Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pengalaman Mencoblos Pilkada Di Masa Pandemi

Rabu 9 Desember 2020 adalah pilkada serentak yang ditetapkan sebagai hari libur nasional. Banyak pihak telah lama menantikan hari ini, para calon kepala daerah yang ikut berkompetisi, tim suksesnya, warga masyarakat yang ingin memberikan suaranya, termasuk saya dan suami.

Kami mendatangi TPS di alamat sesuai KTP. Maklum, sejak menikah tinggal di rumah mertua, ibu sudah wafat sementara ayah mertua tinggal di rumah yang satu lagi. 

Pengalaman mencoblos di masa pandemi
Kami setelah mencoblos


Jadilah selama 5 tahun kami menunggui rumah besar. Seiring mutasi suami beberapa kali keluar kota, kami pun tidak tinggal di sana lagi. Hanya saja yang tercantum di KTP masih di alamat rumah mertua.

Mencoblos di tengah pandemi Covid-19

Beberapa pakar tata negara dan pakar epidemiologi berpendapat bahwa sebaiknya pelaksanaan pilkada diundur. Tinggal mengeluarkan payung hukum untuk pengunduran pilkadanya demi menahan laju peningkatan angka Covid-19. 

Namun pihak KPU Medan tetap melaksanakannya sebab persiapan untuk itu telah berlangsung lama. Dan pastinya akan menerapkan dengan sebaik-baiknya protokol kesehatan.

Rendahnya angka partisipasi masyarakat

Begitu menginjakkan kaki di TPS, sekuriti TPS mempersilakan kami menyerahkan form C1, kertas undangan memilih, kepada petugas TPS.

Petugas KPS menyodorkan surat suara dan sehelai sarung tangan plastik sebagai salah satu isi protokol kesehatan dalam pilkada.

Tanpa perlu duduk menunggu, saya langsung diarahkan menuju bilik suara. Langsung saya coblos calon walikota yang saya pilih. 

Setelah memasukkan surat suara ke dalam kotak suara, saya pun mencelupkan jari kelingking pertanda sudah mencoblos. Proses pun selesai.

Selesai memberikan hak pilih, kami tak langsung pulang. Berhubung ketua dan anggota KPPS setempat adalah teman-teman sepermainan sejak kecil suami, jadilah kami berbincang- bincang dulu mumpung masyarakat belum banyak yang datang.

Ivan, ketua KPPS-nya mengatakan, kalau pilkada kali ini benar-benar sepi dibandingkan pilpres dan pemilu tahun lalu. Sudah jelang pukul 12, warga yang datang 1-2 saja, kemungkinan masih khawatir ada kerumunan di TPS.

Belakangan setelah pilkada berlalu beberapa hari, saya pun mendapat kabar kalau total partisipasi warga kota Medan dalam pilkada kali ini secara umum memang rendah. Hanya sekitar 46%, tidak mencapai 50%. Sehingga ada surat kabar daring yang membuat tajuk beritanya, pemenang pilkada Medan adalah golput.

Sebenarnya beberapa faktor ditengarai menjadi penyebab rendahnya partisipasi masyarakat. Namun yang paling dominan adalah kondisi masa pandemi. Meski pilkada disosialisasikan menerapkan pro-kes secara ketat, tetap saja kekhawatiran tertular itu ada.

Kontestan Calon Walikota dan Calon Wakil Walikota Medan

Adapun yang menjadi kontestan dalam pilwali Medan pada periode ini adalah Akhyar Nasution dan Salman Alfarisi (nomor 1), berhadapan dengan pasangan Bobby Nasution dan Aulia Rachman.

Sebagaimana diketahui bersama bahwa Akhyar Nasution adalah calon petahana yang sebelumnya adalah wakil walikota Medan. Sementara Bobby Nasution adalah menantu presiden RI, suami dari putri Pak Jokowi, yaitu Kahiyang Ayu.

Kebetulan kedua cawalkot bermarga Nasution sehingga Gubernur Sumater Utara (Gubsu) Edy Rahmayadi mengatakan di suatu kesempatan setelah ia mencoblos, siapapun yang akan jadi walikota Medan, pasti yang menang dari marga Nasution. 

Kesimpulan

Pengalaman mencoblos pilkada di masa pandemi tetap aman dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat. Diharapkan masyarakat tidak apatis dengan kondisi yang ada. Karena kekhawatiran dengan wabah pandemi Covid-19, menghalangi warga untuk melaksanakan hak publiknya, yaitu memberikan suara dalam pemilihan kepala daerah.


Salam,
Nyoblos di masa pandemi





8 komentar untuk "Pengalaman Mencoblos Pilkada Di Masa Pandemi"

  1. Seneng bgt dengernya kemarin Pilkada berjalan aman dan lancar ya mba, jadi kangen ikut Pilkada. Setuju bgt klo setiap orang hrs memakai hak pilihnya dan menyuarakan pilihannya demi kebaikan dan tujuan bersama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak, skalian ketemuan sama teman2 yg jarang kopdar, hehe

      Hapus
  2. kemaren waktu pilkada aku juga ikutan coblos tapi di jam yang uda siang banget dan memang sepi. Yang penting protokol kesehatan ga lupa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Toss, Mbak... saya juga siang sekitar jam 11an gitu

      Hapus
  3. Wah, kebetulan saya blom mengalami mencoblos di masa pandemi karena KTP kota Mbak Mia. Sepertinya prediksi partisipasi masyarakat rendah ya? selain demi keamanan diri saat pandemi juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak pandemi aja masyarakat rada malas ke TPS apalagi pandemi ya Mbak, hihi...

      Hapus
  4. Memang kali ini pilkada adem kali kak di Medan. Bahkan di tempat kami hampir separuhnya yang gak mencoblos. Di TPS sebelah hampir 60%.
    Memang TPS nampak sepi sekali. Bahkan tanpa menunggu bisa langsung mencoblos setelah cuci tangan dan memakai sarung tangan plastik. Setelah mencoblos pun dianjurkan cuci tangan kembali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, gitu sampai TPS lgsg dipanggil petugas

      Hapus

Pesan dimoderasi, terima kasih telah meninggalkan komentar yang santun. Sebab bisa jadi Anda dinilai dari komentar yang Anda ketikkan.