Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Alasan Perempuan Perlu Pintar Mengemudi Mobil

Sembari menyetir usai ada urusan di kampus, saya teringat masa-masa awal belajar mengemudikan mobil delapan tahun yang lalu. Wew, lecet di pintu mobil, retak di bumper, dan tergores di samping kanan bodi mobil. Untungnya suami tidak mengeluhkan soal bolak-balik masuk bengkel langganan. Selain demi istrinya pintar menyetir mobil, juga karena semua kerusakan ditanggung oleh asuransi mobil di Indonesia. Seru deh.

Mengapa Perempuan Perlu Pintar Mengemudi Mobil?

Perempuan, baik ia single maupun sudah menikah, perlu pintar mengemudi mobil. Khususnya bagi seorang istri, menurut saya wajib hukumnya pandai menyetir. Ini alasannya:

Jadi Lebih Mandiri

Jujur sebenarnya saya tipe istri yang tidak mandiri-mandiri amat. Ya, karena lebih suka diantar ke mana-mana oleh pak su (pir) (baca: pak suami). Senang saja rasanya berada di samping beliau, merasa jadi nyonya besar atau bak princess-nya prince charming, hehe. Namun keadaan tidak selamanya bisa demikian, maka pilihan harus bisa bawa mobil pun saya tempuh demi bisa lebih mandiri ke mana-mana.

asuransi mobil terbaik


Saat Menjalani LDR dengan Suami

LDM ya tepatnya, Long Distance Marriage, yup, dikaruniai empat orang buah hati, anak pertama sampai ketiga, kami terpaksa menjalani LDM pisah kota karena instansi suami yang mengharuskan demikian. Baru tiga tahunan ini saja kami seatap kembali dan rasanya bersyukur sekali bisa menjadi keluarga yang utuh, tidak hanya berkumpul di akhir pekan seperti tahun-tahun sebelumnya. 

Bayangkan deh kalau selama itu saya tidak bisa mengemudikan mobil, mesti mempekerjakan sopir, iya kalau orangnya amanah, apalagi di saat jauh dari kepala keluarga, Alhamdulillah senang sekali saya sudah bisa menyetir mobil sendiri saat menjalani long distance dengan suami.

Musim Hujan dan Anak Minta Dijemput

Pernah satu waktu sebelum saya mengetahui cara belajar mengemudi mobil, waktu itu jam sudah menunjukkan waktu menjemput anak pulang dari les pelajaran di suatu lembaga pendidikan. Di masa itu belum ada transportasi berbasis aplikasi sebagaimana marak di masa kini. Sehingga mau tidak mau saya minta tolong adiknya tetangga yang bisa bawa mobil. 

Lain waktu mau tidak mau saya menjemput anak pulang les dengan becak. Kondisi hujan membuat titik-titik air berpercikan ke baju saya dan anak. Alhasil sampai di rumah sebagian baju kami basah. Ironisnya, mobil MPV kami terparkir cantik di carport. Fyuhh, rasanya zonk banget tidak bisa memakai fasilitas yang ada, gara-gara tak bisa menyetir. 

Sangat Dibutuhkan di Saat Darurat

Malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih, anak ketiga muntah-muntah dengan intensitas yang sangat sering. Akhirnya demi menghindari hal yang tak diinginkan saya pun bergegas ambil kunci kontak mobil dan melarikan anak ke rumah sakit terdekat. 

Pernah juga saat suami pulang di hari weekend waktu masih tugas di luar kota, tengah malam mengeluhkan sakit pada perutnya, wajahnya pucat dan saat berjalan ke belakang malah berhenti di dapur sambil mengerang kesakitan. 

Spontan saya tidak mau menunggu lebih lama, detik itu juga saya mengganti pakaian, menyambar jilbab dan membawa suami ke IGD RS dekat rumah. Apa jadinya jika saya tidak bisa mengemudikan mobil. Pesan taksi juga butuh waktu, penting sekali istri bisa membawa mobil. 

Alhamdulillah urusan jaminan kesehatan juga sudah disiapkan jauh-jauh hari. Ada asuransi kesehatan murah yang direkomendasikan untuk menanggung biaya pengobatan dan perawatan kesehatan di rumah sakit maupun layanan medis lainnya.

Mendukung Mobilitas dalam Bekerja

Profesi saya yang sebagai dosen di sebuah perguruan tinggi sangat membutuhkan pendukung mobilitas ke mana-mana. Saat melaksanakan tri darma perguruan tinggi, baik itu pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat, repot sekali rasanya jika tidak memiliki kendaraan pribadi. 

Karena terkadang dalam sehari seorang dosen harus berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Ke lokasi penelitian, kunjungan ke tempat pengabdian masyarakat, mengikuti rapat dengan stakeholder, dan masih banyak lagi. Di masa pandemi seperti sekarang ini sebagian hal tersebut bisa digantikan dengan pertemuan secara daring, namun beberapa kewajiban menuntut harus bertemu secara langsung, tentunya dengan tetap menerapkan prokes.

Kesimpulan

Alasan perempuan perlu pintar mengemudi mobil macam-macam sesuai dengan kondisi orang tersebut. Kalau saya alasannya agar jadi lebih mandiri, lebih terbantu di saat menjalani LDR dengan suami, pada saat musim hujan dan anak minta dijemput keterampilan menyetir amat sangat berguna, sangat dibutuhkan di saat darurat, dan pastinya mendukung mobilitas dalam bekerja.

Demikian artikel saya kali ini, jika teman-teman memiliki alasan lainnya atau ada yang ingin didiskusikan, silakan tinggalkan pendapatmu di kolom komentar ya, terima kasih.

Salam,
Lifepal asuransi kesehatan terbaik








21 komentar untuk "Alasan Perempuan Perlu Pintar Mengemudi Mobil"

  1. Sama seperti pakai komputer, akan mudah belajar kalau punya komputernya. Belajar mobil seperti itu juga

    Saya pribadi pernah belajar mobil, tapi itu mobil tante, dan tentu saja saya belum pandai. Masih gear 1 atau 2, pelan-pelan, mana masih takut-takut juga

    Ah, mudah-mudahan ada rezeki buat saya beli mobil juga, biar gak kalah dari mbak Mia. Insyaa Allah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau Pak Doktor, sekejap mata lagi sudah bisalah beli dan nyetir mobilnya... wong generasi fast learner kok, keren2,,,

      Hapus
  2. Dulu terpaksa nyetir, karena suami masuk RS, tipus, dan saya punya bayi usia 4 bulan. Waktu itu SIM udah punya sejak lama, tapi engga pernah dipakai...hehe...
    Kalau suami engga pake sakit dulu, saya kayaknya engga nyupir-nyupir...wkwkwk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kayak blessing in disguise gitu ya Mba Hani... always safe drive deh yaa

      Hapus
  3. Wah saya kalah nih, mobil saja belum beli. Belum belajar mengemudi juga. Semoga saja bisa pandai mengemudi suatu saat nanti, kayak Mba Fadlimia, aaamiiin...

    BalasHapus
  4. setuju banget Mbak, makanya nih saya getol banget pengen bisa nyetir juga tapi sampai sekarang belum bisa padahal belajar nyetirnya itu udah dari kapan waktu. huhuhuh.
    pernah sekali belajar di tempat kursus, udah selesai kelasnya.
    niatnya ingin permahir, pergilah saya ama teman, keliling-keliling, ternyataaa saya tidak bisa mengendalikan kemudi dan mobil sukses naik ke trotoar, Alhamdulillah tidak ada korban saat itu kecuali mobil yang baret sana sini yang akhirnya Paksu gak bolehin lagi nyetir, hikkss. katanya syukur gak ada yang ketabrak atau luka dsbnya. diceramahin 5SKS sepanjang malam huhuhuh. padahal mobil itu juga ada asuransinya kok.
    padahal kalau bisa nyetir mah kita jadi mandiri *ehh curhat

    BalasHapus
  5. Memang perlu juga sih perempuan belajar nyupir tapi yang penting juga ada mobilnya hehehe. Seringkali suami mungkin ada kepentingan sehingga tidak bisa mengantar istri. Istri bisa nyetir kan enak tinggal bawa sendiri.

    BalasHapus
  6. Setuju, perempuan juga harus bisa ya mengemudi mobil, jadi lebih mandiri enggak tergantung sama yang nyetirin, apalagi dalam kondisi yang darurat ya Mba :)

    BalasHapus
  7. Oke. Aku mau belajar nyetir mobil. Tapi tunggu mau beli mobil dulu deh. Seenggaknya kalau ada lecet-lecet ya mobil sendiri. Nggak perlu ngganti ke orang lain. HEhehehe

    BalasHapus
  8. Terimakasih tipsnya kak 🥰🙏

    BalasHapus
  9. Setuju. Hal ini bagus bertujuan agar prrmpuan dapat menangani sendiri jika ingin berpergian 🤗

    BalasHapus
  10. Saya setuju. Perempuan harus pintar mengemudi mobil, apalagi yang punya anak untuk diantar jemput sekolah. Jangan ngandelin abang gojek aja ye kan.
    di denpasar ini ndak ada angkot lagi, susyah mau kemana-mana, kudu panggil gojek.

    BalasHapus
  11. Iya sih, perlu juga. Tapi saya sendiri sbg suami gak pande hehe. Mungkin beli mobilnya dulu ya. Sekarang kami andalkan n transportasi online kl mo pigi2. Tq sharingnya kak, jd terinspirasi segera punya mobil haha

    BalasHapus
  12. Saya salut melihat perempuan bisa mengemudi mobil. Kelihatan strong dan berani. Saya juga punya cita-cita di masa depan nanti punya mobil supaya aman kalau pergi ke mana-mana. Apalagi kalau ada anak-anak. Bagi saya, bisa mengendarai mobil merupakan whistlist menjadi perempuan yang paling happy dan mandiri.

    BalasHapus
  13. ya allah kak mia...pas kali la tulisan kakak ini..awak lagi bertekad ini kak harus bisa nyetir mobil dan berani bawa sendiri, udah ngerasain susahnya gimana ga bisa nyetir harus naik kendaraan umum padahal akyivitas padat belum lagi antar anak aih rempongnya udah awak khayalkan kalau bawa mobil sendiri ga perlu repot barang2 bisa letak aja dibelakang mobil awak pun bisa sat set sat set kemana mana sesuai jadwal dan aktivitas.

    BalasHapus
  14. Dari kak mia kita belajar bahwasa'nya perempuan tak bolh manja, dikit2 harus diantar kemna2 😂😂✊ maka nya itu pentingnya perempuan pande mengemudi hahah

    BalasHapus
  15. Mmm...akulah ini. Paling takut bawa kendaraan. Belajar naik sepeda motor pun tak lulus-lulus. Cemana mau lanjut belajar mobil. Pas butuh dan ada mobil nganggur di depan mata, barulah ngomong ke diri sendiri, kenapalah gak belajar bawa mobil. jadi gak minta diantarkan melulu.

    BalasHapus
  16. Duh pengen banget belajar nyetir mobil nih, secara klo naik mobil pastinya lebih nyaman drpada motor ya gak akan kehujanan atau kepanasan, asuransi mobil pun ada klo ada kenapa2 ya kak

    BalasHapus
  17. Hiks... bener banget alasan yang kak bilang tuh. Tetapi rasa takutku lebih gede daripada rasa inginku. Jadi gitu deh, sampe sekarang belum berani buat mencoba belajar mobil.

    BalasHapus
  18. Akkk.. ini yang lagi dv rasakan sekarang kak. Makanya udah menggebu-gebu ni niat belajar nyetirnya. Sedih disaat harus pulang naik motor hujan-hujanan, padahal mobil terparkir cantik di rumah. Doakan dv bisa segera nyetir sendiri ya kakkk

    BalasHapus
  19. Anak-anak di rumah sibuk nyuruh baba nya ngajarin awak ngendarai mobil kak. Padahal kami gak ada mobil 🤭. Hanya karena ada rezeki pake aja. Tapi suami memang gak ngasih karena bukan milik pribadi.
    Sebenarnya memang enak ada yang nganterin kita bak princess ya kak. Tapi yang namanya hidup gak ketebak. Bisa saja di saat keadaan gawat kita harus bisa pake mobil untuk membawa anggota keluarga ke RS. Atau bisa jadi malah suami yang harus kita bawa ya..
    Tapi memang bukan doain. Hanya sedia payung sebelum hujan.
    Btw kak, kenapa ya bagi perempuan parkir adalah hal yang sulit. Wkwkwk

    BalasHapus

Pesan dimoderasi, terima kasih telah meninggalkan komentar yang santun. Sebab bisa jadi Anda dinilai dari komentar yang Anda ketikkan.