Protokol Kembali Ke Pesantren Nomor 19 Terpaksa Harus Dilaksanakan

Tanggal 11 dan 14 Juli 2020 kemarin adalah hari yang ditandai di kalender rumah kami. Setelah kurang lebih tiga bulan terakhir anak-anak "kruntelan" di rumah, melakukan aktivitas bersama-sama di rumah, kini saatnya kembali masuk ke pondok pesantren. Oiya, author-nya blogger parenting, kebetulan suaminya juga lulusan pesantren tempat anak-anak saya mondok. Ada artikel yang pas untuk anak pesantren yang lupa cara membuka kunci kombinasi koper.

Protokol kedatangan santri
Raudhah ac id

Usai sudah liburan akhir semester plus karena pandemi. Demi menjaga berlangsungnya pembelajaran, dengan serentetan persyaratan akhirnya kedua anak kami, si sulung dan si nomor dua diantarkan kembali ke tempat belajar mereka, Pesantren Ar Raudlatul Hasanah, Medan.

Bagi saya dan suami mengapa mendukung rencana pihak pesantren untuk melangsungkan proses pembelajaran sesuai jadwal adalah sebagai berikut:
  • tiga bulan di rumah anak-anak sudah cukup puas berliburan di rumah. Saatnya kembali ke medan menuntut ilmu, di rumah saja tanpa ada kegiatan apa-apa tidak baik juga untuk peningkatan pembelajarannya.
  • sedikit banyak anak-anak pasti merindukan teman-teman pondoknya, suasana di dalam ma'had, bel mandi, bel makan, bel ke masjid, dan lain-lain yang tidak akan dijumpai jika di rumah saja.
  • khawatir anak-anak terpapar gawai lebih lama. Meskipun kami memiliki aturan pakai yaitu hanya setiap Sabtu-Ahad. Namun kondisi libur karena pandemi kemarin menjadikan pemakaian gadget menjadi longgar dan akhirnya setiap hari main HP terus.
Mencermati kondisi terkini mengenai protokol kembali ke pesantren, saya memperoleh edaran Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) terkait pesantren. Dituangkan di dalam surat edaran tertanggal 6 Juli 2020. Surat edaran Gubsu ini berisikan protokol kesehatan yang ditujukan kepada pengelola satuan pendidikan yang bertempat di seluruh wilayah Sumatera Utara.

Santriwan Raudlatul Hasanah
Raudhah ac id

Protokol Kembali Ke Pesantren

Protokol Kesehatan bagi Pesantren dan Pendidikan Keagamaan pada Masa Pandemi COVID-19:

1. Membersihkan ruangan dan lingkungan secara berkala dengan disinfektan, khususnya handel pintu, saklar lampu, komputer dan papan tik, meja, lantai dan karpet masjid/rumah ibadah, lantai kamar/asrama, ruang belajar, dan fasilitas lain yang sering terpegang oleh tangan.

2. Menyediakan sarana CTPS dengan air mengalir di toilet, setiap kelas, ruang pengajar, pintu gerbang, setiap kamar/asrama, ruang makan dan tempat lain yang sering di akses. Bila tidak terdapat air, dapat menggunakan pembersih tangan (hand sanitizer).

3. Memasang pesan kesehatan cara CTPS yang benar, cara mencegah penularan COVID-19, etika batuk/bersin, dan cara menggunakan masker di tempat strategis seperti di pintu masuk kelas, pintu gerbang, ruang pengelola, dapur, kantin, papan informasi masjid/rumah ibadah, sarana olahraga, tangga dan tempat lain yang mudah diakses.

4. Membudayakan penggunaan masker, jaga jarak, CTPS, dan menerapkan etika batuk/bersin yang benar.

5. Bagi yang tidak sehat atau memiliki riwayat berkunjung ke negara atau daerah terjangkit dalam 14 (empat belas) hari terakhir untuk segera melaporkan diri kepada pengelola pesantren dan pendidikan keagamaan.

6. Menghindari penggunaan peralatan mandi dan handuk secara bergantian bagi lembaga pesantren dan pendidikan keagamaan yang ber-asrama.

7. Melakukan aktivitas fisik, seperti senam setiap pagi, olahraga, dan kerja bakti secara berkala dengan tetap menjaga jarak, dan menganjurkan untukmengonsumsi makanan yang sehat, aman, dan bergizi seimbang.

8. Melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan warga satuan pendidikan paling sedikit 1 (satu) kali dalam 1(satu) minggu dan mengamati kondisi umum secara berkala:

  1. apabila suhu ≥37,30 C, maka tidak diizinkan untuk memasuki ruang kelas dan/atau ruang asrama, dan segera menghubungi petugas kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan setempat;
  2. apabila disertai dengan gejala batuk, pilek, sakit tenggorokan, dan/atau sesak nafas disarankan untuk segera menghubungi petugas kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan setempat;
  3. apabila ditemukan peningkatan jumlah dengan kondisi sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b segera melaporkan ke fasilitas pelayanan kesehatan atau dinas kesehatan setempat.

9. Menyediakan ruang isolasi yang berada terpisah dengan kegiatan pembelajaran atau kegiatan lainnya

10. Menyediakan sarana dan prasarana untuk CTPS termasuk sabun dan pengering tangan (tisu) di berbagai lokasi strategis.

11. Pemakaian Masker
  1. Pemakaian masker dilakukan terus menerus, di setiap tempat dan waktu, kecuali saat sedang makan, minum, atau mandi.
  2. Masker yang digunakan yaitu masker kain 3 (tiga) lapis, atau 2 (dua) lapis yang di dalamnya diisi tisu  dan harus mengganti masker setiap 4 (empat) jam.
  3. Setelah dikenakan, masker dicuci bersih pakai sabun.
  4. Setiap orang harus memiliki paling sedikit 3 (tiga) masker, satu untuk dikenakan selebihnya sebagai cadangan jika diperlukan penggantian masker.
  5. Setiap masker harus diberi nama pemiliknya agar tidak tertukar.
15. Ibadah dan ritual keagamaan.

a. Dilakukan dengan tetap memakai masker, menjaga jarak, dan tidak memperpanjang waktu ibadah/ritual keagamaan tanpa mengurangi syarat sahnya ibadah/ritual keagamaan.

b. Menggunakan peralatan ibadah/ritual keagamaan pribadi yang dibersihkan secara rutin dan tidak saling pinjam-meminjamkan peralatan ibadah/ritual keagamaan dengan orang lain.

c. Menggunakan kitab suci pribadi dan buku/bahan ajar pribadi.

d. Pengumpulan dana, sumbangan, kolekte atau sejenisnya di dalam rumah ibadah tidak dibenarkan menggunakan media seperti kotak amal, yang disentuh oleh orang banyak sehingga berpotensi menjadi media penularan.

e. Cara yang digunakan untuk pengumpulan dana, sumbangan, kolekte atau sejenisnya adalah cara tanpa harus menyentuh media pengumpulannya, seperti:

  1. dengan meletakkan kotak atau media pengumpulan lain dari logam, kayu, jarring, atau jala dengan mulut atau bukaan yang terbuka lebar, di pintu keluar-masuk rumah ibadah; atau
  2. petugas berkeliling membawa keranjang atau jala bergagang untuk mengumpulkan dana, sumbangan, kolekte atau sejenisnya.
16. Makan/Minuman.
  1. Bagi pesantren dan pendidikan keagamaan yang menyiapkan makanan dengan memasak di dapur umum, agar benar-benar memperhatikan kesehatan dan kebersihan dapur, peralatan masak, bahan-bahan makanan, gizi, penyajian makanan dan peralatan makannya.
  2. Menyediakan makanan gizi seimbang yang dimasak sampai matang dan disajikan oleh penjamah makanan (juru masak dan penyaji) dengan menggunakan sarung tangan dan masker.
  3. Tetap memperhatikan ketentuan jaga jarak saat antri makanan maupun saat duduk makan.
  4. Pesantren dan pendidikan keagamaan yang memperbolehkan peserta didiknya untuk membeli atau menumpang masak di masyarakat sekitar asrama, agar memastikan bahwa tempat tersebut memenuhi protokol kesehatan. Pesantren dan pendidikan keagamaan dapat meminta bantuan dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat untuk melakukan penyuluhan dan pengawasan.
Santriwati RH

17. Pembiasaan menjaga kebersihan dan cuci tangan.

Saat akan masuk ruang kelas, setiap orang harus mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir sesuai ketentuan, dan diukur suhunya.

a. Bagi yang suhunya ≥ 37,3, tidak diperkenankan untuk masuk, dan segera diperiksakan ke pos kesehatan pesantren dan pendidikan keagamaanatau dirujuk ke Puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

b. Saat akan masuk ruang makan, setiap orang diwajibkan kembali untuk mencuci tangan dan mengukur suhu tubuh.

c. Setelah selesai istirahat siang, dan akan mulai belajar kembali, setiap orang diwajibkan lagi untuk mencuci tangan dan mengecekkan suhu tubuh, utamanya bagi pesantren dan pendidikan keagamaan yang memperbolehkan peserta didiknya untuk makan di rumah/warung rakyat di luar lingkungan asrama.

d. Setiap orang yang akan masuk ruang pustaka atau ruang laboratorium, haris melakukan CTPS dengan air mengalir atau hand sanitizer agar tidak menularkan melalui buku atau peralatan laboratorium yang sudah dipegang orang banyak.

18. Penyiapan fasilitas asrama yang memenuhi protokol kesehatan. Pesantren dan pendidikan keagamaan harus terus-menerus berusaha untuk meningkatkan asrama pendidikannya agar semakin ideal memenuhi standard protokol kesehatan.

b. Fasilitas yang perlu diperhatikan seperti ruang tidur, ruang belajar, ruang ibadah, toilet, tempat berwudhu, ruang makan, dapur umum, dan ruang terbuka.

19. Menerima Tamu.

a, Tamu harus dibatasi, yang dibolehkan hanya orang tua atau saudara kandung yang benar-benar punya kepentingan mendesak untuk bertemu.

b. Hanya diterima di ruang penerimaan tamu, melalui protokol kesehatan yang telah ditetapkan, seperti CTPS dengan air mengalir, mengukur suhu tubuh, menggunakan masker, dan jaga jarak.

c. Setelah tamu pulang, yang menerima tamu harus dicek kembali kesehatannya saat itu juga dan dilanjutkan pengecekan ulang keesokan harinya.

Mengapa protokol yang nomor 19 terpaksa harus dilaksanakan?

Kesemua protokol dari gubernur di atas, diturunkan ke tingkat satuan pendidikan dalam hal ini pesantren dengan keluarnya protokoler kedatangan santri ke pesantren dan maklumat direktur pesantren.

Protokol Raudlatul Hasanah
GWA Wali Santri


Jika pada ketentuan protokol 19 Edaran Gubsu tentang menerima tamu harus dibatasi untuk kepentingan yang benar-benar mendesak dan hanya orang tua atau saudara kandung saja yang bisa mengunjungi, Maklumat direktur lebih tegas lagi, untuk sementara tidak menerima tamu dulu.

Tentunya larangan menjenguk ini untuk mengantisipasi penularan Covid-19 dari luar. Pihak pesantren telah berupaya keras mensterilkan diri, jangan sampai usaha sangat serius ini menjadi sia-sia jika tamu dari luar malah membawa virus. Yang dikhawatirkan sekali adalah pesantren menjadi klaster baru penyebaran virus, Na'udzubillahi min dzalik,

Hiks, bisa dibayangkan betapa rindunya saya sebagai ibu sepasang santri. Meski sudah menyiapkan mental sejak awal anak masuk pesantren, namun yang namanya ibunda pastilah ingin sering-sering bertemu buah hati belahan jiwanya.

Maklumat Pesantren RH
GWA Wali Santri


Namun saya segera teringat salah satu pesan KH. Hasan Sahal pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor yang menjadi rujukan setiap wali santri di mana pun berada,

Bertemulah jarang-jarang, agar cinta makin berkembang

Biarlah mereka tenang di dalam pondok, jangan diusik dulu. Mereka bagaikan para pemuda Ash-habul Kahfi yang tengah berada di dalam guanya. Insyaallah mereka senantiasa berada di dalam penjagaan Sang Sebaik-baik Penjaga, Allah SWT. Dengan izin-Nya kami akan bertemu dalam keadaan yang lebih baik lagi. Aamiin yaa rabbal 'aalamiin.

Salam,














Berlangganan update artikel terbaru via email:

21 Responses to "Protokol Kembali Ke Pesantren Nomor 19 Terpaksa Harus Dilaksanakan"

  1. MasyaAllah kak, smoga anak-anak bisa lebih aman di pesantren ya. Baik itu aman kesehatan maupun aman menuntut ilmu. Gpp lah nggak ketemu sebentar, itung2 memupuk rindu. Semoga pandemi ini cepat berlalu.

    ReplyDelete
  2. Gak apa lah ya kak untuk sementara waktu tidak bertemu dulu. Nanti kalo sudah waktunya pasti bertemu. Oh ya kak, beberapa hari anak-anak sudah masuk gak ada kabar mengkhawatirkan kan kak?
    Semoga anak-anak di pondok dilindungi selalu, Aamiin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insyaallah mantau terus dari grup Wali Santri nya nih Cha... mudah2an aman2 aja, bismillah

      Delete
  3. Semoga anak gadis kakak sehat selalu ya. Pasti ngerasa dilema tapi dyah yakit pihak pesantren akan berbuat yang terbaik untuk anak-anak di sana ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin... gak cm anak gadis kk lho Di... anak lajang juga ada 1 di sana... sepasang santri tapi hehe

      Delete
  4. Masya Allah, dengan prosedur keselamatan dan protokol menjaga kesehatan seketat itu, insya Allah anak anak calon para pejuang pembela agama ini dijaga para tentara Allah SWT aaamiiin yra! Allahu Akbar!

    ReplyDelete
  5. Masya Allah, dengan prosedur keselamatan dan protokol menjaga kesehatan seketat itu, insya Allah anak anak calon para pejuang pembela agama ini dijaga para tentara Allah SWT aaamiiin yra! Allahu Akbar!

    ReplyDelete
  6. Cemanalah ya. Sudah tiga bulan pun. Enggak mungkin gini-gini saja. Peraturannya pun juga harus dipatuhi. Semoga pada sehat selalu dan baik-baik saja di sana. Semangat menuntut ilmu.

    ReplyDelete
  7. Semoga anak-anak kita sehat semua, tetap semangat belajar dengan tetap taat protokol kesehatan.
    Semoga pandemi ini cepet berlalu yaa

    ReplyDelete
  8. Protokol kembali ke pesantren memang harus ditaati baik-baik, ya. Semoga dengan demikian semuanya akan berlangsung dengan baik untuk semuanya

    ReplyDelete
  9. Alhamdullilah proses belajar mengajar akhirnya berjalan lagi.
    Karena sebagai mahluk sosial kita perlu bersosialisasi

    ReplyDelete
  10. Protokolnya banyak banget dan detail sekali ya, Mbak. Semoga anak-anak betah di pondok, dan bisa mematuhi protokol dengan baik untuk kesehatan mereka

    ReplyDelete
  11. Anakku Juga tgl 18 juli dah mulai masuk nih mba... Awal harus d rapid dulu... Mudah2an Allah selalu melindungi mereka ya. Bebas dari penyakit apapun

    ReplyDelete
  12. Biar sama-sama saling menjaga, jadi lebih baik untuk sementara membatasi kunjungan, karena masih tetep bisa dilakukan juga kan melalui video call

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pesantrennya anak2 saya ga boleh ada gawai. Ustad/ustazahnya juga gak biasain pinjemin HP

      Delete
  13. Mudah²an sehat semua yaa. Tetep bisa belajar & beribadah. Aamiin ya rabbal'alamin

    ReplyDelete
  14. Madrasah tempat saya mengajar tanggal 13 Juli kemarin mulai melakukan proses kedatangan santri. Tapi dilakukan secara bertahap, biar gak langsung ramai. Degdegan juga nantinya proses belajar apakah akan full offline atau dikombinasikan dengan online.

    ReplyDelete
  15. MasyaAllah mba...semoga anak2nya selalu sehat dan dalam penjagaan Allah. InsyaAllah semua perjuangan n pengorbanan akan berbuah nikmat tak terhingga kelak.

    Semoga pandemi ini segera hilang. Aamiin

    ReplyDelete
  16. Insyaa Allah akan lebih baik ya mbak, gpp lah jarang ketemu sama anak. Smg anaknya sukses dalam melanjutkan pendidikannya dan smg sehat selalu

    ReplyDelete
  17. Ponakan saya juga mondok mbak, tapi belum kembali lagi ke Pondok. Jatim angka positifnya luar biasa. Jadi pihak pesantren juga sangat berhati-hati memasukkan lagi siswa

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan komentar yang santun. Sebab bisa jadi Anda dinilai dari komentar yang Anda ketikkan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel