Teman-Teman Pengungsi, Bersabar Ya

Sumber foto: dok. Pribadi

"Mi, pengungsi Lombok ada yang gak pulang-pulang ke rumahnya, ya, Mi?" Tanya Royyan saat kami menonton berita tentang korban gempa Lombok di televisi.

"Cemana mau pulang, Bang... rumahnya aja udah pada ancur, tinggal puing-puing. Kasian ya, Bang... " jawab saya sekalian ingin melihat sejauh mana putra nomor dua ini memiliki rasa empati.

"Bingung juga ya, Mi... rumah dah roboh, mau ke tempat sodara juga sama, kena gempa juga... jadinya tetap jadi pengungsilah, ya, Mi?", Sambungnya lagi sekadar meminta pembenaran dari saya.

"Itulah, Bang... semua rasalah jadi satu. Ada yang anggota keluarganya meninggal, hilang, gak punya rumah lagi, sedih ya, Bang..."

"Umi udah nyumbang untuk korban gempa Lombok, Mi?" Tanyanya lagi setelah terdiam sesaat. Alhamdulillah seru saya dalam hati. Anak ini telah memiliki empati terhadap orang yang bukan keluarganya. Tak hanya pada saudara seiman, sebangsa dan setanah air, bahkan sesama manusia.

"Alhamdulillah Umi udah transfer teman kuliah Umi dulu, Bang.. kebetulan teman kami ada juga yang jadi pengungsi." Abang gak ikutan nyumbang? Pancing saya.

"Uang jajan Abang kan sama Umi semua. Umi aja yang ngasihkan ya, tapi jangan banyak-banyaklah... Umi kan udah nyumbang, dari Umi udah samalah itu dari Abang juga, hehe."

"Okee...makasih yaa..", anak Umi punya belas kasihan sama pengungsi rupanya. Kita doakan teman-teman pengungsi di sana senantiasa berada dalam kesabaran dan selalu dalam lindungan Allah SWT. Aamiin.

Royyan menampakkan raut wajah lega. Nak, mari kita asah empatimu agar kelak dewasa kau menjadi orang yang peduli terhadap sesamamu. InsyaAllah.

Salam Ibu Profesional

#day9
#gamelevel1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbundasayang
#institutibuprofesional

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Teman-Teman Pengungsi, Bersabar Ya"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel