Mogok Sekolah? Gak Apa-Apa (2)

Mogok sekolah pada anak tidak mungkin terjadi begitu saja. Pasti ada masalah yang mendahuluinya. Tidak kunjung mengerjakan PR sehingga takut dihukum guru, dirundung teman sekelas, tidak menyukai pelajaran hari tersebut, atau sedang kurang sehat. Orang tua sebaiknya mencari tahu dahulu penyebabnya. Sekolah merupakan rumah kedua anak, tempat ia datang setiap harinya untuk belajar dan bersosialisasi dengan guru dan teman-temannya. Biasanya ada kekhawatiran yang berlebihan yang membuat anak enggan berangkat ke sekolah. Jika orang tua tidak berusaha menyelami perasaan buah hatinya, akan sulit menemukan penyebab mogok sekolah.

Mogok-Sekolah-2
Sumber: MimukBambangIrawan
Berdasarkan penelusuran saya membaca artikel parenting di belantara dunia maya, mogok sekolah ada kaitannya dengan usia masuk SD. Terdapat kecenderungan mogok sekolah pada anak yang terlalu dini bersekolah. Sekolah tak hanya sebatas pada urusan pintar membaca, menulis dan berhitung. Bukan untuk menstimulasi segi kognitif anak semata, namun sepertinya lebih berat pada sisi psikis anak. Ada faktor kesiapan mental pada anak. Kesiapan berinteraksi dengan guru, membina hubungan dengan teman-teman baru, dan menyikap keadaan-keadaan mendadak yang tidak sesuai dengan harapannya sebagai anak yang baru masuk sekolah. Menarik diceritakan Fitra Wilis pada laman Facebook-nya, perbandingan kemampuan mengatasi persoalan pada anak sulung dan anak bungsunya. Yang pertama masuk sekolah pada usia 5 tahun 11 bulan. Sementara yang bungsu 6 tahun 11 bulan. Terdapat banyak perbedaan penyikapan terhadap problem sehari-hari yang timbul dalam kehidupan sekolah. 
Satu saat ia telat menjemput si sulung, anaknya langsung panik dan menangis karena takut. Sementara untuk kondisi yang sama, adiknya menghadapinya dengan santai, menunggu ibunya sambil bermain-main di halaman sekolahnya. Berikutnya, suatu hari si adik kelupaan mengerjakan PR padahal sudah waktunya tidur. Ia dengan tenangnya menyampaikan ke mamanya agar esok dibangunkan lebih awal supaya bisa menyelesaikan PR. Hal yang sama dihadapkan pada si kakak, sudah pasti ia khawatir besok akan dimarahi guru. Cerita lainnya, saat sang adik di-bully temannya, dengan cuek dibalas saja, berbeda dengan si kakak yang agak baper, istilah zaman sekarang, bawa perasaan, perkataan teman-teman yang merundungnya terlalu dibawa ke hati hingga membuatnya galau ke sekolah. Bunda Fitra juga turut cemas saat melepas si kakak ke sekolah, tidak sama dengan si adik yang dilepas dengan santai oleh ibunya.
Dari cerita-cerita di atas memperlihatkan kesiapan dan kematangan psikologi anak dalam menghadapi masalah-masalah terkait dengan sekolahnya. Apakah yang bisa membentuk kesiapan dan kematangan anak kalau tidak waktu yang cukup untuknya belajar di rumah bersama orang tuanya. Anak yang belum waktunya dimasukkan ke sekolah, kehilangan saat-saat belajar dengan ayah dan ibunya. Orang tua merenggut 365 hari waktu anak untuk mempersiapkan psikisnya masuk ke dunia sekolah. Jika anak mengalami masalah dalam kehidupan sekolahnya, tidak sesuai dengan harapan ayah dan ibu, jangan buru-buru menyalahkan anak. Bisa jadi itu kesalahan orang tua yang terlalu terburu-buru memasukkannya ke SD. Lalu bagaimana cara mengatasi jika anak mogok sekolah? Tentunya dengan mencari penyebabnya selengkap mungkin. Sebaiknya ayah dan ibu turun langsung menjumpai gurunya, atau bisa juga ahli psikologi yang mampu memberikan pencerahan kepada Anda terkait problem mogok sekolah yang sedang dialami oleh sang buah hati.
Ayah Edy, konsultan parenting dan penggagas Indonesian Strong from Home dalam bukunya Ayah Edy Menjawab, 100 Persoalan Sehari-hari Orang Tua Yang Tidak Ada Jawabannya Di Kamus Mana Pun, menjelaskan bahwa penyebab anak mogok sekolah ada dua faktor. Pertama, guru yang tidak ramah, kedua, karena teman-temannya suka mengganggu. Bisa jadi anak hanya takut dengan satu guru saja sehingga ia mengalami gejala psikosomatis dan tidak mau bersekolah. Atau seperti masalah tadi, ada temannya yang sering menjahili, tetapi tidak ditanggapi oleh gurunya. Kalau memang itu yang terjadi, komunikasikan dengan pihak sekolah. Jika pihak sekolah tidak mau merespon keluhan kita, tidak perlu ragu untuk memindahkan anak Anda ke sekolah lain. Keinginan untuk pindah sekolah adalah akumulasi dari rasa ketidaknyamanan anak atau ada masalah di sekolah yang diabaikan guru dan tidak segera dicari solusinya.
Selain masalah itu, anak ingin pindah sekolah bisa jadi karena terlalu banyak mata pelajaran dan ekskul. Anak yang biasa sekolah di negara maju kemudian sekolah di Indonesia, banyak yang mogok sekolah. Sebab di kebanyakan negara maju, seperti Australia, anak hanya diajarkan sedikit mata pelajaran yang berhubungan dengan basic social, basic science, dan basic art. Berbeda dengan mayoritas sekolah di Indonesia, yang menganggap semakin banyak mata pelajaran, semakin baik bagi perkembangan intelektual anak. Padahal yang terjadi sebaliknya, membuat otak anak overloaded dan kelelahan. Demikian penjelasan Ayah Edy dalam bukunya halaman 135-136.
Bunda Wening, trainer, terapis dan konselor parenting dalam buku kecilnya Marah Yang Bijak menuturkan beberapa hal yang dapat dilakukan ayah dan bunda untuk mengatasi masalah mogok sekolah pada anak. Pertama, cari tahu dari anak, kemudian dari pihak sekolah atau gurunya. Ada hal-hal yang mungkin membuat anak enggan berterus terang untuk menceritakan yang sebenarnya. Misalnya, orang tua langsung mematahkan curhatan anak dengan nasehat-nasehat normatif atau malah langsung memarahinya. Akibatnya, dalam diri anak ada ketakutan akan dimarahi atau disalahkan ketika jujur. Bunda, sebenarnya orang tua adalah konselor terbaik bagi anaknya. Orang yang berprofesi seperti Bunda Wening (konselor) tugasnya adalah menginspirasi. Artinya, jadilah orang tua yang mampu menjadi ‘baskom’ tempat ’muntahan’ bagi mereka. Jika ayah bunda sudah pada posisi tersebut, itu adalah posisi aman. Sebab, apa pun yang mereka alami, akan mereka ceritakan kepada ayah bunda, bahkan tidak akan ada yang terlewat satu kata pun. Selanjutnya, pada saatnya nanti ketika mereka berusia akil baligh, ayah bunda tidak perlu khawatir dan menduga-duga apa yang mereka lakukan di luar rumah atau sampai manakah pergaulan mereka. Aman, bukan? Jika mau bisa seperti itu, mulailah dari sekarang untuk siap menjadi konselor terbaik bagi anak-anak sendiri.
Kedua, gali info dari pihak guru atau sekolah, apa ada kejadian sebagai pemicu perilaku mogoknya itu. Kalau ada, dari manakah, apakah dipicu dari interaksi antarteman, guru, ataukah lainnya. Beberapa kasus terjadi berkisar antara ketiga hal tersebut. Ketiga, tentu saja bekerja sama dengan pihak sekolah dan guru untuk menyelesaikan persoalan ini. Artinya, ada program penanganan yang dilakukan secara bersamaan yang dilakukan di rumah dan di sekolah. Misalnya, sepakat untuk menggunakan kslimat motivatif dibanding ancaman. Contoh kalimat ancaman adalah, “Kalau kakak terus menerus tidak masuk sekolah, nanti bisa tinggal kelas, lho.” Sedangkan untuk si anak dibekali strategi coping, yaitu kemampuan menyikapi suatu peristiwa.
Memberi anak kesempatan untuk berada dalam zona tidak nyaman adalah salah satu latihan kemampuan strategi coping. Mengalami banyak hal beragam akan makin membuat anak menjadi matang dalam hal emosi sehingga anak akan lebih tangguh menyikapi suatu kejadian meskipun tidak enak. Ambillah contoh ketika anak mogok sekolah karena di-bully temannya. Sebagai wujud kerja sama, pihak sekolah melakukan pendekatan dan terapi terhadap pelaku bullying. Sedangkan pihak rumah atau dalam hal ini orang tua korban bullying, mengajak anak untuk menyikapi pelaku dengan cara yang positif.
Misalnya, ajak anak untuk berani berkata,”Aku tidak suka dengan cara kamu ini (memukul).” Bisa juga ajari anak bagaimana menangkis atau bertahan, bukan menyerang. Sampaikan juga hal-hal yang boleh dan tidak bolehdalam kontak fisik, seperti mendorong atau menjegal kaki serta memukul kepala dan area depan tubuh. Kalau perlu sampaikan bahwa seorang ksatria kalaupun harus memukul karena membela diri, dilakukan dari depan bukan dari belakang. Semua itu dilakukan sambil memberikan penguatan, khususnya kepercayaan diri dan motivasi diri saat malam menemani anak menjelang tidur.

Mogok-Sekolah-(2)
Sumber: IbudanAku
Barangkali hal itu tidak selesai dalam satu atau dua hari, but just keep doing that! Untuk memahami sesuatu, manusia pada umumnya, membutuhkn proses, begitu juga anak-anak. Kalau perlu tawarkan diri ayah atau bunda untuk mengantar dan menemani sejenak di sekolah, kemudian diserahkan pada guru tertentu yang bertugas mendampingi anak selama program ini dijalankan. Suatu program penanganan yang dirancang dan dilakukan secara konsisten dan adanya kerja sama yang baik dari pihak terkait, insyaAllah akan berhasil. Jika memang diperlukan minta bantuan konselor untuk mengawal program ini.
Satu hal yang sedang dialami anak di setiap tahap kehidupannya akan memberikan makna yang berarti pada kehidupan berikutnya. Hal yang perlu digarisbawahi di sini adalah orang tua sebaiknya tidak masuk ke dalam area pelaku atau pun orang tua pelaku secara langsung. Biarkan guru dan pihak sekolah yang melakukannya. Beberapa kasus tentang mogok sekolah jika dibiarkan berlarut-larut tanpa program penanganan bersama akan lebih sulit penyelesaiannya. Oleh karena itu jika terjadi seperti ini, lakukan penanganan sesegera mungkin secara terprogram. Penjelasan yang amat inspiratif dari Bunda Wening, dari halaman 85-89.
            Alasan anak mogok sekolah bermacam-macam, bisa karena tidak menyelesaikan PR, menghindari rundungan teman-teman sekelas, jenuh dengan suasana sekolah, dan bisa juga akibat terlalu dini dimasukkan sekolah. Dibutuhkan kesabaran orang tua dalam membersamai anak. Sedapat mungkin jangan sampai emosi atau putus asa menghadapi anak yang sedang mogok sekolah. Terlalu menginterogasi anak untuk mencari penyebabnya, justru membuat anak semakin defensif dan tujuan ibu mendapatkan informasi tidak tercapai. Sementara cenderung membiarkan atau dicuekin, anak malah keterusan tidak masuk ke sekolah. Malah dikhawatirkan ketinggalan pelajarannya.
Istilahnya orang tua mesti pandai-pandai melihat situasi dan kondisi serta “arah angin”. Jika dirasa waktunya tepat untuk mengorek info penyebab ia mogok sekolah, maka hendaknya berbicara dari hati ke hati. Jika belum mendapatkan timing yang pas, sebaiknya tunda sejenak dan bersikap sewajarnya agar anak tetap merasa nyaman dan diterima oleh orang tuanya sendiri. Siapa lagi yang menjadi tempat kembalinya setelah merasakan pahitnya kehidupan sekolah versi anak. Tentunya ibu dan ayah tercintanya, andalannya dalam mengadukan semua persoalan yang dialaminya. Jadi, jika satu saat ayah bunda mendapati  buah hati mogok sekolah, gak apa-apa, jangan panik dulu ya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

37 Komentar untuk "Mogok Sekolah? Gak Apa-Apa (2)"

  1. Waktu ngajar kelas 1 SD, aku banyak ngalamin hal begini. Hal yang kulakukan buat anak nyaman, banyakin kegiatan seru dan cari penyebab kenapa si anak mogok. Biasanya karena gak suka kegiatan makan siang. Ada sayur soalnya ha..ha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyakin kegiatan seru, noted Mas Erfano. Tks yaa

      Hapus
  2. anakku sering bgt mogok sekolah
    entah apa penyebabnya.
    mungkin ga cocok dgn metode sekolah jaman now
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    BalasHapus
    Balasan
    1. Emg ya kurikulum sekolah zaman now berraaattt, ortu wajib bantu anak, kasian soalnya

      Hapus
  3. Ponakan Una pernah gitu Mbak, tetiba gak mau sekolah,
    Setelah ditanya in baik baik baru dia Jawab kenapa,
    Entah karena tugas atau bermasalah dengan temen,
    Intinya pasti ada sesuatu yang terjadi

    BalasHapus
  4. Benar sekali, Mbak Mia. Anak mogok sekolah pasti ada sebabnya. Jadi harus tau sebabnya. Salah satunya suka diejek teman.
    Dan saya juga amati, anak bagusnya dimasukkan sekolah saat usia pas. Dan memang sekitar usia 7 tahun.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas agar siap fisik dan juga psikisnya ya

      Hapus
  5. Senada dengan pengalaman Fitra Wilis di atas, Mbak. Sulungku masuk Kindergarten (sekolah negeri) di Amerika. Persyaratan usia per 30 Sept tahun berjalan adalah 6 tahun. Kurang dari itu enggak bisa. oh ya, di sana Grade K ini masuk ke Elementary School. Jadi ES itu dari Grade K-5. Nah, balik Indonesia dia masuk SD usia 6 tahun 9 bulan. Alhamdulillah lancar jaya. Eh, giliran adiknya, TK di Indonesia, masuk SD usia 6 tahun 3 bulan, setahun pertama moody, ada mogok-mogoknya. Seperti belum siap mentalnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. How lucky you are ya Mbak Dian. Sempat icip² nyekolahin anak di sana. Pendidikan usia dini di Indonesia pelan² menuju peningkatan mudah²an yaa

      Hapus
  6. Anakku Selasa lalu baru bilang ," Bun , aku besok ( hari Rabu ) gak sekolah ya "
    Aku tanya kenapa dia jawab gak kenapa kenapa . Setelah aku tanya pelan pelan ternyata hari Rabu ada makan sehat dan dia gak suka makan sayur makanya minta gak masuk sekolah aja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi, jd momok beud yaahh makan sayur ini. PR saya juga nih anak ke-3 juga kurang suka, huhuu

      Hapus
  7. Sebenarnya pendidikan itu penting. Namun kadang sebagai ortu harus lebih peka melihat kondisi n perkembangan anak sebelum memutuskan untuk sekolah di usia sekian...jadi anak siap juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ortu jangan terpengaruh temannya ya Mas, saat daftarin anak ke sekolahan lihat anak tetangga pula

      Hapus
  8. wah jangan sampai nih anak-anak atau generasi kita sampai putus sekolah, cuman gara-gara ekonomi. yuk bantu support juga buat anak-anak yang kurang mamapu agar mereka bisa mewujudkan impiannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ini si masnya gak baca nih keknya...
      beda komen ma tulisan

      Hapus
    2. Iya yaa... Dikira ttg wakaf lg kali nih, wkwk

      Hapus
  9. Pendekatan ke anak penting banget, sodaraku ada yang mogok sekolah lalu dibiarkan sama orangtuanga akhirnya berlarut, kalau ada tanda2 malas sekolah baiknya langsung pendekatan ke anak yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. itulah tantangan yg mesti dimenangkah ortu ya Mbak. dibiarin, jadi kebablasen, ditegasin malah anaknya makin emoh

      Hapus
  10. Aku udah beberapa kali mengalami ini kak. Anak sulungku malah lebih dari sekali gara2 ada temennya yang pukul dia. Memang benar nggak sebentar sampe dia nyaman sekolah lagi. Tapi alhamdulillah tips2 kk di atas bener banget.
    Untuk usia masuk sekolah, nggak terlalu pengaruh ke anakku. Yang masuk SD usia 6,8 tahun malah lebih rempong disuruh sekolah, hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nulis ini juga biar baca-baca lagi ttg mogok sekolah, hihi. Soalnya kadang suka lupa pernah ngalamin ke si abangnya

      Hapus
  11. aku punya juga mba buku ayah edy menjawab itu...
    aku mau cari lagi, mau baca2...

    BalasHapus
    Balasan
    1. cuma ada sedikit isu mengenai hal tsb, ah bagusan kita wassapan aja daripada di sini, hihi

      Hapus
  12. zaman SD banyak yang seperti ini teman-temanku, untungnya aku gak pernah seperti itu karena menikmati masa sekolah kalau aku pribadi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beruntungnya ortu Mas Ilham ya, gak ngalamin kayak saya dan teman2 yg pernah menangani anaknya mogok sekolah. Saya juga gitu waktu kecil. Suka banget ama kegiatan sekolah, gak pernah bolos dan Alhamdulillah selalu juara kelas.

      Hapus
  13. Anak sulung saya di rumah gak sampai mogok sekolah sih. Biasanya malas mau bangun siap-siap aja, tapi kalau saya iseng nanyain: jadi gak mau ke sekolah nih? Dia bakal langsung jawab: nggakkkk..mau pergilah..

    Karena dia ingat banyak tugas di sekolah dan bisa main sama teman-temannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sulung saya juga gak pernah mogok sekolah. Si adek no 2 yg mogok satu kali

      Hapus
  14. Mbak, artikelnya menjawab keresahan saya nih. Beberapa lalu aku sedikit gelisah perkara anak mogok sekolh.bisa jadi penyebabnya karena teman. Dia suka dijahili temannya nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kl ada faedahnya ya Mbak Malica. Makasih

      Hapus
  15. Baca artikel ini jadi teringat tempo dulu cerita dari mama saya bahwa saya pernah umur 5 tahun masuk kelas 1 SD, terus kepala sekolah berpesan sebaiknya nanti saja setelah umur 7 tahun, dan akhirnya saya pun masuk kelas 1 SD di umur 7 tahun. Hehheeee

    Dan melalui artikel kakak ini saya jadi tau bahwa hal ini ternyata mempengaruhi juga kepada sang anak iya dalam hal menyikapi berbagai hal dan problem di sekolah.

    Wah artikel yang bermanfaat saya jadi dapat wawasan baru ini seputar parenting. Terima kasih kak. :)

    BalasHapus
  16. Awak pernah tau ada anak yang Mogok sekolah kaK.
    rupanya gara2 TK kelamaan.
    Maksudnya, dia di tk itu udah tahun ke 3.
    Jadinya bosan.

    mungkin karena ibunya gak ada pilihan lain selain nitip anak di tk selagi ibunya kerja..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mestinya pindah TK dunks... Cari suasana baru

      Hapus
  17. numpang promote ya min ^^
    Anda ingin mendapatkan penghasilan tambahan ?? Ayo Gabung dengan Situs RESMI POKER ONLINE TERPERCAYA di www.fanspoker.com
    Deposit dan Penarikan Dana Hanya 1 Menit (selama bank online) BANK BCA, Mandiri, BNI, BRI dan DANAMON Minimal Deposit & Withdraw 10 rb
    || WA : +855964283802 || LINE : +855964283802 ||

    BalasHapus
  18. kurikulum dibuat pemerintah. anak-anak dijadikan kelinci percobaan ya kak. awak juga tau mengenai kurikulum sekolah saat ini. membuat sekolah jadi momok yang menakutkan. gaak kayak dulu, awak klo gak sekolah sayang kali rasanya, makanya kadang sakit2 pun dipaksakan sekolah. tapi bisa juga sih dikarenakan gadget dirumah sudah melenakan anak-anak. kan kesekolah dilarang bawa gadget yakan sekarang. makanya mending dirumah mungkin pikir anak-anak sekarang. awak dulu bayaaadah, udah sma aja pun tak berhenpon baya.... hahhaha.

    BalasHapus
  19. kemarin aku gitu juga kk. Anak pertama sudah 5 tahun 8 bulan baru masuk TK, adeknya karena mbaknya sekolah minta sekolah juga padahal saat itu baru 4 tahun. Duh, sekolahnya penuh drama. Wkwwk.. syukur sekarang udah aman.

    BalasHapus
  20. Huaaaa thanks for sharing kak mia. Memang psikis anak perlu diperhatikan sedari dini ya,apalagi untuk mulai masuk usia skolah.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel