99 Inspirasi Harian: Hujan Yang Dirindukan (19)

Dua hari yang lalu pasokan air untuk warga Kota Medan terhenti. Kabarnya pipa transmisi yang menyalurkan air ke rumah-rumah warga pecah. Uniknya, pipa berdiameter 1000 mm itu posisinya di bawah tanah rumah warga. Berarti harus membongkar dahulu rumah tersebut kemudian memperbaiki pipa yang pecah.

Di lingkungan rumah kami benar-benar tidak ada air itu berlangsung selama dua hari. Tanggal 23 dan 24 Oktober. Sebelumnya air hidup byar pet, terkadang hidup seharian, saat lain mati setengah hari. Rutinnya mulai pukul 22.00 WIB air mati dan hidup kembali pukul 04.00 WIB. Hari pertama saya masih santai karena bak mandi penuh, tiga galon air minum isi ulang juga masih bisa diandalkan. Nah, di hari kedua, saya mulai mengambil ancang-ancang.

Menuruti saran suami, saya mendatangi depot air minum isi ulang dekat rumah, minta tolong agar memenuhi bak mandi rumah kami dengan air minum yang dijualnya. Saya pikir sepuluh galon cukuplah. Sesampainya di sana ternyata kondisinya sama saja dengan di rumah.

Akhirnya saya kembali dengan tangan hampa. Lalu saya menelepon adik yang menempati rumah orangtua kami. Alhamdulillah pasokan air baik-baik saja. Sayang, rumah orangtua lumayan jauh. Akan banyak makan waktu kalau anak-anak saya boyong ke sana, kasihan si bayi. ART juga ingin cepat pulang.

Tak kehabisan akal, saya menghubungi kakak ipar yang rumahnya di kecamatan sebelah. Alhamdulillah pasokan air di rumahnya juga lancar. Singkat cerita, saya menumpang mencuci dan memandikan anak-anak di sana. Tidak lupa juga mengisi penuh galon untuk stok air di rumah. Sembari berharap kran-kran air segera mengucurkan air lagi.

Setibanya di kediaman kami, turun hujan sederas-derasnya. Hujan itu memang rahmat. Meski pernah mengeluh juga, satu jam saja hujan besar, pasti akan ada genangan air di sejumlah jalan Kota Medan. Hadirnya hujan kemarin sore pastilah sebagai bentuk kasih sayang Allah pada makhluk-Nya di muka bumi. Menyirami tanaman yang sudah dua hari kering kerontang. Membasahi jalan yang tertutup debu. Mendinginkan suasana hati yang galau karena lelah menanti air.

Seketika saya teringat materi hukum lingkungan yang saya ampu dahulu. Saat tahun-tahun pertama menjadi dosen, waktu itu karena masih S1 mata kuliah bisa bergonta-ganti. Untuk mendukung topik bahasan, di awal sesi saya menayangkan video kerusakan bumi di masa depan.

Mahasiswa berseru tertahan sepanjang video dipertontonkan. Salah satunya tampak ilustrasi terjadinya perampokan bersenjata. Namun yang dirampok bukanlah emas berlian atau harta benda lainnya. Hasil rampokan itu adalah air! Perebutan sumber-sumber air dimana-mana. Saking parahnya kerusakan bumi akibat ulah manusia, hujan pun tak pernah turun lagi. Saat itu air lebih bernilai daripada uang. Di masa itu saat-saat bertemu hujan menjadi waktu-waktu yang dirindukan.

Salam literasi

Day19
#99InspirasiHarian
#HujanYangDirindukan
#MyBook
#Day166
#SehariSatuTulisan
#KLIP

Day 165, jurnal

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "99 Inspirasi Harian: Hujan Yang Dirindukan (19)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel