Mengunjungi Orang Tua Plus Jalan-jalan

Berfoto bersama di depan Mesjid An Nur, Pekanbaru

Malam ini adalah malam kedua kami berada di Pekanbaru. Provinsi tetangganya Sumatera Utara, yaitu Provinsi Riau. Ditempuh dalam waktu limapuluh lima menit dari Kuala Namu International Airport (KNIA) Deli Serdang, menuju Sultan Syarif Kasim II International Airport (SSK II). Persis seperti perjalanan Jakarta-Jogja, tidak sampai mengudara selama satu jam, pesawat sudah mendarat.

Perjalanan kali ini bertujuan untuk mengunjungi ayah saya yang sedang bertugas di Pekanbaru selama dua tahun terakhir ini. Meski beliau sudah menginjak usia hampir enampuluh empat tahun Mei mendatang, profesi hakim memiliki BUP enampuluh lima tahun.

Ayah memilih menghabiskan saja jatah masa baktinya dengan tetap bekerja. Walaupun dahulu sempat berniat ingin mengambil pensiun lebih awal, namun ibu kami juga sudah wafat. Untuk mengisi hari tuanya, beliau tetap menjalankan tupoksinya, memeriksa, mengadili dan memutus perkara di Pengadilan Agama Kelas 1A Pekanbaru.

Ada rasa rindu yang tak terdefinisikan meskipun sering bercanda ria di WAG keluarga atau telepon. Semua media berkomunikasi itu tetap kalah dengan yang namanya bertemu langsung. Apalagi sosok seorang ayah yang begitu dekat dengan anak-anak perempuannya. Termasuk saya, putri sulung. Setelah berdiskusi dengan suami, maka ditetapkanlah 12 sampai dengan 14 Januari, waktu kami berkunjung ke tempat tugas Atok, demikian cucu-cucunya menyapa, sapaan khas orang Melayu.

Kebetulan pula anak kami yang pertama, sedang libur pesantren sampai tanggal 19 Januari. Maka diisilah liburannya dengan pergi ke Pekanbaru untuk menengok Atoknya, melepas rindu sejak lebaran tahun lalu berkumpul bersama di rumah Atok yang di Medan.

Begitu pesawat "landing" di bumi Lancang Kuning, anak-anak demikian tak sabarnya segera keluar. Maka sampai di terminal kedatangan SSK Airport, ketiganya menghambur mencari Atok yang memang menjanjikan akan menjemput kami.

Semuanya rebutan ingin salaman dan berpelukan dengan Atok. Saya memanfaatkan momen mengambil foto mereka.

Di mobil, Atok telah menyiapkan beberapa botol minuman dingin buat kami. Ah, ayah, masih saja seperti dahulu waktu saya kecil. Seolah-olah saya tak membawa bekal air minum hingga beliau merasa perlu menyediakannya. Anak-anak senang sekali dan langsung mereguknya.

Tak langsung pulang, Atok membawa kami menikmati makan malam dengan kuliner Pekanbaru yang "beti" (beda tipis) saja dari cita rasa masakan khas Medan. Masih sama-sama tanah Melayu. Hanya saja Medan dihuni suku bangsa yang lebih heterogen.



Setelah kenyang, kami pun meluncur ke rumah "dinas" Atok di Kompleks Permata Ratu Jalan Datuk Maharaja, kawasan Tangkerang Labuay. Rasanya iba melihat orang tua yang sudah sepuh merantau di kota orang. Meski ada satu orang adik sepupu yang bersedia menemani ayah di rumah ini, tetap saja jatuh kasihan melihatnya.

Ingin rasanya ikut mengurusi ayah, namun apa daya, saya sendiri kondisinya masih punya bayi dan bekerja di kampus. Terkadang dengan segala rutinitas saya, untuk sekadar menanyakan kabar ayahanda pun tertunda-tunda.

Esok harinya, dengan ditemani suami, saya berbelanja sayur, ikan dan lain-lainnya untuk kebutuhan memasak. Sedih mengingat ayah jarang menikmati masakan rumah. Makan di warung terus. Perasaan saya campur aduk menyaksikan beliau makan dengan lahapnya menu yang saya hidangkan, bahkan menambah satu porsi lagi.

Selesai santap siang, kami dibawa berkeliling kota Pekanbaru. Kota yang amat terawat. Jalan yang lebar, jarang melihat pedagang kaki lima di tepi jalan. Angkutan umum dan becak juga tak kelihatan. Masyarakat di sini menggunakan bis kota Transmetro untuk transportasi massal. Selebihnya lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi masing-masing. Kotanya bersih, udaranya sepanas Medan.

Shalat zhuhur di mesjid kebanggaan warga Pekanbaru, mesjid An Nur, setelahnya mulailah kami berfoto ria. Swafoto maupun foto ramai-ramai.

Wefie dengan latar belakang icon provinsi Riau,
Mesjid An Nur

Kata Atok, ada lagi mesjid yang bagus, mesjid Ar Rahman. Interiornya gaya timur tengah klasik. Maka kami pun setuju diajak ke sana.

Bersama Ahmad Fajar Ramadhan, adik kami yang sedang nyantri di Ponpes Raudhah Lumut, Tapteng

Dari Ar Rahman, kami ke Pasar Bawah, membeli oleh-oleh untuk dibawa pulang esok. Menurut saya, Pasar Bawah ini serupa dengan Pasar Petisah di Medan. Hanya yang membedakan, di Pasar Bawah ada menjual aneka produk makanan cemilan dari negeri jiran Malaysia.

Hari beranjak petang meski masih banyak tempat yang ingin dikunjungi. Sadar bahwa bayi saya tak baik bila terlalu capek diajak ke sana kemari, kami pun mencukupkan diri dengan tempat-tempat yang telah didatangi saja. Anak ketiga saya sedikit kecewa, karena jauh-jauh hari telah mencari informasi tempat wisata yang akan dieksplorasi di Pekanbaru, yaitu Gedung Perpustakaan Suman HS yang bentuknya unik, menyerupai rehal (penyangga baca Al Quran), atau mirip juga dengan buku terbuka.

Saya lantas mengingatkan bahwa di waktu yang lain, mungkin saja akan datang lagi ke sana. Yang penting, tujuan utama yaitu menjenguk Atoknya telah terpenuhi. Bagaimanapun anak wajib mengunjungi orang tuanya. Ingin menyampaikan pesan juga ke putra-putri kami, kelak di masa depan, ayah dan ibu juga akan senang sekali saat usia makin menua, mereka menjaga silaturahmi dengan kami.

Salam literasi

Sumber foto: dok. Pribadi


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Mengunjungi Orang Tua Plus Jalan-jalan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel