Menulis Sekali Mengedit Berkali-kali



Tak ada tulisan yang langsung jadi sempurna. Ibarat sihir dan sulap, tring...! Tercipta satu tulisan yang enak dibaca, renyah bahasanya dan mengalir kata-katanya. Semuanya butuh proses agar layak dikatakan bagus.

Ernest Hemingway, novelis, cerpenis dan wartawan Amerika Serikat pernah mengatakan "the only kind of writing is rewriting". Mungkin ini yang disebut trainer TKJP (baca: Roadmap Menulisku 2) zaman kuliah dulu sebagai "good writing is rewriting".

Menulis, tidak bisa sekali jadi dan tak memerlukan penyuntingan sama sekali. Alangkah supernya jika seorang penulis yang menuangkan gagasannya kemudian tidak merasa perlu mengeditnya. Sesaat setelah mengetikkan tanda titik (.) terakhir pertanda tulisan telah selesai, penulis pastilah membaca dulu hasil olah pikirnya itu dari awal sampai akhir.

Mungkin antarparagraf ada logika yang tidak berurutan. Barangkali terdapat ketidakjelasan substansi, atau masih terselip kata-kata nonbaku. Ibarat memasak, ada bumbu yang dirasa kurang. Saat dicicipi sepertinya kurang pas, maka perlu ditambahkan bawang, misalnya. Demikian juga menulis, dibaca sekali lagi belum dapat bagusnya. Ternyata masih terdapat kalimat yang bertele-tele, mubazir kata atau pleonasme.

Cahyadi Takariawan memisahkan antara kegiatan menulis dengan mengedit. Fokuslah menulis, jangan disambil mengedit. Salah satu penyebab sulit menulis adalah mencampuradukkan dua kegiatan tersebut. Menulis itu tidak perlu berpikir, mengalir laksana bertutur. Menuliskan apa yang ingin ditulis. Sedangkan mengedit mengharuskan untuk berpikir. Disinilah muncul kesulitan menulis, karena mengedit lebih sulit daripada menulis.

Senada dengan Cahyadi, proses menulis Ngainun Naim tak kalah menarik. Menulis saja dulu, nikmati proses menulisnya. Jangan sampai menulis menjadi beban, menimbulkan tekanan (stress). Menurutnya, menulis sebaiknya tidak memperhatikan referensi terlebih dulu. Tidak perlu diedit terlebih dulu. Pokoknya menulislah seperti orang yang berbicara. Mengedit bisa dilakukan di waktu yang lain, memperbaiki kalimat hingga enak dibaca.

Sebagai penutup, beberapa waktu lalu, ada artis yang pernah dijuluki hatersnya sebagai Ratu Settingan. Kemudian di kampus saya pernah menjumpai sejawat hebat yang rasanya sudah bisa dianugrahi sebagai Ratu Proposal. Nah, kalau seorang penulis tidak ada salahnya kalau digelar Ratu Editan, hehe. Karena di belakang layar, lebih banyak mengeditnya demi menghasilkan satu tulisan yang baik.
Wallahu a'lam.

Salam literasi

Sumber foto: dok. Pribadi
Keterangan foto:
waktu Ririn berusia 2 tahun, tak ingin kalah sibuk dengan Uminya mengoreksi draf skripsi, sampai-sampai Bu Dosen cilik tertidur. 😍

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Menulis Sekali Mengedit Berkali-kali"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel