSU yang ke-34.

Buku setebal 213 halaman itu memuat 18 tulisan sesuai fokus kajian bidang ilmu hukum masing-masing dosen. Artikel saya terdapat di halaman 89 sampai dengan 114. Judul yang diangkat waktu itu adalah Menuju Unifikasi Kedewasaan dalam Hukum Positif. Berawal dari topik bahasan dewasa menurut hukum yang saya bawakan dalam mata kuliah Hukum Perdata di setiap semester genap.

Ada rasa bahagia melihat tulisan saya diikutsertakan dalam book chapter itu. Tidak sia-sia saya mengurangi jam tidur pada saat menjelang sahur di bulan Ramadhan 1437 Hijriyah silam. Sebenarnya sejak saat itu saya sudah termotivasi ingin membuat buku solo. Bahkan dari tahun 2011 ada dua draf buku saya. Yang satu tentang Sosiologi Hukum, dan satunya lagi merupakan pengembangan dari hasil penelitian tesis saya.

Sampai saat ini softcopy dua buku itu masih 'tidur' dengan lelapnya di folder BUKU laptop saya. Sederet alasan dengan mudah bisa diberikan jika ada yang bertanya tentang rencana membuat buku itu. Antara lain, tidak ada waktu luang dan kebetulan saat ini saya tak lagi mengampu mata kuliah Sosiologi Hukum. Apakah mesti mengajarkan mata kuliah tersebut, baru menulis buku? Kalau buku ajar, ya. Karena terkait dengan RPS yang disusun.

Padahal jika melihat orang-orang produktif yang sukses membukukan karyanya, tidak ada yang tak sibuk. Semuanya punya daftar kegiatan harian yang sambung menyambung. Saya jadi teringat buku Resolusi Menulis, buku antologi yang disunting Dr. Ngainun Naim. Di dalamnya ada istilah yang dicantumkan salah seorang penulis, Abdul Halim Fathani tentang istilah penulis Pak Emcho, yaitu SOS (Sapa Ora Sibuk). Bagi saya, justru bisa produktif dengan segunung kesibukan itu adalah luar biasa.

Kedepannya saya ingin menjaga konsistensi menulis untuk kepentingan akademik dahulu. Menulis terstruktur ala otak kiri terkadang memang membosankan. Namun variasinya bisa dengan membiasakan menulis bebas ala otak kanan. Perlu juga dipertimbangkan membuat buku ajar dengan berbagai versi selain buku fisik.

Mengingat era digital dewasa ini, sepertinya lambat laun masyarakat kampus mulai meninggalkan buku cetak. Mahasiswa misalnya, lebih menikmati membaca versi e-book. Bahkan kalau bisa para dosen merambah Wattpad agar materi ajarnya bisa lebih dekat ke peserta didik yang nota bene adalah kaum muda itu.

Yang jelas, book chapter saya ini bisa menghasilkan angka kredit 10 untuk menambah poin penilaian kepangkatan jabatan fungsional. Berdasarkan Pedoman kenaikan Pangkat Dosen tahun 2014, kum book chapter demikian. Mohon dikoreksi kalau salah, karena saya mengikuti Pelatihan Penghitungan Angka Kredit itu kira-kira belasan tahun yang lalu. Pada saat tahun kedua diangkat menjadi PNS Dosen Kopertis. Jadi kesimpulannya, tidak ada ruginya membiasakan menulis.

Salam literasi

Sumber foto: dok. Pribadi






Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Buku (Antologi) Pertamaku"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel