Melepas Titipan Ke Tepian Lautan Kehidupan

Sumber foto 1: dok. pribadi

Sumber foto 2: Rita Audriyanti




Membaca buku ini saya seperti diajak menyelami perasaan penulis. Seorang ibu dengan tiga orang buah hati, Rita Audriyanti atau yang biasa kami sapa Bunda Rita. Penulis produktif yang telah menghasilkan puluhan antologi dan lima buku solo. Buku ini mendeskripsikan dengan rinci seakan-akan pembaca berjalan-jalan mengelilingi Kota Melbourne, Australia.

Diceritakan dalam buku bahwa kalau kedua anak sebelumnya juga berkuliah di Melbourne namun tidak sebaper mengantarkan anak yang ketiga ini. Tentu saja berbeda, sebab saat melepas anak pertama, masih ada putri kedua dan putra ketiga. Giliran kakaknya berangkat, masih ada yang nomor tiga. Nah, akhirnya si bungsu pun pergi, tinggallah Bunda Rita dengan Pak Suaminya. Menjalani hari demi hari mirip saat-saat baru menikah, belum mempunyai anak.

Sesekali imajinasi dimanjakan seolah melihat aneka bunga subtropis yang menghiasi depan rumah penduduk. Sharing pengalaman orang-orang Indonesia yang menetap di sana, sampai tentang disiplinnya penerapan aturan di negara itu dalam bab "High Trust Society."

Namun yang paling menyita perhatian adalah kala pembaca ikut merasakan huru-haranya kondisi hati seorang ibu. Khawatir tentang lokasi tempat tinggal si bungsu yang berada di kawasan pernah rawan keributan sosial dalam bab "Noble Park Horor". Atau gundah penulis yang mengharu-biru saat pesawat yang membawa mereka kembali ke Kuala Lumpur lepas landas meninggalkan putra terakhirnya di negeri Kangguru, menapaki anak tangga kehidupan, melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Menjadi seorang pilot.

Tak bisa saya hindari turut pula terharu di saat membaca bab "Iqamat Yang Tersendat", tugas terakhir dari si bungsu. Ya Rabb, syahdu sekali. Keluarga modern yang duapuluh tahun tinggal di luar negeri namun tetap diikat dengan kebersamaan keluarga, dalam ketaatan beragama pula. Shalat berjamaah menjadi perekat hati bapak, mama dan si bungsu.

Air mata saya justru semakin menderas saat di bab "Aku, Shower, Dan Air Mata", mengeja pesan si bungsu pada bab "Pulang Bersama Bintang". Terharu betapa kentalnya kasih sayang antara mereka. Ia dibekali orang tuanya dengan tiga pesan istimewa dalam bab "Pesan Bapak: One Step At A Time" dan tentunya segudang kasih sayang.

Saya membayangkan sedang membaca pesan dari anak sendiri. Kalau saya yang membaca saja bisa demikian bergemuruh bagaimana pula perasaan Bunda Rita yang mengalaminya langsung ya?

Saya yang setahun ini melepas anak sulung lulusan SD untuk belajar di pesantren saja, merasakan sedihnya berpisah rumah. Padahal pondok terletak masih di dalam kota. Kami mengunjunginya setiap minggu! Apalagi beda negara dan tak bisa sering-sering menengok anak, waduh sanggup tidak ya.

Memang susah diuraikan perasaan seorang ibu yang biasanya setiap hari bertatap muka dengan anaknya. Dari bangun tidur sampai tidur lagi. Memasakkan kesukaannya, makan bersama, menyaksikan kelucuan dan kekonyolannya, curhat tentang keseharian, dan shalat bareng.

Lantas semuanya hilang seketika. Tentunya perlu proses untuk beradaptasi. Menata hati bahwa anak pun butuh melanjutkan pendidikan guna menggapai cita-citanya. Suatu hal yang orang tua idamkan juga.

Saya salut dengan hebatnya sikap penulis yang mampu bangkit kembali dari rasa kehilangan momen-momen kedekatan secara fisik dengan putranya. Penulis berdialog dengan dirinya sendiri. Tambah usia semestinya bertambah bijaksana, semakin dewasa dalam bersikap.

Malu jika tidak mampu mengendalikan diri sendiri. Meyakinkan diri bahwa anak juga perlu meraih impiannya. Toh juga untuk waktu yang sementara. Meski dipahami pula bahwa tahap selanjutnya jika anak telah menuntaskan pendidikannya, ia tentunya berencana membina mahligai rumah tangga.

Jadilah mengantarkan anak kuliah sama seperti melepasnya ke tepian lautan kehidupan. Meski tahu anak itu sejatinya adalah titipan dari Sang Pencipta-Nya, orang tua harus yakin bahtera yang dilepas itu akan kembali suatu hari nanti.

Seorang ibu yang mengandung, melahirkan dan membesarkanq, harus memiliki hati yang selesai dalam melepas buah hatinya. Untuk sampai pada hati yang demikian, semestinya menyiapkan mental sebaik-baiknya, bahkan jika anak telah merampungkan pendidikannya, dan akan berlayar kembali menuju fase kehidupan yang berikutnya pula.

Senang sekali memperoleh buku ini langsung dari penulisnya. Tiap babnya ditulis tidak panjang-panjang, sehingga jadi sangat ringan dibaca. Istimewanya, tiap bab selalu diawali dengan quote demi quote yang inspiratif. Relevan dengan peristiwa atau keadaan yang digambarkan pada masing-masing bab.

Terima kasih sudah mau membagikan pengalamannya ya, Bunda Rita. Buku ini sangat bermanfaat bagi orang tua khususnya ibu yang akan melepas titipan-Nya ke tepian lautan kehidupan. Pas juga dibaca anak-anak yang akan meninggalkan ibunya untuk merantau dalam menggapai cita-citanya. Siapa saja yang ingin belajar memiliki hati yang selesai, seperti yang telah berhasil diraih sang penulis.

Salam literasi
Medan, 10 Juni 2018


Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Melepas Titipan Ke Tepian Lautan Kehidupan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel