Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

3 Cara Mudah Mengajarkan Sopan Santun Pada Balita

Artikel mengajarkan sopan santun pada balita ini terinspirasi dari Ibupedia.com, pusat informasi seputar kehamilan, ibu, dan anak, yang menyediakan ribuan artikel untuk mendukung setiap ibu di Indonesia. Khususnya tulisan berjudul Mengenalkan Kata-Kata yang Baik pada Buah Hati Anda.

Anak Berkata Kasar Ketika Sudah Besar

Hati ibu mana yang tidak gemuruh ketika anak yang dilahirkannya membentak dengan suara keras, sembari membanting barang pula. Katanya, sakitnya melahirkan akan kalah perih jika dibandingkan dengan kata-kata kasar yang dilontarkan anak. 

Namun tentu saja hal ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Pasti ada proses yang mendahuluinya. Ada kebiasaanya yang menyertainya. Dan mau tidak mau akan menuntut orang tua khususnya ibu untuk merenung sejenak. Sebenarnya apa yang menyebabkan anak berkata kasar ketika sudah besar.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya terhadap anak, ponakan, anak tetangga, dan anaknya teman, berikut penyebab anak yang dulunya balita imut, berubah menjadi kasar saat usianya semakin beranjak besar.

Penyebab anak berkata kasar 

1. Orang di sekelilingnya berkata-kata kasar juga

Menurut saya ini nomor satu. Sebab anak terutama saat masih berusia balita adalah imitator, sang peniru ulung. Bagaikan belajar bahasa asing yang idealnya diawali dengan mendengar, begitu juga anak. 

Jika setiap hari ia mendengarkan lalu menyaksikan orang-orang di rumahnya berkata kasar maka tak heran dengan sendirinya ia pun akan ikut berkata kasar.

2. Tinggal di lingkungan yang suka mempermalukan

Lingkungan di luar keluarga inti ada tetangga dan teman sepermainan anak. Nah, kemungkinan di area seperti ini anak-anak usia SD saling mempermalukan dan mencela dengan maksud bercanda. 

Lalu, balasannya adalah kata-kata yang jauh dari sopan santun, karena ia defensif, mencoba bertahan dan membalas gurauan negatif teman-temannya. Esok lusa dia pun demikian memperlakukan temannya. 

3. Sedari balita tidak dikenalkan kata-kata yang baik

Menurut saya, penyebab ini juga dominan selain dua faktor di atas. Sebab, jika sejak usia balita ia dikenalkan dengan kata-kata yang baik, maka bagaikan spons kering yang menyerap tumpahan air, balita akan selalu ingat bagaimana contoh teladan berkata-kata baik dari ibunya. 

mengajarkan sopan santun pada balita
Ilustrasi ibu dan anak / Epouch

Cara ibu memilih kata-kata membekas kuat dalam memorinya. Usia balita adalah periode emas yang harus optimal dimanfaatkan ibu, ayah dan saudara-saudara di rumah. Bukankah pohon pepaya lebih mudah dibengkokkan ketika batangnya masih kecil? Jika Anda mencoba mengarahkan batang pohon pepaya yang sudah besar, jangankan menurut, yang ada malah batangnya patah menjadi dua.

Tiga Cara Mudah Mengajarkan Sopan Santun pada Balita

Sopan santun dalam keseharian adalah satu sikap atau perilaku dan kata-kata yang baik serta ramah pada orang lain. Waktu yang tepat sekali mengajarkan sopan santun di usia balita. Usia penyerapan didikan ibu amat sangat efektfnya. 

Adapun 3 (tiga) cara mudah mengajarkan sopan santun pada balita yaitu sebagai berikut:

Ajak balita menyapa orang lain saat bertemu

Ketika Anda sedang bersama si balita, dan kebetulan ada kerabat yang bertamu ke rumah, ajak ia menyapa terlebih dahulu. Jangan hanya ibunya saja yang asyik bertanya kabar, dan si balita disuruh main dengan kakaknya. 

Libatkan ia dalam percakapan ringan, balita sedang belajar cara menghadapi orang lain dan bagaimana bersikap dalam interaksi dengan orang di luar keluarganya.

Hadirkan raut wajah cerah ceria 

Bayangkan kalau Anda suka cemberut di depan balita, maka tidak usah heran jika anak pun tumbuh menjadi anak yang sulit sekali menampakkan wajah ceria. Psikolog Elizabeth Santosa dalam suatu acara parenting mengatakan, sebaiknya ibu sering-sering mengekspresikan emosi positif di depan anak. 

Caranya dengan menghadirkan antusias saat anak berceloteh ria. Kasih anak senyuman level 5 alias senyum lebar maksimal, dengan raut wajah cerah ceria, sehingga anak merasa dirinya sangat dihargai ibu tercinta. 

Anak pun tumbuh menjadi anak yang bahagia dan berwajah cerah ceria di depan Anda, baik anggota keluarga lainnya di rumah, maupun untuk tamu yang datang ke rumah.

Ketika balita melakukan kesalahan, jangan langsung dikritik

Mungkin saja secara refleks dan tanpa sebab balita Anda memukul putra tetangga yang sedang main di rumah. Namanya saja usia balita 1-5 tahun, bisa jadi ia sedang ingin mengetahui reaksi teman yang dipukul. Stop untuk langsung mengritiknya di depan teman tersebut. 

Sebaiknya ibu menahan mulut untuk tidak berkomentar, "Gak boleh gitu ya sama teman... harus jadi anak yang baik." Spontan mengomentari justru tidak solutif. Yang harus Anda lakukan adalah biarkan dulu beberapa jenak, beri si kecil jeda beberapa jenak, setelah itu ajak ngobrol berdua. 

Bukan disidang, tetapi saat suasananya tepat, ia tidak dalam keadaan emosi, dan Anda juga sudah inhale-exhale nafas. Sedang sama-sama dalam keadaan yang nyaman. 

Kesimpulan

Mengajarkan sopan santun pada balita tidak muluk-muluk kok, hanya dengan 3 cara mudah yang sederhana saja dan bisa langsung Anda praktikkan saat ini juga. 

Pertama, ajak balita turut menyapa orang lain saat bertemu, kedua, hadirkan raut wajah yang cerah ceria pada balita, maka ia pun akan mengikuti cerianya wajah ibu. Dan yang ketiga adalah ketika balita melakukan kesalahan jangan langsung dikritik. Berilah jeda untuk ibu dan balita ngobrol berdua dengan nyaman.

Demikian sharing saya kali ini, semoga ada manfaatnya ya, Teman-teman... jika ada yang ingin ditambahkan boleh ditinggalkan di kolom komentar. Terima kasih.

Salam,
Fadlimia for Ibupedia

















28 komentar untuk "3 Cara Mudah Mengajarkan Sopan Santun Pada Balita"

  1. Terkadang lingkungan juga pengaruh utama anak berkata kasar ya mbak. Memang jika seddari kecil sudah berkata kasar kuatirnya terbawa sampai besar. Sedapat mungkin dari kecil sudah diajarkan sopan santun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mbak,,, pengasuhan efektif sebaiknya sedari kecil kan ya..

      Hapus
  2. Aku pernah ngekost di lingkungan yang masya Allah banget. Omongan kasar itu udah hal biasa. Pastinya ini mengganggu tumbuh kembang bayi sampai dewasa. Jadi kata kasar sudah menjadi hal biasa di situ. Bahkan sama ortu pun bisa berbicara kasar. Meskipun itu bercanda.

    Jadi sebagai orang tualah untuk mencarikan lingkungan yang sehat untuk anak.

    BalasHapus
  3. Memang mengajarkan adab pd anak2 itu pentiiingg bgt.
    hanya saja kebanyakan ortu menganggap ini masalah sepele.
    padahal, WAJIB diajarkan dan dibiasakan ya Mbaaaa

    BalasHapus
  4. sampai setua ini saya sering aneh sendiri jika berkata kasar

    karena orangtua saya gak pernah bicara kasar

    dan ini menurun pada anak2 saya,

    mereka gak ngomong kasar, mungkin karena lingkungannya seperti itu

    BalasHapus
  5. Intinya keteladanan ya, Mbak. Karena anak akan melihat kita sebagai orang tua. Katanya mereka akan jauh lebih mengingat apa yang mereka melihat daripada apa yang mereka dengar, artinya daripada lebih banyak nasehatin tapi nggak ngasih contoh, mending berikan contoh pasti mereka mengikuti kebiasaan baik itu.

    BalasHapus
  6. Orangtua tuh role model-nya anak-anak banget. Apa yang mereka lihat orangtuanya lakukan, ya diikuti. Bahkan bukan cuma orangtua sih, tapi juga orang dewasa di sekitar mereka. Itu sebabnya ya, penting menumbuhkan anak di lingkungan orang-orang yang mengedepankan tata krama juga.

    Anakku pun suka protes kalau mamanya cemberut, "Mama tersenyum, dong. Biasanya Mama ceria terus."

    Hahaha ... Mati kutuuu ...

    BalasHapus
  7. Ajari semenjak dini adab agar kelak di kemudian hari menjadi generasi berakhlak mulia seperti panduan agama

    BalasHapus
  8. Mengajarkan anak sopan santun memang sangat penting ya mbak
    Paling ampuh dengan pembiasan dan keteladanan ya mbak

    BalasHapus
  9. Lingkungan memang bener-bener berpengaruh ya Mba Mia. Kadang Kita udah ngajarin bener, eh anak terpapar sama lingkungan sekitarnya. Memang pilih-pilih lingkungan terdekat perlu juga, selain Kita kasih tahu mana yang baik atau engga buat diucapkan

    BalasHapus
  10. Jadi ibu tuh ga mudah mbak.
    Aku dibesarkan di lingkungan yang emosi temperamental gitu, dan punya temen-temen laki (ya namanya anak teknik yo) yang mulutnya tanpa saringan hahahah

    dan itu sempat loh, baca : SEMPAT jadi karakter aku!

    Dan aku menyesal tiada ampuuuunnnnnnnn sampe detik ini,
    untung aja suami dan anak anak komunikatif jadi akhirnya aku memperbaiki diri ... malu deh aku mbak

    BalasHapus
  11. memang semuanya bermula dari orang tua yaaa, memang ada seninya lah masalah parenting mendidik anak ini tuh, thanks ya tipsnya mau dipraktekkin ah

    BalasHapus
  12. Seiring perkembangan zaman memang makin berkurang juga sopan santun ya,Kak. Setuju banget sih dengan cara-cara yang diajarkan ini agar anak bisa lebih menghargai juga orang yang lebih tua.

    BalasHapus
  13. Aku pernah ketemu teman yang suka bicara jorok. Waktu KKN satu rumah. Itu buang angin sembarangan dan suka mencela. Ternyata begitulah cara di keluarganya hiks...

    BalasHapus
  14. Anak itu pecontoh ulung. Tidak usah bertanya kok anak ini begini atau begitu, kalau memang lingkungannya, orang tua nya menjurus ke sana.
    Buah jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Apapun yang diupayakan orang tua berhasil tidaknya, lihat hasilnya pada sang anak ...

    BalasHapus
  15. Hadirkan raut wajah cerah ceria .. benar banget .. kalo ibunya banyak masalah, kepikiran terus sampai wajah kusut, bakal pengaruh ya.

    BalasHapus
  16. Selain tiga hal di atas, saya ingin menambahkan satu lagi: awasi penggunaan gadget. Saya sering melihat balita mengeluarkan kata2 kasar, yang ternyata ia tiru dari tontonan gadget yang tidak sesuai umur. Lingkungan terdekat paling utama memang ya.

    BalasHapus
  17. Fenomena pergeseran kalimat kotor menjadi candaan pada anak zaman now juga bikin resah ya kak. Sedihnya lagi mereka menganggap itu hanya kata "selipan" doank. Kadang awak selalu menegur anak-anak yang ngomong kotor meskipun bukan anak awak. Hehehe

    BalasHapus
  18. Lingkungan pergaulan sih yg sulit dibendung pengaruhnya. Dari kecil dan di rumah sdh diajarkan bicara baik, begitu keluar bergaul dia nemu kata² kasar itu. Tp insyaallah pembiasaan sejak dini akan membekas hingga dewasa ya

    BalasHapus
  19. Makanya aku denger di beberapa orang tua misal anak jatuhkan benda apa gitu, jangan dibilangin gini "dsar nakal" tapi diberi kalimat positif. Karena nanti jika diberi kalimat negatif akan terngiang di benak anak sampai dewasa

    BalasHapus
  20. Lingkungan di rumah memang mempengaruhi perilaku anak. Pengalaman banget, di mana aku tidak mengajarkan si kecil bahasa kasar, tetapi mendengar saudaranya mengucapkan kata kasar malah ikutan. Lumayan butuh lama sampai si kecil menggunakan kata-kata yang sopan.

    BalasHapus
  21. Lingkungan dan perlakuan terhadap anak rupanya memberi banyak sekali pengaruh terhadap anak ya. Apalagi urusan sopan santun. Duh berada di lingkungan yang suka mempermalukan ternyata dampaknya besar juga ya Mba.

    BalasHapus
  22. Anak cerminan orang tua. Bagaimana anak, biasanya orang akan melihat orang tuanya. Masya Allah, saya sendiri dalam proses belajar terus menjadi orang tua terbaik mba. Semoga saya bisa lebih baik dari orang tua saya terdahulu.

    BalasHapus
  23. Noted banget mba. apalagi poin : kalau dia salah jangan langsung dikritik. Berasa jleb bangett gitu. Huhu thanks for sharing mba miaa. Mudah2an aku bisa nerapin itu semua satu persatu

    BalasHapus
  24. terima kasih ilmunya kak, ini sangat penting buat saya, nanti kalau saya sudah punya baby pasti ilmu ini saya terapkan ke mereka

    BalasHapus
  25. Saya yang rada susah ini yang bersuara keras itu.
    saya pengen anak saya ngomongnya lembut, tapi emaknya serampangan begini hiks....
    kebiasaan.. haizzz

    BalasHapus
  26. Setuju mbak ketika balita salah jangan langsung dikritik ya karena akan menjatuhkan semangat anak.. masalahnya orang dewasa suka ga sadar kalau lagi bicara dengan balita kayak lagi bicara sesama orang dewasa jadi main kritik aja deh

    BalasHapus
  27. Keknya mudah banget, tapi prakteknya nggak semudah itu. Apalagi buatku kalau ngomong nggak bisa lembut, PR banget dah.

    BalasHapus

Pesan dimoderasi, terima kasih telah meninggalkan komentar yang santun. Sebab bisa jadi Anda dinilai dari komentar yang Anda ketikkan.