Pengalaman Menerapkan Diet Yang Aman

Sumber foto: dok. pribadi
Dua pekan pertama di tahun 2015 lalu saya menjalani satu macam diet yang sudah cukup terkenal di Indonesia, bahkan di dunia, yaitu diet Mayo. Berbekal membaca testimoni yang dibagikan teman di Facebook, saya mulai menelusuri seluk beluk tentang diet Mayo di belantara internet ini.

Diet Mayo adalah program penurunan berat badan dan gaya hidup yang dikembangkan berdasarkan penelitian klinis dan pemantauan rinci oleh para ahli kesehatan Mayo Clinic, yang berpusat di Minnesota, Amerika Serikat. Pendekatan yang digunakan metode program penurunan berat badan diet Mayo berbeda dibanding metode lainnya. Karena diet Mayo mengutamakan pendekatan untuk membantu meningkatkan kesehatan dan mempertahankan berat badan jangka panjang. Demikian penjelasan yang diperoleh dari Dietsehat.co.id.

Menurut laman online Resephariini.com, diet Mayo dilakukan dengan cara tidak mengonsumsi makanan yang mengandung garam. Jenis diet ini dipercaya mampu menurunkan berat badan 7 sampai dengan 13 kilogram selama tigabelas hari.

Berdasarkan pengalaman empiris saya sendiri, memang benar sebagaimana yang dipublikasikan sumber daring di atas. Dengan pengaturan pola makan ketat dan tidak menyimpang sedikit pun dari menu makanan diet Mayo, hari pertama saja berat badan saya turun dua kilogram. Tentu saja hal ini menambah motivasi saya untuk disiplin dalam menaati pantangan dalam diet.

Daftar Menu Diet Mayo
Sumber: Google

Tentunya diet jenis apapun yang dipilih, mestilah diiringi dengan work out atau olahraga. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, tak cukup berbekal pengaturan pola makan (diet) yang sehat semata. Perlu diimbangi dengan aktivitas fisik. Apalagi penurunan berat badan membawa dampak tersendiri bagi kulit jika tidak dibarengi dengan olahraga.

Alhamdulillah pengalaman saya menjalankan diet Mayo tiga tahun lalu berhasil membawa efek positif bagi penurunan berat badan saya. Selama 13 hari disiplin menahan godaan dari aneka cemilan, gorengan, dan makanan yang di luar menu diet Mayo. Ajakan suami untuk nongkrong malam mingguan di gerobak sate Padang langganan kami pun berhasil saya lewati.

Kalau ingat masa itu saya tersenyum sendiri. Waktu itu, saya cuma bisa menyaksikan saja suami dan anak-anak menikmati sate kesukaan keluarga itu dengan lahapnya. Yang saya lakukan banyak minum air putih. Hari keempatbelasnya, saat diet berakhir sehari sebelumnya, saya merdeka, bebas dari aturan menu yang mengikat. Ditambah lagi demi melihat jarum timbangan yang bergeser ke kiri sebanyak enam angka, saya gembira sekali. Muka juga kelihatan lebih kinclong sebab tiap hari melalap sayuran mentah atau direbus sejenak.

Setahun pascadiet Mayo, saya menjalani pengaturan pola makan dan mencoba mengikuti pedoman gizi seimbang untuk mempertahankan kebiasaan makan yang baik. Lalu saya dan suami sepakat menambah anak lagi, yang keempat. Alhamdulillah doa diijabah begitu ikhtiar menjalani pola hidup sehat dilaksanakan. Setelah membuat tubuh "bersih", dengan  kebiasaan hanya memakan "clean food", anugerah itu pun diberi.

Kini, delapan bulan pascapartus, saya belum menerapkan lagi diet apapun. Meski teman-teman yang baik hati berbagi info soal konsumsi herbal yang dapat dengan cepat menurunkan berat badan dan jenis diet rendah karbo yang sedang populer, untuk saat ini sebelum bayi saya genap berusia dua tahun, tampaknya saya belum berkomitmen apa-apa dalam hal penurunan berat badan.

InsyaAllah, setelah si putra bungsu ini lulus menjadi "doktor" ASI, saya akan memulai diet yang tepat bagi tubuh saya. Idealnya sebelum menentukan jenis diet, ada baiknya berkonsultasi dengan dokter. Untuk mengetahui aman tidaknya penerapan diet tersebut bagi tubuh kita. Hmm, jadi tidak sabar ingin diet lagi.

Salam literasi

Tantangan #SatuHariSatuKaryaIIDN
Hari ke-8

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Pengalaman Menerapkan Diet Yang Aman"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel