Mencari Alasan Untuk Selalu Bersyukur

Sumber gambar: Twitter.com

Sedianya hari ini saya memeriksa usulan penelitian skripsi mahasiswa yang akan diseminarkan besok. Merevisi Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) saya, membuat satu tulisan sesuai bidang. Namun rencana, mau tak mau tinggal rencana. Asisten Rumah Tangga saya mendadak sakit kakinya hingga tidak bisa datang meski sudah meliburkan diri sendiri sejak "tahun lalu", 30 Desember 2017. Hal itu saya ketahui lewat telepon, kala jam dinding menunjukkan waktu yang seharusnya dia telah berada di rumah kami.

Rasanya ingin marah, mengungkapkan segala kekesalan secara verbal, tapi tak keluar. Kalau di film kartun, gambar wajah saya sudah warna-warni saking sebalnya. Rencana yang sudah disusun dari malam buyar tak berbentuk. Berganti dengan saya mesti menggendong bayi ke sana kemari, menyelesaikan semua pekerjaan rumah, sebab kebetulan Rausyan si bayi tujuh bulan, sedang rewel, tidak nyaman, mungkin karena akan tumbuh gigi.

Menarik nafas perlahan serta melepaskannya, saya mencoba mencari hikmah masalah hari ini. Bagaikan berserakan, hikmah harus dikumpulkan, dipunguti satu persatu agar tak gegabah dalam memandang suatu masalah.

Adapun hikmah yang saya dapat saya petik;
1). Bahwa pekerjaan rumah tangga itu tidak ada habisnya. Meski rasanya telah diselesaikan, ia laksana siklus harian yang terus saja berputar mengikuti pusaran waktu. Kesigapan ibu rumah tangga sangat dibutuhkan untuk memainkan peran-peran manajerial sekaligus pelaksananya jika realitanya ART absen.

2). Saya jadi memiliki lebih banyak waktu dengan si bayi mengingat pascaASI Eksklusif yang enam bulan, sedang berlanjut ke ASI X satu tahun. MP-ASInya juga variatif. Dari bubur susu menjadi bubur nasi atau nasi tim dengan sup, aneka lauk dan sayuran. Senang melihat tumbuh kembang si bayi yang kian hari kian menggemaskan saja.

3). Hikmah berikutnya, saya jadi semakin mengakui eksistensi ART dalam mendukung saya. Baik dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga, maupun tupoksi saya sebagai dosen secara tidak langsung. Meski kuliah telah berakhir, namun jadwal lainnya masih susul menyusul. Seminar proposal, bimbingan skripsi, sidang skripsi, dan sebagainya.

Hikmah tambahan, saya jadi bisa menonton drama Korea, Goblin. Saking sibuknya, harusnya tahun lalu saya nikmati kisah Kim Shin dan Ji Eun Tak ini. Namun apa daya, mereka tak masuk prioritas saya karena waktu yang hanya duapuluh empat jam ini mesti cermat membagi-baginya. Apalagi untuk ibu anak empat seperti saya ini.

Segenap kegalauan plus kejengkelan terbang menjauhi saya. Senantiasa berupaya mempertahankan pikiran positif, lagi dan lagi. Belajar melepaskan yang memang di luar jangkauan. Selalu mencari alasan agar tetap bersyukur. Seperti potongan bertulisan yang saya temukan di dunia maya ini. Hidup akan indah jika dijalani, dinikmati dan disyukuri.

Salam literasi

Medan, 2 Januari 2017
(Late post)



Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Mencari Alasan Untuk Selalu Bersyukur"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel