Kami Ingin Anak Yang Shalih

Sumber foto: dok. pribadi
Sebelumnya saya sering mengatakan jangan, jangan dan jangan. Jangan letakkan handuk sembarangan, jangan membuang-buang makanan, jangan malas menyusun roster pelajaran. Walaupun pada akhirnya Royyan menghargai larangan saya, tapi tidak produktif.

Esoknya semua yang saya larang itu dilakukannya kembali dan saya pun mengatakan jangan ini dan itu lagi. Terus berulang bagaikan lingkaran. Kebiasaan tidak efektif ini mesti diubah. Salah satunya pemilihan kalimat yang saya sampaikan kepadanya.

"Bang Royyan anak shalih, coba lihat tempat jemuran handuk ini".
"Kenapa, Mi?", Jawabnya sambil melirik sekilas ke arah benda yang saya tunjuk. Ia sedang asyik dengan poster alat-alat transportasi kepunyaan adiknya.
"Kasian ya, gak berfungsi. Padahal udah Umi dan Ayah beliin buat menjemur handuk Abang dan Adek."

Melihatnya masih diam, saya melanjutkan satu kalimat lagi. "Umi pingin setiap abis mandi Abang taruh handuknya di sini, bisa...? Bujuk saya pelan tapi pasti.

Mata bulatnya menatap saya lekat-lekat, lantas mengangguk. Mudah-mudahan besok akan ada perubahan yang positif, pertanda komunikasi kami hari ini produktif. 

Saat ia melakukan kesalahan, bukan berarti ia langsung dicap sebagai anak yang tidak shalih. Setiap perkataan adalah doa. Kami selalu mengatakan ingin memiliki anak-anak yang shalih. Agar senantiasa menjadi doa yang diijabah Allah SWT. Aamiin.

Salam Ibu Profesional

#day6
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasi produktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Kami Ingin Anak Yang Shalih"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel