Surat untuk Kartiniku

“Tulisan ini dibuat untuk mengikuti kompetisi #SuratuntukKartiniku yang diselenggarakan oleh Storial”


Jika tanggal kelahiran Ibu Kartini jatuh pada 21 April, maka tanggal 14 April Kartiniku berulang tahun. Rasa rindu yang memenuhi dadaku mengalahkan capek yang menderaku hari ini. Baiklah, dengan segenap perasaan kangen yang mengharu biru, kugoreskan secarik surat untuk Kartiniku.

Dear Kartiniku,
Andai engkau ada di sisiku saat ini pasti kau tersenyum mendengarkan keluh kesah tentang segala kelelahanku. Penat yang tak lagi bisa diurai satu persatu. Peluh yang musykil dijabarkan secara rinci sebab jatuhnya.

Kartiniku,
Anakku sekarang tiga orang. Masih kalah jumlah denganmu, lima orang ditambah satu keponakan yang tak kau beda-bedakan mengasihinya bersama-sama kami. Aku ingat dulu, dulu sekali.

Saat aku masih duduk di bangku sekolah dasar. Besoknya kau dan ayah akan ada Ujian Semester. Kalian berdua tampak sibuk menekuni diktat dan buku kuliah setelah kita semua makan malam dan kami beranjak tidur.

Satu waktu kau tampak kaget saat mencari-cari selembar dari halaman diktat yang kau tekuri. Hilang. Sobek tak bersisa. Lalu kau menghampiri adik lelakiku. Ia tengah asyik menjalankan kapal-kapalan kertas buatannya di atas bantal. Tampak barisan ketikan demi ketikan berspasi dua di layar kapal-kapalan itu. Kau menghampiri adikku dan memastikan bahwa mainan yang dipegangnya adalah lembar diktatmu yang lenyap.

Bukannya murka, kau malah memberitahu ayah dan kalian tertawa bersama. Kelihatannya kalian sangat memahami konsekuensi menikah sambil kuliah hingga sangat siap menerima segala akibatnya termasuk halaman diktat kuliah  yang disulap menjadi kapal-kapalan.

Kartiniku,
Ternyata aku berbeda denganmu. Aku tak sepenyabar dirimu, aku sangat mudah tersulut emosi dengan intervensi anak-anak di tugas-tugas mengajarku. Saat ingin mengetik revisi materi aja untuk mahasiswa, detik itu pula si bungsu mengambil alih laptopku untuk bermain game dan aku complain. Ketika akan mengeprint usulan penelitian, waktu itu pula printerku tak bisa mengeluarkan kertasnya. Aku langsung mengonfirmasi pelakunya.

Ternyata si nomor dua, putraku. Entah sengaja atau tidak, ia menaruh karet penghapus di dalam printer sehingga alat pencetak ketikan itu tak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Di lain waktu, pada saat aku berasik masyuk dengan lampiran berkas untuk laporan pengabdian masyarakat, si sulung berteriak kencang karena komik yang dibacanya tiba-tiba kejatuhan cicak dari atas plafon.

"Kakak, mana lebih gede, cicak itu atau badan kakak?” seruku menghampiri dan berusaha menenangkannya. “Kakak sih Mi, tapi geli campur takut,”demikian rajuk cucu pertamamu.

Kartiniku,
Itu masih hal-hal yang menyenangkan bagiku untuk dijalani hari demi hari. Jangan tanya tentang tugas-tugas kerumahtanggaan yang harus kukerjakan sendirian di samping waktu beraktivitasku di kampus. Ternyata aku masih kalah cekatan denganmu.

Masih jauh lebih gesit engkau wahai Kartiniku. Dengan lima anak yang berjarak 1-2 tahun engkau menjalani kodratmu sebagai istri, ibu, mahasiswi dan guru swasta. Tak banyak pembantu yang singgah di kehidupan masa kecilku.

Seingatku, kau hanya minta bantuan dari adik-adik sepupumu yang datang dari kampung pada saat melahirkan. Selebihnya kau mengerjakannya sendiri. Kau juga sangat menyadari bahwa dengan gaji suami yang hanya pegawai negeri sipil jaman dahulu tak banyak yang bisa dibayarkan.

Kartiniku,
Aku malu padamu. Tiap hari selalu berkeluh kesah tentang rutinitas harian seorang ibu. Menyiapkan sarapan untuk anak-anak, mencuci dan menyetrika pakaian mereka, menyapu, mengepel serta menjaga kebersihan rumah agar nyaman ditinggali. Bukan tak satu dua asisten rumah tangga yang bekerja di rumah kami.

Namun entah karena faktor apa, ada saja yang membuat keberadaan mereka menjadi datang dan pergi sesuka hatinya, silih berganti di rumah ini. Aku menginstrospeksi diriku. Apakah aku terlalu cerewet pada mereka, suamiku bilang tidak, meskipun tak jarang aku mencerewetinya via handphone. Sudah 3 tahun ini kami menjalani long distance marriage karena ia belum bisa mutasi di kota yang sama denganku.

Hanya Sabtu dan Minggu menantumu bisa berada di tengah-tengah kami. Di akhir pekan itulah ia seoptimal mungkin meringankan pekerjaan rumah kami. Atau mungkin adakah tingkah laku anak-anak yang tak berkenan bagi para asisten itu? Aku tak henti-hentinya mencari kesalahan kami sehingga sampai saat ini keluargaku belum juga mendapatkan seorang asistenpun pasca berhentinya asisten sebelumnya 3 bulan lalu.

Mungkinkah gaji yang tak sesuai? Aku mencoba berdiskusi dengan tetangga sebelah mengenai standar besaran gaji asisten rumah tangga daerah kawasan tempat tinggalku. Tetanggaku membelalakkan kedua bola matanya mendengar gaji yang kubayarkan. Malah diatas rata-rata itu. Katanya.

Lalu apa? Aku teringat tulisan di salah satu blog emak-emak yang pernah kulayari. Tak sedikit yang bernasib sama sepertiku. Katanya, ada seribu alasan untuk tetap bekerja dan seribu alasan pula untuk tak lagi bekerja. Aku mencoba tak melulu menyalahkan diriku lagi.

Samar kulihat Kartiniku tersenyum teduh dalam benakku. Seolah sambil berkata, ”Putriku, kini kau sedang belajar tentang asam garam kehidupan. Hari-hari terkadang tak seindah yang kau bayangkan. Jalanilah. Ikhlaskanlah. Kau harus jadi perempuan tangguh. Karena kita adalah kartini-kartini di masa kita masing-masing. Maka bertahanlah, Sayang”.

Kuseka air mataku yang jatuh satu-satu. Sosok yang telah meninggalkan dunia ini 4 tahun lalu, meninggalkan suami dan buah hati tersayangnya karena sakit menahun, yang semangat dan motivasinya senantiasa membuatku berusaha setegar karang, dia adalah Kartiniku tercinta.

@storial
#writingcompetition
#writingcontest
#lombamenulis
#menulissurat
#writingletter
#SuratuntukKartini
#kartini
#filmkartini
#21April


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Surat untuk Kartiniku"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel