Peran Penting Keluarga Dalam Menumbuhkan Budaya Literasi

Di rumah, kami memiliki pohon literasi. Yang terbuat dari karton, digambari batang dan dahan. Dahannya berjumlah enam karena keluarga kami terdiri dari enam orang. Ayah, ibu (saya), dan empat orang anak. Awalnya ini adalah tugas Tantangan 10 Hari dari kelas daring komunitas parenting yang saya ikuti. Namun terus berlanjut hingga saat ini.

Fadlimia
Pohon literasi yang masih gundul di awal bulan/dokpri
Daun-daun yang nantinya menyembul dari tiap dahan pohon literasi ini adalah judul buku yang telah selesai dibaca. Karena harus selesai satu buku, maka tak heran kalau dedaunannya tidak cepat-cepat munculnya. Kadang seminggu, dua minggu, bahkan ada yang sebulan! Tergantung tebal-tipis buku yang kami baca. Khusus anak terkecil (usia dua tahun) kami bergantian membacanya. Kadang saya yang memperdengarkan dongeng dari buku si bayi. Kadang ayahnya, dan juga kakak-kakaknya. Bayi kami sangat antusias dibacakan board-book-nya.

Gambar buku adik bayi, fotonya dari atas dan pohon literasi kami yang kian bertambah daunnya/ dokpri
Saya dan suami sepakat bahwa kebiasaan membaca buku sangat baik ditanamkan sejak anak-anak berusia dini. Bukan sekadar mengajari anak agar cepat pandai membaca tetapi juga gemar membaca. Jika hanya bisa membaca, belum tentu ia cinta pada buku. Namun jika ia sudah keranjingan membaca maka jadilah ia pecinta buku, pecinta ilmu.

Mengapa keluarga penting menanamkan suka membaca pada anak? Memangnya kenapa kalau tidak gemar membaca? Adakah yang salah?

Keluarga adalah satuan sosial terkecil dalam tatanan masyarakat. Keluarga memiliki peran sentral dalam pendidikan anak. Semuanya berawal dari keluarga. Di dalam keluarga ada ibu, sang pendidik pertama dan utama bagi putra-putrinya. Ibu bekerjasama dengan ayah dalam mengusahakan pendidikan awal yang terbaik bagi sang buah hati. 

Keluarga yang berpegang teguh pada nilai-nilai religiusnya tentu tak asing dengan perintah untuk membaca. Iqra' demikian bunyi wahyu pertama kitab suci Alquran Surat Al 'Alaq ayat 1. "Bacalah, dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan".

Kita layak khawatir saat membaca slide berikut ini:

 
Minat baca orang Indonesia/RP2U Unsyiah
Bagaimana mungkin tanah air beta yang kita banggakan ini, peringkat sistem pendidikannya terendah di dunia. Bahkan berdasarkan statistik UNESCO pada tahun 2012, hanya satu di antara seribu orang yang mempunyai minat baca. Pada tahun 2009 dan di-update pada tahun 2015, di-publish hasil penelitian Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). Indonesia menempati peringkat paling rendah di antara 52 negara di Asia Timur.

Infografik minat baca dunia/ Tirto






Kita mestinya prihatin sebab dari 61 negara yang disurvei minat baca rakyatnya, Indonesia menempati urutan ke-60! Artinya kita juara dua dari belakang. Di atas Bostwana, negara di  Afrika bagian selatan. Demikian peringkat literasi bertajuk World's Most Literate Nations yang diumumkan pada Maret 2016, produk dari Central Connecticut State University (CCSU).

Lalu di mana letak kesalahannya? Apakah pemerintah kurang greget menggulirkan program-program penguatan literasinya? Atau memang bangsa Indonesianya yang identik dengan bangsa tertinggal, sulit menjadi bangsa yang maju? Tentu ini merupakan pertanyaan retorik bagi setiap orang Indonesia, tidak terkecuali siapapun. 

Semuanya berawal dari keluarga/ Pixabay

Bukankah gedung-gedung perpustakaan semakin megah dibangun pemerintah? Dilengkapi fasilitas multimedia yang lengkap dan canggih. Tahukah bahwa Perpustakaan Nasional RI memiliki 27 lantai dan merupakan gedung perpustakaan yang tertinggi di dunia. 

Demikian pula di daerah-daerah, perpustakaan kian berhias sebaik mungkin demi memberikan rasa nyaman pada masyarakat yang berkunjung. Lantas apa alasan kita merasa berat berkunjung ke perpustakaan?

Rasanya mencari-cari apa dan siapa yang salah menjadi tidak populis lagi. Hal yang penting kita lakukan adalah kembali membenahi pendidikan di dalam keluarga. Apa saja peran yang bisa digiatkan keluarga dalam mengembangkan literasi:

Pertama, mulai dari diri orang tuanya terlebih dahulu
Zaman now tidak heran lagi jika pengaruh gawai amat sangat sulit diatasi. Namun sulit bukan berarti tidak bisa, bukan? Lakukan pengaturan bergawai pada diri sendiri sebagai orang tua, dan juga pada anak. 

Jangan sampai ayah dan ibu omdo alias omong doang atau nato (no action talk only). Mendisiplinkan anak harus berawal dari mendisiplinkan waktu menggunakan gadget bagi orang tua. 

Misalnya, ayah dan ibu sebisa mungkin tidak memperlihatkan asyik-masyuk dengan smartphone-nya di depan anak. Kecuali ada berita yang benar-benar darurat yang harus diterima (telepon kemalangan, kerabat sakit keras, dan yang senada dengan itu). 

Waktu-waktu setelah anak tidur di malam hari bisa menjadi pilihan bagi orang tua untuk bisa berselancar di dunia maya atau bersosialisasi di media sosial. Anak masih dalam masa imitatif, sang peniru ulung. Otomatis jika orang tua lupa diri dengan HP-nya. Jangan menyalahkan anak bila merekapun demikian.

Kedua, memulai kebiasaan membaca di rumah
Setelah waktu browsing agak dikurangi, maka sebaiknya mengalokasikannya dengan membaca buku. Bagaimanapun orang tua adalah teladan yang paling dekat bagi anak. Melihat ayah-bundanya membaca buku, mau tidak mau anak pun akan terkondisi mengambil buku bacaannya, membuka-bukanya, lalu terbuai dalam nikmatnya membaca buku.

Ketiga, membacakan buku pada bayi dan balita
Untuk anak berusia dini, membaca tetap bisa dilakukan. Caranya orang tua bersama-sama membacakan buku anak dengan suara nyaring. Banyak manfaat memperdengarkan bacaan pada anak yang masih bayi, batita dan balita. 

Menurut Sarah McGeown, dosen psikologi Universitas Edinburg sebagaimana yang dirilis laman Hai Bunda, aktivitas membacakan buku pada anak merupakan aktivitas bonding yang menyenangkan.

Manfaatnya antara lain:
1. memperkaya kosa kata anak
2.mengembangkan dan memelihara keterampilan berbahasa pada anak
3. mendorong anak berpikir kreatif

Selain itu dapat meningkatkan daya imajinasi anak, mempertajam memori, melatih ketrampilan mendengar dan membantu anak berkomunikasi lebih baik.  

Hal ini sangat bersesuaian dengan Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernasbaku) yang dicanangkan Kemdikbud sebagai wujud nyata Gerakan Literasi Keluarga (GLK). Di samping Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dan Gerakan Literasi Masyarakat (GLM). Semuanya menjadi bagian dalam Gerakan Literasi Nasional (GLN). 


Gernasbaku / Sahabat Keluarga Kemdikbud

Keempat, mengajarkan anak untuk berpikir kritis
Critical thinking atau berpikir kritis penting dalam berliterasi. Di era kemajuan informasi seperti saat ini menjadi suatu kewajiban membentengi anak dari bacaan yang tidak layak dibaca oleh anak seumurannya. Orang tua tidak mungkin mendampingi anak terus menerus selama 24 jam. Maka adakan family forum, isi dengan sharing-sharing berkualitas bersama anak, dengarkan semua curhatnya.

Selain itu melatih anak untuk memilah dan memilih mana berita yang sesuai fakta dan mana berita palsu (hoax). Di sinilah peran krusial orang tua dalam mendampingi anak berliterasi. Orang tua harus hadir untuk membimbing anak-anak di era industri 4,0. Meski di saat yang sama pula dunia kerja menuntut profesionalitas orang tua. Inilah tantangan yang mesti dihadapi keluarga zaman sekarang.

Permendikbud No. 30 Tahun 2017 tentang Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan, menyebutkan pada pasal 7 huruf (c) sebagai berikut: Bentuk pelibatan keluarga pada lingkungan pendidikan keluarga berupa, menumbuhkan nilai-nilai karakter anak di lingkungan keluarga, memotivasi semangat belajar anak, mendorong budaya literasi dan memfasilitasi kebutuhan belajar anak. Hal ini merupakan suatu bentuk komitmen dan kepedulian agar keluarga benar-benar terlibat memajukan pendidikan anak, termasuk meningkatkan kemampuan literasi anak.


Hasil akhir pohon literasi kami di akhir bulan/ dokpri

Membudayakan literasi adalah tugas kita bersama. Tugas peradaban yang berdampak jangka panjang. Dimulai dari keluarga-keluarga Indonesia, berpengaruh pada masyarakat luas, akhirnya gerakan membudayakan literasi ini bak bola salju, menggelinding semakin besar dan besar, sehingga diharapkan pada saat era generasi emas tahun 2045, Indonesia dapat memetik hasilnya. Generasi bangsa yang mampu bersaing dan bersanding dengan bangsa lain untuk menciptakan kesejahteraan.

Menjadi negara yang melek literasi, tidak hanya baik budaya membaca dan menulisnya, namun juga meningkat signifikan peringkat berliterasinya, dibandingkan negara-negara lain. Menjadi masyarakat yang literat, berperadaban tinggi dan turut serta memajukan dunia.

Unik bukan, hal sebesar itu pangkal mulanya dari unit terkecil dalam masyarakat, yaitu keluarga. Betapa kita semua harus kembali memperkuat ketangguhan keluarga. Demi memberikan peran serta dan kontribusi bagi peningkatan budaya literasi di negeri tercinta, Indonesia.

#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga



Berlangganan update artikel terbaru via email:

46 Komentar untuk "Peran Penting Keluarga Dalam Menumbuhkan Budaya Literasi "

  1. Betul mengajarkan anak untuk gemar baca buku ya dari kita sendiri. Kita sendiri yang harus suka baca buku. Akupun lagi mengenalkan bayiku dengan buku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Nina.. insyaallah debay nya jadi anak pinter. Amin

      Hapus
  2. Anak-anak kami sebenarnya suka membaca. Selalu excited kalo diajak ke perpustakaan apalagi ke spot khusus bacaan anak. Nanti ketemu aneka ragam buku yang berbeda.
    Paling seneng mereka kalo ketemu pop up book.

    Memang ini juga karena sering liat emaknya baca di rumah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Icha... Sama, 4r juga demikian. Sampe petugas perpusnya hapal ama mereka. Krn langganan datang kl musim liburan, masing² punya kartu anggota lagi.

      Hapus
  3. Alhamdulillah anak-anak suka membaca, menggambar, dan mewarnai hehehehehe
    walopun bukunya asik itu itu aja, umur satu sampai lima tahun buku siroh Nabi SAW, saat ini buku tentang gunuuuungggg ajahhh....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah ya Vi.. tak payah-payah lagi Mom-nya usaha, hehe

      Hapus
  4. Hampir setiap hari, aku membacakan buku ke anakku yang masih usia 5 bulan. Bukunya selain koleksi pribadi juga pinjam di perpustakaan sekolah. Anakku paling suka, apalagi kalau bacanya seperti mendongeng/berkisah.

    Ide bagus juga mbak buat pohon literasi, jadi budaya baca terus ada di rumah. Terima kasih infonya mbak, Insyaa Allah berguna sekali :)

    BalasHapus
  5. Aku juga punya cita2 nih meracuni anakku kelak suka baca kayak aku😇😇

    BalasHapus
  6. Setuju mbak..

    Budaya literasi memang harus dimulai dari keluarga

    BalasHapus
  7. Artikelnya lengkap mbak..bagus sekali
    Memang benar jika kebiasaan membaca dimulai dari unit terkecil yakni keluarga maka akan baik ke depannya. Budaya literasi negeri ini makin maju pasti.
    Terima kasih untuk ide kreatif dan tips literasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nuwun, Mbak Dian. Sama² nggih Mbak... Makasih juga artikel traveling abroad-nya

      Hapus
  8. Xixixi.. liat pohon literasi jadi inget tugas bunsay. Semangat mbak, membudayakan literasi memang menjadi tugas bersama.

    BalasHapus
  9. Banyak banget manfaat dari hobi membaca ya, apalagi bagus banget buat anak, aku juga sering memperkenalkan buku bacaan yang menarik agar anak2 juga tertarik untuk membacanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, lebih baik mengenalkan bocah pd buku drpd gawai

      Hapus
  10. Setuju banget dengan membudayakan membaca yang merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam proses belajar dalam hidup ini dengan berbagai macam wawasan yang kita dapat dari buku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyak Mbak Maliha, keberhasilan berawal dr banyak belajar

      Hapus
  11. Wah mau nyontek ah bikin pohon literasinya, Keren banget di akhir bulan daunnya bisa jadi sebanyak itu mbak. Tiap hari berarti ya baca bukunya? Aku nih skrng susah sekali khataman satu buku :(
    Kalau buku anak2 msh aku bacakan kdng jg dongeng doaank hehe

    BalasHapus
  12. Memang wajib banget tuh menumbuhkan minat baca dan tulis sejak dini. Jangan cuma baca aja ya.

    BalasHapus
  13. Kerja sama antar ayah dan ibu juga jadi poin utama keberhasilan anak minat membaca ya .

    Aku baru baru ini menerapkan untuk anak anak gemar membaca , agak terlambat sih tapi daripada tidak sama sekali kan yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus ini, kalau gak programnya gak jalan hehe

      Hapus
  14. Menarik nih mbak pohon literasinya. Di era 4.0 yang serba gadget ini harus pinter pinter numbuhin minat baca anak ya mbak. Alih alih sering main gadget takutnya jadi malas baca buku atau malas untuk membaca hal di sekitarnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Benar Mbak, soalnya kan ada e-book juga yahh

      Hapus
  15. Ide yang unik banget Mak ada pohon literasi seperti ini. Bukan cuma memberi wawasan seputar literasi, tapi bisa diselipkan juga edukasi tentang lingkungan dan alam sekitar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, skalian memasukkan ide menyelamatkan bumi juga ya

      Hapus
  16. Ide pohon literasinya keren, bisa diterapkan di rumah nih. Saya jugaa lagi membiasakan anak baca buku, paling ngga sebelum tidur Kita baca satu buku tipis. Sadar diri banget, meskipun dulu suka baca buku, sekarang kebiasaan bergabti jadi baca smartphone Dan ini ga baik buat anak ke depannya hiks

    BalasHapus
  17. Merasa tertampar euy, blom bisa membudayakan anak2 utk cinta buku, cinta baca. Padahal ayahnya suka banget membaca dari kecil. Emaknya? Selalu sok sibuk dengan urusan rumah tangga dan membagi waktu ke anak tiga, hix..
    Makasi inpirasi pohon literasinya kak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jadi tantangan mewujudkan kebiasaan yg baik yaa Mak Dev

      Hapus
  18. Ide buat pohon literasi keren juga ya kak, ketahuan yang sudah baca atau belum, juga termotivasi untuk baca lebih banyak. Aku niru idenya ya

    BalasHapus
  19. Idenya bisa dicuri heheh dan djadikan juga dirumah untk membudayakan anak2 suka membaca... Karena dengan bnyak2 membaca maka smkin bnyak pula ilmu dan manfaat yg di dapatkan

    BalasHapus
  20. Bagus sekali jika setiap keluarga punya pohon literasi, yang menunjukkan jumlah buku yang telah dibaca. Untuk memulai hal ini, tentu saja harus dimulai dari orang tua, sehingga bisa diikuti oleh anak-anak. Mencontohkan secara langsung kegemaran membaca.

    BalasHapus
  21. aku izin nyontek pohon literasinya ya kak. Karena anak masih bayi, aku mau buat untuk ku sama suami. biar terbiasa baca sampe akhirnya bisa menularkan pada anak-anak nantinya. aamiin. jazakillah khoir kak. tulisannya informatif dan bermanfaat sekali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Silakan...
      Insyaallah kl ortunya udah biasa baca, anak²nya ngikut

      Hapus
  22. Membiasakan anak membaca itu sangat penting

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebab buku adalah jendela dunia, agar anak²nya melongok ke dunia, menambah wawasan dan pengetahuan.

      Hapus
  23. Pohon literasi, great! Makasih sis. Izin share ya 🙏

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel