Kado Paling Mengena Di Hati

Foto saya dan almarhumah ibunda, 2002
Kamis lalu saya ke rumah orangtua di kawasan Medan bagian utara. Tujuannya ingin pijat dengan tukang urut tetangga beda blok. Ibu berusia lima puluh tahunan yang biasa kami sapa, Mak Arif. Perawakannya kecil tapi kalau sudah memijat, masyaAllah semua capek-capek sepertinya langsung lenyap, berganti dengan tubuh yang segar, seakan terisi energi baru.

Bukan tidak ada tukang kusuk (istilah orang Medan menyebut pijat atau urut), di sekitar rumah saya. Tapi yang seperti Mak Arif ini jarang sekali dijumpai. 'Ngusuk' itu tak hanya sejam atau lebih. Tetapi tiga jam! Seringkali saya alami, tukang kusuk selain dia seolah ingin selalu cepat selesai. Kegiatan mengusuk akhirnya sekadar pegang sana sentuh sini, tidak bisa dirasakan penjiwaannya. Jiah, ternyata memijat mesti pakai penjiwaan segala ya.

Akhirnya setelah bayi saya pun selesai dipijat, kami permisi pulang pada adik saya yang tinggal di rumah. Dengan santainya ia menyodorkan sebuah bingkai foto berplastik ke saya. "Apa ini?", sambil menerima kantong kresek transparan itu saya bertanya. "Lihat sajalah.", jawabnya membuat rasa ingin tahu saya mendadak naik maksimal. Dan taraaaa! Dua lembar foto yang saya cari-cari selama ini sampai membongkar lemari!

Foto saya dan almarhumah ibunda di tahun 2002. Waktu itu ibu mengunjungi saya yang sedang kuliah di Yogyakarta. Mengenang waktu kami di Medan dahulu sering jalan bersama cari bahan baju ke Pajak Ikan Lama, ke Puspa (Pusat Pasar/Sentral) atau sekadar ke pasar tradisional berdua, saya pun mengajak ibu ke Mal Malioboro. Waktu itu jam operasional mal baru saja buka satu atau dua jam. Masih sepi pengunjung.

Melihat ada 'photo box', iseng saya mengajak ibu foto bareng. Saya tahu ibu itu orangnya suka mencoba hal baru. Dengan senang hati beliau ikut berfoto. Hasilnya bisa dilihat di gambar yang saya lampirkan ini. Ah, adik saya memang kreatif. Caranya mengembalikan foto yang sudah lama membuat saya penasaran terselipnya dimana, unik sekali. Kalau foto digitalnya sih ada di Facebook ini juga. Tapi rasanya tetap ingin menyimpan versi cetaknya.

Dibingkai indah dengan warna kuning cerah perlambang kehangatan dan keceriaan. Persis serupa dengan sifat orang yang berfoto dengan saya ini. Ada sedikit kerusakan, mungkin karena lama tertindih foto lain, disiasatinya dengan meletakkan kain flanel berbentuk 'love'. Seolah ingin mengatakan, kado inilah yang paling mengena di hati.

Salam literasi

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Kado Paling Mengena Di Hati"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel