Sudah Tabiat

Sumber gambar: Tokopedia.com
Maghrib itu kami singgah di sebuah mesjid di tengah kota. Bergantian, setelah suami dan anak lelaki selesai shalat, maka saya dan gadis cilik pun turun dari mobil menuju tempat berwudhu. Sementara si bayi sepuluh bulan dijaga ayah dan abangnya.

Sembari saya mengambil air wudhu, Ririn putri saya buang air kecil di kamar mandi. Saya pun menunggu di luar sambil menanyakan apakah ia memerlukan bantuan. "Nggak, Mi... Adek bisa sendiri, koq", jawabnya. Lalu saya pun tetap menunggu di luar. Tak berapa lama Ririn pun keluar dan kami bersama-sama memakai sandal yang sebelumnya dilepas. Sebab ada tulisan besar-besar di toilet wanita, ALAS KAKI HARAP DILEPAS.

Saat kami beranjak keluar dari tempat wudhu' itu, masuklah seorang gadis kira-kira jelang duapuluh, dengan santainya menginjakkan kaki lengkap dengan sandalnya ke atas ubin tempat berwudhu' yang kesat bersih itu. Belum sempat ide saya terlintas untuk memperingatkannya, sosoknya telah hilang di balik pintu kamar mandi. Agaknya ia hanya perlu buang air, tidak hendak mengambil air wudhu'.

Mengingat waktu shalat yang terus berjalan, dan ayah Ririn pun menunggui Baby Ocean di mobil, kami bergegas menuju mesjid bagian jamaah perempuan. Selesai shalat sambil berjalan menyusuri taman mesjid menuju area parkir, Ririn bertanya banyak pada saya.

"Mi, kakak tadi itu koq gak baca ya... gak boleh bawa selop ke tempat wudhu'. Padahal ada tulisannya tuh besar-besar ALAS KAKI HARAP DILEPAS. Gak mungkin, kan, Mi... kakak itu gak pandai baca. Soalnya kan udah gede."

Benar perkiraan saya, pasti ini tidak terlewatkan dari perhatian putri kami ini. Orangnya kritis dan penuh atensi pada lingkungan sekitarnya. Abangnya menyisakan makanan di piring saja diingatkannya. Atau Umi yang terkadang lupa, masih pegang gadget padahal azan sudah berkumandang, ia protes. Sebab Umi yang membuat aturan, semestinyalah konsisten menerapkan disiplin.

"Mungkin kakaknya terburu-buru, Dek... jadi gak sempat membaca papan tulisan itu", jawab saya sambil memperhatikan reaksinya.

"Gak bisalah, Mi... kakak itu pasti baca karena kan dari jauh aja udah kelihatan koq tulisannya. Nih, kita dari tempat parkir gini aja nampak koq," tunjuknya.

"Alhamdulillah, yang penting Ririn dan Umi gak bawa sandal ke tempat wudhu' ya. Gak usah ikut-ikutan kakak itu ya. Ririn anak baik, anak salehah," jawab saya sekenanya.

"Iya, Mi... tapi kasian uwak-uwak yang jaga kebersihan mesjid. Harusnya udah bersih, jadi kotor lagi." Ujarnya lirih sambil memperhatikan dari jauh, bapak setengah baya yang tampak sedang menyiram-nyiramkan air ke lantai bagian wudhu' pria.

Ah, Nak... banyak yang belum bisa engkau mengerti. Tentang sulitnya menegakkan peraturan di negeri ini. Bahkan untuk hal kecil semacam melepaskan alas kaki ke tempat wudhu mesjid.

Bahwa ada beragam faktor yang menyebabkan mengapa orang begitu sepelenya melangkahi aturan. Salah satunya soal tabiat, Nak. Boleh jadi orang tuanya telah bersungguh-sungguh mendidik dan mengajarinya bersikap yang baik serta benar.

Mungkin juga ia telah mengikuti pendidikan di sekolah dengan baik. Namun apa hendak dikata jika jiwa pembangkang telah bersemayam cukup kuat dalam dirinya, hingga mendarah daging dan menjadi tabiat dirinya.

Apapun tak bisa lagi mempengaruhinya. Kata orang tua zaman dahulu, sudah tabiat, tak akan bisa diubah lagi meski dikemas dengan metode pendidikan paling modern sekalipun.

Kecuali ia sendiri yang ingin mengubahnya. Perubahan yang bermula dari dirinya sendiri. InsyaAllah bisa.

Salam literasi
Medan, 15 April 2018



Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sudah Tabiat"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel