Pengembangan E-Modul Mata Kuliah Untuk Tahun Ajaran Baru

Ujian Akhir Semester telah berlalu, pertanda usai semester genap. Saatnya mempersiapkan pembelajaran di tahun ajaran baru 2020/2021.

Senin tanggal 13 Juli 2020 kemarin Fakultas Hukum UMSU bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Kurikulum Pendidikan (LPKP) UMSU menggelar sosialisasi pengembangan e-modul mata kuliah di lingkungan kampus UMSU.

penyusunan e modul
Ilustrasi mahasiswa / istockphoto

Narasumber dari LPKP UMSU, Bapak Hazmanan Khair, Ph.D memberikan penjelasan kepada seluruh team teaching mata kuliah semester 1, 3, 5 dan 7 tentang pedoman pengembangan modul mata kuliah di UMSU.

Hal ini penting dilakukan untuk membangun penyamaan persepsi seluruh dosen yang tergabung dalam team teaching sesuai mata kuliah yang diampu, dalam mengembangkan modul pembelajaran mata kuliah.

Untuk mendukung pencapaian UMSU dalam mencapai visi, misi dan tujuan di bidang pembelajaran. Indikator ketercapaian program e-modul ini dianggap berhasil jika telah tersusun dengan baik modul mata kuliah semester 1, 3, 5, dan 7.

Sistematika Penulisan


I. Halaman depan terdiri dari
Halaman sampul

Sampul luar paling sedikit mencakup: judul modul, nama penulis, ilustrasi gambar yang sesuai dengan Krakteristik judul, tulisan modul, nama fakultas dan universitas, logo universitas, logo akreditasi. Kata pengantar, berisi tujuan/alasan penulisan buku, keunikan buku dibandingkan buku yang telah ada, kelompok sasaran, struktur/isi buku dan ucapan terima kasih.

Daftar isi
II. Identitas
Nama matakuliah
Kode mata kuliah
Jumlah sks
Nama dosen/ team teaching

Kegiatan pembelajaran ke-1 sampai ke-n, tujuan materi pembelajaran ke-1, harus sesuai dengan yang dicantumkan pada RPS. Materi pembelajaran harus disusun secara sistematis, dimulai dengan konsep dasar, pendalaman konsep, dan contoh-contoh yang bervariasi untuk memperjelas konsep. Materi ajar harus memenuhi unsur kecukupan untuk mendukung pencapaian learning outcomes.

Materi ajar seyogyanya dapat memudahkan mahasiswa belajar mandiri dan mendukung terwujudnya keterampilan menganalisis data dan informasi. Memuat poin-poin penting yang terdapat pada materi ajar.

Latihan/Tugas

Suatu bentuk latihan untuk membangun dinamika kelas pembelajaran. Seperti role playing, problem solving, business game, simulasi, dan sebagainya. Tujuannya untuk memperkuat dan memperdalam pemahaman materi yang telah dipelajari.

Tugas/latihan harus mendorong terwujudnya keterampilan berkolaborasi, berpikir kritis, dan pemecahan masalah, serta berkomunikasi secara lisan dan tulisan. Tugas atau latihan dapat dibuat dalam beberapa bentuk latihan yang berbeda, dan disusun dalam sub bab yang berbeda pula.

Evaluasi, suatu bentuk instrumen tes hasil belajar harus memenuhi unsur Higher Order Thinking Skills (HOTS). Setiap evaluasi wajib disertakan kunci jawaban yang memuat jawaban-jawaban dari hasil tes belajar.

Di akhir modul jangan lupa membuatkan kata penutup dan daftar pustaka. Agar semua isi modul dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Mengacu pada Taksonomi Bloom atau Erikson


Taksonomi menurut KBBI adalah klasifikasi bidang ilmu, kaidah dan prinsip yang meliputi pengklasifikasian objek. Taksonomi dalam pendidikan bertujuan untuk merumuskan tujuan kurikulum dan tujuan pembelajaran. Saya sendiri berkenalan dengan kata taksonomi ini di tahun 2005 silam, saat pertama kali mendapatkan peningkatan kemampuan mengajar, menjadi dosen.

Ranah-ranah pada Taksonomi Bloom / Enggar Net

Taksonomi ini dirancang oleh Benjamin S. Bloom pada tahun 1956. Menurut Bloom, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, dan setiap ranah atau domain tersebut dibagi kembali ke dalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan hierarkinya.

Empat pilar pendidikan menurut UNESCO:
  1. Learning to how
  2. Learning to do
  3. Learning to be
  4. Learning to live together
Sementara Taksonomi Erikson dengan teori perkembangan psikososialnya membahas tentang perkembangan psikososial. Ia percaya bahwa kemampuan memotivasi sikap dan perbuatan, dapat membantu perkembangan menjadi positif, inilah alasannya mengapa teori Erikson disebut juga sebagai teori perkembangan psikososial.

Mengapa harus soal HOTS?

Pada tahun 2018 lalu santer dibicarakan mengenai soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) sebagai lawan dari soal LOTS (Lower Order Thinking Skills). HOTS merupakan sebuah konsep pendidikan yang didasarkan pada Taksonomi Bloom. Dalam mempelajari suatu topik, ada beberapa tingkatan kemampuan berpikir, mulai dari tingkat rendah, sampai tingkat tinggi. Dari namanya saja bisa ditebak bahwa soal-soal HOTS memerlukan kemampuan berpikir lebih daripada soal LOTS.

HOTS dan LOTS / Zenius

Soal HOTS fokus pada menalar, sementara soal LOTS fokus pada mengingat. Soal LOTS hanya menguji tiga ranah kemampuan mahasiswa, yaitu mengingat, memahami dan menerapkan suatu materi. Kalimat yang dibutuhkan untuk menguji 3 kemampuan dasar ini adalah "apa", "siapa", dan "kapan."

HOTS mengasah tiga ranah selanjutnya yaitu analysis, evaluate and create. Tak cukup berhenti di ranah mengingat, memahami dan menerapkan. Untuk bisa sampai ke tahap selanjutnya mahasiswa perlu diajarkan cara menganalisis, diberi contoh mengevaluasi hingga akhirnya dengan segenap rasa ingin tahu yang dimilikinya akhirnya ia pun bisa mengkreasikan kemampuannya untuk mencoba mencipta.

Contoh soal LOTS yang mudah terlihat pada pemahaman bacaan, sebab LOTS akan menanyakan informasi yang tertera di dalam teks. Sementara kalau soal HOTS tidak akan dijumpai di dalam teks, ia menuntut analisis yang dalam disertai contoh-contoh yang tidak dijumpai di dalam soal.

Diharapkan dengan membuat soal HOTS, menstimulus berpikir kritis mahasiswa, membuatnya tak sekadar membaca, mengingat, memahami dan menerapkan, tetapi juga menganalisis, mengevaluasi dan menciptakan hal-hal baru terkait materi yang diperoleh.


Salam,













Berlangganan update artikel terbaru via email:

12 Komentar untuk "Pengembangan E-Modul Mata Kuliah Untuk Tahun Ajaran Baru"

  1. informatif kali kak, jadi ngerti gmn dosen menyiapkan modulnya..sekarang semua udah secara online ya kak

    BalasHapus
  2. Duh, kebetulan banget nih ada ngebahas tentang soal HOTS. Saya malah panas sendiri Bu, ketika sedang membuat soal HOTS fisika. Enggak mudah memang dan kadang enggak terpikirkan. Tapi kalau misalnya sudah berhasil mengerjakan soal HOTS. Setelah dipikir sekali lagi, ternyata bermanfaat untuk penerapannya. Memang soal HOTS ini lebih mengarah pada analisis, evaluasi, dan mencipta.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, kl HOTS gak cm menerapkan rumus fisika aja ya,, tp sekalian bikin soal yg bru yg lebih kreatif hehe

      Hapus
  3. Kuliah sekarang yang harus ditingkatkan memang nalar mahasiswa ya kak. Supaya mereka bisa lebih mengaplikasikan ilmu untuk memahami persoalan di kehidupan sehari2. Kalo cuma mengingat pelajaran aja kayaknya kurang aplikatif jadinya.

    BalasHapus
  4. Assalamualaikum ibu. Informatif sekali tulisannya. Jadi tau empat pilar UNESCO dan tertarik sama poin ke empatnya learning to live together.

    BalasHapus
  5. Jadi HOTS itu analisis berdasarkan teori yang ada ya mba Mia.
    Jadi seneng dulu pas ujian kalo yang ditanya itu tentang nalar kita terhadap satu kasus atau kejadian berdasarkan teori yang dipelajari.
    daripada ditanyain teori tok.

    BalasHapus
  6. Jadi HOTS itu lebih ditekankan untuk perkuliahan saat ini ya kak, memang dosen dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam membuat tugas ya, jadinya mahasiswa pun turut berpikir secara kreatif juga :)

    BalasHapus
  7. Yes kak Mia.. dulu awak pas kuliah, kalo dapet dosen yang menilai dari LOTS awak sering kalah. Awak gak suka menghafal. Tapi lebih suka mengerti dan menjelaskan dengan kata-kata sendiri kayak teori HOTS. Teori HOTS ini malah bikin mahasiswa memahami lebih mendalam .
    Tapi dulu masih banyak juga dosen yang suka sama tipe mahasiswa tipe penghafal mati.

    BalasHapus
  8. Aku suka sama piramid nya, kalau benar-benar diterapkan kita akan memiliki mahasiswa-mahasiswa yang berkualitas

    BalasHapus
  9. membaca tulisan kak mia ini seperti flashback ke masa lalu. maklum isi kuliah dulu ini semua wkwkwk. dan emg antara HOTS dan LOTS emg dipake di soal2 ujian biar kemampuan berpikir anak lbh berkembang.

    BalasHapus
  10. Sebenarnya emang sudah selayakanya mahasiswa tidak sekedar LOTS saja tapi sudah harus HOTS, karena masanya mereka yang mendekati dunia kerja yang membutuhkan kemampuan mereka untuk menganalisis hingga menciptakan sesuatu yang baru.

    BalasHapus

Pesan dimoderasi, terima kasih telah meninggalkan komentar yang santun. Sebab bisa jadi Anda dinilai dari komentar yang Anda ketikkan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel