Cerita Mudik

Tentang mudik apa ya yang bisa saya ceritakan. Empat tahun terakhir ini kami telah kembali ke kota asal, Medan tercinta. Jadi statusnya sudah tidak punya kampung lagi. Sembilan tahun lamanya saya ditempatkan pemerintah, dalam hal ini Kemenristekdikti di Fakultas Hukum UNA (Universitas Asahan), Kisaran.

Di akhir tahun 2013 saya mengajukan mutasi home base ke instansi induk kami, Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah I Medan. SK Penempatan akhirnya keluar, per 1 April 2014 saya kini ditugaskan di Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan.



Mengenang kisah mudik kami ke Medan sepuluh tahun silam, wew serunya subhanallah. Persiapan koper berisi pakaian lima orang (waktu itu anak kami masih tiga), bekal makan minum persiapan mana tahu macet di jalan. Bontot makan si kecil yang tidak puasa. Apalagi kalau punya bayi, diaper, snack dan botol susunya jangan sampai ketinggalan.

Rasanya lega kalau semuanya sudah terangkut dan dipastikan tidak ada yang terlupa. Apalagi waktu masih punya anak dua belum punya mobil, kami mudik ke Medan naik KA. Wuih seru, tiket menjadi hal sangat penting yang mesti duluan diselamatkan agar tidak keselip atau tinggal. Bisa-bisa gagal mudik kalau tiket KA hilang.

Alhamdulillah setelah punya mobil pribadi jadi lebih mudah dan fleksibel waktunya. Cuma sesekali kami kangen juga ingin mengulang lagi masa-masa berkesan mudik naik KA. Mudik itu puncaknya adalah karena ingin merayakan hari raya bersama orang tua.

Dulu begitu kami sampai di rumah ortu, sudah ada senyum lebar penuh kerinduan yang menyambut. Anak-anak menghambur ke pelukan atok dan neneknya. Tak sabar ingin segera masuk ke rumah bersejarah itu. Ingin cepat-cepat malam takbiran sambil mencicipi ketupat bikinan nenek.

Nenek, hari biasa saja makanannya bermacam-macam, apalagi lebaran, hmm... Makin istimewalah. Ada rendang, ayam pop, ketupat, tauco udang, gulai nangka, sambal goreng ati, serundeng, kerupuk merah-putih, komplitttlah semuanya. Aduh Mak, di mana lagilah merasakan suasana masakan macam ada ayah dan mamak.

Teringat istilah si mamak pas kami belanja berdua di Puspa (Pusat Pasar) alias pajak Sentral.

"Di sini mau nyari apa aja semuanya ada, ayah mamak yang tak adak!"

"Maksudnya apa, Mak?" Tanya saya yang masih remaja waktu itu.

"Saking lengkapnya pajak Sentral ini, ibaratnya ayah mamak aja yang gak dijual orang ini. Jadi nanti kalok ayah sama mamak dah gak ada, gak bisalah Kakak carik kami di sini, haha"

"Ah, ada-ada aja Mamak ini, awak kira betollah, hehehe"

Mudik waktu orang tua masih ada menjadi suatu ritual wajib bagi anak-anaknya. Sebab ada masanya nanti saat kita kembali ke rumah masa kecil kita. Tak ada lagi mereka berdua yang sumringah menyambut. Tak ada lagi pembuat ceria suasana rumah. Ayah dan ibu magnet rumah itu. Kini, rumah ortu kami sepi. Hanya sesekali kami gunakan untuk kumpul sesama saudara.

Ah, mudik... Banyak kisah berkelindan bersamanya. Semoga kelak jika anak-anak kami bertebaran di muka bumi ini, mereka tetap mengingat untuk mudik bertemu kami orang tuanya. Hikksss...


Mudik/MoneySmart

#Day18
#BloggerPerempuan
#30HariKebaikanBPN

#Day12
#BloggerSumut
#30HariTantanganPuasaBloggerSumut

#Day128
#SehariSatuTulisan
#KLIP

Berlangganan update artikel terbaru via email:

4 Komentar untuk "Cerita Mudik"

  1. Kami gak rutin mudik pas masih kecil.
    Cuma sekali yang diingat, itu pun naik kreta api.
    heheheh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Anak" malah rindu nih pingin naek kretapi lagi, hihi

      Hapus
  2. Rame banget nggak sih mudik naik KA sekarang? Mending naik mobil aja kayaknya mak.. Apalagi udah ada tol kan ya..

    BalasHapus
  3. Kl sekarang kami gak mudik ke mana" lg, Mak. Hehe... Tp srgnya touring lah keluar kota. Bosan jg di Medan terus.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel