Pengalaman Buka Dan Tutup Usaha

Membaca artikel Richa Miskiyya yang berjudul Tips Memilih Tempat Usaha saya jadi ingin membagikan hal yang pernah dialami saat menjalankan bisnis kurang lebih enam tahun yang lalu.
 
You will learn more from things that happen to you in real life than you will from hearing about or studying things that happen to other people
Kata-kata di atas adalah penjabaran dari statement bijak, "pengalaman adalah guru yang terbaik". Waktu itu tahun 2012. Saya dan suami bersemangat sekali memulai suatu bisnis. Ditambah lagi kami berkesempatan mengikuti seminar seorang motivator bisnis yang sedang naik daun saat itu. Isu "bosan jadi pegawai" begitu menggelora di kalangan pekerja muda pada masanya.

Pengalaman berbisnis

Mengasah Mental Berniaga Sedari Kecil

Sebenarnya sebelum momen membuka usaha waktu itu sedari kecil saya sudah dilatih berjualan oleh orang tua. Mungkin karena beliau berdua pasangan yang menikah selagi mahasiswa, jadi terbiasa untuk mandiri. 

Kata uwak saya, untuk menambah penghasilan mereka pernah berjualan kacang tojin dan keripik ubi, digoreng sendiri lalu dikemas dalam plastikan kecil-kecil untuk penganan mahasiswa di kampus. Meskipun ibu berasal dari ekonomi keluarga yang cukup mapan, sebab atok (ayah dari pihak ibu), memiliki kebun kelapa sekian hektar di kampungnya. Namun setelah menikah putrinya belajar berdikari.

Usaha snack ayah dan ibu tidak berlanjut lama sebab menjelang wisuda ayah saya disibukkan membantu atok (dari pihak ayah) yang menjadi tuan kadi (pak penghulu) di kawasan Jalan Garuda, Medan. Hampir semua orang-orang lama di sekitar Perumnas Mandala dan Medan Denai dinikahkan oleh atok dan ayah. Seingat saya, selain itu bisnis ayah ikut MLM Forever Young dan Amway.

Sementara ibu saya, dengan segudang keterampilan keputriannya, eksis secara ekonomi meski belum bergelar sarjana. Beliau bisa menjahit pakaian, membuat halua (manisan), bikin jamu (pilis untuk ibu melahirkan) dan bisa jadi muballighah (ustazah seperti Mamah Dedeh di zaman now) pula. Dulu pernah membaca potongan koran yang memuat wajah ibu tengah menjadi singa podium. Ah, merasa diri cuma jadi butiran debu (debu berlian, Amin.. haha).

Kelas dua SD, saya diminta menjualkan jambu air kami yang pohonnya berada di halaman depan rumah. Buahnya melimpah ruah, tetangga yang lewat pun sudah kebagian dikasih gratis oleh ibunda. Hari pertama jualan saya laris manis, eh di hari kedua saya ditegur sama ibu guru katanya tidak boleh berdagang di dalam kelas, hehe. Akhirnya ibu saya menitipkan jambu ke paman saya (adik beliau) untuk dijualkan.

Beranjak ke SMP saya turut meramaikan bursa perdagangan kartu nama legendaris anak-anak ABG zaman old. Desain yang boleh dipilah-pilih sendiri plus ada kata mutiaranya, sangat manis untuk jadi objek tukar-tukaran sama teman. Di samping saling menulis data diri di diary masing-masing. Senang sekali bisa menambah uang jajan sendiri tetapi saya tidak bilang ke orang tua, sebab ayah menekankan agar saya fokus belajarnya, tidak usah jualan dulu.

Di tingkat aliyah (setara SMA), orderan kartu nama cantik saya semakin masif. Kebetulan adik saya mondok di pesantren Raudhah yang santrinya ribuan. Nah, saat mengunjungi adik mewakili ibu, saya menawarkan pemesanan kartu nama di kalangan santriwati. Hmm... bak bola salju saja, pesanan itu semakin banyak dan banyak.

Namanya juga santri, jika satu temannya memesan maka yang lain pun tak mau ketinggalan. Jadilah saya yang menangguk keuntungan. Sampai bisa membeli sebentuk cincin emas. Alhamdulillah. Hingga akhirnya kartu nama anak alay yang jadi dagangan saya tidak diperbolehkan lagi beredar di pesantren. Bertepatan pula saya melanjutkan kuliah ke Yogyakarta.




Di Yogya saya tinggal di pesantren mahasiswa. Orang tua khawatir dengan fenomena kehidupan kos mahasiswa di kota pelajar itu. Padahal setelah saya jalani selama empat tahun di sana, semuanya tergantung pribadi kita dan teman (lingkungan).

Kalau kitanya kuat dan banyak berteman dengan kawan-kawan yang baik, insyaallah terhindar dari pergaulan bebas mahasiswa dari berbagai daerah yang tumplek-blek di Jogja. Alhamdulillah karena saya juga ADK (Aktivis Dakwah Kampus), circle teman-temannya ya ikhwan-akhwat kampus. Kadang main ke kosan akhwat malah lebih islami dibandingkan pesantren tempat saya tinggal.

By the way, awal-awal kuliah saya sempat jualan produk batik. Daster, gamis, pernak-pernik seperti kipas batik, gantungan kunci dan aksesoris lainnya. Namun tidak lama, kesibukan sebagai mahasiswa dan ADK demikian menyita waktu. Apalagi saya berkompetisi dengan dua sahabat perempuan lainnya agar cepat-cepatan meraih gelar sarjana.

Sisi positifnya saya jadi on time lulus kuliah. Meski kayaknya lebih sukses mereka, hehe, yang satu jadi manajer di perusahaan minyak nasional sekarang. Dan satu lagi juga manajer di bank sentral negeri tercinta ini. Ikut menentukan kebijakan perekonomian bangsa ini.

Awal keterima kerja saya baru sebulan terima ijazah S1. Jadi honorer di suatu instansi di Provinsi Sumatera Utara, back to kampung halaman. Tepatnya saya "dipinang" untuk bekerja di sana oleh kepala kantornya. 

Menurut beliau, meski saya tak lulus tes cakim, pastilah ada sesuatu yang bisa saya kontribusikan untuk kantor tersebut. Walaupun menerima upah bulanan yang tidak besar, ibu saya bersyukur. Katanya beliau senang anaknya bermanfaat bagi orang lain, bagi negara dan bangsa. Waktu itu usia saya masih 21 jalan 22 tahun. Merasa perjalanan masih sangat panjang.

Saya tidak puas dengan pencapaian yang sementara ini. Sambil bekerja di kantor saya membawa katalog MLM Syariah Ahad Net dan menawarkannya kepada pegawai lainnya terutama ibu-ibu. Dengan mengusung konsep kosmetik halal, Zahra. Bukan cuma satu MLM tetapi dua, MQ Net. Yang satu mengutamakan produk-produk umum keseharian.

Hasilnya lumayan juga, walaupun sedikit saya masih bisa menabung. Singkat cerita saya harus pindah dari kantor pertama karena lulus CPNS, ketemu jodoh dan menikah. Bisnis MLM tersebut masih berlanjut dan bertambah lagi karena saya ikut menjadi member K-LINK dan  MLM OXY, air minum beroksigen. Yang paling akhir Oriflame dan DXN. Seiring lahirnya anak pertama dan kedua saya mulai mengurangi kesibukan berbisnis.

Plaza Medan Fair tampak depan / Panduan Wisata


Suasana di dalam Plaza Medan Fair / Trip Advisor

Menyeimbangkan antara pekerjaan kampus dan mengurusi sepasang anak membuat MLM saya tidak terpegang lagi. Apalagi saya lulus BPPS (Beasiswa Program PascaSarjana) di USU, jadilah fokus sementara ke penyelesaian kuliah dulu. Maklum pemerintah hanya menanggung biaya sebatas 4 semester saja. Alhamdulillah saya pun lulus tepat waktu, bahkan lebih cepat tiga bulan dari yang seharusnya.

Setelah lulus S2 dan kembali ke kampus tempat saya ditugaskan, anak ketiga pun lahir. Tak berapa lama kami mulai lagi merealisasikan rencana demi rencana. Salah satunya dengan membuka kios buku universitas di dekat kampus. 

Tahun pertama dan kedua cukup lancar hingga di tahun ketiga kios terpaksa ditutup. Sebab area yang biasa kami sewa untuk berniaga tidak disewakan lagi, alasannya akan direnovasi untuk perluasan kawasan kampus.

Sebenarnya mahasiswa bisa saja datang ke rumah untuk membeli buku. Namun saya dan suami sepakat, hal ini tidak elok dipandang orang. Gimana... gitu rasanya ya kalau dosen berjualan buku di rumahnya, hehe. Kalau di kios bukan kami langsung yang melayani, ada karyawan yang dipekerjakan untuk itu, sekalian mengurangi pengangguran, kan.


Buka Toko Lagi Setelah Ikut Seminar


Hanya setahun setelah menutup usaha kios buku, saya dan suami kembali mencoba peruntungan dengan memberanikan diri menyewa toko yang terletak di dalam mal. Plaza Medan Fair, mal teramai di kota Medan. Uniknya keberanian ini datang begitu saja setelah kami mengikuti seminar, yang saya sampaikan di awal tulisan ini.




Kali ini kami berjualan produk busana perempuan, baik busana muslimah maupun pakaian wanita pada umumnya. Dari ujung rambut (ciput, antem, bandana, aksesoris, jilbab segiempat, turban, pasmina, scarf, shawl, syal) mukena, tunik, dress, outer, cardigan, kulot, aneka rok, celana panjang, legging, batwing, hingga ujung kaki, yang meliputi kaus kaki wudu friendly, polos, motif, panjang dan pendek. Namanya Azza Hijab Store, lokasinya di Lantai 3 Plaza Medan Fair. Mengangkat slogan One Stop Hijab Shopping.

Sebenarnya itu bukan merk kami sendiri. Tepatnya kami menerima kerjasama kemitraan franchise dengan Azza Hijab Store pusat. Waktu itu kedudukannya di Thamrin City Jakarta dan Balikpapan. Tahun pertama masyaallah saya dan suami keranjingan sekali jualan hijab Azza ini. Rasanya uang mengalir masuk setiap hari. Pendapatan yang biasanya kami nantikan sebulan dulu baru masuk gaji ke rekening, ini bisa masuk setiap harinya. Tidak tahu itu dari mana kok bisa demikian lancar.

Sampai-sampai di suatu malam di bulan Ramadan, kami dikagetkan dengan omset yang menyentuh dua digit dalam semalam. Omset yang sebenarnya biasa banget diterima harian bagi para pelaku usaha kulakan di Tanah Abang. Namun bagi kami berdua yang PNS, memperoleh penghasilan seperti itu terasa bagaikan anugerah luar biasa yang Allah kasih di malam lebaran.




Tahun kedua, laba bersih diputarkan kembali untuk membeli barang dalam jumlah besar, kemudian menambah alat-alat di toko agar semakin ramai mengakomodasi barang dagangan. Manekin kepala, seluruh badan, manekin anak dan berbagai bentuk hanger dan rak-rak. Namun daya beli customer tidak sesemarak tahun pertama.

Hal ini saya yakini sebab orang membeli pertama kali sekalian ingin tahu rupa produknya. Apalagi kalau saya analisis sendiri, harga yang diterapkan dari toko pusat lumayan mahal dibandingkan barang sejenis dengan dalih branded hijab sekelas Zoya, Rabbani dan Elzatta.

Tahun ketiga terjadi perubahan rute di alur pengunjung di depan toko yang kami sewa. Sebelumnya ada akses lift dan eskalator di dekat Electronic City tepat di muka toko. Saya minta difasilitasi meeting dengan manajer mal sebab hal ini berdampak ke pencapaian omset kami.

Kesimpulannya pihak manajemen mal tetap melanjutkan rencana rehabilitasi jalur sesuai keputusan mereka. Tidak ada pengurangan besaran sewa yang kurang lebih 30 juta per tahunnya di masa itu. Pertimbangan mereka saya masih lancar di penjualan online. Memang sejak buka toko fisik saya juga gencar menjual barang lewat online shopping yang saya bangun di Blackberry, Facebook dan Instagram. Logikanya, buat apa menyewa toko fisik mahal-mahal kalau mengandalkan toko daring. Lebih baik saya berjualan dari rumah saja kalau begitu.

Kami bagaikan memakan buah simalakama. Jika dilanjutkan menyewa toko di sana, harus membayar 30 juta lagi, sementara pengunjung toko sudah lewat rute lain. Hal ini sangat merugikan dan saya sampai melayangkan somasi ke pihak mal. Akhirnya jalan damai yang diberikan kami tidak perlu membayar service charge (listrik, air, AC, sampah) dan promotion levy (jika mendatangkan artis ibukota dan lain-lain, tenant pun memiliki kontribusi yang sudah include). Fyi, selain sewa toko, biaya tetap yang harus dikeluarkan tiap bulannya mencapai Rp. 12 juta/bulan, meliputi gaji dua orang karyawan toko dan dua biaya layanan mal tersebut.




Alhasil setelah mempertimbangkan untung dan ruginya, dengan jiwa besar saya dan suami mengikhlaskan untuk menutup usaha. Demi kemaslahatan kondisi ekonomi kami juga. Mungkin bukan di sini jalan rezeki yang cocok untuk kami saat ini. Meski sampai saat ini masih memimpikan bisa menapaktilasi ikhtiar Rasulullah SAW, membuka rezeki lewat pintu niaga. Tampaknya kami harus legowo, semua ada masanya.

Pelajaran yang bisa diambil

  1. Sebelum membuka usaha sebaiknya dipertimbangkan sematang mungkin. Tidak melulu berspekulasi dan bermodalkan semangat yang tinggi. Namun harus diperhitungkan benar-benar dan diprediksi memakai otak kiri.
  2. Dalam kondisi perekonomian masyarakat seperti sekarang ini lebih baik menjual barang yang murah, meriah tetapi tetap berkualitas, ketimbang melulu mengedepankan branded namun tidak terjangkau oleh kerumunan masyarakat luas.
  3. Berdagang itu berjuang. Insyaallah kalau tidak sukses saat ini, mungkin rezeki akan menanti di masa yang akan datang. Lebih baik bersabar dan membekali diri dengan ilmu bisnis yang memadai agar tidak terjebak dalam kondisi yang sama lagi. Tidak masanya lagi cuma mengandalkan insting, feeling, intuisi dan sejenisnya. Berbisnis itu mesti tetap rasional.
  4. Membuka dan menutup usaha itu biasa, tidak perlu merasa minder apalagi berputus asa. Rezeki Allah SWT itu sedalam samudera dan seluas langit biru, tugas kita untuk tak berhenti berusaha, Tuhanlah yang melimpahkan rezeki.
Semoga menginspirasi.
Salam,



























Berlangganan update artikel terbaru via email:

48 Responses to "Pengalaman Buka Dan Tutup Usaha"

  1. Menginspirasi sekali mbak ceritanya, saya juga pernah punya usaha tapi nggak selalu lancar. Pengalaman dan usaha keras mbak ini sangat berguna sekali

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya masih pingin buka usaha lagi tp pingin benar2 siap lahir batin dulu, hehe

      Delete
    2. Aamiin. Mudah-mudahan terwujud kak Mia. Awak pun masih pengen buka usaha. Masih ngumpulin modalnya dulu kak..

      Delete
  2. Bener emang kalo 9 dari 10 pintu rezeki adalah dari bedagang. Saya juga sempet buka tutup lapak mba, hehe. Mba Mia nih produktif banget, semangaaatttt..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kayak portal ya Mbak Lintang.. buka tutup terus hehe... gpp biasa ajahh dalam dunia usaha

      Delete
  3. Hahahaha sama mba. Aku juga buka tutup buka lagi. Mulai dari pulsa dulu pas kuliah, sampai sekarang skin care. Alhamdulillah yg terakhir ini cocok dan bertahan lumayan lama dibanding dulu jual2in makanan sama baju yg akhirnya kebanyakan malah dipake sendiri hahaha

    ReplyDelete
  4. Pengalaman bisnisnya banyak ya, kalo saya waktu kuliah buka konter handphone konsep kaki lima... Sekarang sampingannya masih serabutan hehe

    ReplyDelete
  5. Asyik banget kalau ada lawan cepat-cepatan lulus dan terbaik. Jadi semangat belajar dan menjadi lebih baik. Saat semester 1-4, saya ada 4 lawan. Makin tambah semester, mereka loyo dan saya juga sibuk berorganisasi alias loyo juga. Wkwkwk.
    Tapi saya tetap berhasil punya nilai terbaik meski kami semua lulus 10 semester semua, wkwkwk.
    Jurusan B. Perancis memang tak mudah dan lulus semester 9 itu juara, katanya.

    ReplyDelete
  6. Saya baca ini sambil nahan napas. Deg-degan gimana hasil dagang di kalimat selanjutnya. Saya pun ditagih-tagihbteman untuk buat katering, tapi saya merasa belum mampu berjalan dengan anak yang masih kecil dan suami yang kurang suka saya sibuk (saya sudah pns dosen juga). Akhirnya saya menunggu dulu waktu yang tepat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama Mba Amel, suami saya juga gitu, soalnya kerjaan sebagai dosen udah buanyakk

      Delete
  7. Sangat menginspirasi kak. Saya juga salah satunya org yg tutup toko dan kembali memulai usaha baru sebagai penjual pulsa all operator

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kuy semangat terus yaa jadikan pengalaman orang lain sebagai pelajaran

      Delete
  8. MasyaAllah jatuh bangunnya ya mbakk.. saya juga pengin bisnis online nya berkembang. Tapi kok rasanya stagnan.. sukses ya mbakk..

    ReplyDelete
  9. Sukses selalu ya kak buat usahanya
    Sangat menginspirasi sekali ceritanya, saya dlu pengen sekali buat usaha tpi masalahnya mau buat usahanya ini masih bingung?😅 apa lg udh kerja di kantor jdi wktu pun membaginya jdi gk bisa lg..

    ReplyDelete
  10. menginspirasi sekali mbak, saya yang mau jualan maju mundur, takut ini dan itu. memang kuncinya kita harus berani, berani memutuskan dan berani menghadapi resiko. sukses selalu ya mbak :)

    ReplyDelete
  11. Karena emak kami pedagang kak, kami pun jadinya berdagang. Awak sama suami pun pernah buka grosir sembako. Tapi sayangnya kami tutup di tahun berikutnya karena gak bep. Memang daya beli tahun lalu itu emang menurun drastis.
    Tapi awak sukuri aja.. karena rezeki bisa datang dari jalan mana saja..

    ReplyDelete
  12. MasyaaAllah ceritanya sangat pas saat ini saya merasa terombang-ambing soal bisnis. Dulu Papa pernah buka warung saat masih karyawan BUMN, dan tutup. Selama kuliah, saya jualan katalog pulsa dll yang kecil. Jadi IRT jualan online meski dapat dikit tapi setidaknya lumayan hehe. Saya juga menitip barang jualan di koperasi sekolah namun sekarang tutup karena pandemi.. Sekarang karena sibuk jadi blogger + dapat cuan juga, usaha kecil-kecilan saya terbengkalai. padahal masih ada stok. harus semangat lagiii

    ReplyDelete
  13. ayo buka lagi kak mia, belanja bareng kita ke thamrin dan tanabang wkwkwk. ini juga yang bikin aku males jadi resseler suatu brand karena mahalnya itu kak, masih mending ambil dari pedagang tasik hari senin dan kamis itu bisa lah agak lumayan keuntungannya.

    Btw sewa tempat ini juga bikin dilema ya kak, service charge, biaya pegawai. (Nah rasa pengen curcol disini jadinya wkwkwk)

    ReplyDelete
  14. Terimakasih pengalamannya mbak. Sungguh ceritanya sangat menginspirasi. Bisa untuk pertimbangan saya yang akan memulai usaha.

    ReplyDelete
  15. masyaAllah bunda mia luar biasa perjalanan berdagangnya euy. Hebatnya bisa mengatur dgn kesibukan jadi dosen dan aktivitas domestik di rumah ya. Jadi pembelajaran luar biasa ya, model bisnis cpt sekali berubahnya. Aku br tau loh sewa toko di mall ternyata ada jg biaya lainnya...trus skrg usaha apa aja bun? Msh mlm nya? Atau ada yg lain jdi penisirin

    ReplyDelete
  16. saya senang bisa belajar dari tulisanseseorang. pengalaman yang mbak tulis menjadi gambaran bahwa memang butuh perjuangan panjang untuk menuju keberhasilan. Saya salut semangatnya, mbak. Apalagi support suami yang juga jadi spirit tersendiri

    ReplyDelete
  17. Subhanallah banget lah ini cikgu yg satu ini, punya lapak juga di Plaza Medan. Boleh lah nanti mampir ke Azza Collection kalo kebetulan main ke sana. Hihihi. Semoga tetap semangat dan rezeki mengalir lancar ya Ni Mia.

    ReplyDelete
  18. Senang kali baca cerita Kak Mia ini. Selalu ada hikmah yang bisa diambil. Berdagang nggak cuma soal untung rugi, tapi banyak pelajaran dalam tiap prosesnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dagang itu harus siap untung siap rugi ya mba. Musti HWAITING!!!! kalo kata orang-orang Korea. Kekeke

      Delete
  19. Menjadi besar itu harus berdarah darah dulu di awal ya kak, saya dulu ikut MLM dari oriflame sampai jilbab. tetapi kurang tangguh.

    ReplyDelete
  20. Bagi waktunya gimana kak.. antara pekerjaan, keluarga dan usaha? ... pasti mepet2 dan sibuk banget. .

    ReplyDelete
  21. Pengalaman merupakan guru terbaik ya kak, yakin deh kakak pun suatu saat bisa menjalankan usahanya lagi, saya jadi pengen buka usaha lagi tapi sama suami hehe, semangat ya kak!

    ReplyDelete
  22. MasyaAllah, luar biasa cerita mbak inspiratif banget. Saya dan suami pun bermimpi punya usaha selain kerja di kantor. Semoga nanti bisa terwujud juga. Amiin.

    ReplyDelete
  23. awak sejak dulu kala pengen kali punya usaha apa gt kak. tpi krn mamak kami selalu bilang gausah gausah, ya akhirnya cuma jualan2 online aja sekali dua kali. abis tuh enceng. emng benar gaboleh minder klo harus buka tutup toko/usaha itu. namanya jg mengupayakan sesuatu yakan kak. ahhhh baca nya jadi tahu kalau memang semua kerjaan itu gk semua jd jln rezeki buat org ya ka. cocok2an gt klo kata mamak awak. good luck terus kak tfs.

    ReplyDelete
  24. Saya tau toko mba mia ini.
    Bbrp kali beli beli juga di sini.
    Jilbab, ciput.
    Sayang sekali udah tutup.
    Emang dah lama sih gak sowan ke plaza medan fair. Jadi ndakbtau kalo ternyata dah tutup tokonya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe iya ya...? Makasih yaa udah pernah berbelanja di toko kamii ^^

      Delete
  25. Ashiapppp
    Saya plan dah lama mau buka usaha
    Tapi ya itu td, ga mulai2 hahaha
    Makasih masukannya kak 😊🙏

    ReplyDelete
  26. keren mbak Mia perjuangannya..sy pernah jualan online reseller dua tahun tapi sdh tak semangat lagi heuheu..pdhal laris manis..emang harus ada yg support sih ya..ditmbh klo jualan tuh paling enak pnya produk sendiri ya jadi semua resiko bisa dikendalikan ..mksh ya mba sharing ceritanya..

    ReplyDelete
  27. Kece pengalaman kak Mia. Ada satu persamaan yang selalu Ipeh liat setiap membaca pengalaman atau perjalanan bisnis banyak orang. Seenggaknya 8 dari 10 orang pasti pernah gabung di oriflame. Jadi kaya ada persamaan yang bikin senyam senyum pas inget. Dulu ipeh juga gabung di K-Link dan ngerasain banget klorofilnya. Sama Tiens yang baru daftar sebentar kemudian Mundur alon alon hehe

    ReplyDelete
  28. Wah, kak Mia ini banyak banget ya pengalamannya. Bener banget kak berdagang itu mesti dipikirkan matang-matang. Aku dan suami yang notabene lulusan ekonomi saja masih maju mundur. Munkin karena mentalnya belum kuat juga.

    ReplyDelete
  29. Masyaallah.. Benar2 ya kak. Dika jg mau buka usaha..tp ada dua rencananya harus milih salah satu dan setelah baca tips kaka.jd ada referensk buat mikir ulang

    ReplyDelete
  30. Keren, mbak. Bisa tahan banting menghadapi segala tantangan jadi pengusaha. Kalo saya udah nyerah duluan itu. Gak bakat mungkin ya, hiks.

    ReplyDelete
  31. emang gak mudah ya berdagang itu, saya dari kecil udah diajarin jualan di skeolah sama ibu. kebetulan juga punya warung sembako dulu. jadi suka ambil jajanan di warung terus dijual deh di sekolah. tapi ya gitu namanya bocah kadang ada yang gak jujur, jadi lama-lama jajanan abis eh duit enggak ada haha. tapi seru sih. makasih mba sharingnya.

    ReplyDelete
  32. Sangat menginspirasi sekali lho artikelnya dan aku juga harus semangat berniaga ini... Dari dulu cuma ingin tapi belum berani melangkah. Baca ini namanya jatuh bangun biasa ya

    ReplyDelete
  33. jleb banget rasanya pas baca "usaha itu berjuang" rasanya jadi mood booster ampuh nih
    semangatnya perlu ditiru nih :D

    ReplyDelete
  34. Masyaa Allah, sudah jauh perjalanan Mbak Mia dalam berwirausaha ya. Konon memang berbisnis di saat status sebagai PNS itu sulit. Saya pribadi baru mulai berbisnis, lebih ke bisnis media dan pakai media promosi online. Itung-itung cari pengalaman saja dulu. Semoga memang ada jalannya biar bisa berdaya

    ReplyDelete
  35. Sepakat, Mbak. Berdagang itu berjuang. Luar biasa perjalanannya, jatuh bangunnya. Saya merasakan itu juga bertahun - tahun silam. Bersyukur punya jiwa pedagang. Ga mudah patah arang dan otak terus berpikir kreatif demi pengembangan dan kemajuan usaha. Sukses bisnisnya ya, Mbak 🤗

    ReplyDelete
  36. Masya Allah, pengalamannya luar biasa ibu dosen satu ini. Panjang dan mengesankan. makasih sharingny Kak. Saya lagi mikir juga ini, mau buka usaha apa lagi. Hehe

    ReplyDelete
  37. Wahh baca kisahnya berasa bgt perjuangannya.

    Emang gak mudah buat buka usaha mbak.

    Saya juga pernah, tapi belum bisa konsisten dan fokus disana. Jadi buka usahanya musiman kek pas lebaran smpe idul Fitri aja.

    Berharap spmeday bisa punya toko sndiri :) amin

    ReplyDelete
  38. hampir sama kaya aku kak, kalo aku jualan jamur tiram beli beglog, 1 harganya 2rb, tapi setelah tumbuh jamur yang lumayan bayak aku binggung mau di jual kemana. sempat aku tawarin ke tetangga. ada yang beli dan ada yang tidak.lama lama aku tutup karena panen hampir setiap minggu tapi yang beli sedikit.

    ReplyDelete

Terima kasih telah meninggalkan komentar yang santun. Sebab bisa jadi Anda dinilai dari komentar yang Anda ketikkan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel