Menata Hati Dengan Berpikir Positif

Sumber gambar: Google
Beberapa hari ini saya kurang bersemangat menulis. Setelah membaca pengumuman Penerimaan Pendanaan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Tahun 2018 di laman daring Simlitabmas Kemenristekdikti 16 Januari lalu. Saya tidak menemukan nama yang dicari-cari. Hal ini diperparah dengan pengumuman Hibah Internal universitas tempat saya bertugas, 23 Januari lalu, nama saya juga tidak ada.

Ibarat lirik lagu Rhoma Irama, "yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin". Namun beda substansi. "Yang punya track record, makin punya track record, yang tidak punya track record, makin tak punya track record." Terakhir saya tercatat menang hibah internal, tahun 2015 lalu. Sebenarnya tetap disyukuri daripada tidak ada sama sekali. Namun yang namanya harapan sudah kadung besar, saat realita tidak sesuai dengan idealita maka yang muncul, kecewa.

Sedih iya, sebal juga ada. Rencananya kalau salah satu saja usulan penelitian saya lulus, tentunya luarannya bisa dijadikan artikel ilmiah dan bisa dimuat di jurnal nasional terakreditasi bahkan ke jurnal internasional bereputasi. Keinginan yang muluk, saya pikir. Dengan kenyataan yang ada, saya hanya bisa mencari-cari lagi letak kesalahan proposal tim kami.

Saya hanya merenung, apakah aktivitas menulis saya yang cukup aktif enam bulan terakhir ini, tak banyak membantu proposal saya hingga layak diluluskan. Rasanya menulis di dunia akademik yang "kiri" menjadi sesuatu yang tidak menarik lagi. Selain terikat kaidah penulisan yang ketat, menulis dengan dominasi cara berpikir otak kiri sepertinya memang berseberangan dengan menulis bebas ala otak kanan.

Tak bermaksud untuk sok pandai (saya sendiri masih terus belajar), tanpa sengaja, saya amati tulisan bebas sejawat yang memenangkan hibah-hibah itu, rasanya biasa-biasa saja. Malah kalimatnya membingungkan, tidak logis, sampai "menyiksa" pembaca. Juga kerap menyalahi PUEBI. Mungkin jika diminta menuliskan tentang pengalaman menangnya, misalnya, akan belepotan dan tak mengalir. Tetapi sepertinya reviewer proposal tak mementingkan soal kebahasaan. Sama dengan atmosfer kampus yang kurang seimbang apresiasinya terhadap tulisan yang dianggap nonilmiah, dibandingkan dengan tulisan ilmiah untuk kepentingan riset.

Budaya akademik di universitas, jika Anda sering memenangkan hibah nasional maupun internal, maka Anda sudah dianggap sebagai seorang penulis, penulis yang baik. Prestasi yang prestisius adalah saat nama Anda kembali hadir di daftar penerima pendanaan riset dan pengabdian.

Tampaknya proses penyusunan proposal tak perlu dipertimbangkan. Bagaimana pula menilai proses? Apakah proposal itu Anda buat berdasarkan copy paste proposal kepunyaan sejawat yang telah lebih dahulu menang? Mungkin hal itu tidak begitu menjadi masalah. Yang terpenting faktanya, sukses didanai. Saya kadang mempertanyakan dalam hati, apakah kata-kata yang dituliskan dalam proposal (selain sistematika sesuai panduan), adalah orisinil berasal dari si pengusul? Lagi-lagi sepertinya tak penting, karena buktinya adalah diloloskan reviewer. Tentu saja saya tidak sedang mengeneralisasi. Selalu saja ada yang benar-benar terbaik.

Ah, saya juga tak sampai hati berpikir senegatif itu. Biarlah proses menelusuri kesalahan demi kesalahan dalam pembuatan usulan penelitian saya menjadi bagian dari muhasabah diri. Tak peduli akan berapa lama lagi proposal saya akan didanai. Atau berapa kegagalan lagi yang mesti saya nikmati.

Tugas saya adalah menyempurnakan ikhtiar sampai batas kemampuan maksimal. Bahkan menembus batas jika memungkinkan. Saya percaya kedepannya, hasil tak akan mengingkari proses, demikian saran sejawat senior. Lebih produktif jika saat ini saya menata hati kembali dengan selalu menjaga pikiran positif.

Salam literasi



Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Menata Hati Dengan Berpikir Positif"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel