Biarkan Ia Matang Dahulu

Sumber foto: Dok. Pribadi



Membaca tulisan Fitra Wilis di laman Facebook yang dibagikan sampai hampir enam ribu pembaca, sangat menarik. Mengenai pengalamannya yang menyekolahkan si sulung dalam usia belum sampai enam tahun (5 tahun 11 bulan). Kemudian dibandingkan dengan putra keduanya yang masuk SD pada usia 6 tahun 11 bulan, nyaris genap tujuh tahun, sesuai ketentuan yang ditetapkan peraturan SD negeri.

Ada beberapa perbedaan cara menyikapi tantangan awal bersekolah di SD oleh anak pertama dan keduanya. Yang pertama tampak khawatir menghadapi suasana kehidupan sekolah. Takut bila belum mengerjakan PR, kalau-kalau dimarahi guru, dikomentari teman-teman, dan sebagainya. Sementara anak yang kedua cenderung santai menghadapi berbagai masalah di sekolah. Bahkan ketika di-bully teman sekelasnya, ia cuek saja membalas dengan kata-kata yang jitu hingga si perundung terdiam.

Mengapa anak bisa berbeda dalam cara menyikapi tantangan yang timbul di sekolahnya? Ditelaah hal ini ada relevansinya dengan kematangan usia saat anak masuk SD. Hal-hal terkait dengan kesiapan menghadapi beban PR, memahami instruksi guru, berinteraksi dengan teman-teman, pertumbuhannya dibentuk oleh usia. Ibarat kata, usia tidak bisa bohong.

Dunia anak prasekolah adalah bermain dan bermain. Jika terlalu dini memasukkan anak ke SD padahal ia masih belum bisa terlepas sama sekali dari hobi mainnya, sudah pasti tidak ada minat dalam kelas. Orang tua menyekolahkan anak ke SD lebih awal terkesan seperti ikut perlombaan. Memangnya berkompetisi dengan siapa, sih?

Tiap keluarga berputar di poros waktunya sendiri-sendiri. Kemukakan alasan dengan jelas jika ada anggota keluarga atau kerabat yang mempertanyakan mengapa anak usia lima tahun setengah belum didaftarkan ke SD. Malah mestinya bangga, sebab sudah tahu ilmu psikologi soal usia yang pas anak masuk SD. Mereka yang tak setuju, terserah saja, hidup adalah pilihan.

Kala anak dikarbit masuk sekolah, sebenarnya orang tua telah merenggut 365 harinya belajar di rumah. Mempelajari hal-hal yang mendukungnya untuk pandai beradaptasi dengan kehidupan sekolah. Jadi, sebaiknya anak-anak dimasukkan SD hampir penuh berusia tujuh tahun, lebih boleh, kurang jangan. Jika sudah telanjur, jangan mengulangi kembali kesalahan yang sama pada anak berikutnya. Jangan paksa pertumbuhannya, biarkan ia matang dahulu.

Salam literasi
Tantangan #SatuHariSatuKaryaIIDN
Hari ke-13

Berlangganan update artikel terbaru via email:

2 Komentar untuk "Biarkan Ia Matang Dahulu"

  1. Makasih tulisannya Bun, jadi teringat.
    Alhamdulillah, ketika di TK saya tidak memberikan target anak dalam kemampuan koognitifnya. Tujuan utama adalah bersosialisasi. Dan masuk SD pun Insyaa Allah sesuai Umurnya.

    BalasHapus
  2. Sama-sama, Bunda Tri Nirmala. Selamat ya... telah memberikan anak kesempatan utk lebih matang belajar dulu sama bundanya di rumah.
    Makasih sdh berkunjung dan berkomentar. Salam kenal ya.

    BalasHapus

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel