Mengenangmu



Setahun sudah ayahanda kami tercinta berpulang ke rahmatullah. Tepat 16 Ramadan 1439 Hijriyah, Jumat pagi ba'da subuh, kabar mendadak itu saya terima dari adik nomor tiga.

Sekujur badan tiba-tiba lemas, lutut saya lunglai tak sanggup menyangga bobot badan. Masih terngiang suara ayah seminggu lalunya, menawarkan agar tanya jawab untuk permasalahan hukum yang saya konfirmasikan untuk artikel saya di majalah hukum kampus, via telepon saja.

Sayang, sayang sekali. Saat itu saya sedang terburu-buru akan pergi ke universitas. Ada seminar proposal mahasiswa yang mesti saya uji.

Dengan singkat saya jawab telepon terakhir itu,

"Yah, nanti awak telfon balik ya, ni udah mau sampe kampus. Atau ayah wassapkan aja penjelasan ayah, ya."

"O gitu... Lewat Whatsapp aja ya?" Iyalah nanti ayah WA kan ya, Sulung ayah... hati-hati di jalan nyetirnya."

"Iya, Yah... ayah juga sehat-sehat ya, Yah"

Tut, telepon kami terputus, H-7 hari wafatnya. Beliau masih aktif bekerja sebagai hakim di salah satu pengadilan di luar kota Medan. Kalau beliau masih hidup, tahun ini adalah BUP (Batas Usia Pensiun)-nya. 65 tahun.

Sederet rencana telah kami susun kalau ayah pulang lagi ke kota Medan. Baik untuk lebaran tahun lalu itu, maupun pasca ayah pensiun tahun ini. Bahkan kami ingin menyusun buku bersama berdua dengan ayah sebagai penulis pertamanya. Beliau pakar di bidang praktik penanganan perkara ekonomi syariah.

Yah, begitulah, manusia hanya bisa berencana Allah jualah Sang Penentu. Ayah, Allah lebih mencintai ayah. Ayah telah terbebas dari huru-hara urusan dunia yang tak ada habis-habisnya ini. Insyaallah ayah kami meninggalkan dunia ini dengan husnul khatimah.

Jumat pagi 16 Ramadan 1439, berangkatlah jiwa yang tenang. Kami ikhlas, semoga di surga kelak kami layak dipertemukan dengan ayah dan mamak. Dua sejoli yang sama-sama pergi di hari Jumat setelah subuh. Hanya berselang tahun, persis seperti prediksi ayah.

"Ayah pun nanti gak lama-lama nyusul mamak kelen. Mamak 2013, mungkin ayah lima tahunnya lagilah"

Subhanallah dan benarlah perkataan ayah. Mamak wafat Jumat pagi, seminggu sebelum Ramadan, 5 Juli 2013. Ayah 1 Juni 2018. Bulan kepergian mereka pun kebetulan berdekatan, Juni-Juli.

Sama seperti bulan kelahiran mereka yang juga dekat. Ayah 16 Mei 1953, Mamak 14 April 1955. Ustaz-Ustazah pasangan sehidup sesurga. Insyaallah penghuni jannah-Nya. Amin.


Facebook Nurhilmiyah

#Day10
#BloggerSumut
#30HariTantanganPuasaBloggerSumut

Berlangganan update artikel terbaru via email:

5 Komentar untuk "Mengenangmu"

  1. Ayah kakak hangat sekali cara bicara nya ♥♥♥

    Hiks, Meski udah 3 tahunan meninggal sampe sekarang pun masih sering mimpiin ayah kami.

    BalasHapus
  2. Ayah kakak hangat sekali cara bicara nya ♥♥♥

    Hiks, Meski udah 3 tahunan meninggal sampe sekarang pun masih sering mimpiin ayah kami.

    BalasHapus
  3. I am feeling blue

    Rindu ayahku juga

    BalasHapus
  4. Makasih Kak Chaeliza atas komennya ya. Mungkin karena ayah orang Melayu Deli memang gitu tutur manggil anak2nya. Sulung ayah, bungsu mamak, anak tengah ayah. Al faatihah jg utk ayah kk ya. aamiin.

    Kak Linrana Mom, makasih ya udah mampir kemari. Sedih kali memang ya ditinggak ayah, cinta pertama anak perempuannya

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel