Dongeng 11: Batu Belah Batu Betangkup (Versi Nenek 4R)

Di suatu kampung yang asri berdiamlah seorang ibu yang biasa disapa Mak Iyah dan putrinya yang bernama Mariyah. Suami Mak Iyah sudah lama meninggal dunia sejak Mariyah berusia satu tahun silam. Saking sayangnya pada sang putri semata wayang, Mak Iyah selalu menuruti keinginan anaknya. Tak peduli bagaimana caranya memenuhi, ia senantiasa berusaha memberikan yang Mariyah maui. 



Sumber gambar: Bunsay Aceh-Sumut-Batam


Mak Iyah bekerja menjadi asisten rumah tangga di kediaman tetangga, masih satu desa. Mariyah yang beranjak remaja merasa malu dengan pekerjaan ibunya itu. Tetapi apa hendak dikata jika ibunya tak jadi pembantu tentu ia pun akan kelaparan. Saat sore hari ibunya pulang ia langsung menghambur, menyambut Mak Iyah.

"Mak, bawa apa hari ini? Ada kan ayam rendang kesukaanku? Awas kalau tak ada!" cecarnya sambil membuka-buka bungkus plastik bawaan si ibu.

"Maafkan, Emak ya, Nak... hari ini Mak Cik Lehah sedang tak mau ibu masakkan ayam rendang. Katanya anaknya mau gulai kakap. Ini ada sepotong dikasih Mak Cik untuk Iyah", jelas Mak Iyah dengan mata berbinar, berharap jawabannya dan menu masakan bisa menyenangkan hati anak gadisnya.

"Tidak! Aku tak sudi memakan gulai ini. Aku cuma mau ayam rendang!!! teriak Mariyah mencampakkan rantang berisi masakan berkuah itu tumpah berserakan di lantai tanah rumah mereka. Mariyah berlari masuk ke biliknya, seolah tak ingin lagi melihat wajah emak.

Mak Iyah menangis terisak. Ia memang paham perangai buruk anaknya. Tetapi tidak menyangka oleh-oleh yang dengan susah payah disisihkannya untuk anak kesayangan belahan jiwa ini, dibuang begitu saja. 

Tahukah Mariyah kalau gulai itu sebenarnya adalah jatah makan siang Mak Iyah. Sebab tadi Mak Cik Lehah mendadak kedatangan kerabatnya. Hingga hampir seluruh lauk habis tak bersisa. Mak Iyah ikhlas makan dengan nasi putih dan kuah gulai demi Mariyah. Membayangkan Mariyah merasa kenyang saja sudah membuat ia tersenyum dalam hati.

Demikian sakit hati Mak Iyah hingga tak terasa ia berjalan keluar rumah. Ia berjalan dan terus berjalan sambil menyeka air mata. Putriku sayang, mengapa kau tega berbuat demikian? Mak sayang sesayang-sayangnya padamu. Sampai lupa cara menegur dan memarahimu.

Menjelang maghrib Mak Iyah menghentikan langkahnya tepat di sebuah batu besar. Sambil terus menangis ia menyandarkan tubuhnya yang lelah. Tanpa sadar bibirnya bergumam,

"Wahai batu belah, kemanalah akan kubawa kesedihan ini. Jikalau bisa ingin rasanya aku ikut bersamamu, Batu Betangkup "

Tiba² angin berhembus kencang. Bbbrraakk! Suara laksana pintu gerbang digeser. Mak Iyah kaget bukan kepalang. Ternyata batu dekat tempat ia duduk berlinang air mata membuka seperi akan menelannya.

Seolah ada yang memandu, Mak Iyah pun segera masuk ke dalam batu raksasa itu. Dan secepat kilat, Brruukkkk!! Batu menutup kembali seakan menelan badan Mak Iyah.

Mariyah heran kenapa sampai azan Isya emaknya tak kunjung pulang. Sempat menggerutu ia memegangi perutnya yang lapar. Ditendangnya wadah tempat makanan yang masih tergeletak di lantai. Menyesalkan ibunya mengapa tidak membawakan yang ia inginkan.

Mariyah berjalan keluar rumah dan menyusuri jalan setapak dengan penuh tanda tanya. Sepanjang jalan ia melongok ke kanan dan ke kiri. Siapa tahu ibunya terlihat dan ia bisa minta dimasakkan sesuatu untuk makan malamnya 

Saking jauhnya berjalan ia pun berhenti di depan sebuah batu besar. Desau angin seolah memperkeruh hatinya. Samar dilihatnya ada helai kain yang berkibaran di samping batu.

Dan ia sangat kenal dengan kain itu! Ini kain emak. Tapi di manakah emak? Ia berusaha menarik kain itu namun sia-sia. Malah kain sobek dan ia terjengkang ke belakang. Barulah ia menyadari kalau ibunya sudah tiada. Ibunya lenyap ditelan Batu Betangkup.

"Emaak... Maafkan Iyah, Mak... Pulanglah bersama Iyah. Iyaj janji tak akan berlaku kasar lagi sama Emak." Isaknya sambil meraung-raung.

Sayang, nasi sudah menjadi bubur. Mariyah menjadi anak sebatang kara. Tanpa siapapun yang menemaninya.

***

Ririn berjanji insyaallah tak akan menjadi anak yang durhaka pada orang tua. Baik ayah maupun umi. 

Lebih baik ditegur untuk menjadi lebih baik, daripada kehilangan ibu yang dicintai. 

Sayang pada anak dengan mendidik dan mengajarinya. Terkadang mendidikpun tak selalu dalam wujud memenuhi semua keinginan anak. Mengajari anak pun perlu sikap tegas. Agar anak belajar meraih akhlak yang mulia.


#Day11
#Tantangan10Hari
#Level10
#KuliahBunSayIIP
#MembangunKarakterAnakLewatDongeng
#GrabYourImagination
#Day183
#SehariSatuTulisan

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Dongeng 11: Batu Belah Batu Betangkup (Versi Nenek 4R)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel