Kesan dan Kendala Menggunakan Google Classroom

Sumber gambar: Google
1. Kesan Terhadap Google Classroom

Saya memutuskan bergabung di kelas Institut Ibu Profesional di akhir tahun 2017 lalu. Setelah melihat postingan status Facebook teman sepengajian saya dahulu. Seingat saya sempat memperoleh dan mengisi Google form-nya dua kali. Alhamdulillah dapat diinvite juga ke kelas pra matrikulasi. Setelah melaksanakan kewajiban memahami Code of Conduct di WAG dan mentransfer kewajiban investasi sebesar seratus ribu rupiah, saya pun tergabung ke dalam kelas matrikulasi yang sekarang.

Ini adalah kelas daring keenam yang saya ikuti. Pertama,  Wonderful Writing Class (WWC) bersama Cahyadi Takariawan, kedua, pelatihan online membuat buku ajar dengan narasumber Dr. Ngainun Naim. Kelas ketiga, menulis efektif yang diasuh oleh Ibnu Wahyudi, dosen FPIB UI. Kemudian kelas online menulis artikel untuk jurnal internasional yang diampu oleh Dr. Nurmala, dan yang sedang saya ikuti (kelasnya belum berakhir), menulis dari nol hingga jadi buku, oleh. M. Husnaeni. Kelas-kelas online kedua sampai kelima, semuanya diselenggarakan oleh Dr. Amie Primarni, sejawat yang mendirikan grup FB Dosen Menulis. Kelas-kelas tersebut diadakan di WAG dan Telegram.

Uniknya, dari sekian kelas yang telah saya ikuti, baru kelas Matrikulasi IIP Batch 5 ini yang menggunakan fasilitas aplikasi Google Classroom. Hal ini merupakan sesuatu yang menarik dan mutakhir bagi dunia belajar secara online yang saya rasakan. Telah lama aplikasi Google Drive menganggur di ruang HP saya tanpa tahu cara mengoperasikannya dengan benar. Dengan adanya kelas ini menjadikan optimal aplikasi yang sudah tersedia di gadget saya.

Adapun kesan saya terhadap Google Classroom, sudah saatnyalah memang memakai aplikasi ini. Membuka ruang kelas di GC dengan sistem pemberian materi dan penugasan paperless dan terpadu. Meski saya masih di speed duapuluh (kalau naik kendaraan, masih sangat lambat), tapi dengan belajar bersama rekan-rekan yang lain, dipandu fasilitator Kak Novita Ratna Dewi dan ketua kelas yang terpilih, insyaAllah menambah semangat dan motivasi untuk terus meningkatkan kemampuan diri, memberantas gaptek yang biasanya lekat pada ibu-ibu.

Walaupun sehari-harinya saya berprofesi sebagai dosen PNS Kopertis yang ditempatkan di PTS, tidaklah menjadi jaminan saya selalu update dengan perkembangan aplikasi belajar dewasa ini. Pengetahuan saya tentang kuliah online baru sedikit. Sebatas mengirimkan email tugas-tugas, mengunggah dan mengunduh materi. Masuk ke tautan Materi Channel di Telegram, menscanning barcode Whatsapp Web dan Telegram Web di PC. Masih jauh ketinggalan dibandingkan teman-teman yang lain.

Semoga kedepannya saya bisa mengikuti dengan baik semua materi yang diberikan di GC Matrikulasi IIP Batch 5 ini. Tidak telat memenuhi tenggat waktu penyetoran tugas, hadir dalam kelas WAG dan berpartisipasi aktif, berproses bersama kawan-kawan. Visi kami sama yaitu menjadi ibu profesional yang bisa memberikan pengasuhan terbaik bagi anak-anak, dan jadi istri yang salehah pula bagi suami.

2. Kendala Yang Dihadapi Dalam Menggunakan Google Classroom

Adapun kendala yang saya hadapi dalam memakai GC adalah kurang paham letak ruang berbagai macam fitur yang terdapat di dalamnya. Barangkali karena GC saya tersetting bahasa Indonesia sedangkan tutorial yang dibagikan di WAG dengan istilah berbahasa Inggris.

Meski mengerti sedikit namun tetap belum memahami seluruhnya, mungkin karena belum terbiasa menggunakannya. Kata ibu saya, pepatah mengatakan, ala bisa karena biasa. Mudah-mudahan untuk waktu-waktu selanjutnya saya sudah mahir menggunakan GC ini hingga dapat memenuhi semua tugas yang diinstruksikan.

Satu hal teknis lainnya, kondisi saya yang masih merawat anak keempat kami usia tujuh bulan, membuat saya jadi lebih nyaman menulis menggunakan HP. Sementara tampaknya, menulis di laptop lebih dianjurkan agar bisa cepat menguasai seluk beluk GC ini.

Syukurnya teman senasib saya banyak di kelas. Bahkan ada yang hamil besar akan melahirkan, ada yang dalam masa nifas, ibu bekerja yang sedang punya bayi seperti saya, sesama ibu menyusui ASI Ekslusif, ibu dengan anak lebih dari satu, dan lain-lain. Kesamaan kondisi ini sepertinya menyatukan kami secara emosional. Demi satu tujuan, menjadi ibu profesional.

Salam literasi

#Matrikasi IIP Batch 5
#Sumatera Utara
#Institut Ibu Profesional
#IIP

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Kesan dan Kendala Menggunakan Google Classroom"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel