Pejuang Rumah Tangga



Nurhilmiyah-pejuang-rumah-tangga
Yesi Elsandra

Betapa repotnya…

Rasanya saya ingin menanyakan kepada setiap ibu di muka bumi ini. Adakah yang lebih lelah dari saya? Saat pagi harus bangun sebelum subuh, menyiapkan segala sesuatu keperluan suami dan anak-anak. Memasak sarapan, memastikan bekal makanan anak-anak sudah di tempatnya masing-masing. Pakaian kerja suami, seragam sekolah anak-anak dan baju kerja saya sendiri sudah harus rapi. Jika tak ingin menyandang predikat istri pemalas dan ibu tak becus. Seperti selentingan komentar miring tetangga yang tidak memahami seluk-beluk isi rumah tetangganya.
            Saya ibu empat anak dengan profesi sebagai dosen di kota besar ini. Saya mengurusi semuanya tanpa ada Asisten Rumah Tangga (ART). Kondisi saat ini sudah lebih saya syukuri dibandingkan tahun lalu. Saat suami masih bekerja di luar kota. Jadilah saya menjadi single fighter sendirian. Mengurusi tiga bocah dan seorang bayi. Suami hanya bisa pulang Sabtu dan Minggu. Belum lekang dari ingatan saya saat listrik mati tidak ada satu penerangan pun di rumah kami. Jangankan lampu darurat atau lilin, aplikasi senter di smartphone pun kebetulan tidak bisa berfungsi sebab baterai ponsel kehabisan daya.
            Jadilah saya berusaha menenangkan anak-anak dengan memeluk mereka di atas kasur. Si bungsu tak dapat menyembunyikan rasa takutnya, dan huaaaa… huhuu…. Ia menangis meraung-raung takut gelap. Bujukan abang dan kakaknya tak mampu mendiamkan si bayi ganteng itu. Akhirnya dalam gulita saya menyusui dan ia pun tertidur sampai listrik hidup kembali.,
           Pemadaman listrik yang serentak belum apa-apa ketimbang sekring listrik rumah kami yang sudah aus dan wajib diganti. Bila pada mati listrik bersama-sama tetangga masih bisa ditunggu waktu hidupnya, pada kerusakan listrik kitanya yang mesti berusaha keluar rumah, pergi ke toko alat-alat listrik dan menyalakannya sendirian. Sesuatu yang tadinya di luar jangkauan nalar saya. Dengan si kecil merengek tidak nyaman, kami pergi bersama-sama mencari toko peralatan listrik yang masih buka. Nahasnya kejadian ini pada malam hari jelang pukul Sembilan. Andai boleh meminta, mengapa tidak tadi siang saja atau sore listriknya korslet. Menelepon suami percuma saja karena ia hanya bisa memandu dari jauh dan menunjukkan cara memasang sekring jika sudah sampai di rumah kembali.
            Pernah juga suatu ketika saat bangun di pagi hari mendadak pasokan air bersih dari PDAM terhenti. Saya pikir, ah mungkin ini hanya penghentian sementara, beberapa saat lagi pasti mengalir kembali. Sampai menjelang petang, aliran air yang ditunggu-tunggu tak kunjung muncul. Usut punya usut ternyata pipa penyalur yang berada di atas selokan depan rumah patah jadi dua. Kemungkinan anak-anak yang bermain di sekitar sana tak sengaja menginjaknya dan muncratlah air selama 24 jam ke dalam selokan.
            Andai saja saya anak kecil pasti sudah terisak-isak melampiaskan emosi yang memenuhi dada. Bagaimana mungkin hal ini bisa saya alami, mengalami krisis air hampir seharian. Mandi dan cebok dengan sisa stok air galon untuk minum kami, sementara rupanya pipa air penyalur ke kran tidak bisa berfungsi. Belum lagi bayangan tagihan air bulan depan yang bakal meledak, padahal airnya mengalir ke parit, bukan untuk kami manfaatkan. Untunglah memiliki tetangga yang baik hati. Dengan tulusnya ia menyambungkan selang panjang yang terhubung ke kran di halaman depannya, ke rumah kami.
            Di waktu yang lain saat ibu bekerja lainnya tinggal berangkat saja ke kantor, saya berjuang dahulu baru bisa mencapai kampus tempat saya beraktivitas. Saya menggendong anak untuk dititipkan di daycare rumahan milik tetangga beda RW. Tak ada yang boleh ketinggalan satu item-pun jika ingin bayi saya nyaman selama ditinggal dengan pengasuhnya. Mulai dari diaper, sarapan, makan siang, snack, beberapa stel baju ganti, minyak telon, bedak, mainan, dan boardbook kesayangannya, semua dimasukkan ke dalam sebuah tas besar yang saya bawa bersisian bersama tas laptop dan tas tangan saya.
            Mengapa tidak mengendarai mobil saja? Padahal satu unit MPV terparkir manis di garasi. Si Silky Silver Metallic siap saya ajak ke mana saja. Sayang, rumah tempat penitipan itu berada lumayan jauh di dalam gang sempit. Sehingga demi kepraktisan, it jadilah saya menaiki sepeda motor matic dengan anak dalam gendongan dan barang-barang bawaan di bagian kaki. Fyuhh, jangan ditanya ribetnya persiapan untuk mencapai ke titik keluar dari rumah. Jika ada salah satu benda yang ketinggalan, sudah bisa dipastikan saya mesti balik lagi mengambilnya ke rumah. Ibu penjaga bayi hanya murni menunggui anak saya tanpa dibebani dengan fasilitas lainnya. Ibaratnya putra saya cuma menumpang berteduh saja di rumahnya. Semuanya saya yang sediakan.
            Ingin mencari penitipan bayi yang lain, kok rasanya belum ada yang sesuai. Cocok dengan kantong kami, maksudnya. Saat ini level kesanggupan kami membayar nanny baru sekitar lima puluh ribu rupiah sehari. Jika daycare lain yang dikelola secara professional menetapkan tarif di atasnya maka kemungkinan besar kami belum sanggup. Makanya dengan kondisi serba terbatas seperti ini, hari-hari pergi bekerja sambil mengantar-jemput anak ke daycare-nya tetap saya jalani meskipun rasanya luar biasa, amat sangat kewalahan.
            Seringkali saat sudah tiba di kampus saya merasa kecapekan. Di waktu dosen-dosen lain tampak segar bugar memulai perkuliahannya. Saya menahan kantuk dan lelah sebab energi sudah banyak habis sebelum sampai di tempat mengajar. Demikianlah waktu terus berputar dan saya masih menjalani hari-hari penuh perjuangannya ini. Ingin rasanya “keluar” dari semua ini, meski tetap menempatkan suami dan  buah hati di dalam tempat istimewa. Saking lelah hati dan fisik yang mendera setiap harinya.
            Membayangkan rekan-rekan sejawat yang lain bisa mengikuti international conference di negeri jiran, tebersit rasa iri. Enak ya mereka bisa bepergian mempresentasikan karya ilmiah, meluaskan cakrawala, menambah kolega dari mancanegara. Sementara saya, untuk bisa memenuhi tugas wajib mengajar tidak telat sampai kelas saja, sudah bersyukur. Semuanya saya kembalikan pada Sang Pemilik Skenario, Allah SWT. Tentu DIA ada maksud mengapa saya diuji dengan perjuangan menaklukkan rasa lelah luar biasa ini setiap harinya.

Tak Ingin Menyerah Kalah

            Menjalani profesi sebagai seorang ibu di dalam rumah dan dosen di kampus, membutuhkan superskill. Kecerdasan emosi, ketangkasan berpikir, taktis, strategis (wah, seperti mau perang saja) dan kreatif. Bagaimana tidak, mengelola empat orang anak yang masih kecil-kecil, tanpa ART, dan suami yang menghabiskan waktunya seharian di kantor, membuat saya mau tidak mau harus jadi pejuang.

Nurhilmiyah-pejuang-rumah-tangga
Islamedia

            Belum lagi pekerjaan kampus yang dibawa pulang ke rumah. Kenapa mesti dibawa pulang? Sebab di kampus saya hanya berkesempatan menjejakkan kaki sekejap saja. Memenuhi jadwal mengajar, dan kembali pulang. Untuk itu suka tidak suka penyusunan proposal, baik penelitian maupun pengabdian masyarakat mutlak dikerjakan dari rumah. Dan mengorbankan jam tidur! Semoga Allah SWT senantiasa mengaruniakan kesehatan untuk saya. Mengurangi jam beristirahat sama saja mengambil risiko rentan sakit. Saya tidak tega di saat jam menyuapi anak makan, saya malah membuka laptop dan mengetik. Sesuatu yang tidak pada tempatnya, tidak sadar ruang dan peran sebagai ibu.
            Jika mengharapkan bergantian mengasuh anak dengan suami, belum-belum meminta tolong, suami sudah tepar duluan. Sepertinya malah lebih lelah daripada saya. Yang bisa saya lakukan adalah tetap mengumpulkan semangat sebesar-besarnya untuk selalu bermuka manis di hadapan anak-anak saya. Senyum itu penuh energi. Meski capek, berusaha untuk selalu menyunggingkan senyum pada keluarga seolah menyuntikkan tenaga baru bagi diri saya.,
            Saya ambil nasi lembek dan sup bikinan saya, dengan menghibur diri memakai kata-kata positif, SAYA BAIK-BAIK SAJA, SAYA BISA, SAYA IBU YANG CINTA KELUARGA, saya mulai menyuapi si putra cilik. Menatap mulut mungilnya yang bertambah lucu saat mengunyah-ngunyah makanan, saya tertawa. Ya Allah, berdosanya saya jika mengabaikan anak menggemaskan ini. Begitu juga dengan ketiga anak saya yang agak besar. Memandangi mereka beraktivitas dengan tenang sebab ada saya yang memenuhi semua kebutuhan mereka, saya pun merasakan ketentraman.
            Mendekatkan diri pada Allah SWT juga menjadi penguat saya dalam menjadi ibu pejuang rumah tangga. Kalau bukan karena pertolongan-Nya mungkin pencapaian saya tidak sampai seperti ini. Melahirkan keempat anak dengan normal, menjadi dosen negara (ASN), memiliki suami yang insyaallah sampai saat ini masih setia pada saya dan anak-anaknya, mudah-mudahan seterusnya hingga maut memisahkan kami. Sering saya rasakan, kala saya ‘jauh” dari Allah, hati saya seakan kering, nurani menjadi kerontang bagaikan di gurun sahara. Hanya sikap berserah diri pada-Nya dalam sujud-sujud panjang saya di atas sajadah merah kesayangan, itulah yang menjadi salah satu yang menguatkan saya mengalahkan semua keterbatasan dalam hidup.
            Saya juga mencoba mengafirmasi diri bahwa saya adalah perempuan yang beruntung. Dipercaya untuk mengandung dan melahirkan anak-anak dan istri dari seorang lelaki yang saleh. Hampir setiap hari saya curhat mengenai perjuangan yang saya alami ini. Meski kadang dibumbui dengan selisih paham, sebab suami yang mengedepankan rasionalitas tidak menganggap berbagai kendala yang saya dapat sebagai perjuangan. Menurutnya, itu merupakan hal yang wajar dan jamak dihadapi keluarga muda di zaman now. Sulitnya mencari ART yang amanah, beban kerja di perguruan tinggi yang semakin berlipat ganda. Terkadang membuat saya ngos-ngosan menjalani peran mulia ini. Namun insyaallah tak akan memaksa saya untuk menyerah kalah pada keadaan.

Tarik Napas, Terima dan Ikhlaslah

            Hari-hari penuh perjuangan yang saya jalani tak mungkin menjadi kenangan indah di suatu hari nanti bila saya tidak mengukirnya dengan hati yang gembira pula. Biarlah orang lain berkomentar apa saja. Menyederhanakan masalah saya, mengecilkan arti perjuangan saya, tidak mungkin saya menutup mulut orang atau mengontrol mesti hal baik saja yang saya dengar darinya. Tidak mungkin. Lebih baik saya fokus saja pada anak-anak, pada suami tercinta, pada kegiatan kampus. Itu saja sudah membuat saya supersibuk. Saya tidak mempunyai waktu mengakomodasi gosip-gosip yang tidak jelas. 

Nurhilmiyah-pejuang-rumah-tangga
Ma'mun Affany

            Saya menarik napas dalam-dalam jika merasakan kembali lelah yang luar biasa. Pejamkan mata untuk mengingati semua nikmat yang telah Allah karuniakan untuk saya. Malu rasanya jika masih mengeluhkan hal-hal yang remeh-temeh. Masih banyak lagi orang-orang yang nasibnya lebih sengsara dibandingkan problem saya yang "cuma" sekitar gonta-ganti pembantu, kelelahan, pekerjaan rumah dan kampus yang seabrek serta jadwal mengajar yang padat.    
            Justru saya berterima kasih atas semua tantangan dalam melakoni perjuangan ini. Allah SWT ingin melihat sekuat mana saya menjadi pejuang rumah tangga. Saya menerima segalanya dengan lapang dada, saya mengikhlaskan semua kelelahan ini. Satu saat saya ingin mengenang perjuangan di titik ini menjadi ingatan yang manis. Bukan keluh-kesah yang berujung pada kufur nikmat. SAYA BAHAGIA, SAYA BERSYUKUR, SAYA BERUNTUNG. Kembali saya memotivasi diri sendiri. Saya seorang ibu, jika saya berbahagia menjalani perjuangan ini, insyaallah putra-putri saya pun akan berbahagia pula.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

54 Komentar untuk "Pejuang Rumah Tangga "

  1. Keren kak..
    di sela-sela waktu yang sibuk kakak tetap punya waktu berprestasi.

    BalasHapus
  2. Barakallah kk mia, Salut deh deh ibu pekerja ranah publik yang masih bisa menghandel semua. btw tampilan blognya baru ya ^^

    BalasHapus
  3. Yuhu bunda, this post is so relate. Soalnya saya juga ngurus 3 anak sendiri without ART. It's oke kok bun kalau kita memang merasa lelah. Terima perasaan itu. Menerima keadaan yang lelah biasanya membuat saya merasa lebih baik. Baru setelahnya afirmasi positif masuk. Stay strong ya bunda

    BalasHapus
  4. Aku bacanya sedih kak mia gak tau kenapa wkwk
    Tapi aku tetap salut,
    Tanpa art, mengajar dan sering ikut tantangan blog dan tercapai pulak satu hari satu post,

    Semoga lelah kak Mia berganjar surgaa, aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, nulis ini sebagai pengingat diri, Una... Makasih doa baiknya yaa

      Hapus
  5. I feel you bund.
    Menjadi ibu multitasking memang tak mudah. Namun, semua akan terbayar dengan kebahagiaan dunia akhirat. Salut banget.

    BalasHapus
  6. Seorang ibu meskipun dia juga bekerja, nalurinya pasti seperti mengharuskan semua pekerjaan domestik harus selesai dikerjakan sebelum beralih ke pekerjaan kantornya. Salut untuk seluruh ibu,, yang mampu membagi waktu dan mengerjakan semua kewajibannya dengan tanpa keluhan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sebagai manusia biasa terkadang saya kelepasan mengeluh juga, Mbak. Tp insyaallah segera ingat lg

      Hapus
  7. Wahh saya banget tu mba mia..
    Walo selain sbg ftm saya juga kadang kerja serabutan.

    Tapi saat ini bnr2 ftm saya.
    Kalo capek saya biarin aja semua berantakan.
    Main sama anak lebih penting 😇

    Alhamdulillah hingga saat ini pak su dalam keadaan 'harap maklum'
    Krn klo saya capek dan stress beliaw juga yang rugi 🤣🤣🤣

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dijalani, dinikmati, disyukuri yaa Mak Vi

      Hapus
  8. Bacanya aja capek mba hehe.. tapiii aku selalu kagum sm buibu yang bekerja dan punya anak. Tak terbayangkan. Aku yg cuma kerja saja, ngurus diri sendiri sudab kecapekan. Makan malam beli aja, ga ush cuci piring hahaha pengennya leha2 aja. Klo disuruh mikirin orang lain (suami/anak) kayaknya gak sanggup. Mgkn itu sebabnya blm ketemu jodohnya ya hahaha semangat bukk insya Allah ganjarannya berlipat2 krn mengurus keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga ketemu jodoh yg sesuai ya Mbak. Adikku yg bungsu, cewek, jg blm ketemu jdhnya nih

      Hapus
  9. Masya Allah bundaa,,,, peluuuk..... Saya yang enggak bekerja di luar rumah aja kadangkala merasakan lelah, jenuh,, Perjuangan saya pun tidak apa-apanya dibandingkan perjuangan bunda... Tetap semangat yaa bund... Ingat, ladang pahala yang amat banyak ada di depan kitaaa....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Peluk juga Bundaaa....
      Iyup, ladang pahalanya gak jauh² ya

      Hapus
  10. Wow bukan main ibu yang satu ini, dengan jadwal yang sedemikian pada masih menyempatkan diri untuk mengekspresikan diri dengan menulis. Semoga sehat dan bahagia selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Menulis caraku menjaga kewarasan, Mbak hehe

      Hapus
  11. Semangat Mbak Mia...Hebat mutitasking-nya! Salu!
    Semoga segera ada solusinya ya
    Mungkinkah ada ART paruh waktuyang bisa membantu.?
    Karena mesti ingat juga kalau kita overload sekarang, dampaknya di belakang. Kesehatan tetap nomor satu baik jiwa dan raga. Kalau bisa beban pekerjaan domestik ada yang dilimpahkan sehingga Mbak bisa fokus ke hal yang lebih penting, ke materi ajar, dll (bukan domestik enggak penting ya..) Karena sayang, jika punya ilmu enggak dibagi secara optimal ke sesama

    BalasHapus
    Balasan
    1. Noted, Mbak Dian. Jangan sampe overload ya, trus teteup hunting ART part time kok ini,,
      Yupppz bener bangett kusukaaaa.... Materi ajarku udah ada konsepnya cm blm eksekusi krn gak fokus wkwk. Nuwun nggih Mbak Dian. Kl komen selalu bermutu

      Hapus
  12. Setiap Ibu itu keren, Mbak Mia. Dan saya setuju, bila seorang Ibu dikatakan pejuang rumah tangga. Maka tidak salah kalau ada kalimat bijak, Ibu adalah pondasi utama keluarga.

    Jadi teringat pejuangan ibu saya juga. Punya anak 5, sekolah semua. Kakak saya 2 SMA, saya SMP, dua adik saya SD. Ibu saya juga kalau pagi sempat jualan bensin eceran, sambil masak, nyuci dan lainnya.

    Salam hormat bagi para mom semua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Salam takzhim sm ibunya ya, Mas. Ibu zaman old memang luar biasa. Penuh penghayatan terhdp perannya

      Hapus
  13. "Senyum itu penuh energi. Meski capek, berusaha untuk selalu menyunggingkan senyum pada keluarga seolah menyuntikkan tenaga baru bagi diri saya"

    MasyaAllah Mbak, saya salut dg ketaktisan dan siap tanggap Mbaknya dg aktivitas sehari2 baik di rumah maupun di kampus, untuk keluarga maupun pekerjaa,

    Semoga kian diberikan kesehatan selalu ya mbak, untuk terus melakoni tugas double, keep strong, Mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.
      Makasih Mbak
      Semoga sehat selalu jg yaa

      Hapus
  14. Tapi kadang aku masih pengen kerja gitu kayak yg lainnya. Tp kebalikan juga dengan mereka yang segera dirumah. Namanya hidup memang harus bersyukur ya mom

    BalasHapus
  15. Salam kenal, Bunda. Salut dengan kerja keras sebagai ibu rumah tangga 4 orang anak yang masih kecil dan dosen ASN. Semangat dengan apa yang dialami karena nanti, insya Allah akan berbuah manis,
    Semoga kesibukannya tidak membuat drop. semoga nanti ada asisten rumah tangga amanah yang bisa paruh waktu untuk membantu.
    Saya ibu rumah tangga biasa yang urus rumah saja kadang dibantu suami karena sedang fokus pada dunia kerja menulis padahal suami juga lelah bekerja sebagai kuli bangunan tetapi tetap mendukung dan percaya pada sang istri karena sama-sama ingin meningkatkan taraf hidup ke arah yang lebih baik.
    Apa pun profesi kita, semoga tetap iklhas dan semoga kita tetap sehat dan kuat. Aamiin.
    Abaikan gunjingan orang luar. Kita hidup untuk diri dan keluarga bukan untuk mengurus urusan orang lain yang segambreng. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget nih smua yg Mbak tuliskan ini. Senangnya disupport sesama ibu. Makasih yaa

      Hapus
  16. Tiap ibu punya tantangannya masing-masing ya kak. Salut liat kakak masih bisa mengerjakan semua tanpa ART. Dv alhamdulillah masih ada ART, itupun tiap pulang kantor anak2 melipir ke mamaknya semua. Istirahat pun nggak bisa. Ternyata kak mia masih lebih capek lagi dari dv. Keep strong ya kak..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Krn belum dpt yg pas lg nih, Dv... Nyari ART yg amanah keknya "beti" sm nyari jodoh yg saleh x yaa... Wkwk

      Hapus
  17. Pekerjaan apapun memiliki tantangan dan kendala tersendiri.
    Pun menjadi ibu rumah tangga juga demikian.
    Menjadi ibu rumah tangga memang dilihat secara kasat mata sering dianggap sebelah mata.
    Tapi membutuhkan tenaga yang ekstra 24 jam non stop
    Semangat....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ibu rumah tangga itu perempuan berkarir surga kata Ust. FS

      Hapus
  18. MasyaAllah membacanya ngrasa aku ini gak ada apa2nya mbaaak hehe :D
    Enggak gampang menjalankan dua peran sekaligus ya pengurus RT dan anak2 plus aktivitas kerja di luar rumah.
    Yah saat rasa lelah melanda emang yg bisa jd tempat mengeluh hanya Tuhan ya mbak, thanks remindernya mbak :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Soalnya kl dibawa ngeluh² gak jelas malah neting yg ada, Mbak. Hehe... Thanks for comment yaa Mba April

      Hapus
  19. Pekerjaan seorang ibu dan istri memang bukan pekerjaan main main, ganjarannya surga. Apalagi sembari bekerja jadi dosen terus menulis. Semoga jadi amal jariyah, bun...

    BalasHapus
  20. Super sekali, Mbak. Sungguh. Saya kagum dengan keputusanmu.
    Saya juga cukup sering merasa kelelahan yang amat sangat. Saya IRT tanpa ART, dengan beberapa profesi yang saya kerjakan semampu saya, juga punya kewajiban juga merawat ibu di rumah saudara. Semua saya kerjaan sendiri. Yang menambah lelah adalah permintaan saudara yang juga menuntut rumahnya yang 8x lebih luas rumah saya juga dibersihkan, karena ia tanpa ART. hehehe...

    Nah, Mbak... kalau membaca profesimu sebagao dosen, yang tentu butuh kondisi prima juga, mungkin perlu memikirkan ART. Karena dunia kerja yang Mbak geluti juga butuh kondisimu yang all out.
    Pekerjaan di rumah yang bisa didelegasikan, bisa diberikan pada ART.
    Hanya saran, Mbak, mungkin layak dipikirkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mendelegasikan sebagian tugas domestik ke art kayaknya jd opsi wajib yaa coz benar² gak bs pegang smua

      Hapus
  21. Seorang ibu sekaligus Istri memang luar biasa, bisa melakukan banyak hal. Mengurus anak, rumah, hingga suami dan ganjaran surga mak.. InsyaAllah

    BalasHapus
  22. Salut banget sama perempuan yang multitasking, jadi istri, ibu, working mom semua dikerjakan dengan ikhlas, betul sih kayaknya butuh bantuan ART karena pekerjaan kakak berat juga sebagai dosen

    BalasHapus
  23. Salut untuk seluruh perempuan di dunia ini. Dan jangan lupa, pastikan kita gak selalu membeda-bedakan si ibu A gini..ibu B gitu..atau tentang working mom vs stay at home mom dll. Karena pasti setiap dari mereka punya alasan masing-masing.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyupp, masing² punya medan perjuangannya ya

      Hapus
  24. Ilustrasinya ngena banget mbak, sangat menggambarkan multifungsi hahahaha, keren sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Si ibu tangannya banyak banget yak udah kayak Dewi Durga dlm Hindu

      Hapus
  25. Jelas, kalian sangatlah pejuaaaang yang berjuang keras. Saya agak kurang setuju ketika mendengar istilah ibu rumah tangga disepelekan, karena, yaaaaaaa itu pekerjaan terberat atuh :'

    BalasHapus
  26. Setuju mother is master multi tasking hihihi..., kok aku salfok dengan karikaturnya yac lucu dan langsung ngena

    BalasHapus
  27. Terima kasih komennya semua, Teman-teman

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel