Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Ruang Rindu Di dalam Hati

Lon rindu lon rindu
(Ku rindu ku rindu)
Hate sabe meurindu
(Hati selalu merindu)
Bungong meulu
(Bunga melur)
(Gata sabe lon damba)
Kamu yang selalu ku damba

(Meurindu - Rialdoni)

Tantangan Tulisan Minggu (TTM) ini di KLIP (Kelas Literasi Ibu Profesional), menarik sekali. Tentang ruang rindu. Boleh merindukan siapa dan apa saja, ayah, bunda, suami, saudara, bahkan kucing peliharaan kamu kalau ada.

Potongan lirik lagu berbahasa Aceh di atas sangat pas menggambarkan ruang rindu di hati para pencinta. Lagu Meurindu yang dibawakan Rialdoni dan viral digunakan mengiringi postingan Tik Tok orang-orang. Kalau saya pribadi lebih suka mendengarkan Meurindu versi Cut Dhea.

LDR Multi-part

Kali ini ingin merindukan seseorang yang selalu di hati, yang tiga tahunan ini tinggal seatap dengan saya. Suami tercinta. Lho, sudah hampir 17 tahun menikah kok baru 3 tahunan tinggal seranjang lagi? Hehe... tepatnya selama belasan tahun sebelumnya kami saling long distance. Pernah saya mengikutinya ke kota tempat tugas di daerah kabupaten, saya jalani mengajar dengan menempuh jarak yang memakan waktu seharian pergi dan pulangnya.

Akhirnya karena hamil, saya angkat bendera putih deh, tidak sanggup lagi meneruskan mendampingi suami di daerah tempatnya bertugas. Saya kembali ke rumah orang tua di Medan. Hingga anak kedua lahir pun saya belum bisa ikut bersama suami. Kami tetap LDR sampai anak ketiga pun hadir ke dunia ini.

ruang rindu
Ruang rindu saat LDR

Ternyata lama-lama capek juga "pisah ranjang" terus meskipun setiap akhir pekan kami pasti bertemu. Suami pulang ke Medan setiap Jumat malam. Istilah teman-teman kantornya sesama bapak-bapak tuh S3 (Setiap Sabtu Setor) hahaha, setor muka ke istri dan anak kali.

Setelah anak ketiga lahir, suami mutasi ke kota tempat saya ditempatkan pertama kali jadi dosen negara, Kisaran, Kabupaten Asahan. Senang sekali bisa mengasuh 3 anak bersama-sama, rasanya setiap bangun pagi itu semangat sekali memikirkan mau menyajikan menu apa untuk suami dan anak-anak. 

Kebahagiaan satu rumah itu ternyata ada batasnya juga ketika permohonan pindah saya ke perguruan tinggi di Medan dikabulkan oleh instansi induk yang mempekerjakan (LLDikti Wilayah I Sumatra Utara). 

Sebenarnya mengajukannya sudah sejak lama, rezeki disetujuinya pada saat itu. Lagi senang-senangnya tinggal bersama, eh pisah lagi, tetapi kami menganggap high energy end. Di instansi suami tak semudah itu untuk turut pindah ke Medan. Kami pun LDR lagi.

Ruang Rindu 

Jadi ingat lirik lagunya RAN - Dekat di hati 

Aku di sini dan kau di sana
Hanya berjumpa via suara
Namun ku slalu menunggu saat kita akan berjumpa
Meski kau kini jauh di sana
Kita memandang langit yang sama
Jauh di mata namun dekat di hati

Ruang rindu itu kami isi dengan saling video call, bahkan uniknya anak-anak sangat menantikan bisa mengerjakan PR Matematika live bareng ayahnya. Katanya ayahnya lebih punya banyak carcep rumus-rumus alias cara cepat mengerjakan soal ketimbang sama saya ibunya, hiks.

Setelah selesai urusan PR dengan anak, saya bincang-bincang berdua dengan suami. Ngobrol tentang apa saja terkait kami berdua dan anak-anak. Tetangga sebelah rumah, Pak Kepling (kalau di Medan istilah RT/RW kurang familier, Kepling adalah Kepala Lingkungan). Setelah bahan percakapan benar-benar habis, barulah sambungan VC kami diakhiri. Itu juga kalau ada yang terlupa disampaikan, dilanjutkan lagi di pesan WhatsApp.

Pokoknya biaya pulsa/internet (waktu itu belum pasang Wifi) di rumah, lumayan banyak, demi memperlancar komunikasi di antara saya dan suami, antara ayah dan anak-anaknya. 

Tak LDR Lagi

Ruang rindu di antara kami selalu ada, meski kini sudah tinggal di atap yang sama. Tidak lagi seperti yang dilukiskan lirik lagu RAN di atas, "Kita memandang langit yang sama" kalau sekarang sih "Kita memandang plafon yang sama" hehe.

Awal-awal suami di rumah lagi rasanya bersyukur terus menerus sampai di detik ini tetap berterima kasih. Karena merasa dianugerahi (kembali) keluarga yang utuh, tak cuma lewat layar smartphone. 

Bahkan sampai saat ini, sepulang kerja di senja hari, si bungsu langsung menghambur ke pelukan ayahnya. Padahal zaman pandemi mestinya tidak boleh asal berangkulan dulu, terpaksa deh saya bujuk si kecil agar tidak spontan menyentuh ayahnya. Setelah mandi, salat Maghrib, barulah bebas bercengkerama.

Biasanya kalau LDR-an, anak-anak selalu menghitung hari, ini sudah hari apa ya, cepat deh datang hari Jumat, sebab malamnya kami bersama-sama menjemput ayahnya di terminal bus malam. Sekarang Alhamdulillah kapan saja sebelum dan sesudah ayahnya berangkat kerja, anak-anak bisa ngobrol sepuasnya, melihat langsung dan menggelendot manja di tubuh ayahnya. 

Kesimpulan

Ruang rindu di hati berbeda sebelum dan sesudah kami menjalani LDR. Saat masih LDR, ruang rindu itu begitu terasa penuh sesak, bagaikan menabung rindu setiap harinya. Setelah kembali tinggal seatap, ruang rindu itu masih ada namun terasa lega. Rindunya senantiasa ada, namun dalam waktu sehari demi sehari saja.

Demikian secuil kisah saya tentang ruang rindu. Adakah kisah rindu dari teman-teman pembaca? Silakan tinggalkan di kolom komentar ya, terima kasih.

Salam,
Fadlimia Tantangan Tulisan Mingguan




11 komentar untuk "Ruang Rindu Di dalam Hati"

  1. Luar biasa kak Mia belasan tahun LDR. Aku cuma beberapa bulan saja (setahun setengah tapi kepotong Corona jadi bisa WFH) rasanya mau copot jiwa raga. Untung kita emak-emak bisa mandiri ya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha mau copot jiwa raga yaa sebenarnya itu istilah yang pas mewakili para pelaku LDR, tp mau gak mau harus dijalani ya kann... Demi demi,, haha

      Hapus
  2. Duuuuh kak Mia, ternyata pelaku LDM juga ya. Dulu shis pernah LDM pas studi teknik terapi pada anak di Solo selama sebulanan. Waduuuuuuh, hatiku kusut semrawut.
    Angkat Bros jilbab deh sama yang mampu sampe belasan tahun.

    Anyway, suka sekali sama analogi rindu dan luka nya deh. Uhuyyy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo kk suka sama lagu Meurindu-nya dong haha

      Hapus
  3. Saya dan suami bolak balik LDM an kak. Mulai dari hamil, lalu saya ditempatkan di kebun, terakhir suami yang harus S2 ke pulau Jawa. Saking seringnya LDMan, suami saya trauma nggak mau jauh-jauhan lagi untuk S3 nya. Dan yang kayak kk Mia bilang, mau jauh ataupun dekat, ruang rindu akan selalu ada. Tingkat kepenuhannya yang berbeda.

    BalasHapus
  4. awal menikah dan punya anak saya juga LDRan sama suami. Ketika anak berusia setahun (yang sulung) suami bekerja di Medan lagi.
    Tapi pekerjaanya kemudian punya projek ke kota lain sesekali, tapi perjalanan dinasnya bisa sampai dua bulan sekali pergi. walopun basednya di medan
    Alhamdulillah sekarang sudah tidak begitu lagi, PD pun paling semingguan..

    BalasHapus
  5. Ruang rindu pasti selalu menghiasi kami (suami istri) saat ldm. Padahal ldm kami gak pernah lama kak. Maksimal sepekan aja.
    Kalo dulu ldm karena suami sering kontrak kerja sama dinas Tarukim. Semenjak dinas Tarukim udah gak ada lagi, kami ldm karena suami nganter orang rental mobil ke luar kota.

    Anehnya ada satu babak kehidupan, saat kami gak pernah berjauhan. Tapi kami selalu saling rindu. Chat wa selalu bilang kangen padahal baru pisah setengah jam yang lalu.
    Ada juga babak di mana kami lagi berseteru namun saling merindu ketika ldm dan masalah kami menguap begitu saja.

    BalasHapus
  6. Pembahasan rindu, berat nih. Wes rinduing, sibuking, completing. Kalau saya mah gini. Hahaha … rindu ini memang kadang bikin bingung. Lupa kalau banyak kerjaan. Asyik merindu. Lelah dilatih rindu kek nya.

    BalasHapus
  7. Dulu waktu awal-awal nikah dan sedang hamil anak pertama, aku juga sempat LDR ma suami kak. Tapi cuma bertahan 5 bulanan karena sama-sama gak tahan, kalau jauh kami malah sering bertengkar. Setelah Auni lahir, aku mutusin buat ikut dan berhenti kerja.

    BalasHapus
  8. alhamdulillah, LDR tu berat bgt yaaa, makanya masih nimbang2 ulang kalau misalnya calon darikota luar, mau dibawa juga emang kitanya jg harus siap mental ya kak, kebayang kalo gak survive untuk mental sendiri huhu

    BalasHapus
  9. Hmm..jadi terkenang LDR-an dulu, emang hitungan bulan sih ya, cuma masa-masa itu kesulitan bertambah karena ortu lagi sakit.

    Kalau ingat itu yang Elva syukuri kesempatan relaksasi emosi, bonding dll yang bersifat personal sebelum kebutuhan lain dari seorang suami dan ayah.

    Elva doakan sakinah, mawaddah wa rahmah ya Ka Mia dan keluarga..

    BalasHapus

Pesan dimoderasi, terima kasih telah meninggalkan komentar yang santun. Sebab bisa jadi Anda dinilai dari komentar yang Anda ketikkan.