Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Faktor Penyebab Kegagalan Dalam Hidup

Setiap orang pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya. Entah itu berupa kegagalan besar ataupun kegagalan yang kecil. Namun, tak peduli besar atau kecilnya kegagalan, kita harus tetap mencari faktor penyebab kegagalan dalam hidup. 

Untuk apa? Tentu saja agar di masa yang akan datang kita tidak akan mengulang kembali kesalahan yang sama.

Faktor penyebab kegagalan dalam hidup

Banyak faktor yang menyebabkan seseorang menemui kegagalan dalam hidupnya. Secara garis besar ada dua yaitu, faktor eksternal dan faktor internal. 

penyebab kegagalan dalam hidup


Faktor Eksternal

Faktor eksternal bisa berupa faktor penyebab yang datang dari luar diri sehingga menyebabkan kegagalan dalam meraih suatu tujuan. 

1. Krisis ekonomi, politik, dan hukum

Misalnya seseorang ingin mulai membangun bisnis namun tidak diduga terjadi krisis di berbagai bidang yang terkait dengan usahanya. Bisa dari segi pembiayaan, kebijakan, dan persoalan regulasi perizinan. Akhirnya bisnis yang telah direncanakan dengan matang harus ditunda dulu demi menghindari kerugian yang lebih besar.

2. Rekan tidak memiliki komitmen

Faktor penyebab kegagalan dari luar diri bisa berupa memilki rekan yang tidak punya komitmen terhadap pencapaian tujuan. Saya teringat perkataan seorang doktor ekonomi 9 tahun lalu, saat berdiskusi tentang kepemilikan aset bergerak bagi sebuah keluarga.

Waktu itu dia menyatakan seseorang bisa membeli 1 unit mobil tergantung pasangannya (baca: istri). Mengapa? Karena jika memiliki pasangan yang komitmen pada penghematan keuangan keluarga dan tidak boros, membeli mobil bisa menjadi hal yang realistis. 

Namun dengan pemasukan yang sama, ada keluarga lain yang tidak sanggup menambah barang bergeraknya. Ternyata benar, istrinya tidak piawai menata keuangan rumah tangga dan cenderung konsumtif. Akhirnya gaji hanya habis untuk pengeluaran sehari-hari, bayar tagihan dan spp anak.

Di sinilah peran pasangan, yang saya samakan dengan rekan, jika tidak berkomitmen maka ia hanya menambah beban tim. Khusus untuk rumah tangga, suami dan istri wajib kompak seiring sejalan dalam mengatur keuangan keluarga. Semuanya bermuara pada satu tujuan, tidak berjalan sendiri-sendiri.

3. Perkembangan teknologi informasi

Lajunya perkembangan teknologi informasi dan iptek telah mengubah dunia khususnya pada masa pandemi seperti sekarang ini. Bagi orang yang memiliki personal agility dan grit dalam karakternya, hal ini dipandang sebagai peluang yang terbuka lebar.

Namun adakalanya sudah mengoptimalkan diri dalam memperbaharui perkembangan teknologi, seseorang tetap mengalami kegagalan. Bisa jadi saat ia merasa telah mumpuni pada penguasaan teknologi yang satu, muncul terus modifikasi teknologi yang baru. 

Sementara ia telah menginvestasikan dana yang cukup besar untuk itu. Maka tetap berujung pada kegagalan.

4. Minimnya dukungan dari lingkar terdekat

Lingkar terdekat adalah keluarga, jika keluarga tidak memberikan support, mungkin ada  peer group yang akan memberikan dukungan. 

Einstein sang penemu teori relativitas menangis saat menemukan secarik surat dari ibunya. Saat membaca surat itulah ia baru tahu kalau penyebab sekolah mengeluarkannya adalah karena ia nakal dan bodoh. Selama ini dia mendapat informasi dari sang ibu, kalau sekolah memberhentikannya sebab ia terlalu pintar hingga tak perlu bersekolah lagi di sana.

Ibu Enstein bijak dalam memilih kata-kata untuk menjaga semangat Enstein. Lihat, dukungan keluarga terutama ibu amat sangat menguatkan seseorang dalam meraih kesuksesannya. 

5. Lingkungan yang tidak kondusif

Saya pernah ditempatkan di kampus pada suatu daerah. Awalnya saat menjadi dosen biasa, saya sangat menikmati tupoksi tri darma sebagaimana biasanya. Saya sangat mencintai profesi mencerdaskan kehidupan bangsa ini.

Sampai pada suatu waktu saya dilibatkan dalam manuver dukung mendukung salah satu calon dekan. Merasa belum punya bekal yang cukup untuk berada dalam suatu iklim politik kampus yang bikin tidak nyaman, saya memilih pindah home base. 

Sebagai dosen negara, saya bisa memilih akan mengajar di kampus mana saja di seluruh Indonesia ini. Maka setelah membicarakannya dengan suami, mensurvei kampus yang sekiranya masih membutuhkan dosen, minta izin baik-baik pada pimpinan di kampus sebelumnya (lolos-butuh), maka dengan memantapkan hati saya memilih hijrah, untuk ketenangan dan profesonalitas saya sebagai dosen.

Terasa sekali setelah pindah, saya mampu lebih produktif menghasilkan karya ilmiah. Tidak terganggu oleh kebisingan politik kampus. Karena mungkin memang tidak ada dan kalaupun ada tidak terdengar suaranya. Semuanya saling bergandengan tangan membesarkan kampus. Saya menyukai lingkungan kondusif yang seperti ini. 

Faktor internal

Selain faktor eksternal, penyebab kegagalan dalam hidup bisa timbul dari diri sendiri, kerap disebut sebagai faktor internal. Apa saja faktor internal itu? Berikut penjabarannya.

1. Mudah menyerah

Hidup ini sejatinya berkompetisi. Apa jadinya saat sel sperma ayah menyerah saat ia dan 350 juta pesaingnya melesat berlomba cepat untuk menuju sel telur ibu. Sel sperma yang menyerah itu berhenti dan malah berbalik arah tidak ingin bersaing melalui tuba falopi. Maka tidak akan ada diri kita. 

Maka default-nya, kita itu sudah ditakdirkan untuk menjuarai perlombaan. Hanya saja ada orang-orang yang pantang menyerah, dan ada orang-orang yang mudah menyerah. Itulah yang membedakannya. Jadi, mudah menyerah adalah faktor dalam diri seseorang yang menyebabkan kegagalan dalam hidupnya.

2. Kurang bekerja keras

Mungkin hal ini suatu hal yang klise kedengarannya. Karena banyak orang mengaku sudah melakukan banyak upaya untuk mencapai tujuannya namun gagal. Faktanya memang kurang bekerja keras.

Bekerja keras saja tidak cukup, namun mesti diiringi dengan kerja cerdas, kerja tuntas, dan kerja ikhlas. Sebagaimana rahasia sukses berbisnisnya Sandiaga Uno, Menparekraf RI saat ini. Kerja keras tidak semata-mata mengandalkan otot, namun juga memerlukan kerja cerdas (otak), yang dilandasi kerja ikhlas (hati). 

3. Tidak disiplin

Memilih resign dari perusahaan, menanggalkan predikat karyawan kantor, lalu membuka usaha adalah hal yang sangat diimpikan banyak orang. Namun setelah mendirikan bisnis lalu tak lama kemudian gulung tikar, bisa jadi faktor penyebabnya adalah tidak adanya disiplin.

Pegawai kantor sedari pagi sudah berada di jalan, menuju kantor, sementara setelah berada di rumah, kemungkinan masih euforia dengan tidak adanya lagi jam sibuk pagi hari, tidur kembali menjadi kebiasaan dan akhirnya usaha yang dibangun terbengkalai, hidup segan mati tak mau. 

Jadi, seperti iklan smartphone yang pernah dibintangi Dian Sastro Wardoyo dan Oka Antara. Ceritanya Dian sudah beberapa waktu mengundurkan diri dari kantor tempatnya bekerja bersama Oka. Sementara Oka masih menjadi manajer di sana.

kurang disiplin

Mereka janjian ketemuan di suatu kafe, lalu Oka memuji betapa senangnya Dian saat ini, dan ia ingin mengikuti jejak Dian, resign. Sudah punya bisnis sendiri dan tidak berstatus menjadi orang gajian lagi. Dengan rendah hati Dian menerangkan, bahwa sebenarnya tak mudah jadi pebisnis. Butuh kedisiplinan yang tinggi dan kerja keras yang ekstra ketimbang saat menjadi karyawan dulu.

Saat mau lebaran Oka tinggal terima THR kan, sementara Dian harus pusing memikirkan THR untuk para karyawannya. Oka bisa menikmati liburan bersama keluarganya di hari raya, sedangkan Dian kadang tak mengenal kata libur. Menjadi pebisnis waktu kerjanya tidak menentu dan harus mengurangi jam istirahat.

Mendengar jawaban-jawaban Dian, Oka termangu. Seperti yang dikatakan Dian, kita syukuri saja kondisi yang berjalan saat ini. Meski masih menjadi manajer jadilah manajer yang kompeten. Jadi pengusaha, jadilah pengusaha yang visioner. Sehingga di mana pun kita berada akan selalu sukses dan berbahagia.

4. Terlalu cepat puas

Saya pernah menemui orang dengan faktor internal seperti ini. Ia sendiri yang mencukupkan rezekinya. Artinya ia merasa tak perlu melakukan ikhtiar lagi, yang penting perut hari ini sudah terisi.

Saya tidak setuju dengan prinsip hidup seperti yang dikatakannya. Rezeki tiap orang itu sudah dijamin langit, namun kita dianjurkan untuk menyempurnakan segala daya upaya terlebih dahulu. Setelah semuanya dilancarkan, barulah bertawakkal, berserah diri pada semua ketentuan-Nya. 

5. Malas untuk melakukan perubahan

Dunia terus mengalami perubahan. Maka sudah sepantasnyalah kita ikut berlari bersama zaman. Jangan mau ketinggalan karena malas berubah ke arah yang lebih baik. Berubah atau kalah.

Apalagi yang diharapkan jika sudah ada kata malas. Guru saya waktu SD dulu pernah bilang kalau penyakit M (malas) ini tidak ada obatnya. Maka sebisa mungkin mencari lingkungan yang membuat kita terpacu terus berbuat hal-hal yang produktif. 

faktor kegagalan adalah mudah menyerah

Kesimpulan

Faktor penyebab kegagalan dalam hidup ada dua secara garis besarnya. Faktor eksternal dan faktor internal. Faktor Eksternal meliputi krisis ekonomi, politik, dan hukum, rekan tidak memiliki komitmen, perkembangan teknologi informasi, minimnya dukungan dari lingkar terdekat, dan lingkungan yang tidak kondusif.

Faktor internal mencakup, mudah menyerah, kurang bekerja keras, tidak disiplin, terlalu cepat puas, dan malas untuk melakukan perubahan.

Demikian artikel saya mengenai faktor-faktor penyebab kegagalan dalam hidup. Jika ada yang perlu didiskusikan bisa tinggalkan komentar ya. Terima kasih.

Salam, 
gagal dalam hidup











20 komentar untuk "Faktor Penyebab Kegagalan Dalam Hidup "

  1. kadang lebih dominan dari sisi internal sih klo aku lihat, termasuk misal salahin orang lain. Padahal klo dipikir ya semuanya balik sama kita sendiri yang kadang masih kurang fight dengan kondisi yang ada

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas, intinya maksimalin usaha dulu ya

      Hapus
  2. Tahun 2020 kalo boleh saya bilang adalah faktor kegagalan eksternal saya. Hampir jobless tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Beruntung masih bisa optimis dan bangkit lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, tuh,, kl orang optimis langsung bangkit lagi ya Mbak...

      Hapus
  3. Zaman ini kayaknya bagi yang sulit menerima keadaan bakal kalah juga, teknologi kalau tidak dipelajari bakal bikin kita mundur, satu-satunya jalan menuntaskan faktor eksternal ini dengan terus belajar sepanjang masa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup, belajar juga penuh ujian dan tantangan, dibutuhkan sikap pantang menyerah saat mempelajari sesuatu yang relatif tidak mudah

      Hapus
  4. Seringnya kegagalan itu dari internal diri kita sendiri ya Uni Mia. Makanya orang tua kita bilang, jangan mengambil keputusan saat sedang marah, sedang capek, atau pikiran sedang kacau. Makanya kalo mau bilang menyerah, hendaknya tidak dikatakan saat sedang lelah.

    BalasHapus
  5. Apapun posisi kita akan muncul sisi positif dan negatifnya. Misal saat menjadi karyawan yang terikat jam kerja. Mungkin kita lihat enak bgt pengusaha, bisa mengatur waktu semaunya. Hmm, padahal ada banyak hal yg ga terlihat, seperti tekanan, tanggung jawab dll yg belum tentu sanggup kita hadapi.

    BalasHapus
  6. Kurang disiplin dan malas perpaduan yang pas banget buat gagal ya kak, apapun usahanya kurasa. Bener kita memang harus ada dilingkungan yang beratmosfer baik agar ide-ide kita bisa muncul dan terealisasikan

    BalasHapus
  7. Perkembangan teknologi informasi inilah yg kadang buat usaha kita kalah bersaing. Kadang baru mo stabil eh ada teknologi baru, jd mulai lagi kayak dari O hehe

    BalasHapus
  8. Intinya sih jangan menyerah ya mbak karena perjuangan dalam menjalani perjalanan di sisa usia kita ya harus diupayakan dengan baik kalau gampang menyerah ya kasihan raga kita ini hehehe

    BalasHapus
  9. saya akui saya kurang disiplin dalam bekerja apalagi menulis blog karena butuh penyemangat hehe pas udah ada penyemangat eh malah gak disiplin lagi deh duhh segitunya harus bisa on fire dan gak boleh gagal dalam hidup

    BalasHapus
  10. Cerita beberapa tokoh dalam artikel ini buat saya makin sadar kalo semua hal yg mereka dapat dilakukan dengan kerja keras. Saya sendiri kadang masih suka nunda pekerjaan padahal udah bikin to do list harian. Semoga saya bisa punya agility dan grit buat jalanin hidup!

    BalasHapus
  11. Harus lebih fokus ke diri sendiri ya kak. Ga boleh cepat nyerah harus semangat.

    BalasHapus
  12. Bener nihh, terlalu cepet puas inii emang salah satu faktor yg harus dihindarii. Kalau sudah tercapai 1 target, baiknya bikin target baru lagi yah

    BalasHapus
  13. Ada banyak sekali faktor penyebab kegagalan dalam hidup. Setiap orang mungkin berhadapan dengan faktor yang berbeda. Langkah awal yang terbaik untuk menangani itu menurut saya adalah mencari tahu dengan baik faktor mana yang berperan menghambat kesuksesan kita terlebih dahulu. Agar bisa diatur strategi untuk mengatasinya

    BalasHapus
  14. kegagalan dalam hidup rupanya lebih banyak datang dari sendiri ya. jadi yang perlu kita lawan itu sebenarnya diri kita sendiri. jangan mudah menyerah, tak boleh cepat puas, disiplin. wah makasih pengingatnya lewat tulisan ini. jadi bisa ngaca.

    BalasHapus
  15. Baca ini jadi inget filosofi teras.
    Kalau buatku kegagalan lebih banyak karena faktor dari dalam diri sendiri. Hihi. Sekarang udah mulai belajar untuk ngga menyalahkan orang lain kalau lagi jatuh. Soalnya ya emang itu di luar kontrol kita ya mba

    BalasHapus
  16. Baik internal dan eksternal, sama-sama memperbesar gagal dan mematikan harapan ya mbak. Kita kudu bisa jadi manusia yang positif memang

    BalasHapus
  17. Qodarulloh masyaAllah...banyak sekali ya faktor dari kegagalan itu. Dan saling terkait, ga bisa kita pisahkan internal dan eksternal itu...pasti ada kaitannya. Pernah juga mengalami seakan baik2 saja, tapi ada aja ujian kegagalan ya bunda mia

    BalasHapus

Pesan dimoderasi, terima kasih telah meninggalkan komentar yang santun. Sebab bisa jadi Anda dinilai dari komentar yang Anda ketikkan.