Dulu Otodidak Sekarang Punya Banyak Karya Tulis

Mulai Menulis Sejak SD

Artikel ini memuat kisah tentang perjalanan menulis saya yang dulunya belajar menulis secara otodidak, sekarang Alhamdulillah bisa dikatakan punya banyak karya tulis. Saya mulai coba-coba menulis saat kelas enam SD, waktu itu tersiar kabar di tetangga kompleks rumah orang tua bahwa ada siswa SMP yang mencabuli teman perempuannya usai menonton film blue.
 
Waktu itu mesin tik ayah saya tengah menganggur, setelah meminta izin beliau saya pun mengetik di selembar kertas menceritakan berita yang hangat di lingkungan kami. Saya bertanya pada ayah perihal film asusila tersebut. Mengapa disebut film biru, apakah warnanya selama film berlangsung biru semua dan sebagainya.
 
sekarang-punya-banyak-karya

 
Saya penasaran film biru mengapa bisa memantik seorang anak laki-laki yang saya juga mengenalnya walaupun tidak akrab. Sehari-harinya baik-baik saja, kok malah bisa berlaku tidak sewajarnya kepada anak tetangganya sendiri yang waktu itu menumpang nonton video di rumahnya. 

Tulisan itu saya titipkan ke ayah untuk dikirimkan ke surat pembaca harian lokal. Namun tidak pernah diterbitkan. Mungkin ayah lupa atau pihak redaksi tidak meluluskannya untuk dimuat di kolom surat pembaca. 
 
Ketikan tidak rapi seorang anak usia SD mestinya berisikan tentang boneka kesayangan atau keceriaan bermain bersama teman-temannya di sekolah. Tak apa, tidak masalah, karena saya pun dengan cepat melupakannya.

Jadi Bintang di Mata Pelajaran Bahasa Indonesia

Entah kenapa saya suka sekali dengan topik pelajaran mengarang. Saat masuk jam mata pelajaran bahasa Indonesia hati rasanya bahagia sekali. Sebentar saja karangan saya selesai dan mendapatkan pujian dari guru. 
 
Saat merangkai kata-kata seolah-olah saya turut masuk ke dalamnya, berimajinasi tanpa batas, lepas dan satu halaman penuh pun berisi tulisan. Sering maju ke depan kelas diminta bapak/ibu guru menceritakan kembali tentang isi tulisan, pernah juga diikutkan lomba mengarang antarsekolah.
 
Beranjak ke bangku SMP juga demikian, masih jadi bintang di mata pelajaran bahasa Indonesia, disebut teman-teman sekelas jago mengarang. Padahal rasanya saya hanya menuangkan isi pikiran saja.
 
Di SMA saya mulai mengisi mading dengan sajak, puisi dan cerpen. Namun sayang dulu kok tidak ketemu dengan lomba-lomba karya tulis yang marak seperti sekarang ini.
 
karya-tulis-nurhilmiyah
Karya tulis author
 
Menyandang predikat mahasiswa saya bergabung dengan beberapa komunitas kemahasiswaan tetapi tidak sempat menjadi anggota badan pers mahasiswa fakultas. Saya menjadi redaktur di majalah elemen gerakan eksternal kampus bernapaskan keislaman, saya pernah diamanahi menjadi redaktur pelaksana, redaktur, pemimpin redaksi dan akhirnya menjadi pemimpin perusahaan.

Fokus menyelesaikan skripsi saya meninggalkan "karir" di bidang jurnalistik kampus. Pesan ibu saya skripsi adalah hal yang utama yang harus saya tuntaskan. Saya pun memenuhi janji dengan lulus on time dari Universitas Gadjah Mada.
 
Sebelum lulus CPNS saya bekerja menjadi pegawai honorer di salah satu instansi. Kegiatan menulis mandeg, namun aktivitas membaca jalan terus. Meski ritme pekerjaan menuntut saya pergi pulang petang, dalam keadaan belum memiliki kendaraan sendiri saya habiskan waktu dengan membaca banyak buku di angkutan umum.
 
Saat akhirnya saya lulus jadi dosen PNS pada tahun 2005, kegiatan menulis seakan kran yang terbuka. Saya pun menemukan jalan kembali ke dunia kepenulisan. Namun ternyata tidak semudah itu, menjadi dosen muda baru menikah, belum punya fasilitas laptop sendiri, hanya ada seperangkat PC tua yang keseringan mati mendadak saat mood menulis sedang tinggi-tingginya. 
 
Ditambah saya pun  hamil anak pertama dengan kondisi morning sickness yang cukup parah, membaca dan menulis malah harus dihentikan sama sekali. Dokter kandungan menyarankan saya untuk lebih banyak beristirahat dulu.
 

Aktif Menulis Tanpa Henti Sedari 2017

Berkarir menjadi dosen memang dituntut untuk tak pernah berhenti menghasilkan karya tulis ilmiah. Mulai dari menulis artikel ilmiah guna kepentingan mengurus kepangkatan, menulis bahan ajar untuk mahasiswa, dan menulis karya pengabdian masyarakat berupa proposal dan laporan akhir. Ini yang wajib, sebagaimana amanat Tri Darma Perguruan Tinggi.

Sebagai tugas tambahan, saya juga beberapa kali menulis di media massa, baik lokal maupun nasional, menulis untuk koran kampus, menulis makalah untuk disampaikan di forum diskusi berdasarkan undangan pihak eksternal, dan lain-lain.

Sampai akhirnya saya dipertemukan dengan Komunitas Dosen Menulis. Waktu itu saya sedang masa cuti melahirkan anak keempat. Setelah merasa sehat namun belum waktunya aktif kembali ke kampus, saya mencoba menyahuti undangan menulis bersama buku antologi tentang pengalaman mengajar tak terlupakan.

Saya senang sekali saat tulisan saya termasuk yang dibukukan bersama artikel dosen lainnya dari seluruh Indonesia. Setelahnya susul-menyusul tanpa henti sampai sekarang sudah dua buku solo, 20 buku antologi dengan berbagai macam komunitas kepenulisan dan berbagai karya tulis lainnya.

Saat ini buku solo yang saya hasilkan baru dua judul yaitu buku ajar mata kuliah yang saya ampu. Sedang dalam proses menulis buku umum di sela-sela terus menulis untuk tugas-tugas wajib dosen. Saya merasa berdosa jika tugas utama saya belum selesai lalu saya lebih asyik ngeblognya. 

Saya menyadari kalau saya belum bisa menjadi full time blogger seperti teman-teman narablog lainnya. Prioritas saya saat ini adalah menulis untuk kepentingan akademik. 
 
Adapun menulis blog, sebagai sarana hiburan untuk mewaraskan pikiran. Bersyukur sekali kalau dapat cuan juga dari blog, Alhamdulillah, hehe...
 

Asyiknya Ngeblog

Saya mulai ngeblog saat menempuh pendidikan magister di tahun 2009. Membaca blog seorang profesor saya terkesima dan langsung membuat blog kala itu juga. Tetapi sayang blog beliau hanya berisikan beberapa tulisan saja setelah itu tidak ada update postingan lagi.

Fokus menyelesaikan tesis saya pun meninggalkan menulis di blog sampai beberapa tahun. Aktivitas menulis terus berlanjut namun menulis artikel ilmiah di jurnal-jurnal, baik nasional terakreditasi maupun tidak terakreditasi. 

Pada tahun 2017 lalu saya mengikuti komunitas parenting yang mengharuskan setoran link untuk tugas-tugasnya. Maka saya pun mulai mengisi blog lagi dengan PR-PR tersebut. Lambat laun saya menyambut tantangan menulis nonstop selama 30 hari oleh komunitas Blogger Perempuan Network.   
 
Lalu pada tahun 2019 saya bergabung di Grup WhatsApp Blogger Sumut. Sejak bergabung itulah saya memperoleh perluasan cakrawala, bertemu dengan rekan-rekan bloger dari seluruh Indonesia bahkan ada beberapa yang tinggal di luar negeri.

Dulu Otodidak Sekarang Punya Banyak Karya

Bisa dibilang demikian, dulu saya tidak menyangka bisa menjadi penulis buku dan narablog seperti sekarang ini. Menulis pun saya pelajari berbekal hobi membaca berbagai macam buku sedari usia SD.
 
karya-tulis-Nurhilmiyah-2

Berikut kesan dan pesan saya mengenai hobi yang dulunya hanya dipelajari secara otodidak, hingga sekarang punya banyak karya tulis:
 

Bakat menulis termasuk kelompok karsa (Individual striving), maka meski belajar sendiri ia tetap bisa produktif

Menurut Abah Rama Royani, praktisi Talents Mapping, karir yang sesuai dengan bakat akan menemukan karakter kinerjanya dengan kata lain mampu menghasilkan karya. 
 
Thomas Alfa Edison mengatakan bakat itu cuma 1% menentukan keberhasilan dalam meraih sesuatu. Sisanya, 99%  adalah kerja keras dan latihan yang intens.
 

Tetap memupuk keinginan menerbitkan karya tulis meski waktu dan keadaan belum memungkinkan

Insyaallah akan datang momentum yang tepat saat niat untuk produktif berkarya itu bisa benar-benar terwujud. Saya sendiri termasuk yang "berpuasa" cukup lama dalam menghasilkan karya tulis, disebabkan kesibukan rutinitas dan mengurus keluarga. 
 
Saya tetap memupuk niat untuk produktif dengan tetap meneruskan kebiasaan banyak membaca karya orang lain.
 

Menulis itu seperti belajar naik sepeda, mesti banyak-banyak praktik

Belajar menulis dari membaca buku-buku Prof. Rhenald Kasali sedikit banyak membuat saya ingin seperti beliau. Tetapi saya menyadari bahwa tiap penulis memiliki gaya penulisan yang khas dan berkarakter.
 
Saya pun memperbanyak menulis dengan gaya saya tersendiri, mengalir saja apa adanya, menulis tanpa beban. Rasanya bahagia sekali, berbeda dengan rasa saat menulis karya ilmiah yang sangat terikat format dan sistematika penulisan. 
 
Banyak-banyak praktik, seperti belajar naik sepeda, kadang jatuh kadang bangun lagi, begitu seterusnya sampai mahir.

Kesimpulan

Dulu otodidak sekarang punya banyak karya tulis, kalau bagi saya adalah keterampilan menulis. Menulis artikel ilmiah, artikel ilmiah populer, menulis buku, dan menulis blog.

Meski demikian sampai saat ini saya tetap memosisikan diri sebagai pembelajar, tetap merasa masih hijau agar belajar terus, praktik terus sampai mahir. 
 
Saya tidak ingin berpuas diri, perjalanan masih jauh, karya tulis yang sudah ada sekarang ini masih saya anggap sebagai starting point untuk terus menghasilkan karya-karya baru yang lebih berkualitas.

Demikian sharing saya kali ini, ditunggu responnya di kolom komentar ya, terima kasih
.
Salam literasi,
Fadlimia-karya-tulis

 
 



























Berlangganan update artikel terbaru via email:

31 Komentar untuk "Dulu Otodidak Sekarang Punya Banyak Karya Tulis"

  1. Masya Allah, memang Mbak Mia ini ya prestasinya sungguh menginspirasi..Jadi ingat dulu Bapak saya juga punya mesin ketik tua, dan saya kirim karya ke majalah anak-anak dengan mengetik sendiri hihi
    Belajar secara otodidak kemudian terus berlatih membuat kemampuan menulis memang bisa terasah ya, Mbak
    Semangat terus menebar inspirasi dan membagikan manfaat bagi sesama ya, Mbak Mia:)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Karya saya masih belum banyak kok Mba Dian... perlu berlatih terus

      Hapus
  2. Inspiratif sekali bu dosen, memang ya hobi menulis itu harus dituangkan kalo nggak ya bisa2 penuh isi kepala.. hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mba... kl istilah orang Medan, mamak-mamak itu harus menyalurkan merepetnya ke manaa gitu... ke tulisan kan lebih bagus, haha

      Hapus
  3. Wah keren banget mba sudah menerbitkan banyak buku, kelak sih katanya buku ini yang akan bikin kita selalu diingat karena karya kita. Inspiring banget deh mba!

    BalasHapus
  4. ini topik ODOP ISB taggal 30 Sept ya mbak?
    Ikut kan?
    Kalo saya mau menuis tentang dunia lingkungan hidup yang saya pelajari secara otodidak dan sekarang sedang bikin draft bukunya
    Senang ternyata ya belajar otodidak?
    Karena ternyata ilmu ngga hanya dibangku kuliah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju Ambu, justru lebih banyak ilmu di universitas kehidupan

      Hapus
    2. Eh, iyaaa. 30 sept tema otodidak yak :D
      Daku baru ngeh nih gegara komen AMbu :D

      Hapus
  5. Luar biasaaaa kak Mia.
    Semoga berkah dan senantiasa inspiring ya
    Memang otodidak itu menyenangkan bgt, karena kita bisa kuasai satu hal tanpa perlu ijazah resmi heheheh

    BalasHapus
  6. Masya Alloh, selalu salut sama penulis yang produktif dan konsisten. Saya cita-cita pengin punya buku solo tapi masih sering kalah dengan bad mood dan rasa malas.

    BalasHapus
  7. Masya Allah sudah menelurkan buku solo lebih dari 1. Kuy kak SemangatCiee menulis, karena melalui tulisan juga menjadi ladang pahala yang tidak terputus ya

    BalasHapus
  8. Luar biasa. Konsisten banget ini mah mba mia pantes kalau prestasinya udah banyak. Aku Perlu banyak melatih lagi nih. Makasih sharingnya ya

    BalasHapus
  9. penasaran sama Aku, Buku, dan Peradaban.. pengen baca kak :D

    BalasHapus
  10. Masha Allah mbak Mia, kisahmu mengispirasi banget deh di samping itu sudah banyak mengukir karya membuat aku juga jadi semangat nih ☺

    BalasHapus
  11. MashaAllah. Seneng banget mbacanya. Sebuah kisah perjalanan sejarah literasi pribadi yang pantas jadi panutan.

    Keep writing and inspiring Kak Fadlimia. Kapan saya ke Medan kita sempatkan ketemu ya

    BalasHapus
  12. MasyaAllah Mbak... karyamu amat sangat banyak dan lebih banyak menulis tentang hukum. Pantas saja beberapa tulisanmu tentang ini di blog (akhir-akhir ini saya bacanya) mudah dipahami dan enak dibaca

    BalasHapus
  13. Kalau bu dosen ini memang patut diacungi jempol, energi yang luar biasa. Ternyata dari SD ya kak, bakatnya sudah keliatan..sukses terus ya dengan banyak karya tulis.

    BalasHapus
  14. Kerennya bu dosen favorit aku ini..
    Selalu tetap produktif...
    Btw kapan2 ajarin nulis jurnal ilmiah ya bu dosen

    BalasHapus
  15. Tetap berkarya, dengan terus menulis. Aku awal menulis karena suka baca-baca buku, jadi terinspirasi aja juga punya karya sendiri.
    Tetap semangat ya mba.. menghasilkan karya yang baik
    Salam literasi :)

    BalasHapus
  16. Masya Allah keren mbak Mia, perjalanan menulisnya luar biasa. Sudah ditekuni sejak SD ya. Bukunya banyak banget, oh ya itu ada yang judulnya Menggapai Rida Illahi di Pondok Pesantren ya? Kita satu buku ternyata mbak, ya Allah baru tahu nih, salam kenal ya mbak. Sukses selalu dengan aktivitas literasinya.

    BalasHapus
  17. Keren banget Mba, Karyanya udah banyak banget. Emang yah mba. kalo gak dilakukan secara konsisten dan berulang-ulang, yah tetep aja skillnya gak bakal terasah, meskipun dari awalnya emang udah punya bakat 😅

    BalasHapus
  18. Wah samaan. Saya juga belajar menulis otodidak. Saya juga menulis dari SD. Baru pas kerjalah saya punya mentor menulis, karena bidang kerja saya adalah industri media. Dan ketika punya mentor rasanya memang berbeda. Waktu otodidak semua serba eksperimen, coba sana coba sini, seperti meraba-raba. Pas punya mentor, wah tiada hari tanpa kritikan. 😁 Semangat! Mari berkarya bersama.

    BalasHapus
  19. Masya Allah, karyanya banyak sekali mba. Memang jarang anak SD yang mau menulis soal kasus berat begitu. Salut mba

    BalasHapus
  20. Wah keren banget, mbak dari kecil sudah tertarik sama isu sosial dan akhirnya beneran jadi penulis dengan banyak karya, yaa.

    BalasHapus
  21. Toosss bu dosen...
    Aku pun sudah suka menulis sejak SD...
    Dulu sukanya nulis puisi dan cerpen

    BalasHapus
  22. MAsyAllah tabarakallah..bunda mia bagi konsep manajemen waktunya dong bisa mengatur sedemikian rupa anaknya 4 lagi wow..aku tahu nulis jurnal ga mudah dan bisa tetap berkarya seluarbiasa ini..tetap menginspirasi ya bundaa

    BalasHapus
  23. Salah satu dosen tangguh ini. Tetap semangat untuk terus menulis ya mbakku,... Love love deh pokoknya. Salut ama kisah karir menulisnya mbak...

    BalasHapus
  24. Wah keren mbak Mia, dari ngeblog akhirnya aku bisa temenan dengan orang orang hebat kayak mbak ya. alhamdulillah. banyak menginspirasi. dan kita pernah satu kelas di kelas growthing. Btw kelas tersebut kan di preseure sedemikian rupa. Gimana cara bagi waktunya kak, Aku aja yang hanya pergi ke sekolah dan ngurus anak, kelimpungan.

    BalasHapus

Pesan dimoderasi, terima kasih telah meninggalkan komentar yang santun. Sebab bisa jadi Anda dinilai dari komentar yang Anda ketikkan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel