Pentingnya Pengenalan Pendidikan Seks Bagi Anak Usia SD

Rabu, 30 Oktober 2019 lalu Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UMSU menggelar Workshop tentang Pentingnya Pendidikan Seks bagi Anak dalam Meminimalisasi Kejahatan Seksual. Mengapa dipilih anak usia SD khususnya yang sedang duduk di kelas 4, 5 dan 6 sebab di masa-masa ini rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang berbau seks biasanya sudah mulai muncul.

Peserta pelatihan ini adalah guru-guru se-kota Medan dengan perincian utusan per sekolah empat orang guru bidang studi. Yaitu guru PKN, guru Penjas, guru IPA dan guru Agama. Bidang studi yang dianggap sangat strategis dalam membekali anak didik terkait pengenalan pendidikan seks.

Acara yang diselenggarakan di auditorium kampus UMSU ini menghadirkan dua pembicara yang sangat concern pada problematika kekerasan seksual pada anak. Yaitu Kadis Perlindungan, Pemberdayaan Perempuan dan Anak sebagai penyaji pertama, Kadis Pendidikan dan Kebudayaan sebagai pemateri kedua. Semuanya berasal dari suku dinas provinsi Sumatera Utara. Sebelum acara ini dilaksanakan, saya menyusun proposal kegiatannya, yang bisa dibaca di sini.

Baik narasumber pertama maupun kedua, Bapak Robert Tua Napitupulu dan Bapak Ihsan Fahmy sama-sama mengungkapkan data dan fakta bahwa masalah pembekalan pendidikan seks semestinya menjadi perhatian para guru selain orang tua. Sebab waktu anak berada di sekolah cukup banyak.

Guru pun harus ikut memantau anak-anak didiknya agar lebih bijak menggunakan gawai. Bukan rahasia lagi bahwa salah satu sumber terbesar pemicu kejahatan seksual adalah gawai.

Sebagai contoh grup predator anak, Loly Candy yang sempat viral pada 2017 lalu. Beranggotakan 7 ribuan member yg kewajibannya buat video mesum dengan anak-anak. Tentu saja ini menjadi momok menakutkan bagi orang tua, semua menginginkan anaknya terhindar dari ancaman Loly Candy ini. 

Kasus pornografi dan kejahatan seksual terkait anak-anak didominasi laki-laki ketimbang perempuan. Pada tahun 2017, korban dan pelaku anak laki-laki sebanyak 1.234 atau 54% dan anak perempuan 1.064 atau 46%. Demikian pernyataan yang tertera pada website resmi Komisi Perlindungan Anak Indonesia. Data ini menunjukkan banyaknya laporan kejahatan seksual terhadap anak yang perlu menjadi perhatian dari orangtua, keluarga, masyarakat, bahkan pemerintah.


Sumber: Liputan 6.com
Kekerasan seksual terhadap anak tidak hanya dilakukan oleh orang yang tidak kita kenal, melainkan dapat terjadi dari orang terdekat. Banyak kasus yang ditemukan tetangga mencabuli anak tetangganya, kakek mencabuli cucunya, hingga kasus yang paling miris adalah seorang ayah yang berani mencabuli anaknya. Hal ini disebabkan oleh perilaku menyimpang dari pelaku dan diperparah dengan ketidakmampuan anak melawan perlakuan mereka. 

Berdasarkan peristiwa tersebut, sangat penting bagi orang tua untuk mengajarkan pendidikan seks kepada anak sejak anak masih kecil. 

Satu ruangan hening seketika saat sharing session, guru-guru satu per satu membagikan pengalaman dan pengamatannya di sekolah. Ada siswa laki-laki yang mengajak teman siswinya ke kamar mandi lalu menciumnya paksa. 

Lalu di kelas dua, ada lagi siswa laki-laki yang menyingkap rok siswi dan menjolokkan sebatang lidi ke arah kemaluannya, untungnya tidak kena, meleset mengenai paha si siswi. 

Di kelas enam, ada seorang siswi yang terang-terangan mengekspresikan rasa cintanya kepada lawan jenis yang disukai di kelas, tanpa ada lagi rasa malu. Hal ini tentu membuat seisi kelas tidak kondusif dan lama-lama karena terlalu berlebihan, menjadi semacam teror bagi si siswa tersebut.Sudah pasti para orang tua prihatin mengetahui hal ini. 

Di forum tersebut sama-sama dicari akar masalahnya, faktor-faktor penyebabnya dan solusi yang dapat diberikan untuk mengatasi masalah bersama ini. Salah satu faktornya adalah kurangnya perhatian orang tua terhadap anak. Sehingga anak lebih suka mencari sendiri jawaban-jawaban dari rasa penasarannya terhadap seks.


Lalu apa yang sebaiknya harus dilakukan orang tua di rumah?


1. Kenalkan bagian tubuh yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain
Ajak anak mengenal bagian-bagian tubuh dan fungsinya, kemudian berikan penjelasan ada bagian tubuh tertentu yang tidak boleh dilihat dan disentuh orang lain. Bagian tubuh tersebut antara lain, dada, bibir, organ reproduksi dan bokong.

2. Ajarkan konsep perbedaan jenis kelamin pada anak
Orang tua perlu mengajarkan anak tentang perbedaan jenis kelamin antar perempuan dan laki-laki. Memberikan contoh bahwa laki-laki nantinya akan seperti ayah dan perempuan seperti ibu.

Konsep perbedaan jenis kelamin ini juga berfungsi untuk mengajarkan anak menggunakan toilet dan pakaian sesuai dengan jenis kelaminnya. Hal ini termasuk bagian dari kajian mengenai fitrah seksualitas, saya pernah menuliskannya di sini. Saya Perempuan dan Dia Lelaki.

3.  Tanamkan budaya malu kepada anak
Penting bagi orang tua mengajarkan rasa malu kepada anak agar anak dapat menghargai dirinya sendiri. Mengajarkan batasan-batasan dalam bermain dengan lawan jenis. Memberi arahan untuk tidak melepas dan mengganti pakaian di tempat umum.

4. Membatasi aktivitas menonton pada anak
Di samping dampak negatif yang muncul dari kebiasaan menonton televisi terlalu lama, tayangan yang dipertontonkan kepada anak juga tidak semuanya bernilai pendidikan.

Banyaknya tayangan yang menampilkan adegan-adegan yang belum pantas dilihat oleh anak. Hal ini akan mengakibatkan anak meniru adegan dalam tayangan tersebut karena sifat alamiah dari anak adalah meniru apa yang mereka lihat. Tentunya lebih baik bermain  bersama anak daripada membiarkan anak menonton TV.

5. Atur secara serius pemakaian gawai pada anak
Dewasa ini banyak orang tua dengan bangga memberikan gadget kepada anak.Sebagian orang tua bahkan memberikan akses penuh jaringan internet tanpa batas dengan dalih agar anak dapat belajar atau anak tidak mengganggu pekerjaan orang tua. Namun hal tersebut bukanlah langkah yang tepat bagi orang tua.

Anak dibiarkan men-download games tanpa pengawasan orang tua. Padahal tidak sedikit konten berbau asusila tersembunyi dari games tersebut. Banyaknya unsur pornografi dan perilaku yang kurang pantas dilihat oleh anak ada di dalamnya.

6. Pererat bonding orang tua dan anak
Tumbuhkan rasa percaya anak kepada orang tua. Ajarkan anak untuk tidak menyembunyikan apapun dari orang tua apabila ada perlakuan yang tidak pantas yang diterima atau yang terlihat oleh anak mendapatkan ancaman dari si pelaku.

7.  Bicarakan seks kepada anak dengan mengajak diskusi sederhana
Pendidikan seks dapat ditanamkan orang tua dengan mengajak anak berdiskusi sederhana dan menyenangkan. Menjawab pertanyaan anak dengan lemah lembut. Menjelaskan fakta-fakta yang terjadi di lapangan dengan bahasa yang tidak vulgar dan tidak terkesan menakuti-nakuti anak.

Orang tua juga harus banyak mempelajari hal-hal terkait tentang pendidikan seks terhadap anak. Karena semakin berkembangnya zaman pemikiran anak akan semakin bertambah dan anak akan semakin kritis mempertanyakan hal-hal yang tidak dimengerti olehnya.

Penting bagi orang tua untuk banyak membaca atau mengikuti forum seputar pendidikan seks untuk anak usia dini dari pakar yang berkompeten di bidangnya.

Para panitia workshop

Berlangganan update artikel terbaru via email:

36 Komentar untuk "Pentingnya Pengenalan Pendidikan Seks Bagi Anak Usia SD"

  1. Komunikasi dua arah dengan anak-anak juga salah satu cara yang bisa dilakukan para ortu. Kami biasanya mensoundingkan ini berawal dari cerita buku, lalu diakhiri dnegan diskusi dan nasehat.

    BalasHapus
  2. Penting sekali ini kak Mia, aku malah terhenyak pas tau ada satu kelas anak-anak di sd yang sudah jadi korban pelecehan seksual oleh temannya sendiri. Itu akibat mereka belum diajarkan daerah pribadi dan privasi sama orangtuanya.

    BalasHapus
  3. Soal pengenalan pendidikan seks pada anak-anaknya, memang kadang menjadi perdebatan ya, Mbak Mia. Di satu sisi memang perlu, namun di sisi lain, masih dianggap tabu. Makanya banyak orang tua yang kaget dan tidak siap, saat anaknya bertanya. Dan bahkan dijawab asal.

    Kalau saya, memang perlu. dan bisa disampaikan dengan bahasa anak-anak, dan bahasannya pun disesuaikan usia mereka. Dan untuk anak-anak, bisa lewat buku cerita juga.

    BalasHapus
  4. Susah2 gampang sih ini. Aku sendiri kadang bingung menjawab kalau ditanya keponakan yang berumur 8 tahun. Mereka mulai bertanya2 soal seks dan penasaran. Sebaiknya memang dijawab sesuai pemahaman dia.

    BalasHapus
  5. Peran orangtua memang besar sekali ya dalam pertumbuhan dan pendidikan anak, termasuk pendidikan seks. Sebagai anak yang tidak punya ikatan erat dengan orangtua di masa kecil, aku merasakan banget dampaknya. Makanya, saat punya anak, sebisa mungkin aku menjadi sahabat mereka. Paling utama sih menyediakan telinga untuk mereka, ya. Adakalanya mereka menceritakan hal-hal receh di sekolah, tapi tetap disimak dan dibahas. Kalau hal kecil mereka sudah percaya, maka hal besar termasuk rasa ingin tahu soal seks pun aku harap mereka juga mau bercerita sama aku.

    Ikut forum parenting? Yes! Penting banget karena perkembangan dunia saat ini sudah begitu pesat. Kita juga harus bisa menyesuaikan, bukan menyamakan dengan kehidupan kita dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Justru bonding ortu-anak tercipta dr sharing anak ttg hal remeh-temeh yg dialaminya di sekolah ya Mbak

      Hapus
  6. bener menurut aku udah darurat sekali urusan sex dan pornografi anak ini. Udah gak ada takut - takutnya lagi.

    BalasHapus
  7. yang paling miris itu jika pencabulan dilakukan oleh orang terdekat ya mba, apakah tetangga, gurunya, kakek atau pun orangtuanya.
    Siapa yang menyangka, predator itu orang yang kita percaya.
    Semoga Allah SWT selalu melindungi anak-anak kita, lahir dan batin.

    BalasHapus
  8. Ya Allah, seram sekali, Mbak, cerita pengalaman yang dibagi para guru. Itu sudah lumayan parah, lho. Apa sayas eperti orangtua yang juga tak tahu ada peristiwa semacam itu?
    Btw, Mbak, setengah tulisannya tidak terbaca karena terlalu kecil. Padahal sangat menarik lho, sharing yang ini

    BalasHapus
  9. Terima kasih informasinya kak. Sebagai orang tua saya wajib tau serta khawatir tentang seks pada anak

    BalasHapus
  10. Banyaknya orang tua yang masih menganggap tabu mengenai pendidikan seks bagi anak juga dapat membuat anak menjadi penasaran dan mencari tahu sendiri di luar rumah. Menyeramkan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah tuh,, lebih baik diomongin scr bijak sesuai tingkat kepahaman n sesuai bahasa anak²

      Hapus
  11. Mantap nih mbak bahasannya. Sebagai guru, saya juga mengingatkan anak anak untuk hal ini. Terutama soal aurat, interaksi dengan lawan jenis.

    Kalau baca kasus terkait pelecehan seksual ke anak. Gregetan. Makanya memang penting banget pendidikan seks ini diajarkan.

    Tfs, mbak...

    BalasHapus
  12. Saya setuju banget mbak, memang yang namanya pendidikan seks sebaiknya gak dianggap tabu lagi, kita kenalkan ke anak sejak dini, minimal pas anaknya masih kecil banget dia tahu bedanya cowok cewek dan tahu batasan mana bagia tubuh yg hanya boleh dilihat org terdekat mana yang gak boleh. PR besar mbak krn zaman skrng predator makin banyak, gak cuma anak cewek, ke anak cowok pun juga :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kl anak² udah diberi perisai, insyaallah akan lebih resisten menghadapi ancaman predator

      Hapus
  13. Bener mba, pendidikan seks emang perlu banget. Pendidikan pra-baligh ya istilahnya. Anak-anakku masih batita tapi aku udah deg-degan gimana nanti mengedukasi mereka klau udah remaja

    BalasHapus
  14. Can't agree more. Pendidikan seks bukan hal yang tabu. Pendidikan seks juga tidak melulu membahas tentang seks, tapi lebih ke pengenalan diri kita sendiri sebagai laki-laki atau perempuan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masih byk ortu yg gak mau menjawab pertanyaan anak dg jelas, akhirnya anak nanya ke Y*utube

      Hapus
  15. Penting sekali tips diatas kak Mia. Satu hal lagi yang daku komunikasikan ke anak anak dirumah adalah bahwa organ intim nya tidak boleh disentuh kecuali saat mereka istinjak dan itu juga seperlunya sebagai kewajiban taharah. Itulah sebabnya aurat utamanya diberikan khusus penutup selain baju karena penting dan istimewa, sehingga tak boleh ada orang lain yang boleh menyentuhnya

    BalasHapus
  16. Wah lengkap bahasan workshopnya Mbak Mia. Memang tantangan ortu hari gini makin berat ya. Teknologi bagai dua sisi mata uang. Negatifnya ya bisa merusak akhlak jika kita tidak jadi pengontrolnya.
    Senang sekali membaca shating ini. Jadi pengingat diri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak,, seru banget diskusi dg para guru dg berbagai cerita, yg lgsg menghadapi anak² di sekolah

      Hapus
  17. Memiliki anak yang mendekati usia remaja bawaannya cemas ya mam, apalagi si kakak sekarang kelas 6 MI.. makasih sharingnya ya mam, penting banget buat bahan ngajarin anak yang mendekati puber..❤️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ortu hrs berusaha jd sahabat tempat curhat si remaja ya Mom, huhuu

      Hapus
  18. Ini sih yang membuat yuni sedikit khawatir sama pergaulan adik bungsu yuni. Memang benar, adik yuni sudah dapat ponsel. Tetapi sebagai kakak, yuni tetap membatasi penggunaannya.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel