Bloger Profesi Masa Depan (2)

Bloger Profesi Masa Depan (2)

Hai... jumpa lagi di tulisan bagian kedua dari Bloger, Profesi Masa Depan. Oya, kalau di tulisan pertama saya mengafirmasi diri agar ikut lomba blog itu jika pekerjaan utama sudah benar-benar terselesaikan dengan baik. 

Supaya tidak keasyikan menangkap peluang, karena meskipun masih taraf memenangkan hadiah hiburan tetapi efeknya bikin nagih euy!

Saya tidak memaksakan diri mengikuti lomba kendati diiming-imingi hadiah menggiurkan. Prinsip saya menulis itu wajib bikin happy

Jangan sampai menulis menjadi tidak mengasyikkan lagi hanya karena dipusingkan masalah bahan-bahan tulisan, infografis, tulisan kompetitor lebih oke, dan sebagainya. Dengan catatan, masih terus belajar bikin data pendukung yang kreatif dan enak dibaca.

Mengapa Jatuh Cinta pada Dunia Bloger
Blogging / Laptop Study

Menulis itu refreshing bagi saya walaupun orang boleh saja tidak setuju. Terutama tim yang anti-tulisan curhat, haha. Jujur saya pribadi lelah juga dengan tulisan-tulisan terstruktur ala karya ilmiah, makanya saat ngeblog pinginnya yang mengalir, santai namun diusahakan tetap ada isinya.

Btw, kalau saya memperhatikan hasil analisis dari Google Analytic, perilaku pembaca ketika membaca blog saya yang isinya curhatan malah lebih rendah bounce rate-nya ketimbang non-curhatan. 

Kesimpulannya, mereka cenderung membaca dari awal sampai akhir dan pantang close sebelum tuntas. Hal ini merupakan hal yang disyukuri, berarti sharing saya layak untuk dibaca.

Mengapa Jatuh Cinta pada Dunia Bloger

Jadi mengapa saya jatuh cinta pada dunia bloger ini, begini alasan saya,
  1. Karena sudah pernah memulai sejak 2009 tetapi belum optimal, hanya sekadar menulis.
  2. Bisa kerja dari rumah saja, sambil momong anak, bahkan sambil masak. Kecuali wajib ikut blogger event-nya ya, ini yang kadang saya masih sulit. Apalagi di masa pandemi seperti ini.  Sabtu-Ahad sudah menjadi kesepakatan keluarga, adalah waktu untuk menjenguk anak-anak kami yang di pesantren.
  3. Jadi bloger itu tidak perlu jenjang kepangkatan formal macam-macam kayak di dunia dosen atau birokrasi ASN lainnya.
Namun, hierarki itu sebenarnya terasa sekali saat rekan-rekan bloger berdiskusi soal SEO di grup-grup bloger. Pamer Domain Authority (DA)/Page Authority (PA) sudah di angka berapa (skala 1-100, semakin tinggi semakin bagus), Domain Rating (DR) idem DA/PA cuma besutan Ahrefs, Spam Score (SS) tinggi atau tidak (semakin rendah semakin baik).

Meskipun tinggi jangan sampai melebihi 10%, Alexa Rank di urutan berapa, ada secara global/sedunia dan se-Indonesia. PV per hari, semakin tinggi semakin baik juga, baik PV per bulan dan total selama ngeblog, bounce rate sudah berhasil turun apa belum, untuk blog curhatan maksimal 50 dan noncurhatan maksimal 70, dan masih banyak lagi printilan terkait urusan optimasi blog di mata mesin pencari.

Kadang hal-hal begini bisa bikin malas nulis. Saya sendiri menyikapinya datar saja, apalagi belakangan kabarnya Google sendiri akan mengembalikan prinsip content is a king

Kalau kita mengekor ke standar yang dibangun orang lain, alamat tidak ada karya. Sebab khawatir terus, jangan-jangan blogpost saya jelek. Atau belum absah disebut sebagai bloger profesional, masih bayi, haha.

Jadi meskipun saya menyebutkan bahwa bloger profesi yang prospektif, namun sebaiknya tetap realistis. Bloger bukanlah segala-galanya. Sama dengan dunia entertainment yang penuh dengan persaingan tajam. 

Bloger-bloger yang berkumpul itu sejatinya adalah rival satu sama lain. Hanya saja agar ada jiwa korsa sesama narablognya muncul, maka masing-masing berusaha meredam egosentrisnya dan mengedepankan kebersamaan. Malah sering ada yang rajin bagi-bagi job.

4. Saya bisa menulis apa saja sesuka hati. Itulah enaknya jadi bloger. Meski niche saya lifestyle dengan realisasi lebih banyak menulis soal pengasuhan anak dan pendidikan, namun isi blog saya cenderung suka-suka. Kedepannya pingin juga dua blog penopang lainnya diarahkan ke satu topik blog tertentu.

Alasan terakhir ini cukup fenomenal, sebab poin inilah yang saya jadikan judul dari tulisan ini yaitu;

5. Bloger itu profesi masa depan.

Tak percaya, simak tulisan saya yang pernah dimuat di UC News 2017 lalu. Sebenarnya saya menulisnya berpasangan dengan tulisan satu lagi, yaitu tentang 20 pekerjaan yang tetap eksis dan akan muncul di masa depan.

Cuma tidak tahu mengapa, capek menelusuri jejak digitalnya di dunia maya, eh pas ketemu, artikel saya itu ada yang banned. Sehingga yang terlihat cuma koding-koding membingungkan. 

Intinya saya menuliskan bloger sebagai salah satu pekerjaan yang akan tetap ada di masa yang akan datang. Tentunya selain itu ada vlogger (Youtuber) atau pengevlog (KBBI).

Mengapa Jatuh Cinta pada Dunia Bloger
Ngeblog / Freepik

Ini tulisan saya yang masih bisa dibaca di dunia maya, dengan judul 20 Pekerjaan yang Akan Hilang di Masa Depan:

Di masa depan, bahkan di era siber sekarang ini, tanpa terasa pekerjaan yang hanya mengandalkan otot atau yang memerlukan kehadiran fisik, berangsur-angsur akan hilang digantikan mesin dan robot. 

Kemajuan pesat teknologi mengubah dunia secara perlahan-lahan. Hingga tak terasa akan hilang sejumlah pekerjaan atau profesi.

Menurut Prof. Rhenald Kasali dalam artikelnya di situs Rumah Perubahan, (dikombinasikan dengan pengetahuan yang penulis miliki), setidaknya ada 20 pekerjaan yang akan lenyap. Ke-20 pekerjaan itu adalah sebagai berikut:
  1. Pengantar pos, sudah tergantikan oleh surel.
  2. Penjaga pintu tol, kini pemakaian e-toll dan e-money telah beroperasi.
  3. Pustakawan, digantikan sistem.
  4. Penerjemah, digantikan wireless headphone yang bisa menerjemahkan 40 bahasa.
  5. Tukang panggul, digantikan robot.
  6. Pemadam kebakaran, digantikan robot untuk pekerjaan yang berbahaya ke tengah-tengah api.
  7. Pemilik toko fisik, digantikan toko daring.
  8. Penjaga toko fisik, digantikan admin online shop dan sistemnya.
  9. Kasir di supermarket, digantikan mesin.
  10. Sopir taksi, digantikan mesin atau robot.
  11. Loper koran, penerbitan surat kabar bermigrasi ke e-paper.
  12. Agen asuransi, digantikan sistem.
  13. Guru, digantikan e-learning.
  14. Dosen, digantikan semacam EO yang mengorganisasi ilmuwan-ilmuwan kelas dunia.
  15. Akuntan, digantikan sistem atau mesin.
  16. Produser film, setiap orang kini bisa memproduksi filmnya secara independen (indie).
  17. Kru film, tidak diperlukan lagi karena produser indie secara mandiri mengerjakannya.
  18. Teller bank, digantikan mesin.
  19. Officer credit, digantikan aplikasi atau mesin kredit.
  20. Percetakan, sudah zamannya paperless.
Adakah pekerjaan Anda termasuk di dalamnya? Jika ada mulailah mempersiapkan diri. Karena dengan hilangnya pekerjaan-pekerjaan lama tentu akan memunculkan profesi-profesi baru. 

Tetapi jangan bersorak gembira dulu, pekerjaan baru itu pastinya mensyaratkan keahlian dan profesionalitas Anda di bidang tersebut. Maka, bersiap-siaplah!


Salam,




Berlangganan update artikel terbaru via email:

28 Komentar untuk "Bloger Profesi Masa Depan (2)"

  1. Sangat setuju dengan tulisan ini, bahkan salah satu kawan saya yang menikah beberapa hari yang lalu adalah FullTime Blogger dan Maharnya adalah Google adsense dan Hosting 2 Tahun

    BalasHapus
    Balasan
    1. Google Ads nya pasti yang udah belasan jutaan yes sebulannya, heuheu

      Hapus
  2. Guru tergantikan oleh E-Learning ya mbak? Serem ya akan sangat kaku pendidikan :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tulisan lama tuh yg pekerjaan2 yg akan hilang di masa depan, Mr. Ach... eh gak taunya kejadian ya di tahun 2020 hikss

      Hapus
  3. Ahhh..ketemu satu lagi blogger yang berpendapat DA dan PA membatasi perkembangan seorang blogger.

    Setuju kali lah..tidak perlu membentuk hierarki dalam dunia blogger. Hal yg seperti ini justru menghilangkan esensi blog dan blogger yang sebenarnya adalah sama rata.

    Dengan batasan DA dan PA malah ada kasta yang terbentuk.

    #toss mbak πŸ˜‰πŸ˜‰

    BalasHapus
    Balasan
    1. Usernya bloger, yaitu si agen dari advertiser, yang suka pakai parameter DA buat menyeleksi blog yang bakal menayangkan produk mereka hehe

      Hapus
  4. Awak gak terlalu mengejar da pa kok kak..
    Kalo masih terikuti, ayok lah.. tapi kalo berat ya awak tinggalin aja.. hehehe

    BalasHapus
  5. Hihihi sama mom. Akupun nggak terlalu ngoyo ikutan lomba blog lagi. Beda sama awal-awal ngeblog dulu. Segala tema dilibas, mau ngebuktiin pada diri senditi kalau aku mampu. Sekarang lebih banyak nulis buku sama ngeblog yang hepi-hepi, nggak mumet masalah DA PA, PV dan lain-lain. haahaha...Writing must be happy!

    BalasHapus
  6. cakep banget dah ibu dosen satu in. Panutannku untuk semangatnya. Itulah pentingnya selalu mengupgrade ilmu ya kak. tapi aku kok sedih kalau guru dan dosen sampe diganti dengan e-learning.

    BalasHapus
  7. Saya nulis2 aja sih, disebut blogger aja blm pede karena blm masuk kriteria yg seharusnya haha
    Tp kl dr blogger menghasilkan dan serius, mantabs kaliiii πŸ˜€

    BalasHapus
  8. Awalnya dulu saya ngeblog karena jualan pake blog selama 5 tahun, belum ada instagram. Kemudian vakum 5 tahun dan memulai lagi. Malah ada job-job, brati bener ya klo blogger pekerjaan yang selalu tetep eksis ya mbaa

    BalasHapus
  9. Emang kelihatannya remeh ya jadi blogger. Tapi kalo udah tau ilmunya bisa menghasilkan banyak sekali

    BalasHapus
  10. Setuju banget mba Mia. Sy juga nulis sebagai refreshing, biar ga malah tertekan karena konten. Karena menulis sendiri adalah self healing. Dan bener deh kayanya ini bakal jadi profesi masa depan, apalagi pandemi yang semua harus serba di rumah.

    BalasHapus
  11. Pendidikan tidak bisa digantikan oleh e learning, terutama tugas guru ya. bagaimana karakter akan terbentuk jika pembelajaran dilakukan secara daring. Semoga peran guru tidak akan tergantikan oleh canggihnya teknologi. Saya menulis juga dengan bahagia. tidak perlu memaksakan diri untuk ini dan itu tapi tertekan, Yang penting nulis dan abhagia.

    BalasHapus
  12. iya, dimasa depan memang akan bermunculan pekerjaan yang tidak ada saat ini. Narablog dulu dianggap buat senang-senang aja, buat curhat. Nyatanya sekarang mulai bisa menghasilkan, bahkan ada juga lho yang resign dari pekerjaan utamanya dan beralih fokus pada pekerjaan ngeblog

    BalasHapus
  13. Aku sendiri udah ada pandangan resign dari kerjaan yang sekarang karena pengen jadi full time blogger. Belajar lebih fokus biar pro hehe. Apa lah daya terikat kontrak

    BalasHapus
  14. semakin yakin nih menekuni profesi blogger terlebih di era digital spti skrg ini ya mbak..semua pekerjaan klerikal diganti robot.. manusia hnya ada diblkng meja semua hehe

    BalasHapus
  15. Tapi dimasa pandemi gini toko fisik memang sepi banget kak, hihihi kadang aku ke toko cuma buat foto dan ambil video market place hehehe.

    Tapi menjadi blogger tetep impian kog. Ingat ngeblog sejak 2006 dan baru kmbali lagi ditekuni setahun lalu

    BalasHapus
  16. I felt u bunda miaaa....aku sempat loh jadi menurun semangat karena shock lihat rumput tetangga lebih hijau. Eh maksudnya kok bs menang mulu, eh kok bs DA naik terus... terus balik lg nulis kan buat healing kok jadi mumet ya. Duh kalau Mbak Mia bayi aku janin dongπŸ˜‚

    BalasHapus
  17. Wah auto harus siap-siap nie aku , karena semua diganti oleh mesin. Jadi blogger merupakan profesi masa depan ya kak , berarti menjanjikan dong ya. ok deh

    BalasHapus
  18. Saya selalu yakin kalau menulis itu adalah life skill yang sangat penting. Mau apapun itu profesinya asalkan menulis, pasti bermanfaat dan menjanjikan (asalkan bertanggung jawab). Udah tahu sih soal aktivitas blog ini sejak lebih dari lima tahun lalu, tapi hingga sejauh ini masih pengen ngeblog untuk refreshing, semoga soon bisa makin serius

    BalasHapus
  19. saya pribadi kadang masih pesimis kalau bloger bisa menjadi profesi masa depan. karena melihat budaya masyarakat sekarang lebih suka menonton video daripada membaca. sekalipun videonya receh dan kurang bermanfaat. tapi di sisi lain, saya juga optimis, bahwa para penulism bloger suatu saat akan menjadi profesi yang susah dicari dan mahal harganya.

    BalasHapus
  20. Visi kita sama, Kak. Menulis sebagai refreshing. Saya menulis karena butuh refreshing dari rutinitas kantor yang sering bikin mumet.

    BalasHapus
  21. Mbak miaaaa, lalu pekerjaan apa lagikah yang bisa dilakukan anak-anak kita di masa depan?

    BalasHapus
  22. bener banget mbak. aku suka jadi blogger karena bisa kerja dari rumah sambil nemenin anak. bener-bener pekerjaan idaman banget.

    BalasHapus
  23. Menarik nich kak pembahasannya... kembali lagi tujuan awal ngeblognya seperti apa... yuks ah tetap konsisten ngeblog...biarkan tulisanmu menemukan takdirnya sendiri... gitu kata kang pepih yang permah saya dengar

    BalasHapus
  24. Menarik nich kak pembahasannya... kembali lagi tujuan awal ngeblognya seperti apa... yuks ah tetap konsisten ngeblog...biarkan tulisanmu menemukan takdirnya sendiri... gitu kata kang pepih yang permah saya dengar

    BalasHapus
  25. Sip,, kakaknya ga mau diribetkan dengan pernak pernik ngeblog...nulis ya nulis aja ya.. memang kembali lagi sih kak niat awal ngeblognya untuk apa... hehehe

    BalasHapus

Pesan dimoderasi, terima kasih telah meninggalkan komentar yang santun. Sebab bisa jadi Anda dinilai dari komentar yang Anda ketikkan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel