Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Dukung Proyek SUKA Suara Untuk Kusta

Senin, 19 April 2021 lalu saya dan teman-teman mengikuti Youtube live streaming talkshow "Melihat Potret Kusta di Indonesia" yang diselenggarakan oleh ornop (organisasi nonpemerintah) NLR Indonesia, bekerja sama dengan Ruang Publik KBR (Kantor Berita Radio) untuk dukung proyek SUKA Suara Untuk Kusta.

Tampil sebagai narasumber pada program ini adalah:
  • dr. Udeng Daman, Technical Advisor Program Pengendalian Kusta NLR Indonesia
  • Monika Sinta, Team Leader CSR PT. United Tractor
Host: Naomi Lyandra

Acara ini bisa disimak juga melalui kanal radio 104,2 FM. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka memperkenalkan Proyek SUKA (Suara Untuk Kusta) agar dapat lebih dikenal secara luas. Teman-teman pembaca bisa menyimak ulang tayangannya di kanal Youtube Ruang Publik KBR, yang saya sematkan di akhir artikel ini.

melihat potret kusta di Indonesia

Apa itu Kusta?

Kusta adalah penyakit menular yang tidak mudah menular dan bisa disembuhkan, tetapi jika terlambat ditemukan atau tidak diobati, kusta dapat menyebabkan disabilitas. 

Kusta masuk ke dalam kategori penyakit tropis terabaikan (neglected tropical disease) karena sudah ada sejak tahun 1400 sebelum masehi dan masih mengintai masyarakat hingga saat ini.

Menurut data WHO, Indonesia menduduki peringkat 3 penyakit kusta terbanyak di dunia setelah India dan Brasil.

Mengapa Kusta Masih Ada?

Penyebab utama kusta masih merajalela adalah terlambatnya penanganan akibat minimnya pengetahuan masyarakat tentang gejala kusta dan tingginya stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan kusta dan Orang yang Pernah Mengalami Kusta (OYPMK).

Hal ini membuat orang dengan gejala kusta enggan memeriksakan diri ke layanan kesehatan lebih dini.

Dukung Proyek SUKA, Suara untuk Kusta

Mendengar kata kusta, seperti momok tersendiri di telinga sebagian masyarakat. Untuk mendukung upaya pemerintah dalam penanganan kusta menuju Indonesia bebas dari kusta.

Konsekuensinya, NLR Indonesia berkolaborasi dengan KBR menginisiasi Proyek Suara Untuk Kusta (SUKA) yang bertujuan untuk mengangkat isu kusta di masyarakat, khususnya di kalangan anak muda Indonesia. 

Salah satu strateginya adalah penyadaran masyarakat melalui sensibiliti (mengasah kepekaan),  dan penguatan jejaring dengan media dan masyarakat.

Tentang NLR Indonesia

NLR adalah sebuah organisasi non-pemerintah yang didirikan di Belanda pada 1967 untuk menanggulangi kusta dan konsekuensinya di seluruh dunia dengan tiga pendekatan yaitu zero transmission (nihil penularan), zero disability (nihil disabilitas) dan zero exclusion (nihil eksklusi). 

LSM NLR Indonesia

Saat ini NLR beroperasi di Mozambique, India, Nepal, Brazil dan Indonesia. Di Indonesia, NLR mulai bekerja pada tahun 1975 bersama Pemerintah Republik Indonesia. Pada 2018 NLR bertransformasi menjadi entitas nasional dengan maksud untuk membuat kerja-kerja organisasi menjadi lebih efektif dan efisien menuju Indonesia bebas dari kusta. 

Yayasan NLR Indonesia adalah yayasan nasional dan anggota Aliansi NLR yang beroperasi di 16 provinsi di Indonesia. Yayasan  NLR Indonesia dibentuk pada tahun 2018 untuk melanjutkan pencapaian pemberantasan kusta bersama Aliansi NLR Internasional, tagline NLR Indonesia adalah: Hingga kita bebas dari kusta.

Cara Mendukung Proyek SUKA (Suara Untuk Kusta)

Kusta adalah penyakit menular tetapi tidak menular dengan mudah. Demikian penjelasan dr. Udeng di acara talkshow tersebut. Sehingga kita tidak perlu takut berlebihan pada OYPMK. Kendati demikian kusta mestilah diobati dengan serius, sebab jika terlambat atau tidak ditangani, bisa berakibat pada OYPMK menjadi disabilitas.

Menyebarluaskan kepada banyak orang tentang mitos dan stigma seputar kusta, sehingga masyarakat tidak antipati duluan atau menarik diri dari berinteraksi dengan OYPMK. Masyarakat perlu mengetahui bahwa kusta disebabkan oleh bakteri Mycrobacterium Leprae, sering juga disebut kusta ini adalah penyakit lepra.

NLR Indonesia X KBR
Belajar tentang Kusta lewat webinar

Berikut hal-hal yang perlu disampaikan kepada masyarakat

  1. kusta bukanlah penyakit kutukan
  2. kusta bukan disebabkan oleh santet
  3. kusta bukan penyakit turunan
  4. kusta tidak ditularkan dengan jabat tangan (sentuhan kulit) 
  5. kusta tidak ditularkan melalui makanan
  6. anak tertular kusta bukan karena hasil hubungan suami istri saat haid
Pasien kusta atau orang yang pernah menjadi OYPMK memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kita di tengah-tengah masyarakat. Saatnyalah kita memperlakukan mereka sama dengan anggota masyarakat lainnya. Hindari perlakuan diskriminasi, pengucilan, atau mengasingkan mereka karena kusta. Mari bersama-sama mendukung Proyek SUKA!

Dapatkan informasi dan diskusi mengenai isu-isu sosial lainnya di media sosial KBR. Instagram KBR: @kbr.id

Salam sehat.





18 komentar untuk "Dukung Proyek SUKA Suara Untuk Kusta"

  1. Bener sih kak. Kusta ini emang penyakitnya bukan turunan dan masih bisa disembuhkan kok. Cuma kadang strereotip masyarakat udh jelek aja kpd pengidap kusta. Smg dgn publikasi ini bisa menyadarkan masyarakat thd penyakit kusta. Kita jd mengerti dan lambat laun penyakit kusta akan musnah dr negeri ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju Mas, agar Indonesia bebas kusta yaa

      Hapus
  2. Dengan kerja bersama serta sosialisasi dan edukasi seperti ini dapat mendukung agar stigma negatif tersebut memudar. Toleransi sangat perlu, obati bukan diabaikan

    BalasHapus
  3. Stigma negatif kusta sudah terlanjur menempel bagi masyarakat, memang harus diinfokan bahwa penyebarannya pun tidak mudah meski bisa menular ke orang lain, info yang bermanfaat kak :)

    BalasHapus
  4. Mitos tentang kusta ini dulu saya percayai hingga usia menikah. Baru setelah mulai sering ke puskesmas untuk keperluan periksa anak, saya jadi paham bahwa kusta masih ada dan ternyata itu penyakit yang bisa sembuh. Semoga penderita kusta di Indonesia berkurang atau malah tidak ada ya.

    BalasHapus
  5. Benar juga. Saya pun pernah mendengar bahwa anak penyakit kusta itu karena hasil dari pembuahan yang dilakukan saat sang calon ibu sedang haid.

    Kalau dipikir kembali, memang pada saat haid bisa terjadi pembuahan?

    BalasHapus
  6. Setuju banget, Mbak. Hal-hal kayak gini tuh perlu disebarkan. Terutama ke masyarakat awam. Karena selama ini menganggap orang yang kena kusta itu orang yang penuh dosa banget. Padahal penyakit itu karena bakteri.

    Semoga kita bisa peduli pada mereka yang terkena kusta, membujuk mereka untuk pergi berobat, bukan menyembunyikannya.

    BalasHapus
  7. Aku tuh masih heran sih sebenernya. Ini penyakit menular udah lama banget, tapi kok masih ada. Padahal pengobatannya gratis dan bisa sembuh.
    Peran kita semua nih memberikan edukasi ke masyarakat, agar kusta musnah dari muka bumi...

    BalasHapus
  8. Kalau inget kusta ini inget Lady Diana, Princess of Wales yang nggak segan-segan mendatangi tempat-tempat penampungan pasien kusta dan salaman. Seakan ingin memadamkan mitos tentang kusta di dunia. Sayangnya mitos itu masih ada, jadi sekarang giliran kita membantu NLR untuk mengedukasi tentang kusta, ya, Mbak.

    BalasHapus
  9. Aku tahu kusta hanya sebatas tahu aja karena kayanya belum pernah lihat langsung. Kemarin ada yang cerita kalau menantunya kena dan berobat rutin sampai setahun. Alhamdulillah sembuh deh

    BalasHapus
  10. Ternyata masih ada ya penyebaran penyakit kusta di Indonesia. Dulu aku pernah tinggal di kota yang ada rumah sakit kustanya. Sekarang rumah sakit ini malah jadi rumah sakit umum. Kalau menurutku sih mungkin karena penyakit kusta ini saat ini bisa disembuhkan dengan mudah.

    BalasHapus
  11. Iya ya, ini penyakit yang udah lama ada tapi kok masih ada aja ya. Emang sih stigma negatif di masyarakat terhadap penderita kusta begitu kuat. Perlu edukasi dan sosialisasi ke masyarakat ya. Semoga makin byk yg aware dan penyakit ini bisa dicegah atau segera diobati

    BalasHapus
  12. Hmm... Kusta dapat menyebabkan disabilitas ternyata ya kak.
    Memang kalau dengar dari duluntentang kusta itu agak mengerikan juga.

    Semoga banyak yang peduli dengan penyakit ini ya kak jadi paham penanganannya.

    BalasHapus
  13. Memang yang namanya stigma itu bahayanya berperan besar ya karena jadi menjauhkan pasien untuk mendapatkan haknya berobat lebih cepat, apalagi kalau misalnya ditambah kurangnya pengetahuan. Pendekatan dalam edukasi melalui sosialiasi ini jadi penghubung yang baik ya, semoga lekas hilang juga stigma2 ini

    BalasHapus
  14. dulu ingat banget kalau dibilangin kusta penyakit kutukan. padahal ini bisa sembuh dan penyintas bisa hidup normal dan tak perlu dikucilkan. bahkan seharusnya diberdayakan

    BalasHapus
  15. Waktu saya kecil dulu pernah dengar memang kalau ksta adalah penyakit kutukan. Ternyata itu semua nggak benar dan bisa diobati sebelum terlambat ya.

    Memang sebaiknya penderita kusta diberikan dukungan untuk bisa sembuh bukan malah dikucilkan atau diasingkan.

    BalasHapus
  16. Jadi kusta menular lewat apa ya mbak? Itu kan penyakit kulit ya. Dan keliatan banget memang kalau ada yg kena kusta. Semoga kusta bisa musnah dari bumi kita ya

    BalasHapus
  17. stigma itu efeknya kurang bagus yah, dulu waktu kecil yang kena kusta itu katanya kena kutukan huhuhuh, semoga kita semua diberikan kesehatan.

    BalasHapus

Pesan dimoderasi, terima kasih telah meninggalkan komentar yang santun. Sebab bisa jadi Anda dinilai dari komentar yang Anda ketikkan.