Adab Menuntut Ilmu

Nice Home Work - Pra Bunsay

Saya menyelesaikan perkuliahan di Institut Ibu Profesional (IIP) April lalu. Ditandai dengan digelarnya acara semacam wisuda, Perayaan Ibu Pembelajar (PIJAR) pada 6 Mei 2018. Setelahnya peserta matriks akan "naik kelas" ke Bunda Sayang (Bunsay).

Di pra kelas Bunsay kembali ditanyakan apa yang dicari oleh peserta kuliah daring. Alasan terkuat memperoleh ilmu di kelas Bunsay. Bagi saya, yang namanya ilmu itu wajib dituntut sampai level mana pun.

Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina, pesan hadits Nabi Muhammad SAW. Tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat, di hadits yang lain lagi.

Meski sebagai dosen saya belum menuntaskan pendidikan saya ke jenjang doktor, saya tetap memupuk keinginan untuk itu. Sembari mempersiapkan hal-hal yang diperlukan kalau suatu saat saya berkesempatan melanjutkan studi. Demikian juga ilmu di kelas Bunsay sebagai lanjutan dari kelas matrikulasi.

Sebagaimana jawaban saya dulunya di kelas awal, yaitu ingin menjadi ibu yang berhasil mengantarkan putra-putrinya mencapai predikat "'anfa'uhum lin naas" yang bermanfaat bagi sesama manusia.

Maka di kelas Bunsay ini pun saya yakin, akan menemukan ilmu untuk mendorong saya menjadi ibu profesional yang tidak hanya mensukseskan diri dalam berproses menjadi ibu, tetapi juga mensukseskan suami dan anak-anaknya.

Adapun strategi menuntut ilmu yang saya laksanakan adalah menerapkannya step by step. Tahu sedikit langsung praktik. Sehingga tidak berkisar di teori semata tanpa ada tingkat kemajuannya pada diri saya dan keluarga.

Ditambah lagi passion menulis saya, biasanya untuk memahamkan materi yang diberikan, saya menuliskannya kembali berdasarkan pengalaman yang saya dapat dari implementasinya.

Perubahan sikap yang akan diperbaiki selama proses menuntut ilmu di kelas Bunsay nantinya, insyaAllah saya akan lebih menyediakan waktu untuk membaca perlahan-lahan materi dan mengusahakan kehadiran dalam diskusi.

Saya akui, menangani empat orang anak (yang bungsu usia setahunan) sendirian tanpa ART, bekerja di ranah publik juga, saya sering kewalahan dalam membagi waktu.

Syukur Alhamdulillah seminggu ini suami tidak lagi bekerja di luar kota. Ia mendapat promosi menjadi Kasubbag di kantor, kota kami. Satu masalah yang selama ini mengganjal hilang sudah.

Saya benar-benar kerepotan empat tahun terakhir menjalani LDR dengan suami tercinta. Apalagi tipe suami saya adalah family man/hot daddy. Suka ambil bagian dalam mengurus anak dan meringankan pekerjaan rumah tangga. Jadi dengan kembalinya ia serumah dengan kami, saya merasa sangat terbantu.

Mudah-mudahan saya dapat menuntut ilmu tanpa mengesampingkan adabnya. Sebab adab itu sendiri berada sebelum datangnya ilmu. Bahkan lebih baik menjadi orang yang beradab daripada menjadi orang berilmu tapi tidak beradab.

Rasulullah SAW sendiri diutus ke tengah-tengah umat manusia untuk memperbaiki akhlak manusia. Setelah itu barulah menyampaikan ajaran-ajaran Allah SWT. So, tetap mematuhi adab agar ilmu yang didapat menjadi berkah. InsyaAllah. Aamiin.

Salam Literasi
Medan, 25 Agustus 2018 Pk. 02.33 WIB
Sesekali terbangun menyusui si kecil.




Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Adab Menuntut Ilmu "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel