Mencerna Pelan-Pelan Programnya "Mas Menteri"

FADLIMIA.COM - Rabu pekan lalu 20 November 2019 saya diundang untuk turut menghadiri Diseminasi Kegiatan Penalaran dan Kreativitas yang diadakan oleh Ditjen Belmawa. Apakah itu Belmawa, sudah saya bahas panjang lebar di tulisan yang ini, Kenapa Mahasiswa Harus Ikut PKM?

Acara ini menarik sebab diadakan dengan skala yang cukup luas, meliputi LLDikti Wilayah 1 dan 2. LLDikti 1 dengan cakupan wilayah Sumatera Utara. LLDikti Wilayah 2 mencakup daerah Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu dan Bangka-Belitung. Pejabat struktural kemahasiswaan dari PTN IPB dan ITB juga ikut sebab ingin meng-update informasi mengenai event-event nasional mahasiswa se-Indonesia.

fadlimia-com-diseminasi-penalaran-kreativitas-ditjen-belmawa
Acara Diseminasi Penalaran dan Kreativitas Ditjen Belmawa di UMSU / Dokrpi
Beruntung UMSU Medan sebagai tuan rumah yang terpilih menjadi lokasi berkumpulnya ratusan dosen pendamping PKM, Wakil Dekan/Rektor III Bidang Kemahasiswaan kedua wilayah LLDikti tersebut. Penulis sendiri tidak kebagian duduk di depan. Duduk di barisan belakang bersama dosen-dosen UMSU lainnya, selaku ahli bait yang baik, kami mengalah pada tamu-tamu lainnya.

Acaranya dibuka dengan pemaparan Ditjen Penalaran dan Kreativitas tentang kondisi di tahun 2022 yang akan datang. Lapangan pekerjaan manusia 40% akan digantikan robot meskipun robot dan manusia tetap memiliki kelebihan dan kekurangan. Kaitannya dengan pembelajaran mahasiswa, kampus wajib menyiapkan SDM yang sarat kreativitas. Sebab, robot tidak punya kreativitas!

diseminasi-penalatan-dan-kreativitas-ditjen-belmawa
Suasana diseminasi / dokpri
Kondisi umum yang didapati selama ini adalah ketidakmampuan mahasiswa bernalar dengan baik, hoaks, intoleransi, radikalisme, dan terorisme yang berkembang dengan cepat. Maka sebagai bagian dari kemampuan bernalar adalah menyaring terlebih dahulu setiap informasi yang beredar dan viral di dunia maya, tidak menelannya bulat-bulat.

Perguruan tinggi harus menelaah akan berperan seperti apa mahasiswa yang akan dihasilkannya. Peran kampus sebagai agent of education sudah lewat, kita melaksanakan yang namanya Tri Darma Perguruan Tinggi.

Sekarang kita menjadi agent of knowledge, mengikuti perkembangan teknologi dan ekonomi. Berusaha seoptimal mungkin menghasilkan lulusan yang berdaya saing sekaligus berdaya dari segi ekonomi.

SDM unggul yang berpendidikan tinggi namun employability rate-nya juga tinggi alias tidak menganggur. Mestinya semakin baik akreditasi, maka semakin tinggi pula employability rate.

Sarjana Dulu VS Sarjana Kekinian

Dahulu ijazah dan transkrip nilai masih dibangga-banggakan. Punya indeks prestasi kumulatif cumlaude menjadi suatu prestise tersendiri. Zaman sekarang, selain kompetensi keilmuan, yang ditekankan adalah penguasaan softskill seperti sopan santun, bertanggung jawab  dan disiplin.

Jadi nilai yang tertera di atas kertas tidak menjadi tolok ukur keberhasilan seorang sarjana lagi. Tetapi sejauh mana ia membuktikan ketrampilannya di dunia kerja, itu yang diutamakan.

diseminasi-penalaran-dan-kreativitas
Perguruan Tinggi, kunci utama untuk maju

Terkait dengan Hari Guru nasional 2019 baru-baru ini, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim yang biasa disapa "Mas Menteri" oleh para profesor dan pejabat struktural di lingkungan Kemendikbud karena usianya yang relatif masih muda dan ia sendiri pun menganjurkan agar disapa demikian, memberikan pidato yang isinya sebagai berikut:

Biasanya tradisi Hari Guru dipenuhi oleh kata-kata inspiratif dan retorik. Mahon maaf, tetapi hari ini pidato saya akan sedikit berbeda. Saya ingin berbicara apa adanya, dengan hati yang tulus, kepada semua guru di Indonesia, dari Sabang
sampai Merauke.

diseminasi-penalaran-dan-kreativitas-ditjen-belmawa-dikti
Saya dan salah seorang narasumber diseminasi, Dr. dr. Widiastuti dari FK UGM, beliau tergabung dalam jajaran Ditjen Belmawa Dikti bidang PKM. Seingat saya beliau pernah menjadi Purek III Kemahasiswaan UGM saat saya kuliah S1 dulu. Sampai kapanpun sosok beliau adalah guru saya juga meski tidak bertatap muka di perkuliahan
Guru Indonesia yang tercinta, tugas Anda adalah yang termulia sekaligus yang tersulit. Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan.

Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu Anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas.

Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan.

Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan. Anda frustrasi karena Anda tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal.

Anda tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagamaan sebagai prinsip dasar birokrasi. Anda ingin setiap murrid terinspirasi, tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi.

Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada Anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia.

Namun, perubahan tidak dapat dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah.
Ambillah langkah pertama.

Besok, di mana pun Anda berada, lakukan perubahan kecil di kelas Anda.
• Ajaklah kelas berdiskusi, bukan hanya mendengar.
• Berikan kesempatan kepada murid untuk mengajar di kelas.
• Cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan seluruh kelas.
• Temukan suatu bakat dalam diri murid yang kurang percaya diri.
• Tawarkan bantuan kepada guru yang sedang mengalami kesulitan.

Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak.

Menurut saya pidato ini membutuhkan interpretasi lebih lanjut agar bisa diimplementasikan ke dalam tataran praktis. Di satu sisi meminta guru berkreativitas, namun di sisi lain guru dibatasi kurikulum yang sudah baku dari sananya.

Lalu, guru diminta terbebas dari birokratisasi, hal yang memang selama ini amat sangat diidam-idamkan para pendidik. Namun coba dipikirkan ulang, mampukah guru mengambil kebijakan sepihak, berhenti mengikuti kemauan birokrasi sama artinya dengan berhenti jadi guru, bukan? Hal ini yang harus dicarikan solusi adilnya oleh Mas Menteri dan jajarannya.

Visi Misi Mas Menteri

Di level pendidikan tinggi nantinya program-program Mendikbud akan diturunkan dari visi-misi di bawah ini:

1. Pendidikan karakter
2. Inovasi dan investasi
3. Teknologi dan pendidikan
4. Kewirausahaan dan penciptaan lapangan kerja
5. Deregulasi dan debirokratisasi


diseminasi-penalaran-dan-kreativitas-ditjen-belmawa
Visi Misi Mas Menteri
Saya pribadi selaku praktisi pendidikan di perguruan tinggi selama 15 tahun terakhir ini menyambut baik visi misi Mendikbud. Dipilihnya Nadiem Makarim oleh presiden karena dipandang sukses membesarkan transportasi berbasis aplikasi daring, Gojek.

Di era revolusi industri 4,0 ini disrupsi telah merambah ke berbagai bidang, tak terkecuali di bidang pendidikan tinggi. Era big data memungkinkan orang yang menguasai pemeliharaan data dengan baiklah yang akan memenangkan segala bentuk persaingan.

Berharap sekali debirokratisasi diterapkan dengan segera. Sebab untuk mengikuti penelitian misalnya, hendak sampai ke tahap upload proposal, persyaratan administrasinya ribet sekali. Unduh-kerjakan-pindai-unggah, begitu terus, tidak simpel.

Syukurlah 2 tahun terakhir sudah lebih didigitalisasi meski di sana sini masih dianggap rumit oleh beberapa rekan sejawat.

Satu hal yang sangat krusial, Mas Menteri wajib meninjau kembali sistem pendanaan penelitian para dosen, yang harus berkompetisi terlebih dahulu barulah mendapatkan biaya bagi risetnya.

Bandingkan di negara tetangga yang dosen-dosennya bisa meneliti dengan tenang sebab dana penelitian pasti dibayarkan pemerintahnya, dengan nominal yang menyejahterakan pula.

Terkait disrupsi, kurang lebih dua tahun yang lalu, berdasarkan artikel Prof. Rhenald Kasali di Rumah Perubahan, saya menuliskan 20 Pekerjaan Yang Akan Hilang Di Masa Depan. Bukan tidak mungkin di masa yang akan datang, orang tidak perlu lagi ke kampus fisik.

Berbekal kuota internet berkualitas, mahasiswa bisa memilih sendiri professor dari Harvard University sebagai dosen, misalnya. Maka berlari bersama zaman sangat krusial dilakukan para dosen dan pengelola perguruan tinggi di mana pun berada.

fadlimia-com-diseminasi-penalaran-dan-kreativitas-ditjen-belmawa
6 C-nya Mas Menteri
Sebagai penunjang kesuksesan visi misi dan program Kemendikbud, Nadiem Makarim menekankan 6C yang harus diajarkan kepada mahasiswa. Apa saja 6 C itu?

1. Critical Thinking
2. Creative Thinking
3. Communication
4. Collaboration
5. Character
6. Citizenship

Menurut saya ini sudah dimulai di zaman Menteri Nasir sebelumnya. Bahwa komponen penilaian terhadap mahasiswa tidak lagi sebatas kompetensi keilmuannya semata. Ranah kognitif wajib dilengkapi dengan penilaian aspek kepribadian yang mencakup 6C di atas. Berikut penilaian attitude mahasiswa yang saya rangkum dari form penilaian di setiap semesternya:


Dan oleh panitia, sesampainya di rumah saya mendapat kiriman e-certi sebagai tanda sudah mengikuti acara diseminasi ini sampai selesai. Lumayan, buat nambah angka kredit di unsur penunjang sebanyak 1 poin.

fadlimia-com-mencerna-pelan-pelan-programnya-menteri-baru
Sertifikat elektronik dari Ditjen Belmawa


Berlangganan update artikel terbaru via email:

90 Komentar untuk "Mencerna Pelan-Pelan Programnya "Mas Menteri""

  1. Bentar-bentar, ini belum lengkap tulisannya ya Kak? Maaf belum paham lengkapnya soalnya akutu...

    BalasHapus
  2. beruntunglah UMSU Medan yang sudah menjadi tuan rumah untuk acara tersebut. Betul sekali kita harus mencerna pelan-pelan agar tidak salah persepsi saat menikmati hidangan yang diberikan oleh mas menteri

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener kan yaa,, gak lgsg menolak atau nurut 100%, kan diminta critical thinking

      Hapus
  3. Dikira saya aja yang keheranan sama kelanjutan artikelnya. Separo dan nanggung banget. Hehe.

    BalasHapus
  4. Kayaknya belum lengkap ya kak? Penasaran sama ceritanya 😂 soalnya nanggung banget artikelnya

    BalasHapus
  5. Jadi pengen tahu kelanjutanya program pendidikan tinggi ala Mas Mentri Nadiem . Semoga benar - benar berhasil guna dan berdaya guna untuk Indonesia

    BalasHapus
  6. asyik ya umsu jadi tuan rumah. Jadi penasaran dengan kelanjutannya. Yuk kak mia.. segera ya.. aku jadi kepo

    BalasHapus
  7. yang penting judulnya aja sudah menarik,, pasti kelanjutannya sangat menarik ya kan kak?

    BalasHapus
  8. Haaa lagi asik-asik baca eh bersambung artikelnya, hihihi. Tetap penasaran nih gimana kelanjutan program mas mentri yang sempat meramaikan media sosial beberapa hari lalu.

    BalasHapus
  9. Beruntung ya UMSU jadi tuan rumah. Rasa masih gak percaya aja sampai sekarang Nadiem jadi menteri. Semoga pendidikan di Indonesia 5 tahun ke depan makin bagus. Aku penasaran, apakah kedepannya mas mentri mau mencoba menerapkan pengalaman yang dia dapatkan selama bersekolah di luar negri untuk kemajuan pendidikan kita? Semoga ya...

    BalasHapus
  10. Ngomong2 soal PKM, saya dan beberapa teman saya sewaktu masih berkuliah di IPB dulu pernah mengikutinya. Proposal kami lulus dan diterima, meski tidak menang di perlombaan nasional. Dulu rasanya sangat bangga jika bisa lulus PKM, dapat duit lagi. Hehehe. Jadi bernostalgia kan. Semoga gebrakan-gebrakan Mas Menteri lebih implementatif ke depannya ya mba.

    BalasHapus
  11. Eh ini bahasannya tentang apa ya, kok aku ga dapet intinya, apa sengaja dibuat kayak cerbung gitu??

    Tak coba cerna pelan pelan, tak ulang lagi bacanya dari awal, sampe akhir, terus tak ulang lagi pelan pelan bacanya.

    Oh ternyata jadi tuan rumah toh kegiatan Diseminasi Kegiatan Penalaran dan Kreativitas yang diadakan oleh Ditjen Belmawa

    Wah seneng ya jadi tuan rumah yang di hadiri oleh ratusan dosen pendamping PKM, seharusnya bisa tunjukin kemereka ini loh kampus UMSU!!! :)

    BalasHapus
  12. Mas Menteri sama suamiku sama, jebolan MBA Amerika tapii beda kampus dan beda nasibnya #eh, siapa yang nanya pula haha
    Aku agak speechless waktu Beliau terpilih. Bukan karena protes tapi malah hepiiii. Karena begitu banyak harapan dan doaku buat kemajuan pendidikan Indonesia. Semoga Beliau dimampukan menjalankan amanah ini. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. uwooow,, ternyata sesama lulusan USA ya Mbak...

      yupz, harapan kita bersama agar pendidikan Indonesia, maju

      Hapus
  13. Saya pikir ada masalah dengan jaringan karena artikelnya tidak utuh, rupanya bersambung. Bikin penasaran saja dengan cara namggung gini, hi hi.
    UMSU sebagai tuan rumah adalah universitas yang telah beroleh banyak kepercayaan dari berbagai pihak karena itu sering dipercaya menggelar acara penting. Salut untuk UMSU.Senang, ya, jadi dosen di universitas yang selalu berprestasi. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karena UMSU masuk klaster utama pengirim proposal PKM terbanyak dan satu-satunya PTS berakreditasi A di pulau Sumatera, Mbak

      Hapus
  14. Wah bisa aja bikin penasaran hehe. Secara, acara2 yg diadakan di UMSU ini bagus banget untuk mensosialisasikan program2 mendikbud kita yg baru ini. Pidato Mendikbud utk hari guru ini jg beda banget, cuma dua halaman, tp isinya itu yg sangat menggugah

    BalasHapus
  15. Waini dia nih pidatonya Mas Menteri yang viral di WAG buibu sekolahan. Tapi, aku sih setuju, sekarang udh bukan jamannya lagi cara ngajar jaman old yang 1 arah. Anak-anak jaman sekarang harus banyak praktek dan diskusi dan buat action. Biar gedenya gak jadi politisi yang cuma jago ngecap tapi juga bisa berfaedah utk nusa dan bangsa

    BalasHapus
  16. Mba ini bersambungkah artikelnya? Aku lagi asyik baca sampai pidato pak menteri kemudian bingung. Atau maksudnya dicerna oleh masing-masing isi pidatonya pak Menteri Nadiem Makariem ini? Pokoknya aku menunggu terobosan baru dari pak Menteri. Dan mudah-mudahan membawa perubahan yang baik untuk dunia pendidikan di negeri ini.
    .
    Tapi ngomong-ngomong sedih juga
    soal pemaparan Ditjen Penalaran dan Kreativitas tentang kondisi di tahun 2022 yang akan datang. Lapangan pekerjaan manusia 40% akan digantikan robot. hiks.

    BalasHapus
  17. Jadi programnya apa ya? Koq saya ga dapat point nya hahahha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah akhirnya saya dapat point dari artikel ini.

      Terobosan Mas Mentri ini keren. Kebetulan kakak saya juga guru, jadi cukup sering mendengar dia mengeluh soal kurikulum. Tentu saja saya sangat berharap pendidikan di Indonesia dapat lebih baik lagi kedepannya dengan gebrakan2 lain dari Mas Mentri.

      Hapus
  18. ciehh bisa ketemu atau lihat mas mentri


    aku berharap bayak ke mas mas ini tapi nggak mau muluk2

    karena sbg mentri pendidikan aku berharap nasib guru honorer aja diperhatikan, jgn fokus ke teknologi yang akhirnya mengabaikan kesejahteraan guru honorer huhu

    BalasHapus
    Balasan
    1. nah itu tuh Mbak,, betul sekali,, memperjuangkan nasib guru honorer, msh ada di daerah pedalaman gajinya 250k/bulan, sekali 3 bulan lg gajiannya, hiks

      Hapus
  19. Banyak yang ga terima dan kaget waktu pak menteri dipilih jadi menteri pendidikan semua dikaitkan dengan perusahaan online dia sampai ada guru yang memprotes ya harusnya kita dengar sampai tuntas jangan separuh2 banyak candaan yang dikirim melalui chat ..semoga beliau dapat menjalankan amanah yanh diberikan dan memberikan perubahan terhadap pendidikan di Indonesia ..

    BalasHapus
  20. Pidato Mas Menteri singkat, padat, dan merupakan potret guru di kehidupan nyata. Banyak guru yang menjadi tempat curhat orangtua murid. Tapi banyak juga guru yang mencoba memasuki kehidupan anak didik yang dianggap mampu tapi ta terolah di rumah.
    Saran beliau, harus dilakukan di kehidupan nyata. Perubahan besar akan terjadi jika dilakukan. Menurut saya

    BalasHapus
  21. Meski banyak yang meragukan karena beliau founder gojek tapi malah jadi menteri pendidikan, namun beliau terus membuktikan kalau memang layak diberikan amanah tersebut.

    BalasHapus
  22. Menanti realisasi program-program sang menteri pendidikan yang baru ini. Karena sejujurnya ddari pengalaman memang itulah yg dirasakan saat menjadi guru dlu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nasib guru masih harus terus diperjuangkan yaa,, tp kayanya Dyah lbh enjoy jd bloger kan yaa

      Hapus
  23. Pidato pak menteri memang beda. Semoga bisa semakin mencerahkan dunia pendidikan di negara kita

    BalasHapus
  24. Seru nih, postingan berseri. Jadi pengen tahu lebih banyak bagaimana ngampus sekarang dengan zaman saya. Sarjana kekinian dengan sarjana kuno macam saya. Ditunggu ya, lanjutannya

    BalasHapus
  25. Hahaha Mbak Miaaaaa, padahal aku nungguin lanjutannya dan kali ada opini Mbak Mia ttg hal ini. Tapiii saya juga berharap emang si Mas Menteri ini membawa banyak perubahan buat pendidikan Indonesia. Tapi tahu gak mbak, aku jd kangen Pak Habibie, seandainya msh ad kali ada masukan, eh kenapa aku mikirnya sampai ke sana ya... #tutupmuka

    BalasHapus
    Balasan
    1. oiyaa,, scr Pak Habibie edisi komplit yaa,, teknokrat iya, ilmuwan, pemimpin n guru bangsa juga

      Hapus
  26. Seneng sih ,ini salah satu cara pak menteri menunjukkan kinerja dia, ditengah-tengah banyaknya yang meragukan, kutunggu cerita selengkapnya kakk

    BalasHapus
  27. Sayang banget ya artikelnya kok nanggung.

    Untuk Mas Menteri yang baru, aku sungguh menunggu2 gebrakan kebijakannya sih. Krn sebagai milienials ikutan bangga tmn satu angkatan jdi menteri. Semoga amanah dan membawa perubahan di bidang pendidikan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mesti banget ya Mbak nulis komen nanggung, ckck
      Padahal bs ngomenin sisi lainnya kan

      Hapus
  28. aku sukak sama pidato nya mas menteri.. buruan mba dibikin lanjutannya, aku penasaran loh ini.. :D

    oya, dan semoga pendidikan indonesia makin baik ya ke depannya. Amiiinnnn..

    BalasHapus
  29. Nah ini baru lengkap.

    Sarjana dulu dan sarjana sekarang itu beda bgt. Ya, saya setuju banget ama mas Menteri :) bahwa softskill itu mutlak dikuasai. IPK itu penting, tetapi hanya perlu batas untuk lolos seleksi administratif. Selebihnya, di dalam wawancara kerja pun, softskill mempunyai nilai yang lebih tinggi.

    BalasHapus
  30. Penasaran dengan kelanjutannya, dan semoga kedepan pendidikan indonesia semakin membaik untuk kedepannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin,

      btw, kok "penasaran dengan kelanjutannya" ya... semoga mbaknya baca artikelnya hehe

      Hapus
  31. Jadi ingat pertama kali kerja dulu, saya nggak dilirik sama sekali ama bos, hanya karena saya lulusan PTS yang nggak bergengsi, yang diutamakan lulusan PTN bergengsi.

    Hanya sebulan bos cuek ke saya, apa-apa lebih memilih anak lulusan PTN tersebut.

    Bulan berikutnya dia menyerah, dan kesal sambil ngomong.
    "Kok bisa ya, ada lulusan PTN terkenal, IPK cumlaude, tapi sama sekali nggak memahami ilmu yang dia pelajari?"

    Ya begitulah, pada akhirnya keterampilan dunia kerja yang paling diandalkan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sharing yg berharga, Mbak... Nanti sy ceritakan ke mhsw sy... Thanks Mbak Rey

      Hapus
  32. Wah kalau kaya gini keren nie kak semoga semua dapat menerima perubahan yang dilakukan kadang orang selalu protes dengan adanya perubahan sebenernya manusia itu yang harus mengikuti perubahan yang ada tetapi tetap melihat baik buruknya.Makasih kak atas sharingnya sangat bermanfaat sekali nie.

    BalasHapus
  33. Wah sekarang yang lebih di tekankan itu skill ya, bukan nilai diatas kertas. Saya setuju sekali karena perkembangan jaman sangat pesat, yang menuntut setiap orang untuk berpikir maju dan kreatif. Dan ketrampilan itu penting

    BalasHapus
  34. Di bagian teknolongi dalam pendidikan, sebaiknya Indonesia harus siap dulu dengan jaringan yang mumpuni. Soalnya beberapa sekolah sudah memakai ujian langsung via komputer sekolah yang terhubung internet tapi nya harus mengulang kembali karena ternyata jaringan yang payah..

    BalasHapus
  35. Demen neh gue ama Mas Meteri, khas anak milenial yang apa adanya dan terbuka. Semoga saja dengan adanya Mas Menteri pendidikan kita jadi lebih baik lagi. Sayang kalau anak bangsa terus dijejali sesuatu yang mengawang-awang.

    BalasHapus
  36. Akhirnya bisa baca kelanjutannya dan saya jadi tahu apa itu. Sisi dalam dunia pendidikan dalam perspektif praktisi pendidikan pula. Sudut pandang semacam ini bisa membantu saya yang orang awam untuk memahami permasalahan dunia pendidikan.
    Tetap semangat sebagai pengajar, Kak. Tantangan zaman kian berat di masa sekarang dan mendatang.

    BalasHapus
  37. saya optimis dengan Pak Nadiem. Semoga amanah dan bisa memberikan banyak terobosan.

    dari 6c itu, ada yang aku gak paham yaitu citizenship. maksudnya bagaimana ya?

    BalasHapus
  38. Semoga dengan masuknya kabinet muda dalam pemerintahan bisa mendobrak program-program unggul yang bisa menaikan SDM warga negara Indonesia.

    Yang saya salut dari Mas Menteri adalah, Jadi Menteri untuk melayani bukan untuk cari uang.

    BalasHapus
  39. Semoga dengan terpilihnya Nadiem Makarim as a Menteri Pendidikan, merupakan harapan baru. Karena bisa kita lihat, Gojek menjadi salah satu unicorn, karena penemuan Pak menteri yang out of the box. Sangat berharap nantinya Pendidikan di Indonesia;proses dan implementasinya akan lebih cerdas dan efektif.

    BalasHapus
  40. Setuju banget setelah sekian lama kita mendewa - dewakan IPK dan ijazah didunia kerja selain kompetensi keilmuan, yang ditekankan adalah penguasaan softskill seperti sopan santun.
    Saya punya temen tamakan smk seni rupa Yogja yang kuliah di diploma kepariwisataan . Orangnya sopan santun dan suka menolong. Berbekal "sedkit " pengetahuan IT ia ngelamar di susi air. siapa yang menduga sekarang ia adalah salah satu orang penting di Susiair.

    BalasHapus
  41. Sewaktu tahu kalau bos ojol jadi menteri pendidikan, saya senang dan menaruh harapan tinggi loh mba. Semoga ada langkah gebrakan segera ya agar anak Indonesia semakin cerdas.

    BalasHapus
  42. Hebattt ,ini salah satu cara pak menteri menunjukkan kinerjanya ditengah-tengah banyaknya yang meragukan akan skill yang dia miliki

    BalasHapus
  43. Saya doakan mas menterinya sukses menerjemahkan konsep menjadi program yang jelas seluruh insan di bidang oendidikan.

    BalasHapus
  44. Semangat yaaaa Mba Mia. Saya selalu angkat topi untuk pejuang pendidikan. Semoga debirokratisasi segera diwujudkan Mas Menteri. Hehehe

    BalasHapus
  45. Ide menarik dengan 6 C nya
    1. Critical Thinking
    2. Creative Thinking 
    3. Communication
    4. Collaboration
    5. Character
    6. Citizenship

    Semoga sukses membangun generasi yang berkualitas untuk masa depan bangsa....

    BalasHapus
  46. Acara ini sangat bermanfaat ya ka... Apalagi dalam rangka menyambut hari guru Hari Guru nasional terus ada bapak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Nadiem Makarim

    BalasHapus
  47. Bener mbak. Saat ini ijazah aja mah nggak cukup. Klau nggak ada softskill perusahaan juga malas mau pakai.

    Kalopun diambil ya digaji sesuai ijazah atau malah dibawahnya aja. Generasi skrg moga sadar hal ini.. Nggak ngejar tittle asal lulus doang

    BalasHapus
  48. Akhirnyaaa, bersambung dan komplit juga artikelnya mba. Aku salfok nih mbaknya bisa ketemu langsung sama mas Menteri. Keren dan inspiring yaa masih muda udah jadi menteri. Yes, agreed banget kalo hari gini itu sistem pendidikan juga harus ngajarin softskill.

    BalasHapus
  49. Masih belum begitu paham tapi aku semakin optimis kebijakan mas Menteri pendidikan di Indonesia jadi lebih baik.

    BalasHapus
  50. Bener harus ada perbaikan dalam sistem pendidikan tinggi kita apalagi dalam menyongsong 4.O .
    .
    Beruntung menterinya termasuk kalangan milenial yang sdh kelihatan penerapan pemikiran nya walaupun dalam bidang lain.
    .
    Semoga membawa perubahan ke arah yg lbh baik.

    BalasHapus
  51. Soal radikalisme dan intoleransi yang bisa menghinggapi pemikiran anak muda, sesungguhnya itu tantangan berat dunia pendidikan.
    Generasi muda yang terpelajar harus ditumbuhkan daya nalar dan kritisnya dengan cara mengajak mereka mengenal beragam pandang sudut pemikiran secara langsung.
    Menghadirkan Mas Mentri adalah cara yang terbaik agar praktisi pendidikan bersemangat dengan pekerjaan yang sedemikian berat.
    Saya tidak tahu mengenai rujukan yang diemban tenaga pengajar oleh peraturan pusat. Hanya berharap semoga sistem pendidikan kita bisa lebih baik dan inovatif sesuai kebutuhan dan perubahan zaman.

    BalasHapus
  52. Saya kemarin menunggu kelanjutan tulisan ini, Mbak Mia. Dan harapan saya, Menteri baru bisa membuat kurikulum yang pas untuk pendidikan Indonesia. Misalnya zaman now, pelajaran anak SD susah-susah dan banyak. Daya tampung anak-anak tidak muat. Intinya, saya menunggu kinerja Menteri Pendidikan baru hehehe.

    BalasHapus
  53. Berharap pendidikan Indonesia bisa jauh lebih baik dan lebih maju di bawah Nadiem. Karena sejatinya pendidikan itu bukan cuma menghafal dan mendapat nilai di atas kertas. Harus meliputi kriteria 6C seperti yang Nadiem sebutin itu. Berharap banyak. Karena jujur deh, kasihan generasi muda kalau metode pendidikannya masih begini terus

    BalasHapus
  54. Semoga dengan menteri pendidikan baru kita ini, pendidikan Indonesia semakin maju dan berkembang ke arah yang lebih baik dibandingkan sebelumnya semoga

    BalasHapus
  55. melihat dari visi dan misi yang diutarakan oleh pak menteri, sebenarnya kita dapat jawaban hasil untuk pendidikan kedepannya. namun sekarang yg jadi masalah dalam menjalankannya, apakah mampu pak menteri untuk menjalankan visi misi tersebut ?

    BalasHapus
  56. Iya, kak betul lapangan pekerjaan manusia 40% akan digantikan robot. Nah, karena robot dan manusia memiliki kelebihan dan kekurangan, yang perlu dipersiapkan adalah SDM yang kreatif. Sebab, robot tidak punya kreativitas! Yes

    BalasHapus
  57. Harusnya dengan mas Nadiem ini pendidikan kita bisa lebih diorganisasi dengan lebih digital, dan memanfaatkan big data. Semoga pelan2 bisa teratasi kendala2 di lapangan khususnya bagi pengajar di perguruan tinggi ya mbak, agar kualitas dosen dan perguruan tinggi juga semakin meningkat

    BalasHapus
  58. Beruntung banget mbak bisa ikutan acara keren spt ini. Smg dgn adanya mentri baru, bisa membawa perubahan yang lebih baik lagi ya. Aamiin.

    BalasHapus
  59. Yang pasti harapan saya sebagai emak2 yang anaknya masuk usia sekolah juga semoga pendidkan di negeri ini makin membaik. Saya setuju, zaman kita kecil dulu mungkin banyak dicekokin materi disuruh menghafal sedikit mengemukakan pendapat, semoga dengan sistem baru bisa membuat anak2 jd lbh kritis dan tentu saja punya mental lbh baik dr generasi kita dulu aamiin

    BalasHapus
  60. Softskill seperti sopan santun dan yang terkait dengan kecerdasan emosional, sebenarnya bukan hal baru, tapi dikemas ulang dengan catatan wajib, jadi lebih diperhatikan, ya Mbak. Keren, nih, sudah 15 tahun di dunia pendidikan. Berarti kita lulus jurusan pendidikannya barengan tahunnya, ya.

    Btw, saya agak sedih, Mas Menteri mengesampingkan kebudayaan dan kesejarahan di programnya. Kata dosen pembimbing saya, masih bisa masuk di program pendidikan karakter. Iyakah?

    BalasHapus
  61. Program mas menteri ini menurut saya baik sih. Walau yakin banget butuh waktu lama supaya programnya jalan.

    BalasHapus
  62. Pidato Mas Menteri emang juarakk sih menurut saya. Yaa mari kita nantikan gimana gebrakan-gebrakan beliau ke depannya nanti.

    BalasHapus
  63. Semua pendidikan di Indonesia ini semakin maju, dan menghasilkan generasi bangsa yang semakin cerdas dan berbudi luhur.

    BalasHapus
  64. Mbak, Bapakku guru, keempat mbakku juga guru, jadi aku sedikit banyak mengenal profesi ini. Dan apa yang disampaikan oleh Mas Menteri Nadiem pada Hari Guru Nasional sungguh membuatku punya keyakinan akan kemajuan pendidikan Indonesia. Semoga dimudahkan segala programnya!

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel