Kuliah Itu Prihatin


Memerhatikan gaya dan penampilan mahasiswa zaman sekarang, ingatan saya kembali ke masa kuliah dahulu. Saya memiliki sahabat yang berpenampilan apa adanya. Berlatarbelakang keluarga petani, ia menginspirasi saya untuk selalu tampil sederhana. Bahkan katanya, kuliah itu mestinya prihatin.

Sederhana yang dimaksud adalah tidak berlebihan, bersahaja, sedang-sedang saja, tidak terlalu wah, tidak juga asal-asalan. Pertengahan. Saya hampir hafal macam-macam blus, jilbab dan rok, atau kulot yang sering ia kenakan ke kampus. Apalagi sepatu sandalnya, di semua kesempatan nyaris memakai sepatu yang sama.

Tapi jangan ditanya indeks prestasinya berapa. Sahabat saya itu summa cumlaude! Dalam hal belajar justru ia tidak sederhana. Maksudnya, ia tak ingin menjadi biasa-biasa saja soal pencapaian prestasi. Rajin sekali melengkapi catatan.

Teman-teman yang lain sampai memfotokopi tulisannya. Saya juga tak ingin ketinggalan. Sebenarnya tulisan sahabat saya itu tidak bagus-bagus amat. Rasanya malah lebih teratur tulisan tangan saya (haha..memuji diri sendiri pula). Mungkin karena duduknya selalu tepat di depan dosen menjadikannya mudah mencatat kuliah. Posisi menentukan prestasi, kata saya dan teman-teman.

Satu saat sahabat saya mengabarkan bahwa dia akan pindah ke indekos. Sebelumnya tinggal di rumah kerabatnya. Katanya ingin fokus belajar. Maklum, saudara yang ditumpanginya tersebut memiliki dua anak yang masih kecil-kecil. Namanya menumpang tinggal, ya sedikit banyak ia membantu membereskan rumah dan jika sedang tidak ke kampus, ia pun menjaga anak-anak familinya itu.

Saya diajak ke kos barunya. Merepresentasikan keprihatinan. Ruangan yang pas-pasan memuat satu orang saja. Kasur yang tak begitu tebal, lemari yang pakai resleting, rak sepatu, dan hal terpenting baginya saat itu. Meja belajar. Baginya kemanapun ia pindah, syarat utamanya mesti ada meja untuk belajar. Saya melihat ada lampu belajar yang harganya sangat terjangkau anak kos masa itu.

Sesekali saya pun mengajaknya menginap di ponpes mahasiswa tempat saya tinggal selama kuliah. Ponpes di kawasan Krapyak, Yogyakarta. Namanya juga ponpes, saya tak bisa seenaknya memasukkan teman. Ada peraturan pondok yang wajib dipatuhi. Sahabat saya salut karena katanya, ia belum tentu sanggup seperti saya. Membagi waktu antara kuliah di UGM dan belajar kitab kuning di pondok. Baginya harus fokus dengan perkuliahan semata.

Bersama dengannya walau tak setiap hari sungguh banyak mendapatkan pelajaran. Saya yang waktu itu uang bulanannya termasuk yang lumayan, belajar berhemat darinya. Kalau kami memperoleh beasiswa, sahabat saya benar-benar membelikannya buku dan keperluan kuliah lainnya. Tidak pernah saya ketahui ia menghabiskannya untuk membeli baju baru, sandal bagus, dan seperangkat alat make up seperti lazimnya seorang gadis. Benar-benar prihatin.

Biaya makan juga tak perlu melihat tanggal. Kata orang, anak kos itu akan makan di rumah makan Padang di awal bulan. Lalu nasi kucing angkringan di pertengahan bulan dan mie instan di akhir bulan. Haha.
Sahabat saya itu mengajak makan di warung makan yang murah. Tapi tak asal murah lalu makan apa saja.

Kalau sekarang, istilah makanan sehat adalah yang sesuai dengan pedoman gizi seimbang. Kami dulu makannya yang empat sehat namun jarang sempurnanya. Maksudnya terkadang karena kesibukan kami lupa membeli susu. Untuk persoalan makan, tak perlu bermewah-mewah. Namanya juga masih kuliah, prihatin.

Perpisahan kami saat ia diwisuda lebih cepat beberapa bulan dari saya. Ia langsung mengikuti tes penerimaan pegawai bank sentral di negeri ini. Sempat bertelepon dengannya, dia curhat kalau tesnya berlangsung enam kali dengan peserta 25 ribu orang di tahap awal.

Alhamdulillah pada saat pengumuman namanya keluar di daftar 60 orang peserta yang lulus semua tahap, diseleksi dari seluruh Indonesia. Jadilah ia kini sebagai pegawai lembaga yang mengatur stabilitas moneter negeri ini. 14 tahun berkarya di sana sekarang ia dipercaya sebagai salah satu manajer. Uniknya, sahabat saya yang otaknya brilian itu tetap berpenampilan sederhana. Padahal ia presentasi di Turki, meeting di Australia, berpenghasilan dua digit, namun pakai lipstik pun tidak. Benar-benar alami.

Saya bersyukur pernah mengenalnya dan masih bersilaturahim sampai saat ini. Kalau ada kunjungan ke kantor perwakilan yang berlokasi di kota saya, tak lupa ia mengajak bertemu. Bahagia rasanya melihat sahabat yang dulu mengajarkan saya arti kesederhanaan, kini ia pun masih orang yang sama. Ah, sederhana yang memikat.

Salam literasi

Sumber foto: Google



Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Kuliah Itu Prihatin"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel