Mogok Sekolah? Gak Apa-Apa

Kasus 1:

Kenapa Abang gak mau sekolah, Nak?” tanya saya ke si nomor dua berusaha santai meski dalam hati tersebar rasa khawatir, buah hati terkasih tak mencintai aktivitas sekolahnya. 

Beberapa menit ia masih tertunduk murung, memain-mainkan ujung celana panjang seragamnya dan diam seribu bahasa. Karakter putra kedua saya memang demikian. Untuk suatu alasan tertentu agak mirip kakaknya yang cenderung pendiam. Padahal jika dibandingkan kakaknya, ia lebih “bersuara” dan suka mengomentari banyak hal setiap harinya. Hampir sama dengan adiknya yang ekspresif dan komunikatif. Luar biasa Allah menganugerahkan anak-anak yang berbeda karakter meski berasal dari ayah dan ibu yang sama, dilahirkan dari rahim yang satu pula.

Melihat saya masih menunggu jawaban darinya, ia pun akhirnya mengangkat muka dan membalas tatapan mata saya. Sambil tersenyum, saya menaikkan alis pertanda meminta penjelasan darinya. 

“Abang gak suka guru Matematika yang sekarang, Mi”, akhirnya ia menjawab, Alhamdulillah, pikir saya. “Kenapa dengan guru Matematika Abang yang sekarang, biasanya Abang kan suka pelajaran Matematika.” Jawab saya sambil mengelus rambut lurusnya. Kelas empat lalu namanya masih masuk sepuluh besar di kelas dan memiliki nilai yang sangat baik untuk nilai Matematika.

 ”Pak Guru suka marah-marah menjelaskan pelajarannya, Mi... Abang jadi takut, kalau gak ngerti, nanti disuruh berdiri di depan kelas.” Katanya lagi sambil mengerutkan dahi hingga alis tebal mirip alis angry bird-nya bertaut dengan jelas. 
 
Mogok Sekolah
Sumber: Bukareview
Singkat cerita saya menemaninya pergi sekolah, di sana saya bertemu dan berkomunikasi dengan guru yang dimaksud. Dari cerita beliau ternyata sebelum mengajar di SD, ia mengajar Matematika di SMA. Saya pikir tentunya berbeda penanganan siswa SD dengan siswa SMA. Namun tak ingin mempermasalahkan hal tersebut, saya lebih fokus pada perkembangan kemampuan putra saya dalam pelajaran Matematika. 

“Royyan baik kok, Bu, nilainya, hanya saja setelah saya berdiskusi dengan guru Matematikanya yang terdahulu, nilai yang sekarang sepertinya mengalami penurunan. Kemudian, PR-nya tidak selesai, Bu. Kemarin hal itu yang mungkin membuatnya tidak bersemangat saat pelajaran berlangsung. Saya menerapkan aturan kelas bahwa untuk anak yang tidak menyiapkan PR, disuruh berdiri di depan kelas.

” Hmm, saya jadi tahu ternyata anak saya tidak mengerjakan PR-nya. Padahal saat saya menanyakan, dia menjawab sudah mengerjakan. Namanya juga anak-anak, saat ibunya tak terlalu memperhatikan, merasa sudah aman-aman saja, ia pun ikut lalai. 

Kasus 2:

Kelas dua SD awal semester satu, saya memindahkan anak kami yang nomor tiga, Nisrin ke sekolah abangnya, dengan pertimbangan lebih dekat dari rumah. Mengapa tidak sedari awal saja satu sekolah? Setahun lalu saat mendaftar di sekolah abangnya, Nisrin terkendala usia minimum masuk sekolah. Ia terlalu muda satu bulan dari syarat minimal anak kelas satu. 

Uniknya, di sekolah swasta lain, Nisrin bisa diterima sebab sudah mengenal huruf, tanpa tes masuk lagi. Padahal akreditasi sekolahnya lebih baik dan fasilitasnya cukup memadai untuk ukuran siswa SD. Satu-satunya pertimbangan kami memindahkannya hanyalah jarak yang sedikit lebih jauh dari sekolah abangnya.
 
Mogok Sekolah
Sumber: Sekolahdasarnet
Hari pertama berjalan dengan mulus tanpa ada halangan. Setelah diminta memperkenalkan diri di depan kelas, Nisrin mendapatkan bangku persis di depan guru, bersama seorang temannya yang belakangan saya ketahui bernama Syifa. Saya optimis Nisrin mampu beradaptasi dengan baik sebab ia adalah tipe anak yang supel dan periang. Hingga esoknya saya heran melihat cemberut hadir di wajah putih bersihnya. Adek, sapaan sayang kami sekeluarga padanya. 


“Adek kenapa? Kok cemberut, Nak?” Biasanya si nomor tiga ini sangat menyukai aktivitas sekolahnya. Bahkan pada saat libur kenaikan kelas pun ia tak sabar menunggu, ingin segera masuk kembali. Bertemu teman-temannya, berada di kompleks sekolahnya, dan bertegur sapa dengan guru-gurunya.

“Adek gak mau pergi ke sekolah baru, teman-temannya gak enak. Adek gak suka sama Syifa, Mi... dia bilang ke teman-teman lainnya supaya gak kawan sama Adek.”.

 “Lho, Syifa yang teman sebangku Adek itu, kan? Masa’ teman sebangku kaya’ gitu?, saya bertanya retoris. Dalam hati, padahal saat mengantarkannya di hari pertama kemarin, saya ikut mengenalkan Nisrin dengan Syifa itu. 
Saya bertanya langsung padanya tentang kebiasaan-kebiasaan kegiatan di kelas, bahkan Syifa memperlihatkan pada saya roster pelajaran untuk difoto. Di rumah, daftar mata pelajaran itu saya ketik, print dan tempelkan di dinding yang mudah terlihat putri saya. Sepintas, anak ini cukup baik hati untuk ukuran anak yang baru dikenal.
“Umi gak tau... Syifa itu pura-pura baik aja karena di depan Umi...” balas gadis cilik saya lagi masih dengan mimik wajah mrengut.
 “Hmm, oke kalau gitu, nanti Umi hubungi Bu Febri, ya, Dek” hibur saya sambil mengelus-elus kepalanya yang tertutup jilbab seragam berwarna putih. Dia tersenyum tipis. Anak ketiga kami ini mudah sekali dibujuk, tidak pendendam dan cukup kooperatif. Alhamdulillah, seru saya dalam hati.
 “Sekarang Adek gimana perasaannya? Udah bisa ke sekolah lagi apa belum?” Saya pikir dengan memberikannya waktu barang sehari untuk menenangkan diri, lebih baik daripada memaksakan untuk tetap pergi ke sekolah dengan beban pikiran yang masih ada di pikirannya. Di samping itu saya juga merasa bersalah lantaran memindahkan sekolahnya dengan alasan keamanan. 
Ditambah lagi rasa berdosa tahun lalu sebab terlalu dini memasukkan ia ke sekolah. Andaikan saya menjadi dia, cukup berat berpisah dengan teman-teman kelas satunya lalu disuruh membina hubungan pertemanan di kelas dan sekolah yang sama sekali baru baginya. Tak disangka, refleks putri cantik saya tersenyum cerah sekali. Mendengarkan ada garansi dari saya akan berkoordinasi dengan gurunya terkait dengan sikap temannya itu.
Saya merenung, andaikan saya terlalu sibuk mengurusi pekerjaan saya sebagai dosen, bagaimana dengan porsi perhatian ke anak-anak saya. Siapa yang akan mendampingi mereka di saat mereka membutuhkan kehadiran saya. Pergolakan batin demikian sepertinya tak jemu-jemunya hadir dalam relung hati saya. 
Apakah semua ibu bekerja mengalami hal ini? Saya pikir ya. Di satu sisi ingin mengoptimalkan seluruh kemampuan yang ada untuk memenuhi profesionalitas sebagai seorang akademisi. Namun di sisi yang lain keinginan untuk memberikan pengasuhan terbaik secara totalitas, begitu menguat. Riilnya, saya tidak bisa sempurna di dua sisi tersebut. Ritme kerja kampus yang sejauh ini menurut saya kurang bersahabat dengan ibu beranak empat seperti saya. Mudah-mudahkan ini hanyalah subjektivitas pribadi saya.
Bayangkan, mengajar di delapan kelas selama seminggu (hari saja cuma ada tujuh, hehe), ditambah lagi kewajiban menjalankan Tri Darma perguruan tinggi selain pendidikan dan pengajaran, yaitu penelitian dan pengabdian masyarakat. Dua yang saya sebut terakhir, riset dan abdimas, mau tidak mau mengambil jam di luar office hour. Terpaksa menyusun proposal penelitian pada malam hari setelah anak-anak tertidur lelap. abdimas yang lokasinya sering jauh dari kampus, bahkan ada yang ke perkampungan. Belum lagi mesti mengikuti konferensi yang terkadang mengharuskan meninggalkan anak-anak sebab diselenggarakan di luar kota. 
 Mengantarkan saya pada kesimpulan bahwa tampaknya yang dapat mengikuti jam kerja universitas secara paripurna yaitu 6 (enam) kondisi perempuan. 1) belum menikah. 2). janda, 3). sudah menikah namun belum dikaruniai keturunan 4). anak-anaknya sudah besar-besar (minimal SMP/SMA). 5). Suaminya sedang tidak bekerja 6). suami berprofesi sebagai dosen juga, jadi amat sangat pengertian dengan jam kerja kampus.
Esok dan esoknya lagi sampai hari ini, tidak saya dapati lagi wajah muram gadis kecil tujuh tahun itu. Saya bersyukur anak-anak saya masih tidak terlalu parah mogok sekolahnya. Meski satu ayah dan ibu, anak-anak saya berbeda sifatnya, berbeda pula kasus yang dihadapinya di sekolah, maka mencari jalan keluarnya pun tidak bisa diseragamkan. Perlu melihatnya case by case.

(bersambung)

Berlangganan update artikel terbaru via email:

10 Komentar untuk "Mogok Sekolah? Gak Apa-Apa"

  1. Kadang anak-anak ini kalau sudah unhappy di sekolah, pengen mogok sebentar pergi sekolah. Perlu motivasi tinggi dr kita ortunya ya kan...sejauh anak bisa mengurai inti masalahnya sendiri insya Allah aman ya kan bu...biasanya mereka ll sudah dikuatkan dimotivasi lagi mereka akan senang lagi ke sekolah. Semoga sehat selalu, diberi kemudahan dalam tugas2 ya bin Mia

    BalasHapus
  2. Memang awalnya pasti bingung ya kak, kalo anak minta gak sekolah. Tapi kalo dihadapi dengan kepala dingin rasanya lebih mudah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul³... Cb kl emaknya sdg banyak kerjaan, trus ngadepinnya stress, wadoww kasian anaknya ya khannn... Kasian³

      Hapus
  3. Closingnya setuju kk soal 6 kondisi perempuan itu, Aku berniat ketika anak-anak sudah besar nanti bisa kembali kuliah dan mengajar kembali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kl pengalaman kk anak² sudah besar, eh lahirnya adeknya lg, hihi.. jd mulai dari 0 ya. Wkwk

      Hapus
  4. Sebagai mamak beranak tiga yang juga bekerja di luar rumah, aku juga ngerasain hal yang sama kok kak. Bahkan mau nggak mau harus berani menolak jabatan yang ditawarkan. Bisa2 saat anak butuh tempat curhat, mamaknya masih sibuk terus di kantor. Semoga kita tetap dikuatkan kak Mia...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jabatan di kerjaan insyaallah akan selalu ada. Tp momen membersamai anak gak akan terulang lagi.

      Hapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel