Parenting, Ibadah Kolaboratif Suami Istri

Sumber foto: dok. pribadi
Membaca buku "5 Guru Kecilku" karangan Kiki Barkiah saya langsung teringat anak-anak saya. Meski saat ini guru kecil Teh Kiki sudah ada enam orang, namun saya yakin, isi buku ini akan selalu relevan dalam memecahkan persoalan seputar pengasuhan anak. Bagi saya buku ini menjadi semacam evaluasi terhadap model pengasuhan yang selama ini diterapkan ke putra-putri kami.

Rasanya memang masih jauh dari ideal, komitmen dan kerjasama saya dan suami sebagai orang tuanya terus menerus dikuatkan. Jika misalnya dalam berjalannya proses, yang satu kurang bersemangat, maka satu laginya memberikan spirit. Demikian pula sebaliknya.

Begitu seterusnya mengingat iman saja ada masa-masa yazid wa yanqus-nya. Ada waktu-waktu up and down, sekalipun untuk urusan pengasuhan buah hati. Ya, karena kita masih disebut manusia, ada potensi "taqwa" (positif) dan "fujur" (negatif) di dalam diri.

Maka menjadi sesuatu yang menyedihkan saat mengetahui berita seorang ibu kandung tega membunuh kedua anaknya. Kabarnya si ibu depresi sebab mengidap penyakit yang lama tak kunjung sembuh. Bukankah saat didera sakit kita diminta untuk bersabar. Meski mencapai sabar tidak semudah mengucapkannya.

Namun terlepas dari alasan pribadinya, satu hal yang pantas dipertanyakan. Bagaimana dukungan sang suami saat istrinya mengalami keputusasaan. Rasa sakit, lelah, gelisah dan kesedihan pastinya memerlukan pendampingan dari orang terdekat, yaitu pasangan.

Sudah selayaknya pasangan tak hanya bersama-sama dalam suka namun juga saat duka. Dengan kebersamaan tentunya masalah yang ada akan bisa diurai sampai ke akarnya. Suami juga dapat mendeteksi perubahan sikap istri yang menjurus ke hal membahayakan nyawa anak-anak maupun istri sendiri.

Lulusan ITB yang berkhidmat menjadi ibu rumah tangga ini menegaskan dalam bukunya, bahwa penerapan pengasuhan yang baik pada buah hati tidak terlepas dari kondisi rumah tangga orang tuanya. Jika relasi yang dibangun antara suami dan istri penuh dengan kehangatan, maka akan menyuburkan kasih sayang di antara keduanya.

Penting mengekspresikan cinta di antara keduanya. Sebab hal sederhana namun diungkapkan dengan cinta, mampu mengurai kepenatan, melepas kelelahan, serta mengalirkan zat anti-depresan. Ayah dan ibu yang bahagia, akan siap menghadapi berbagai macam tantangan yang muncul dalam kehidupan rumah tangganya, khususnya yang timbul di dalam pengasuhan buah hati.

Dari pernikahan yang penuh cinta kasih inilah tercipta rumah tangga harmonis, anak-anak akan aman dan nyaman berada di dalam pengasuhan ayah dan bundanya. Tentunya diperlukan komitmen agar tercapai keluarga yang tentram dan harmonis.

Teori parenting yang kini banyak dipelajari, hanya sebatas teori belaka jika tidak diterapkan bersama-sama antara suami dan istri. Membina rumah tangga merupakan ibadah terlama dan menjadi ladang pahala terbesar bagi suami dan istri. Pengasuhan anak adalah ibadah yang memerlukan kolaborasi di antara keduanya.

Kata kuncinya, sikap orang tua terhadap anak berbanding lurus dengan kesehatan jiwa. Kesehatan jiwa orang tua berbanding lurus pula dengan keharmonisan rumah tangga. Rumah tangga yang harmonis, anak-anak insyaAllah akan berbahagia.

Terima kasih Teh Kiki Barkiah atas sharing kebijaksanaan, perenungan dan pengalamannya. Meski sudah sejak lama mengikuti Teh Kiki di medsos dan berniat membeli bukunya, baru kali ini keinginan saya itu terwujud. Tak diduga, saya mendapat hadiah buku bergizi dari field trip Ibu Profesional (IP) Sumatera Utara ke OIF UMSU bulan Ramadhan lalu.

Setelah mengikuti acara kunjungan, para peserta yang berminat, diminta menuliskan kesan dan pesannya. Alhamdulillah saya termasuk di antara tiga nama yang terpilih. Terima kasih, IP Sumatera Utara. Anak saya mendapat ilmu, saya pun memperoleh buku. Senang sekali.

Salam Literasi

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Parenting, Ibadah Kolaboratif Suami Istri"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel