[JadiIbunyaSantri] Sah Jadi Santri (1)

Sejak dari rumah hati saya kebat-kebit tak karuan. Dua tahun lalu saat menjalani masa nifas anak keempat, saya melewatkan kesempatan seperti ini. Menyusuri daftar nomor peserta ujian seleksi masuk pesantren. Suami yang menyaksikan, ada nomor si sulung tercantum di pengumuman.

Ahad 30 Juni 2019 menjadi hari bersejarah bagi saya dan suami. Tentu juga bagi putra kedua kami, Faqih Ahmad Royyan. Setelah menantikan pengumuman kelulusan pasca ujian tulis tiga hari sebelumnya, Alhamdulillah nomor ujian Royyan, 402 A tertera di papan info rekapitulasi kelulusan.


Royyan sesaat sesudah tes lisan, 20 Juni 2019 lalu

Rasa haru menyeruak di hati saya. Tak terasa air mata menetes satu-satu tanpa permisi. Terkenang kembali flashback beberapa waktu lalu. Royyan yang selalu harus saya ingatkan mengganti seragam sekolahnya, yang mesti disuruh makan baru mau menyuap nasi ke mulutnya, yang malas meletakkan baju kotor ke keranjang cucian, yang suka menjahili adiknya, yang sangat ngemong pada adik bungsunya, yang jadi tukang beli ke warung sayur kalau rempah masak Umi ada yang kurang, yang kami juluki Kepala Bagian Sampah karena tugasnya membuang sampah, yang ini dan yang itu, sampailah hari ini, kini saatnya ia meninggalkan rumah.

Jadi santri. Saya pun bersiap kembali menjadi ibunya santri. Setelah dua tahun penuh predikat ibu santri putri saya sandang, kini bertambah lagi amanah itu. Jadi wali santri putra. Lengkap sudah putra dan putri kami menjadi pembelajar di pesantren. Alhamdulillah, sungguh syukur yang tak putus-putusnya saya lantunkan.


Nomor Royyan 402 A



Menjadi ibunya santri tak sekadar mengantarkan anak ke medan perjuangannya. Berdasarkan nasihat dari KH. Hasan Abdullah Sahal, pimpinan Pondok Modern Gontor yang selalu saya pegang, wali santri harus punya 5 (lima) sifat dan sikap, TITIP, yaitu:

1. Tega
Harus tega, harus tega, harus tega, harus percaya kalau di pesantren anakmu itu dididik, bukan dibuang. Harus tega, karena pesantren adalah medan pendidikan dan perjuangan.

2. Ikhlas
Harus ikhlas, harus sadar kalau anakmu itu tidak akan dibiarkan terlantar, harus ikhlas anakmu dididik, dilatih, ditempa, diurus, ditugaskan, disuruh hafalan, dan sebagainya. Kalau merasa anakmu dibuat ndak senyaman hidup dirumah, ambil anakmu sekarang juga!

3. Tawakkal
Setelah itu serahkan sama Allah. Berdoalah! Karena pesantren bukan tukang sulap, yang bisa mengubah begitu saja santri-santrinya. Maka berdoalah.

4. Ikhtiar
Dana dan doa. Ini adalah kewajiban. Amanat.

5. Percaya
Percayalah bahwa anak kalian ini dibina, betul-betul DIBINA. Apa yang mereka dapatkan di sini adalah bentuk pembinaan. Jadi kalau melihat anak-anakmu diperlakukan bagaimanapun, percayalah itu adalah bentuk pembinaan. Itu adalah pendidikan.





Insyaallah akan saya amalkan semua wejangan Kyai Hasan. Anak saya jadi santri, saya pun menjadi pembelajar. Belajar menaati peraturan, sunnah dan adab pesantren. Menjadi subsistem dari keseluruhan sistem pendidikan pesantren. Pesantren, asatiz, lingkungan, wali santri, kesemuanya saling mendukung sebagai kesatuan utuh yang menyukseskan belajar anak.

Buang semua sikap tinggi hati, merasa lebih hebat, dan sifat-sifat yang menjauhkan diri dari akhlak seorang ibunya santri. Meski tetap manusiawi punya aneka rasa, insyaallah selalu berusaha menjadi ibunya santri. Memantaskan diri menjadi ibunya profesional, teknokrat sekaligus alim ulama pejuang Islam di masa depan. Allahu akbar. Semoga Allah SWT meridhai cita-cita besar ini. Aamiin allahumma aamiin.

#Day1
#JadiIbunyaSantri
#SahJadiSantri
#MyBook
#Day165
#SehariSatuTulisan
#KLIP











Berlangganan update artikel terbaru via email:

16 Komentar untuk "[JadiIbunyaSantri] Sah Jadi Santri (1)"

  1. MasyaaaAllaaah selamat mak. Smoga jd anak soleh yaaaa dek :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin yaa mujiibas saailiin. Makasih ya Mak

      Hapus
    2. Belum jd emak2 kak t,t msh single wkwkwk mohon doanya aja xD

      Hapus
    3. Upss maaf... Hehe smoga cepat ketemu yaa sm soulmate dunia akhirah nyaa

      Hapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Wahh Alhamdulillah aku Uda jadi Alumni ke 23 pesantren Ar Raudhatul Hasanah, Dulu dianter mamak waktu mukim (karantina) trus dijemput nya beneran pas wisuda alumni 6 tahun lagi 😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaAllah... Barakallah...

      Btw, Jd pas perpulangan konsulat gak plg ya Ukh?

      Hapus
  4. adik saya dulu di pesantren,
    ibu tak pernah melewatkan jadwal kunjungan setiap jumat.
    orang2 bilang jangan selalu dikunjungi, nanti jadi manja.

    Ternyata sebaliknya.
    Dia selalu ranking 1, tidak mengeluh meski pernah mau nangis gara2 tidur digigit kepinding.

    BalasHapus
  5. adik saya dulu di pesantren,
    ibu tak pernah melewatkan jadwal kunjungan setiap jumat.
    orang2 bilang jangan selalu dikunjungi, nanti jadi manja.

    Ternyata sebaliknya.
    Dia selalu ranking 1, tidak mengeluh meski pernah mau nangis gara2 tidur digigit kepinding.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jaman now bonding antar ibu dan anak amat sgt menentukan. Yeayy kepinding mmg sahabat santri, wkwk
      Sy jg nyantri tp di jogja

      Hapus
  6. MasyaAllah.. barakallah ya mbak untuk mbak sekeluarga. Aku masih 3 tahun lagi utk masukin anak ke pesantren. Rencana gontor, tapi masih maju mundur. Doain bisa dapat pilihan tepat utk anakku juga ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin semoga dimudahkan niat mulianya ya mak... Kami jg dulu pingin antar anak² cm akhirnya lebih realistis. Ongkos ngunjunginya mahal hehe. Bs ditabung buat kuliah. Kl kuliahnya PTN di Jawa, silakan

      Hapus
  7. Alhamdulillah, doain saya juga mbak kelak bisa seperti mbaknya punya anak pada nyantren. Aamiin
    Bahagia tak terkira

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin yaa robbal 'aalamiin. Pasangan juga mesti sevisi-misi biae kompak hehe. Thanks yaa udah mampir n komen

      Hapus
  8. Wah.. Terharu bacanya..
    Sayabjuga niat nyantriin anak selepas MI.
    Tapi masih maju mundur..
    Tp msh lama kok ya, anaknya msh mau kelas dua SD..

    Mempersiapkan diri emak lahir batin ni

    BalasHapus
  9. Bismillah, insyaallah smua berawal dari niat yg kuat, Mom

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel