Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menuju Solusi Dengan Membangun Tim

Jurnal perdana beserta review-nya telah dilalui. Kini saatnya masuk ke dalam materi II yaitu membangun tim. Berbekal problem statement dari akar masalah yang telah digali maka dibutuhkan kerja sama tim dalam merealisasikannya ke dalam solusi permasalahan. 

Pesan Bu Septi Peni Wulandani, jangan buru-buru menyelesaikan masalah, jatuh cintalah pada masalahmu agar nantinya sungguh-sungguh dalam menemukan solusinya. Masalah yang tuntas tidak akan menjadi ganjalan lagi di masa yang akan datang. 

Sebaliknya jika masalah tersebut tidak dirampungkan apalagi tidak dianggap masalah, selanjutnya ia akan menjadi persoalan berulang yang menuntut untuk diselesaikan, bahkan mengurasi energi dan perasaan. 

Melakukan Kampanye Mencari Orang yang Memiliki Kegelisahan yang Sama

Di jurnal kali ini para mahasiswa kelas Bunda Saleha atau para ibu pembaharu diminta melakukan kampanye di media sosial untuk menjaring orang-orang yang memiliki masalah yang sama. Diharapkan jika orang-orang ini  bergabung sebagaimana bola es yang semakin membesar dan akhirnya mampu memecahkan permasalahan secara komunal. 

membangun tim

Namun tim tidak beranggotakan banyak orang, maksimal 5 orang saja. Dan Alhamdulillah saya sudah punya seorang yaitu Nafila Zahra atau Rara, si putri sulung yang bersedia membantu saya menyukseskan PJJ adiknya dan insyaallah juga PJJ anak-anak lainnya. 

PJJ Oh... PJJ

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) masih terus berlangsung di tahun kedua masa pandemi ini. Meski telah dirilis beberapa hasil penelitian dari para pengajar maupun pihak terkait tentang faktor-faktor penghambat suksesnya kegiatan PJJ, yang bersumber dari banyak pihak seperti pemerintah, pihak sekolah, guru, siswa, dan orang tua siswa. Nah, masing-masing orang tua pasti punya drama khas tentang PJJ anaknya.

Bersama anak tetapi tidak membersamainya

Ini adalah kegelisahan saya, ketika dengan penuh semangat menggugah anak untuk mengerjakan PR, membaca buku pelajarannya, memperhatikan dengan saksama bimbingan dan arahan dari gurunya. Tetapi sayang itu hanya di waktu awal PJJ saja. 

Selebihnya hanya bertindak sebagai pemadam kebakaran. Ketika anak mempertanyakan materi ajar yang ia kurang mengerti, saya pun berusaha menerangkannya. Saya ada bersamanya, namun membuka laptop untuk mengerjakan pekerjaan rutin saya, mengajar daring, memberikan penilaian, menyusun laporan penelitian dan pengabdian masyarakat, dan lain-lain, yang bukan PJJ anak.

Saya ada bersamanya namun tidak membersamainya. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab inefektivitasnya proses pembelajaran melalui PJJ, yaitu dari sisi orang tua siswa. Tidak memiliki waktu yang cukup untuk mendampingi anaknya PJJ.

Lalu saya jadi teringat kalimat bijak sekaligus menohok dari Einstein, suatu kegilaan adalah: 
Doing the same thing over and over again and expecting different results

Mengharapkan anak bisa sukses belajarnya dengan PJJ namun melakukan dukungannya tidak optimal karena alasan kesibukan pekerjaan, suami juga demikian, dan itu berulang terus. Bagaimana bisa kami memimpikan hasil PJJ yang bermutu jika cara yang dilakukan untuk meraihnya begitu-begitu terus. Statis, setor PR selesai

Maka hal ini tidak bisa didiamkan begitu saja. Harus ada gebrakan untuk sampai pada satu kesadaran, di mana orang tua mau dan mampu mengalokasikan waktunya mendukung PJJ anak dengan terlibat secara langsung.

Dasar Pemikiran Mengajak Orang lain


Adapun dasar pemikiran saya mengajak orang lain untuk membangun tim, berawal dari hasil pengamatan terhadap anak sendiri yang mulai jenuh dengan PJJ. 

Selanjutnya, mengidentifikasi masalahnya terlebih dahulu. Apa saja yang dianggap faktor penyulit terlaksananya PJJ dengan lancar.

Setelah itu melihat keluar, memperhatikan komentar-komentar para ibu di media sosial yang dipusingkan juga dengan PJJ anak.

Persoalan ini harus direncanakan dan dikomunikasikan bersama tim yang terdiri dari saya dan anggota. Sementara ini saya sudah memiliki putri sulung sebagai anggota I, namun tidak menutup kemungkinan jika ada ibu lain yang berminat ikut menjadi bagian dari tim kami, insyaallah kami akan jadi tim yang solid.

Butuh terhadap yang menguasai manajemen waktu

soft skill and hard skill

Bagaimana pun manajemen waktu memiliki peranan penting dalam menyukseskan PJJ anak. Di tim kami Alhamdulillah saya sudah punya anggota I yang pintar menggambar, bisa buat komik untuk menambah daya tarik menyampaikan pesan-pesan PJJ. Satu lagi untuk piawai pula memanajeri jadwal-jadwal dalam program tim.

Pembagian tugas di dalam tim

job description

Sebuah tim yang solid mestilah memiliki role and task yang jelas. Sehingga tidak ada yang terbebani tugas terlalu banyak lalu yang lain cenderung tidak punya tanggung jawab. Sebagai ketua tim saya mengkoordinasi terlaksananya seluruh program, mulai dari perencanaan, hingga tahap evaluasi nantinya.

Anggota I dan II akan bekerja sesuai dengan softskill dan hardskill yang dimilikinya. Jadi tidak ada pemaksaan kehendak atau menjadi beban yang memberatkan, semuanya dilakukan sesuai passion masing-masing.

Kesimpulan

Menuju solusi dengan membangun tim adalah sebuah proses memecahkan masalah. Untuk sampai pada jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi tidak tergesa-gesa, namun berusaha untuk mencintai hadinya masalah terlebih dahulu. 

Mudah-mudahan tim kami nantinya menjadi tim yang solid, mampu menjawab tantangan dari kondisi PJJ di saat ini, syukur-syukur mampu pula menjadi inovator sosial di bidang ini. Amin.

Salam ibu pembaharu!






13 komentar untuk "Menuju Solusi Dengan Membangun Tim "

  1. Kegiatan PJJ ini memang menghadirkan masalah tersendiri bagi anak dan orang tua. Bahkan mungkin juga para guru dan pihak sekolah.
    Menanti hasil kerjasama dari tim nya nih. Semoga kami di daerah bisa tercerahkan dan dapat solusinya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yupss doakan ada kabar gembiranya ya Teh...

      Hapus
  2. Dari awal saya sudah tergugah:
    jangan buru menyelesaikan masalah, jatuh cintalah pada masalahmu agar nantinya sungguh-sungguh dalam menemukan solusinya.

    Artinya menerima dan ikhlas dengan masalah kita, setelah itu fokus pada penyelesaiannya.

    Menariknya, penyelesaiannya diajak agar bisa komunal, jadinya lebih bersemangat dan bisa saling menyemangati ya, Mbak Mia. 😍

    BalasHapus
  3. Iya ya. Menemani anak belum tentu menjadi teman bagi anak dalam menjalankan aktivitas mereka. Walau saya belum mencicipi sensasi keribetan PJJ namun ada saja masa dimana saya menemani si kecil bermain namun nggak menjadi teman sepenuhnya karena malah disibukkan oleh urusan pekerjaan.

    BalasHapus
  4. Wah keren bgt mbak Mia, bisa punya Tim buat menyelesaikan masalah bareng2. Auto deg saat membaca kalimat "jangan-jangan buru menyelesaikan masalah, jatuh cintalah pada masalahmu agar nantinya sungguh-sungguh dalam menemukan solusinya". Memang ya PJJ jd polemik semua orang, dg adanya tim bisa saling bantu memecahkan akar masalahnya

    BalasHapus
  5. Yang penting memang manajemen waktu ya mbak mia. Apalagi ketika ibu bekerja, anak butuh pendampingan belajar. Duh rumit yg ada pastinya kalau ga ada manajemen waktu

    BalasHapus
  6. Dilema ibu-ibu bekerja. Dijalani saja uni, insya Allah membawa berkah untuk keluarga. Anak-anak juga semakin besar, dan mereka juga pasti mengerti. Senang banget kalo bisa curhat ke teman-teman yang punya problem sama ya uni. Semoga timnya solid.

    BalasHapus
  7. Pelajaran bagi saya ke depannya nih, menemani anak belajar sebaiknya tidak setengah2 ya kak, kita pun lebih baik turut serta membantu mereka memberikan solusi dalam PJJ ini

    BalasHapus
  8. Sukses ya kak dengan tim dan programnya. Semoga bisa punya ide solusi jitu tuk atasi drama² PJJ seperti sekarang

    BalasHapus
  9. Pjj ini memang membuat resah. Meskipun saya blum memiliki anak usia sekolah rasanya ikut emosi melihat ponakan2 yang memgalaminya. Anak justru lebib uringwan dan lebih malas. Membangun kelompok ini sepertinya memamg bisa mnjadi solusi

    BalasHapus
  10. semangat kak mia! emang di masa begini semua butuh fokus, tapi anak juga perlu didampingi ya kak. Alhamdulillah kak mia dan suami smoga slalu menjadi tim yg solid bagi keluarga kak mia hehe. kebayang kami aja dirumah 2 yg PJJ pegel juga liatnya, semua mau diperhatikan hehe

    BalasHapus
  11. masyaAllah keren kak. Semoga rim nya solid terus ya kak.
    Insyaallah PJJ ini akan bisa dilalui dengan baik dan kita jadi lebih punya waktu dengan anak bersama tanpa drama PJJ. Tapi liburan dan relax dengan anak setelah covid selesai

    BalasHapus
  12. Semangaatt timm! hehe.. saya belum pernah ngerasain anak PJJ sih tapi ngebayangin dan banyak melihat teman2 lainn juga rasanya tuh menguras energi sekali ya kak mia. Semangatt !

    BalasHapus

Pesan dimoderasi, terima kasih telah meninggalkan komentar yang santun. Sebab bisa jadi Anda dinilai dari komentar yang Anda ketikkan.