Ketika Ramadan Tiba



Berbagai rasa seakan campur aduk ketika Ramadan tiba. Bahagia sebab diizinkan-Nya bertemu lagi dengan bulan yang mulia. Haru mengingat perjuangan menahan lapar, dahaga serta amarah di sepanjang hari. Sedih karena setahun yang lalu tepat di bulan ini, saya kehilangan ayah tercinta.

Ayahanda yang kami sayangi berpulang ke rahmatullah 16 Ramadan 1439 H tahun lalu. Sakit bronchitis yang menahun dideritanya akhirnya menjadi penyebab almarhum menghembuskan napasnya yang terakhir.

Saat itu ayah sedang bertugas di luar kota. Dalam keadaan sudah tidak punya istri (ibu kami telah lebih dahulu meninggal dunia 2013 silam), sakit-sakitan, beliau mengontrak sebuah rumah bersama dengan rekannya.

Bagaikan petir di siang bolong kala suami menerima telepon dari adik saya. Yang mengabarkan kalau ayahanda telah wafat setelah salat subuh. Saya terduduk lemas, rasanya tungkai kaki tak kuat menahan bobot badan. Sederet rencana telah kami buat bersama-sama sekeluarga besar. Biasanya kami pergi ke tempat wisata. Semuanya buyar.

Kenyataannya, Jumat sore sampailah peti jenazah berisikan jasad ayah tercinta. Wajah pusat pasi, dingin sebeku es batu. Allahu akbar, seandainya tak ada Allah sebagai sandaran mungkin saya dan adik-adik tumbang. Seandainya tidak berpegang teguh pada paham qadha dan qadar, mungkin takdir ini sangat kami sesali.

Tetapi biarlah beliau pergi, sebab Allah lebih mencintainya. Sejatinya ia tak kemana-mana. Ia ada di dalam sanubari kami, lima anaknya. Kenangan tentang kebaikan dan keteladaan ayah insyaallah akan senantiasa terpatri dan menjadi inspirasj bagi kami. Ah, Ramadan selalu membawa sejuta kenangan tak terlupakan. Saat itu, ketika Ramadan tiba

#Day1
#BloggerSumut


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Ketika Ramadan Tiba"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel