Jurnal Bahagia Di September Ceria

Bulan September identik dengan lagu populer diva pop Indonesia zaman ibu saya, Vina Panduwinata yang berjudul September Ceria. Selain itu pergantian musim menjadi musim penghujan membawa suasana tersendiri. Banyak orang menciptakan puisi dari hujan, demikian pula sederet kisah kenangan dari rinai-rinai air yang membasahi bumi. 

Ada pula yang suka bulan September karena kabarnya di bulan inilah banyak diskon. Bagi para blogger, bulan ini kabarnya lagi banyak info job, hehe (tapi saya jarang sih bisa ikutan).

Nah, untuk mengabadikan momen September Ceria yang beberapa hari lagi akan berlalu, saya menuliskan semacam catatan perjalanan atau jurnal hari-hari yang beraromakan kebahagiaan, bagi diri saya sendiri, dan juga keluarga, syukur-syukur juga kepada pembaca. Because happiness is contagious, right. (Kebahagiaan itu menular, bukan).


Jurnal syukur jurnal bahagia
Dibuat dengan Canva

1 September 2019: Bahagia Itu Banyak Bersyukur


anak sehat anak ganteng
Ocean / Dokpri
Kata Abdul and The Coffe Theory feat Wina Natalia dalam lirik lagunya, "Bahagia itu sederhana" (2015).
"Bahagia itu sederhana
hanya dengan melihat senyummu
ketika dunia seakan mengacuh
kita bercanda tertawa bersama
sederhana"
Yup, itulah yang saya rasakan pagi ini . Di tahun yang baru 1441 Hijriah, saya memulai hari dengan tersenyum. Dengan mengembangkan bibir membentuk huruf hijaiyah "ta", mata menyipit bekerjasama memproduksi hormon Dopamin.

Bahagia itu mudah sekali diciptakan. Banyak mensyukuri segala nikmat yang Allah SWT limpahkan. Masih merasakan hangatnya mentari pagi, menatap buah hati yang sedang terpekur di peraduannya. Membereskan jejak kelincahannya tadi malam. Pertanda ia sehat dan sejahtera secara psikisnya.

Anak saya yang keempat ini, mudah sekali tersenyum, tertawa riang, ramah pada setiap orang yang menyapanya. Apakah ada hubungannya dengan namanya Rausyan (cerah, tercerahkan), sehingga kecerahanlah yang selalu ia tampilkan untuk kami setiap saat. Sehat selalu ya, Sayang. Saya jadi ingat lirik lagu Afgan.
"Wajahmu mengalihkan duniaku."
 Demikianlah ketika saya melihat senyum si Ocean ini.

Beranjak ke dapur, menyaksikan "hasil perang" suami dan anak-anak yang besar. Sepertinya mereka bikin martabak telur tadi malam. Saya tersenyum, berarti masih ada mereka di sisi saya. Masih ada yang membuat singgasana saya sebagai seorang ibu (baca: dapur) jauh dari kata rapi. Toh, masih bisa dibenahi lagi.

Saya kerjakan tugas-tugas rumah tangga dengan riang gembira. Seolah-olah saya akan merindukan momen ini di suatu hari nanti. Ternyata untuk bersyukur dan menjadi bahagia mudah sekali. Mengecap setiap inci kebahagiaan dengan perlahan. Lalu menambahkan kesyukuran terus menerus.

Alhamdulillahirabbil 'alamiin. Berterima kasih pada Asy Syakuur atas segala nikmat hidup, nikmat memiliki keluarga, nikmat diberi kesibukan dan nikmat bisa selalu bersyukur.

2 September 2019: Bahagia Itu Mensyukuri Setiap Momen

jurnal bahagia di september ceria




















Dari pukul 7 pagi saya sudah berangkat ke kampus. Ada upacara dan apel gabungan pada setiap awal bulan. Seperti biasa saya mengantarkan Rausyan dulu ke daycare-nya. Karena masih pagi dan belum terlalu sadar, si bungsu 2y2mo ini tidak minta ikut sebagaimana biasanya.

Untuk hal kecil ini saya berucap hamdalah. Sebab rasa teriris hati kalau mendengar anak menangis minta ikut tetapi saya tak bisa mengabulkannya. Yang saya lakukan menenangkan, mengelus-elus punggungnya, setelah tentram, barulah pergi ke kampus. Bagaimanapun anak wajib baik keadaan psikisnya. Hal itu nomor satu bagi saya.

Sampai di kampus, rekan-rekan sejawat telah berbaris rapi dan saya setengah berlari ke lapangan. Kami sama-sama mendengarkan arahan rektor, agar mempertahankan serta meningkatkan kualitas akreditasi PT yang sudah A. Acara diakhiri dengan sarapan bersama.

Sebaris pesan WhatsApp masuk ke smartphone saya. Dari sahabat lama dulu, sama-sama kuliah di UGM. Saya di Fakultas Hukum dan ia Fisipol. Fajarwati Kusumawardhani atau biasa saya sapa Fajar adalah seorang staf ahli anggota dewan di Pekanbaru, Riau. Kebetulan sedang ada kunker ke Medan. Maka ia pun mendampingi alegnya ke kota ini.

Sebenarnya sebelum bulan Ramadan lalu kami sudah pernah kopdar. Namun seperti biasa, saya memang tidak bisa berlama-lama. Ada amanah menjemput Ocean juga dari tempat penitipannya. Tentu saja saya tidak sampai hati menambah lagi jam kerja saya dengan kongko-kongko bersama teman.

Saya sepenuhnya menyadari, sebagai ibu beranak empat, dan yang terkecil batita, plus kami sedang tidak punya ART, kesibukan saya bisa dibilang luar biasa. Untungnya suami sudah dimutasi ke Medan setahun belakangan ini. Sebab empat tahun sebelumnya saya dan suami menjalani LDR, saya menangani segala sesuatunya sendirian.

Alhamdulillah saya bahagia. Mengapa, sebab insyaallah sampai saat ini saya mensyukuri setiap momen yang hadir di hari-hari saya. Seperti hari ini, saat reuni tipis-tipis dengan Fajar, sahabat lama di Jogja dulu. Wallahua'lam entah kapan bisa bersua lagi. Yang penting keep in touch dan tetap menjalin silaturahmi ya.

3 September 2019: Bahagia Itu Bersilaturahmi

bahagianya bersilaturahmi
Dokpri
Saya punya tante, namanya Pepiriani. Jahilnya saya, sering menjadikannya bahan bergurau, kadang menyapanya Tante Pepi-lah, Aunty Evy, padahal sebenarnya kami akrab memanggilnya Unde Pi, hehe.

Yup, karena almarhumah ibunda orang Tanjungbalai, Sumatera Utara, tutur di sana "unde" (bunde/bunda) untuk adik ayah atau adik iparnya ibu. Berbeda dengan ayah yang asli kota Medan, sapaannya tetap bahasa Melayu/Indonesia. Karena ibu keturunan marga Hasibuan, memanggil adik ibu yang laki-laki "mamak" (harusnya Tulang ya, mungkin sudah beradaptasi dengan adat Tanjungbalai, jadinya sudah bercampurbaur istilahnya).

Poinnya adalah, saya bersyukur sekali almarhumah Mak kami tak pernah membeda-bedakan mana adik kandung dan mana adik iparnya. Jadi sejak kami kecil, malah tahunya Aunty Evy inilah adik kandung si Mommy. Soalnya dari dulu kalau beliau pergi mengajar, kami ditunggui Unde Pi ini. Padahal dari Mak Uli dan Unde Pi kami juga punya 4 orang saudara sepupu yang harus mereka urus.

Nah, di zaman now yang serba (sok) sibuk ini, beliaulah yang rutin menelepon kami. Unde Pi paham sekali para kemanakannya sudah heboh dengan urusan masing-masing. Saya terharu dengan kebesaran hatinya menghubungi duluan para ponakan yang terpisah di lima kota. Saya sendiri yang tinggal di Medan. Adik-adik di Pandan, Tapanuli Tengah, Aceh, Tanah Karo dan Depok, Jawa Barat.

Salut dengan kegigihannya untuk tetap konsisten menjalin komunikasi dan silaturahmi dengan kami. Padahal terbalik ya, mestinya kami yang lebih mudalah yang terlebih dahulu mengingat beliau. "Ah, tak apa-apa... siapa yang sempatlah." selalu demikian jawab Unde Pi. Kemarin saat putri nomor tiganya pindahan rumah, saya pun tak menyia-nyiakan kesempatan memenuhi undangannya. Berkumpul bersama, bercanda tawa dan makan bersama menjadi agenda kami di siang itu.

Senang rasanya bersilaturahmi dengan keluarga, merawat tali kasih sayang sebaik-baiknya. Semoga Allah SWT senantiasa mengaruniakan kesehatan dan kemurahan rezeki pada Mak Uli dan Unde Pi kami. Amin.

4 September 2019: Bahagia Itu Berbagi

Ocean and Grandma
Dokpri
"Jadi kita pergi ke pesantren, Nek?" tanya saya via telepon, sebelum kami menjemputnya. Beberapa waktu lalu Nek Uncu, demikian kami bertutur pada kakak ayah (mestinya adik yang dipanggil uncu ya, kalau lebih tua, uwak). Nek Uncu ingin ikut menjenguk anak-anak kami yang sedang belajar di pesantren.

"Insyaallah jadilah... Nenek dah rindu sama si kakak dan si abang." Jawab beliau memastikan.

Singkat cerita Nek Uncu berkesimpulan, saat niat baik datang seakan semua pintu terbuka, semua jalan dimudahkan. Baru saja ia mengonfirmasi akan ikut mengunjungi cucu di pesantren, bertubi-tubi rezeki menghampiri. Katanya, sesaat ia menutup telepon, dari saya tadi, datang tetangga dua gang dari rumahnya, menyalamkan amplop senilai dua ratus ribu rupiah untuk si nenek, mana tahu nenek sedang ingin makan sesuatu. Demikian pesan si jiran.

Dua tahun ini Nek Uncu memang tinggal sendirian. Ada kios kecil sebagai sumber penghasilannya sehari-hari. Suaminya, Tok Uncu, berpulang ke rahmatullah pada tahun 2017 lalu. Beliau berdua tidak dikaruniai anak. Kami para keponakanlah yang menjadi anak beliau. Bergantian menjenguk dan menemani di hari tua.

"Terkadang sampe heran juga, macam tau aja orang tu." tambah Nek Uncu. "Pernah suatu kali saat sedang berjalan membeli sarapan, dicegat oleh tetangga yang tidak begitu kenal baik. Dikasih "salam tempel" katanya untuk bekal Nek Uncu ke pesantren menengok cucu. Padahal baru niat saja, sudah demikian Allah membukakan jalan selebar-lebarnya.

Meski saya berpesan, tidak perlu memberi anak-anak saya dengan jajan berlebihan, sebab khawatir jadi kebiasaan jajan. Nek Uncu keukeuh rezeki harus dibagi. Niat ingin melepas rindu insyaallah dimudahkan demi berbagi kebahagiaan bersama.

5 September 2019: Sharing The Happiness

apresiasi atas paper accepted
Sumber: Laman Facebook Fakultas Hukum UMSU
Tanggal 26 Agustus 2019 lalu masuk surel ke alamat saya. Menyatakan bahwa paper yang saya submit pada 5 Agustus lalu "accepted". Tentunya hal ini patut disyukuri sebab insyaallah saya dan rekan sejawat tim penelitian akan tampil sebagai salah satu penyaji presentasi di event internasional Nommensen International Conference on Creativity and Technology (NICCT) 2019 di Hotel Danau Toba, Medan, pada tanggal 20-21 September mendatang.

Kampus home base saya, Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). langsung memberikan apresiasi berupa ucapan selamat yang dipajang di official website https://fahum.umsu.ac.id. Sebagai penyemangat bagi kami para dosen dalam mengikuti forum-forum yang merepresentasikan nama institusi.

Bagi saya pribadi ini merupakan konferensi internasional yang kedua yang saya ikuti setelah ICAP 2018 (International Conference of ASEAN Perspective and Policy) yang diadakan di Universitas Pembangunan Panca Budi, Medan. Waktu itu saya mengangkat konsep tentang Critical Review of Legal Fiction Principle in Indonesian Law yang accepted oleh reviewer dari Turki.

Sejauh ini saya belum berkesempatan mengambil event konferensi internasional keluar negeri. Bahkan keluar kota pun sebisa mungkin tidak saya ikuti. Sebab saya sadar betul masih memiliki anak kecil. Putra batita kami amat membutuhkan kehadiran saya, hal ini tidak akan terpenuhi jika menginap berhari-hari di luar daerah.

Ajaibnya, kalau saya mendahulukan kepentingan keluarga, seakan jalan terbentang untuk saya. Ada saja cara Allah mendekatkan saya pada forum-forum relevan, tanpa harus meninggalkan suami dan anak-anak. Maka tak henti-hentinya saya menggemakan hamdalah. Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillahirabbil 'aalamiin.

6 September 2019: Sepuluh Poin Kebahagiaan

Bahagianya bisa berbagi
Sumber: Ibu Profesional Sumatera Utara
Kata psikolog dalam buku La Tahzan for Women karya Aidh Al Qarni, ada sepuluh poin kebahagiaan yang saya sarikan menjadi hal-hal berikut ini:

  1. Melakukan pekerjaan yang disukai
  2. Memiliki kesehatan yang prima
  3. Mempunyai tujuan hidup yang jelas
  4. Sederhana dalam menjalani kehidupan
  5. Menikmati masa sekarang, tidak menyesali masa lalu dan tidak mencemaskan masa yang akan datang
  6. Tidak menyalahkan keadaan
  7. Tetap respek pada orang yang kurang beruntung daripada kita
  8. Banyak tersenyum, ceria, bergaul dengan teman-teman yang optimis
  9. Berusaha membahagiakan orang lain
  10. Menjadikan setiap kesempatan menjadi momen bahagia
Nah, kebetulan sekali hari ini saya didaulat untuk sharing tentang menulis. Sebagai bagian dari rangkaian acara International Literacy Day yang diadakan oleh Komunitas Ibu Profesional regional Sumatera Utara. Membaca dan menulis adalah aktivitas yang sejak SD sangat saya sukai. 

Menurut sepuluh poin di atas, saya telah memperoleh kebahagiaan, yaitu berbagi tentang kegiatan yang saya sukai. Bertukar pendapat tentang kepenulisan. Benar juga yang dikatakan founder Ibu Profesional pusat, Ibu Septi Peni Wulandani, berbagi itu bisa menghilangkan pusing di kepala. Saat banyak jadwal yang mesti di-manage waktunya, lalu meluangkan sedikit waktu untuk sharing dengan rekan-rekan yang sama frekuensinya, sama buncahan semangatnya. Maka saat itu muncullah rasa bahagia.

Ternyata memberi itu bukan untuk orang lain, tetapi untuk diri kita sendiri. Ingin selalu berbahagia, maka banyak-banyaklah berbagi.

7 September 2019: Bahagia Dunia dan Akhirat


Nurhilmiyah
Sumber: Facebook

"Rabbana aatinaa fid dunya hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa 'adzaaban naar"


"Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat. Dan peliharalah kami dari siksa api neraka." (QS. Al Baqarah: 201)
Pasti setiap hari kita melantunkan doa populer ini. Doa yang dikenal luas sebagai doa sapu jagad. Mengapa disebut doa sapu jagad?

Pertama, sebab ia melingkupi keseluruhan kebaikan baik di dunia maupun di akhirat.
Kedua, semua nabi utusan Allah SWT membaca doa ini dalam setiap pintanya pada sang Rabb.

Terkait doa tersebut, ada lima jalan yang harus ditempuh menurut Imam Syafi'i, jika ingin menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat:

  1. kayakan jiwa kita dengan sikap qanaah, rida terhadap pemberian Allah dan berlapang dada
  2. mencegah diri dari menyakiti orang lain, baik ucapan maupun perbuatan
  3. bekerja dengan cara yang halal
  4. kenakan pakaian takwa, maksudnya senantiasa bertakwa kepada Allah di manapun berada
  5. percaya kepada Allah SWT atas semua keadaan yang ditetapkannya. Hidup itu dinikmati, dijalani dan disyukuri
Insyaallah jika melaksanakan  hal-hal tersebut di atas, maka kita pun akan bahagia dunia dan akhirat.










Berlangganan update artikel terbaru via email:

36 Komentar untuk "Jurnal Bahagia Di September Ceria"

  1. Baca iniii sepertinya sy kurang bersyukur hiks..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk Mbak bikin jurnal syukur masing² atau jurnal bahagia. Biar gak berlalu begitu saja n pastinya bs menambah rasa syukur kita.

      Hapus
  2. Aku jadi pengen ikutan bikin.makasi udah kasi ide ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuks Mbak Sri... Biar kl mau ngeluh² tinggal baca lg, hihi

      Hapus
  3. Seringkali banyak hal yang dianggap sepele, padahal perlu kita syukuri. wah, bolehlan nanti japri pengalamannya jadi narsum di IP sumut. ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, setiap hari ada aja yang bikin bersyukur. Bisa menghirup oksigen saja sudah satu kesyukuran yahh

      Hapus
  4. Saya sempat bersenandung juga, Mbak.
    September ceria... september ceriaaaaa hahaha.

    September memang penuh kecerianan, tapi desember tidak selamanya kelabu ya, Mbak. Dan saya juga bersyukur, di bulan september ini tetap diberi kesehatan, sehingga bisa terus menulis berbagi cerita dan ceria...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah benul itu, Mas. Mestinya kita ceria gak cuma di September tp di semua bulan ya...

      Hapus
  5. Masih sampe hari ke 7 kak, ada part 2 nya ni?
    Icha belum ambil dari ig, Ntah kayak mana caranya, haha soalnya laptop lagi rusak wifi nya. Terpaksa nulis ulang ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah udah available ituhh yg Part 2 nya, Cha... Tinggal bawa² link-nya ke mana² lah wkwk

      Hapus
  6. Seneng ya bisa memulai setiap hari dengan optimos dan mengakhiri hari dengan bersyukur. Semoga kita selalu bisa menerima qadarullah dengan berlapang dada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insyaallah Yuk Dona. Semoga kita jadi bagian orang² yg mudah bersyukur yaa... Amin

      Hapus
  7. List of gratitude itu penting buat dibikin ya Mbaaa.
    Bismillah.
    Mau coba, ah
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yukk Bunda Sigi, agar lebih banyak melihat bright side-nya

      Hapus
  8. Mengharubiru saya mbacanya...
    Krn tadi anak saya brgkt sekolah dgn hati yg kesal karena saya marahi.

    Saya marah2 gegara anak2 mandi masuk ke dalam bak.

    Klo dah gini, baru muncul rasa menyesal.
    Klo dgn mandi di bak mereka gembira ya sudahlah.
    Secara emaknya hanya janji tinggal janji ngajakin berenang.

    Huhu.,..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kl di kami bak mandi itu semacam kolam renang pribadi di rumah. Jd mmg rutin anak² main di situ ^^

      Hapus
  9. Baca artikel ini jadi mengingatkan ya, bahwa setiap harinya itu pasti ada minimal satu hal yang bisa disyukuri. Jadi malu banget kalo masih suka mengeluh. Makasih ya mba untuk sharingnya 🤗🤗

    BalasHapus
  10. Kita kayaknya enggak seangkatan deh Mbak Mia...Karena Vina Panduwinata itu seumur kakak saya bukan ibu saya...hahaha, saya lebih tua nih keknyaa
    Oh ya bicara syukur rasanya kalau kita ingat bahkan bikin list seperti ini jadi baru sadar diri. Ternyata banyaaak nikmat yang telah Allah SWT beri. Selamat untuk paper di event internasionalnya...Semoga sukses untuk event-event berikutnya yang lebih cemerlang

    BalasHapus
  11. Saya boros di muka deh kayaknya... Mbak Dian. Wkwk... Aamiinn, makasih doa baiknya

    BalasHapus
  12. Alangkah bahagianya orang yang bisa mensyukuri setiap hal besar dan kecil yang terjadi padanya. Ah ya, saya pernah bikin jurnal bahagia, saat awal-awal iku IP, dan hasilnya memang luar biasa.

    BalasHapus
  13. Saya September cerianya ditutup dengan Rihlah bareng kelurga besar kantor. Setahun nggak ngumpul banyak perubahan yang terjadi. Selamat September Ceria

    BalasHapus
  14. Isi jurnalnya sebagian besar tentang kebahagiaan ya mbak. Semoga kita senantiasa bahagia, kayak lagunya Vina Panduwinata. September ceria milik kita...

    BalasHapus
  15. Septembernya kyk lagu ya mbak? Ceria hehe. September jg selalu membahagiakanku untukku insyaAllah. Seru juga nih bikin semacam review kyk gini kalau perbulan ya, mulai cerita apa yang dilakukan dll, jd bisa kyk ngingetin banyak hal utk disyukuri TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyep Bener Mbak April, agar keliatan ternyata kita tuh setiap hr dilimpahi nikmat dr Allah SWT cm kadang ga sadar

      Hapus
  16. Ya mmg hidup itu harus d jalani mau manis atau pahit, jalani saja. berserah diri sama Allah SWT. Syukuri apa yg ada. Insya Allah kita bisa menikmati segala nya.

    BalasHapus
  17. Bahagia itu sederhana seperti saat aku membaca tulisan ini yang penuh kata.
    Inspiring sekali momen-momen yang dilewati Bunda selama bulan September Ceria ini.

    Kalau aku yang mengesankan untuk bulan ini yaitu memang banyak undangan acara untuk blogger. Sehari bisa 4x dan ujung-ujungnya dikejar deadline. hahahaha

    BalasHapus
  18. Septembernya lagi ceria nih, semoga sih bukan hanya ceria di september, di bulan lainnya juga selalu ceria dan membahagiakan

    BalasHapus
  19. numpang promote ya min ^^
    Ayo segera bergabung dengan saya di D3W4PK
    hanya dengan minimal deposit 10.000 kalian bisa menangkan uang jutaan rupiah
    ditunggu apa lagi ayo segera bergabung, dan di coba keberuntungannya
    untuk info lebih jelas silahkan di add Whatshapp : +8558778142
    terimakasih ya waktunya ^.^

    BalasHapus
  20. Alhamdulillah bulan September kemarin aku juga bahagia, banyak menang lomba blog, foto dan video. Tapi memang yg paling bahagia itu ketika bisa berjumpa dengan keluarga

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel