Ramadan Di Masa Kecil



Banyak kenangan tak terlupakan tentang suasana Ramadan saya di masa kecil. Saat-saat bersama kedua orang tua. Harum dan lezatnya masakan ibu, pergi tarawih bersama ayah, main lilin warna-warni dan kembang api bareng adik-adik.

Semuanya terekam rapi dalam memori saya. Membuat saya ingin mengabadikannya dengan bercerita pada anak-anak saya dan juga dengan menuliskannya seperti ini.

Setiap Ramadan tiba keluarga kami amat sangat bergembira. Meski tak seperti kids saleh zaman now yang superkreatif membuat hiasan dan ornamen menyambut bulan puasa, kami dikomando ibu untuk mempersiapkan diri.

Membersihkan kamar, membuang barang-barang yang sudah tak terpakai lagi, menjualnya ke pengepul barang bekas, memilih mukena yang akan dikenakan saat salat berjamaah dan sebagainya yang berhubungan dengan kegiatan bersih-bersih rumah.

Ada benarnya juga anjuran beres-beres yang disuruh ibu. Selain karena kebersihan adalah sebagian dari iman, jika membersihkan agak total seperti saat menjelang bulan suci rasanya lebih leluasa ketimbang kala sedang menjalankan ibadah puasa.

Kebayang, kan... hausnya setelah menyapu plus mengepel seluruh lantai di rumah. Atau saat menyortir barang tiba-tiba ingin ngemil, nah gak bisa kan. Maka kami dengan senang hati menuruti kata-kata ibu.

Dalam logika anak usia SD, saya dan adik-adik sangat khawatir jika berada dalam kondisi dahaga yang amat sangat.

Senangnya di bulan Ramadan, ibu yang setiap hari memang rajin memasak untuk kami sekeluarga, menyediakan lebih beragam lagi camilan berbuka (takjil). Uniknya ibu membuat semuanyanya sendiri. Bakwan, risol, dadar gulung, agar-agar, bolu pandan, kerupuk dan masih banyak lagi, semuanya home made.

Padahal ibu masih harus mengisi majelis taklim ibu-ibu kompleks lho. MasyaAllah ibu kami memang wonder woman. Mengurusi suami, lima anak, satu ponakan tanpa ART, mengajar juga di madrasah dekat rumah.

Bersama ayah, saya pribadi merasakan teduhnya di bawah perlindungan ayah. Setelah salat asar jika kebetulan di hari libur, menunggu waktu berbuka puasa biasanya ayah mengajak kami ke atas jembatan gantung (sekarang dekat kampus UINSU).

Dari atas ayah bercerita tentang truk-truk yang lewat di bawah tempat kami berdiri. Rasanya amazing menyaksikan sesuatu yang baru. Itulah ayah tak pernah luput menyenangkan kami.

Sepulang dari kantor ketika bulan Ramadan telah semakin menua, beliau pasti membelikan sebungkus lilin kecil warna-warni dan kembang api masing-masing satu kotak per orangnya. Gembiranya luar biasa. Seakan Ramadan dan lebaran hanya kami yang punya.

Saya bersyukur dapat rezeki punya kenangan indah untuk diingat. Meski ayah dan ibu tak ada lagi di dunia ini. Kepingan memori bersama mereka saat Ramadan insyaallah tetap lekat di sanubari.


Woman Talk

#Day17
#BloggerPerempuan
#30HariKebaikanBPN

#Day11
#BloggerSumut
#30HariTantanganPuasaBloggerSumut

#Day127
#SehariSatuTulisan
#KLIP

Berlangganan update artikel terbaru via email:

10 Komentar untuk "Ramadan Di Masa Kecil"

  1. Ramadhan kita hampir sama kak, ada kembang api sama liking warna warni.

    Hebat nya emak kakak, masih sempat bikin berbagai kue buat bukaan dan tanpa art.

    Coba emak zaman now, anaknya 3 gak Pake art, langsung kena bully pertanyaan
    "ggak ada yang bantu di rumah?"

    Hehehehe, emak zaman old bebas stress Kayaknya.

    BalasHapus
  2. keren ibunya makk. Aku pengen beliin anak2 seplastik kecil lilin menjelang akhir puasa nanti ah. Manatau bisa jadi memori membekas di anak2ku nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehe, iya ya Mak... Etapi hati" tebakar bahan" sekitarnya... Anak" kita di zaman now apapa musti didampingi

      Hapus
  3. Gak boleh kembang api. Yg main kembang api dimarahin ayah, jd masa kecilku biasa2 aja. Nungguin td ustad di msjd aja kak wkwk

    BalasHapus
  4. Karena sayang makanya dilarang, ya kan Kak... Hehe.. thank you for comment

    BalasHapus
  5. Kangen saat sahur dan berbuka sama keluarga saat Ramadhan. Itu aja sih.

    Saat Ramadhan, Alfie selalu main kembang api, mercon, mobil mobilan yang bannya terbuat dari sendal bekas, meriam bambu.

    Saat berbuka puasa, emak selalu menyiapkan makanan yang enak.

    Kelihatannya Ramadhan waktu itu, jaman 90 an lebih indah dan asik dari pada Ramadhan anak anak sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, jaman 90-an udah mirip kayak jaman keemasannya masa anak-anak yaa Bg Alfi, hehe. Thanks for comment ya

      Hapus
  6. Sebagai ortu kami juga ingin memberikan moment indah saat Ramadhan agar anak-anak bisa mengenangnya. Dan akhirnya bisa membuat mereka mencibtai bulan ini, berpuasa dan beribadah karena ketakwaan

    BalasHapus
  7. Yup, itu tugas wajib ita sbg ortu. Gurunya anak" di rumah. Makasih udah mampir n komen yaa

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel