Sisi Positif Mengikuti Arisan

Mendengar kata arisan ibu-ibu, apa yang pertama terlintas di benak kita? Perkumpulan para mommy yang hobinya ngopi-ngopi syantik di cafe-cafe-kah? Atau buibu yang gosip sana-sini sambil memamerkan barang-barang berharganya?

Syukurnya yang saya ikuti ini tidak demikian. Setelah sekian lama diundang dan saya tidak bisa hadir karena bentrok dengan jadwal mengajar di kampus, Selasa, 22 Oktober 2019 lalu Alhamdulillah saya bisa datang. Sebelumnya saat suami masih bertugas di kota lain, saya termasuk yang aktif ikut arisan dan acara-acara Dharma Yukti Karini (DYK) ini. 

Kalau arisan para istri jaksa dan pegawai kejaksaan bernama Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD), dan arisan ibu-ibu istri TNI berakronim Persit (Persatuan Istri Prajurit) Kartika Chandra Kirana, maka yang saya bahas kali ini adalah Dharma Yukti Karini. Sebelumnya DYK ini masih bergabung dengan Dharma Wanita, maka sejak tahun 2002, arisan ibu-ibu peradilan resmi bernaung di bawah DYK.

Dharma Yukti Karini-PN-PA-PTUN-PM-Medan
Sumber: PN Baturaja

DYK sesuai mars dan hymnenya, yaitu organisasi wanita peradilan, beranggotakan para hakim perempuan, istri-istri hakim, istri-istri pegawai di empat badan peradilan. Peradilan umum, peradilan agama, peradilan tata usaha negara dan peradilan militer. Kebetulan DYK berulang tahun ke-17 dan tema tahun ini adalah mempertegas identitas diri melalui realisasi tugas pokok dan fungsi organisasi.

Acara dibuka oleh protokol dari PN, kemudian diikuti oleh kata arahan dan bimbingan dari Pelindung dan Pembina DYK Cabang Medan, yaitu Ketua Pengadilan Negeri Medan. Setelahnya, kata sambutan dari Ketua DYK Cabang Medan yang merupakan istri dari Bapak Ketua PN Medan.

Pesan yang saya tangkap dari arahan pelindung, bahwa di zaman serbadigital ini kita mesti tanggap terhadap kemajuan teknologi. Perlu ricek jika menyampaikan sesuatu. Jangan hanya berhenti di "sent" tetapi harus dipastikan pesan tersebut "delivered". Agar maksud dan tujuan berorganisasi dapat tercapai secara efektif.

Ketua Pengadilan Negeri Medan/ dokpri

HUT ke-17 DYK tahun ini dibarengkan dengan penyerahan Bantuan Dana Beasiswa (BDBS) kepada anak-anak keluarga peradilan, yang duduk dari tingkat TK sampai dengan perguruan tinggi. Biasanya kriteria yang digunakan adalah anak pegawai golongan I dan II (jika ada), atau anak-anak yang berprestasi, dibuktikan dengan fotokopi rapor. Rara putri sulung kami pernah memperoleh bantuan ini saat duduk di bangku SD. Rangkingnya yang masuk 10 besar dihitung sebagai anak yang layak menerima bantuan. 

Penyerahan bantuan untuk anak-anak dari keluarga PA Medan


Saya sendiri selama setahun suami dimutasi di Medan baru dua kali bisa hadir. Pertama saat masa pengumpulan data di PN Medan, kebetulan saya sedang ada penelitian di sana, sekalian saja saya mengenakan seragam resmi DYK. Yang kedua pada HUT DYK ini. Insyaallah kalau ada waktu yang luang saya tidak pernah melewatkan arisan KBI PA Medan (Keluarga Besar Ibu-Ibu Pengadilan Agama) dan DYK gabungan cabang Medan.

Fyi, anggota DYK Cabang Medan mayoritas anggotanya sudah berusia senior. Sebab para suami yang ditempatkan di kota Medan, di pengadilan berlevel "Klas 1A" sudah barang tentu pernah "berkeliling" Sumatera Utara. Apalagi kalau hakim, paling tidak sudah pernah dimutasi ke 6 kota di seluruh Indonesia. Barulah menikmati bekerja di kota Medan.

Sebelumnya pindah-pindah terus dan hal demikian akan tetap berlangsung sampai pensiun. Maka bisa berada di acara DYK Medan merupakan sesuatu hal yang wajib disyukuri. Tidak setiap pegawai peradilan berkesempatan menjejakkan kaki, bekerja di kota Medan ataupun kota besar setaraf ibu kota provinsi Sumatera Utara ini. Biasanya di pelosok dan penjuru negeri. Ada beberapa pertimbangan, salah satunya senioritas kepangkatan dan prestasi kerja.

Banyak hal positif yang bisa saya peroleh dari mengikuti acara arisan seperti ini, antara lain:

1. Menjalin silaturahmi dengan sesama istri pegawai di empat badan peradilan. Tentunya hal ini penting dalam memperluas jaringan pertemanan. Istri-istri pegawai pengadilan beraneka ragam pekerjaannya. Selain IRT ada yang juga pegawai, baik di pengadilan maupun di instansi lainnya. 

Ada yang hakim, dosen juga seperti saya, pengusaha, guru, dan sebagainya. Kami semua menanggalkan latar belakang masing-masing. Saat di acara DYK, yang ada hanya wanita peradilan. Titik. Berusaha menyamakan frekuensi bahwa kami hadir demi menjaga nama baik suami, instansinya dan keluarga besar empat badan peradilan di bawah Mahkamah Agung.

Foto bersama, sayang saya izin duluan pulang karena mesti ke kampus

2. Memperkaya pengalaman bersosialisasi. Seandainya saya hanya ikut arisan KBI PA Medan, maka teman-teman saya hanya sebatas rekan sekerja dan istri dari teman kantor suami saja. Namun dengan ibu-ibu dari PN, PA, PTUN dan Peradilan Militer, saya jadi punya banyak relasi di mana saja. 

Dari perspektif dosen tentu saja ini amat positif. Mengingat jika ingin melaksanakan riset ke empat badan peradilan, sudah ada contact person-nya di sana. Sehingga tidak sulit lagi mencari, tinggal mengenalkan diri sebagai anggota DYK. 

Saya (paling kanan) dan Bu Muslih, Panitera PA Medan/ Dokpri

3. Meningkatkan pengetahuan dan wawasan

Di acara arisan KBI maupun DYK, kerap dihadirkan narasumber untuk suatu ketrampilan perempuan. Misalnya, cara mengatur keuangan, cara menyusun menu hidangan keluarga selama satu bulan, tips memasak dengan kreatif dan banyak tema menarik lainnya.

Dulu saat saya aktif sebagai pengurus DYK, pernah menginisiasi acara Hijab Tutorial dengan mendatangkan tutor dari komunitas Hijabers Medan. Alhamdulillah acara yang digelar di ruang sidang Pengadilan Negeri Kisaran waktu itu berlangsung meriah dan ibu-ibu suka sekali.

Jadi menurut saya, ikut acara arisan ibu-ibu kantor suami, sangatlah berfaedah dan membawa sisi positif bagi diri kita. Tinggal memenej waktu sebaik mungkin agar jadwal yang padat, juga menyisakan waktu untuk diri sendiri.

Setelah acara arisan saya mesti ke kampus sebab ada acara sosialisasi PKM kepada mahasiswa di Fakultas Hukum UMSU. Selengkapnya mengenai itu, bisa baca di sini yaa Kenapa Mahasiswa Harus Ikut PKM?

Saya pribadi yang telah disibukkan dengan mengajar, berkegiatan di kampus, berkomunitas, menulis, momong anak-anak sendiri, mau tidak mau harus bijak mengatur waktu. Karena yang paling tahu batas-batas kemampuan diri, ada pada kita sendiri. So, ikut arisan? Positif-positif aja tuh, hehe.

Sambil menyimak jalannya acara, saya sharing dengan ibu ini, bagaimana beliau mendidik anak hingga berhasil meraih cita-cita semua. 1 ASN, 1 dokter, dan 1 dosen putra-putrinya/ dokpri

Berlangganan update artikel terbaru via email:

35 Komentar untuk "Sisi Positif Mengikuti Arisan"

  1. Arisan sekarang memang sangat efektif dibuat di sebuah perkumpulan dan komunitas. Arisan bisa jadi ajang share ilmu yang bermanfaat, dan juga tempat menyisihkan sedikit "rupiah" untuk keperluan tertentu sesuai kebutuhan dan tujuan dari peserta arisan. Dah mulai banyak jenis arisan. Ada arisan uang, buku, emas dan lain sebagainya. Hal positif tentu punya sisi lain yang menyertainya. Tinggal pinter pinter kita memilih tempat dan komunitas berarisan

    BalasHapus
  2. Aku pernah ikut arisan, niatnya sih setelah lulus biar tetep bisa jalin silaturahmi. Eh kenyataan malah jadi arisan online hahaha

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah mbak sejauh ini, saya mengikuti lebih kurang 4 - 5 arisan positip2 aja. Malah saya banyak dapat tambahan ilmu dr arisan yang kemudian kami format jadi kajian bersambung. Kadang beberapa pertemuan membahas tauhid, fikih, parenting dan lain lain. Alhamdulillah ketemu kawan-kawan bersahaja yang emang niat datang kajian n silaturahim jadi jarang ada yang gimana2 gitu. Tapi kalau buka lapak setelah acara tetep ada dan ini jadi warna warni tersendiri, cuci mata lah ya istilahnya. Cuma kalau sekarang saya, agak strik dengan waktu, nggk mau terlalu larut atau berlama2 karena kan meninggalkan anak di rumah dan biasanya ada tanggung jawab bekerja di sore harinya. Insya Allah ini juga jadi trik menghindari peluang jatuh ke perbuatan yang sia sia itu mbak. So far arisan itu berkomunitas yang memberdayakan n membahagiakan sih menurutku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak gitu yaa Kak Nining,, jd punya teman² selingkaran yg cucok n sejalan

      Hapus
  4. Memang si masyarakat secara umum, kalo denger arisan pasti yang terbayang adalah kumpul2 emak sosialita, tapi Alhamdulillah saya ikut arisan komplek demi menjaga silaturrahim. Karena gak semua warga komplek bisa kita jumpai setiap hari.

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah ya Mbak Mia ikut di kegiatan arisan yang positif sifatnya. Semoga bisa mendapat berkah manfaat dari sana.
    Saya juga Mbak, arisan saat ini untuk tujuan silaturahmi karena hanya ikut arisan RT, RW, komplek, dan arisan keluarga. Di luar itu enggak ikut saya. Dulu sih pas suami dinas di daerah ikutan arisan kantor suami. Sekarang karena sudah di kantor pusat enggak wajib lagi, ibu-ibu bos-nya aja yang arisan dan ada kegiatan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Arisan buibu kantor di tempat kami wajib Mbak Dian, paling gak punya niat datenglah wlwpun gak rutin hehe

      Hapus
  6. Saya blom prnh ikutan arisan kantor. Karena kantor suami cab medan karyawannya cuma dua orang kwkwkwk
    Arisan berdua acem ya kan?

    BalasHapus
  7. Saya itu dulu awalnya tahu arisan dari arisan persit ibu saya setiap bulan, lalu arisan RT orang tua saya setiap bulan juga, Mbak Mia. terus pas diadakan juga arisan teman-teman Bapak saya khusus orang jawa yang tinggal di Makassar hehehe.
    Tapi arisan memang banyak manfaatnya juga, Mbak. terutama mempererat silaturahmi.

    BalasHapus
  8. Kirain saya, arisan itu cuma kumpulin duit terus dikocok, nama yang jatuh siapa. Habis itu beres, ternyata banyak juga ya manfaatnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sisi finansialnya hanya salah satu bagian dr arisan itu sendiri, Mas

      Hapus
  9. Saya tidak ikut arisan, tetapi zaman masih kerja juga ada arisan pekerja dan keluarganya.
    Itu membuat guyub dan setiap yang sudah menang di kocokan sebelumnya mengadakan arisan di tempatnya. Begitu terus.
    Arisan bikin kita tambah mengeratkan silaturahim sekaligus membantu juga untuk jalan pengembangan diri seperti acara Mbak.
    Kantor suami keren bikin program demikian.

    BalasHapus
  10. Jadi teringat, Almarhum mamaku dulu aktif banget di Ikatan Adhyaksa Dharmakarini karena sebagai istri jaksa...

    BalasHapus
  11. Berkumpul dengan orang - orang yang bisa memberi manfaat baik pada kita itu bagus sekali. Bisa nambah pengalaman dan mengasah kemampuan berkomunikasi dengan bebagai kalangan

    BalasHapus
  12. Arisan seperti ini ya sudah pasti banyak manfaatnya, dong... Bahkan wajib diikuti. Wajib banget. Hihihihi. Biasanya selalu ada workshop atau pemaparan materi yang menarik yang disiapkan pengurus, tambah ilmu, jadinya. Belum termasuk manfaat berjejaring dengan sesama istri pegawai PN. Kalau suka berjualan... waa....

    Hahahaha. Kenapa saya yang semangat memaparkan, ya. Wkwkwk.
    Padahal saya cuma istri seorang kuli yang suka seni.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada juga anggota yg jualan bronis, dll, saling memberi faedah banget, hehe

      Hapus
  13. Arisan kalau bentuknya sharing atau hal-hal yang kak Mia ceritakan pastinya bermanfaat,
    Tapi kalau jadi ajang gosip dan pamer mending ditinggalkan ya kak hehehe

    BalasHapus
  14. Entah kenapa saya kurang suka ikut arisan. Sebabnya diri berasa ditagih kalau menjelang arisan, jadi berasa ada hutang gitu. Kalau silaturahim memang salah satu manfaat arisan ya mbak...

    BalasHapus
  15. arisan itu salah satu cara untuk saling membantu dan sekaligus saling support, btw aku kadang sering ikut arisan tetapi jadi yang bayar doang. Atas nama tetap Ummi yang atas nama.. Anak mah bagian bayar aja

    BalasHapus
  16. Wahahaha arisan emang bener-bener bisa ngeratin silaturahmi juga nga sih, kumpulannya yang diiringi obrolan bareng :D

    Saya pernah ikut arisan, tapi pas SMP wgwgw :D

    BalasHapus
  17. Wah.. kalo ini mah arisan lain daripada yang lain karena terlihat sekali acaranya formal dan sudah terorganisir. Sukses terus kak untuk arisannya*

    BalasHapus
  18. Asyik nih.. Arisan g Cuma ngerumpu Tapi juga nambah ilmu.. Mksh idenya bundaaaa..

    BalasHapus
  19. Tinggal orang-orangnya aja. Arisan ada yang positif dan ada yang negatif. Makanya kita perlu memilih arisan yang positif bisa menalin silaturahim dan bersosialisasi serta menambah ilmu kita bukan cuma ngumpi dan pamer kekayaan aja.

    BalasHapus
  20. Memang mengikuti arisan itu banyak hal positif, tetapi ada juga sisi negatifnya mba.
    Tergantung kita nya pinter membawa diri.
    Jika kita mengikuti kelompok arisan yang mayoritas ibu-ibu ngerumpi .
    Ya kita pasti ikut ngerumpi juga.
    Yang saya ikutin biasanya arisan berupa uang. Selain untuk menabung sekalian ajang silahturahmi

    BalasHapus
  21. Arisan nya keren sekali kk, jadi nambah silaturahim dan wawasan juga, klo awak masih arisan keluarga saja ikutnya hihi

    BalasHapus
  22. Benar banget kak, selain untuk menabung juga sebagai wadah silaturahmi, jadi para istri bisa saling mengenal keluarga dari teman kerja suami

    BalasHapus
  23. masih ikut arisan keluarga atas nama ayah mamak kak. dan merasa paling tua sendirian, jd suka males ikut huhu. kalo anak2 iya banyak. kalo dr kantor blm ada. entahlah nnti kalo brkeluarga ya :D

    BalasHapus
  24. Dv pernah beberapa kali ikut arisan ibu2 di kantor suami. Alhamdulillah ada ilmu yang sebenernya bisa didapat seputar dunia emak2 dan istri. Yang nggak suka tuh kalo arisan udah pada lomba2an pake pakaian dan perhiasan yang wow banget, trus acaranya pake telat, agak gimanaaaaaa gitu ngikutinnya. Setuju yg kk bilang, ambil positifnya, jangan ikut2an negatifnya.

    BalasHapus
  25. Hihi baca ini jadi malu. Aku paling jarang dateng arisan di kantor suami 🙈

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel