Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menumbuhkan Grit Dalam Diri Anak

Menumbuhkan Grit dalam diri anak adalah suatu ikhtiar orang tua untuk memunculkan ketabahan atau kegigihan dan menjadikannya menjadi karakter yang menetap dalam diri anak. Bagi yang belum mengenal Grit, mari kita berkenalan terlebih dahulu ya. Yang sudah mengetahui, baca sekali lagi tak apa-apa kan.

Mengapa penting menumbuhkan Grit?

Saya memiliki sepasang anak remaja yang belajar di pondok pesantren. Sedari mereka duduk di kelas 4 SD mereka kami ajak menjenguk kakak sepupunya di sekolah berasrama itu. Dengan harapan, begitu lulus sekolah dasar mereka dengan sukarela bersedia menuntut ilmu di tempat belajar bernuansa keislaman. 

Alhamdulillah sesuai dengan rencana, anak-anak lulus seleksi masuk pesantren dan sekarang si sulung menginjak 4 tahun di sana, sementara adiknya juga sudah 2 tahun menjadi santri di pesantren yang sama.

Persoalan tak berhenti sampai melihat sebaris nama tersemat di papan pengumuman dan website resmi pesantren. Sesudahnya seakan terbentang aral melintang yang harus dijalani seorang santri baru.

Bukan siapa yang paling pintar tetapi siapa yang mampu bertahan

Beradaptasi menjadi seorang santri memiliki sejumlah tantangan tersendiri. Berdasarkan pengalaman anak-anak saya, berikut hal-hal yang mesti dihadapi.

Jadwal harian yang padat

Tinggal di pesantren berarti harus ikhlas menjalani jadwal harian yang padat dimulai dari pukul 4.00 WIB. Untuk kelas yang sudah senior bahkan lebih cepat lagi. Selain salat malam, juga bertugas membangunkan adik-adik kelas di bawahnya. Untuk bersiap-siap melaksanakan ibadah subuh.

Syukurnya karena di rumah sudah dibiasakan bangun subuh, anak-anak tidak mengalami kesulitan yang berarti. Berjalan kaki ke sekolah yang masih satu area dengan pondok, cuma beda kompleks, mengikuti ekstra kurikuler sesuai passion, piket membersihkan rayon (kamar dan selasar asrama), sampai akhirnya tiba waktu istirahat malam. Esoknya begitu lagi, tanpa TV, ponsel, dan gawai lainnya. 

No gadget at all

Di saat anak-anak lain seusia mereka asyik mengutak-atik ponsel, mereka disibukkan menekuni hafalan mufradat (kosa kata bahasa Arab) dan vocabulary. Jika telah selesai menambah hafalan, sesuai jadwal harian mereka pun beralih ke aktivitas berikutnya. 

Kebetulan anak-anak saya suka sekali menggambar. Khususnya si sulung. Di bawah divisi seni ia menyalurkan hobinya dengan mengikuti program rutin menggambar sketsa. Bahkan di event 17 Agustusan, maulid nabi, dan hari perayaan lainnya di dalam maupun luar pesantren, ia menjuarai banyak kompetisi.

Jadi ada sisi positifnya juga anak remaja dioptimalkan waktu dan energinya untuk mengasah minat dan bakat sesuai dengan passion-nya. Meski saat tiba waktu liburan dan mereka pulang ke rumah, kami memperkenankan peminjaman gadget dengan S&K yang harus ditaati. 

Barang yang sering hilang

Hidup dengan banyak orang memiliki keunikan yang harus dipahami dengan baik. Datang dari latar belakang, tradisi, adat istiadat dan budaya yang berbeda-beda, pola asuh orang tua yang juga tidak sama, serta lingkungan sebelum masuk pesantren, bisa jadi menjadi tantangan beradaptasi untuk bisa memiliki kemampuan menjaga barang masing-masing.

Setiap hari ada saja barang yang di-ghasab (baca: digosob) yang berarti hilang. Bahkan seakan sudah menjadi hal yang lumrah jika nekat mondok berarti harus rela menghadapi kenyataan barang-barang lenyap satu demi satu.

Sebenarnya tidak sepenuhnya dicuri santri lain sih. Bisa juga karena malas repot-repot menggunakan kepunyaan sendiri tinggal memakai punya teman saja, urusan temannya merasa kehilangan, itu perkara nanti deh.

Maka jangan heran jika di minggu dan bulan pertama anak masuk pesantren, ketika orang tua mudhif (bertamu) menengok anak, melepas rindu dan ingin mengetahui kabar beritanya, orang tua harus siap mendengar info dari buah tercinta bahwa sandal, handuk, gayung ember plastik, baju (termasuk pakaian dalam), peralatan sekolah, jilbab, kaus kaki, sepatu dan sebagainya, secara bergantian digosob orang. Tidak pada tempatnya pada saat hendak dipakai.

Apa yang harus dilakukan orang tua? Jangan ikut panik. Kalau motivasi dari suami saya, 

Biarin gayung, kaus kaki, dan lain-lain itu hilang. Toko yang menjualnya masih banyak. Yang penting semangat anak-anak untuk mampu bertahan hidup di sana, tidak ikutan hilang. Doakan saja rezeki orang tua mengalir lancar dan berkah, insyaallah barang-barang yang raib itu bisa dibeli lagi.

Menumbuhkan Grit dalam diri anak

Ada sebuah buku menarik karangan Angela Duckworth berjudul Grit: The Power of Passion and Perseverance, sudah dialihbahasakan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Grit: Kekuatan Passion dan Ketekunan.
tumbuhkan grit


Hal terpenting untuk sukses bukanlah bakat tetapi ketekunan

Sebelumnya pada tahun 2013 kanal Youtube TED menayangkan penyampaian si ibu penulis buku psikologi populer ini mengenai Grit. Persis judul buku yang sekarang bisa dibaca hari ini.

Mengapa Grit dikatakan sebagai penentu kesuksesan?

Kesuksesan dapat diraih oleh orang-orang yang memiliki bakat bawaan. Demikian hasil penelitian para psikolog selama puluhan tahun. Namun punya bakat bawaan saja faktanya tidaklah cukup. Sebut saja orang-orang sukses di dunia ini, BJ. Habibie. Bill Gates, Mozart, dan Steve Jobs. 

Kehebatan mereka di bidangnya masing-masing begitu memukau. Jenius, berbakat, dan sangat menginspirasi lahirnya banyak orang sukses lainnya.

Kita lantas menyimpulkan terlalu cepat bahwa orang-orang hebat ini mencapai keberhasilan karena memang sudah memiliki bakat dari sononya. Tetapi tahukah kita bahwa Mozart membutuhkan dua puluh tahun berkarya menjadi komponis musik klasik.  

Bill Gates dengan kaidah 10.000 jam terbangnya untuk bisa dikatakan mampu. Pasca keluar dari Harvard University ia pun intens belajar dan berlatih membuat aplikasi software nonstop selama tujuh tahun! Tak heran jika ia dinobatkan sebagai salah satu orang terkaya di dunia dengan perusaahaan raksasanya, Microsoft.

Dari dua contoh orang-orang inspiratif di atas memberikan sebuah kesadaran pada kita. Bahwa kunci sukses yang sebenarnya tidak melulu karena bakat bawaan. Seringkali secara refleks respons yang disampaikan kepada anak berprestasi adalah "Wah, hebat... anak berbakat." Tidak peduli sekeras apa si anak berlatih untuk sampai pada pencapaiannya saat ini. 

Cara menumbuhkan Grit pada anak

Grit dalam buku ini berarti ketabahan atau kegigihan dalam menjalani suatu proses menuju sukses. Sudah diketahui bersama bahwa untuk menjadi sukses pastilah ada faktor penghambat yang harus diatasi. 

Nah, ketabahan atau kegigihan berlatih, mencoba tanpa berhenti, tekun, dan pantang menyerah, berdasarkan hasil penelitian, lebih dominan mengantarkan seseorang kepada gerbang kesuksesan

Perhatikan rumus kesuksesan dalam buku Grit:

Bakat X Upaya = Keterampilan  Keterampilan X Upaya = Prestasi 

Lagi-lagi upaya (kerja keras, kegigihan, ketekunan) yang membuat bakat menjadi sesuatu. Jika bakat saja atau keterampilan saja, akhirnya mendapatkan hasil akhir yang "b" aja alias biasa-biasa saja.

Kaitannya dengan cerita anak-anak saya yang sampai hari ini masih bisa bertahan di pesantren, bahkan yang sulung menyabet 10 kali  juara I lomba sketsa wajah, menggambar, melukis dan yang sejenisnya,  adalah adanya Grit.
mengasah Grit anak
Anak nomor satu dan dua kami, keduanya tinggal di pesantren

Mereka tabah dan gigih dengan rintangan yang ada di pesantren. Jadwal harian yang melelahkan, tidak adanya hiburan TV dan gawai, dialihkan dengan saling bercanda satu sama lain, berolahraga, berkesenian, dan sesekali nonbar film edukatif menggunakan proyektor di halaman asrama. 

Putra saya bercerita, dulu awal-awal mondok, ada temannya yang hanya bertahan dua hari sebab tidak sanggup dengan hilangnya barang-barang pribadi. Kemudian ada yang menangis karena berpisah dari ponsel pintar kesayangannya di rumah, akhirnya minta pulang.

Maka bisa disebut juga, untuk bisa bertahan menuntut ilmu di pesantren, diperlukan Grit dalam diri anak. Hari demi hari yang "sulit" di sana harus dialami demi bisa bertahan sampai garis finish nantinya lulus dari pesantren. 

Secara umum, cara menumbuhkan Grit dalam diri anak berdasarkan rumus kesuksesan Angela Duckworth menurut saya adalah sebagai berikut:

1. Temukan bakat anak

Semua anak adalah bintang, termasuk anak berkebutuhan khusus sekalipun. Ada ahli yang mengatakan, sebut anak dengan "anak" saja tanpa ada embel-embel apapun. Allah SWT telah menganugerahkan kelebihan dan kekurangan untuk setiap manusia, termasuk anak-anak kita. Tugas orang tua menemukan bakat bawaan yang saya umpamakan bagai intan berlian dalam diri anak


2. Carikan wadah untuk mengasah bakatnya

Bakat masih merupakan sebuah potensi tersembunyi (laten). Diperlukan suatu ikhtiar untuk membuatnya tersembul keluar. Apalagi agar membuahkan manfaat dan menjadi suatu keahlian bagi anak untuk masa depannya. 

Setelah bakat anak ditemukan, langkah selanjutnya adalah mencarikan wadah untuk mengasah bakatnya. Jika orang tua memiliki waktu yang cukup luang untuk anak, bisa membuat sendiri project-project untuk menyalurkan bakat anak. Jika tidak bisa, maka anak bisa diarahkan ke tempat kursus, ke platform dan media berbasis passion yang banyak menjamur belakangan ini. 

3. Beri semangat dan motivasi

Belajar dan berlatih terus untuk menumbuhkan Grit dan mengubah bakat menjadi keterampilan. Pasti ada saatnya anak-anak lelah, bosan dan ingin beralih ke hal lain entah karena ikut-ikutan temannya atau memenuhi rasa penasarannya. 

Saat seperti ini dibutuhkan peran ikhlas orang tua untuk memberi semangat dan motivasi kepada mereka agar pantang menyerah dan setia pada jalurnya.

Orang tua bisa mengajak anak membaca informasi tentang Michael Jordan yang berlatih ribuan jam sampai menguasai keahlian basketnya. Begitu juga Lionel Messi dengan sepak bolanya. Semuanya bekerja keras demi menjadi seseorang yang sukses di bidangnya.

Namun tetap harus dipertimbangkan pula kondisi dan perasaan anak. Namanya masih anak-anak tentunya belum bisa berkomitmen dengan sungguh-sungguh. Intinya anak-anak harus berbahagia dalam mengasah passion-nya.

4. Apresiasi setiap prestasi

Jangan lupa memberikan apresiasi untuk setiap prestasi yang ditorehkan anak. Bagaimana pun ia telah berupaya semaksimal mungkin agar menjadi yang terbaik. 

Orang tua akan kehilangan senyum anak apabila mendikotomikan capaian prestasi hanya untuk yang besar-besar saja. Misalnya juara olimpiade sains internasional. Saat anak meraih juara harapan II olimpiade Matematika tingkat kecamatan, lalu sikap ayah atau ibu berubah. 

Berkompetisi adalah salah satu sarana menunjukkan pada dunia luas bahwa seseorang memiliki bakat di bidang tertentu dan ia sedang mengasahnya menuju keterampilan dan prestasi.

Jadi ketika anak merasa tidak nyaman mengikuti perlombaan, sebaiknya jangan dipaksa karena akan sia-sia. Carilah sarana lain yang lebih sesuai untuknya demi menumbuhkan Grit dalam diri anak.

5. Selalu mendoakan anak

Semestinya mendoakan anak tidak dilakukan di akhir setiap ikhtiar. Bukan juga hanya di awal upaya, tetapi di setiap proses yang dilalui anak. Sebab banyak hal yang terjadi dalam hidup ini karena faktor X. Maksudnya atas berkat rahmat Allah SWT.

Maka dari itu sangat penting menyebut nama anak dan membayangkan wajahnya mendoakan mereka agar dimudahkan dalam menambah jam terbang, demi meraih kesuksesannya. Insyaallah dalam diri anak-anak akan tumbuh Grit yang ingin ditanamkan orang tua.

Kesimpulan

Cara menumbuhkan Grit dalam diri anak menurut saya bisa diderivasikan dari rumus kesuksesan Angela Duckwort pengarang buku best seller internasional, Grit: The Power of Passion and Perseverancehe Power of Passion and Perseverance. 

Grit diartikan sebagai kegigihan, ketekunan, dan kerja keras. Bagaimana cara menumbuhkan Grit? Temukan bakat anak, wadahi bakatnya, beri semangat dan motivasi, apresiasi setiap prestasinya, dan jangan lupa doakan.

Demikian artikel saya kali ini mengenai Grit, semoga ada manfaatnya ya, terima kasih. Dinantikan komentar-komentarnya.

Salam,
tumbuhkan Grit pada anak








33 komentar untuk "Menumbuhkan Grit Dalam Diri Anak"

  1. Intinya lebih keusahanya untuk mencapai sukses ya kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yup betul, betul, betul. Bukan bakat bawaan semata tetapi kerja kerasnya

      Hapus
  2. Alhamdulillah ya Mbak diberikan kesempatan untuk menyekolahkan di pesantren. Banyak orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di pesantren namun belum diberi kesempatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insyaallah memang diniatkan anak-anak semua pendidikan dasar menengahnya di pontren. Ntar pendidikan tinggi bebas mau di mana, yang penting basicnya pesantren.

      Hapus
  3. uwwww sepakat banget mbak. bukan siapa yang paling pintar tapi siapa yang bisa bertahan. dulu aku juga tinggal di pesantren, dan nggak ada gadget. wkwkwk
    semoga banyak orang tua yang membaca artikel ini biar bisa menumbuhkan grit sejak dini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbak Ella alumni pondok ya, wah membanggakan yaa, sering menang lomba blog, jago desain grafis pula... kereen

      Hapus
  4. Aspiratif sekali Mbak tulisannya Insya Allah kan ku terapkan ya untuk anak-anakku sehingga bisa menjadi salah satu skill yang dimiliki oleh anak-anakku

    BalasHapus
  5. Bakat itu kalau tidak di asah, ya tidak berkembang. Dan itu perlu ketekunan dan kegigihan dalam menjalankannya. Aku tertarik nih, Mba dengan bukunya untuk mengenal Grit lebih dalam.

    BalasHapus
  6. Ya Allah, ilmu dan pemahaman yg sangat saya perlukan ini. Fahmi putra saya, ia ingin masuk Gontor padahal tahu sendiri ke sana itu kan susah dan berat...
    Ilmu dari artikel ini sangat penting buat saya dan anak. Terimakasih
    Izin save juga ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Usaha terus kak.. insyaAllah bisa.
      Tetangga saya di Medan ini ada orang asal Kediri. Ketiga anaknya semua mondok di Gontor.
      Yang nomer dua baru lulus dari unida. Universitasnya Gontor. Cerita tentang Gontor emang luar biasa.

      Hapus
  7. Orang pintar bisa kalah sama orang tekun. Begitulah implementasi GRIT menurut saya. Istilah baru atau lama sih GRIT ini uni? Saya baru baca beberapa ulasannya di laman kawan2 blogger.

    BalasHapus
  8. Saya baru tahu tentang ghosob dari cerpen di majalah Annida waktu masih kerja di Bandung.
    Palung diajak masantren di MTs. kampung saya jika lulus MI. Ayahnya belum mengizinkan karena berat berpisah dengan anak semata wayang.
    Barangkali jika. Sudah MTs. barulah melihat apakah Palung akan tergerak.
    Mentalnya hatus dipersiapkan lebih dulu karena belum bisa mandiri. Takut belum siap dengan drama di pesantren.
    Jika sudah siap, barulah akan saya arahkan. InsyaAllah.
    Artikelnya bermanfaat sekali bagi saya. Terutama mengenal grit. Terima kasih.

    BalasHapus
  9. Masya Allah, inspiratif sekali Mbak Mia....Salut saya!
    GRIT: kegigihan, ketekunan dan kerja keras. Setelah ketemu potensi anak, beri ruang, dukung, kasih motivasi dan doakan...Jadi pengingat diri ini. Semoga ananda soleh/solehah dan menjadi penyejuk mata dan hati orangtuanya

    BalasHapus
  10. Baru tau istilah grit ini kak Mia.. memang benar, yang menang bukan yang paling pintar atau paling kuat, namun yang mampu bertahan.
    Salah satu media anak tahan banting memang tinggal di pondok. Karena mereka akan mulai mengurus dirinya sendiri. Mulai mencuci hingga menjaga barangnya.
    Dulu si adik selalu kehilangan bukunya karena ia dikenal suka membaca. Tapi mama selalu memotivasi dia biar tahan banting.
    Cerita pondok memang gak pernah abisnya. Kalo laki-laki digigit kepinding, kalo anak perempuan jadinya berkutu. Hihihi tapi kegigihan mereka nantinya akan mempu membuat mereka bertahan di dunia luar.

    BalasHapus
  11. Sukses terus tuk anak²nya ya bun.. saya baru tau tentang istilah grit ini. Thanks sharingnya

    BalasHapus
  12. MasyaAllah bener banget yaa mba. Yang nomer terakhir itu kadang terlupa. Doa untuk anak, dalam keadaan apapun itu.. Ngga hanya pas lagi down. Atau anak lg bermasalah tapi tiap hari

    BalasHapus
  13. sedari kecil anak sudah punya GRIT itu hebat lho mbak. apalagi masuk pesantren itu bener-bener melatih mental ya. salut saya

    BalasHapus
  14. Terharu bacanya..
    Sampai sekarang saya masih berusahan untuk mencari apa passion anak-anak saya.
    Terus terang, saya berikan waktu untuk bergawai ke dia.
    dan dipantau apa yang dilihatnya, Alhamdulillah semua yang dilihat yang bermanfaat.
    Tapi masih belum nemu, passion yang sebenarnya.

    BalasHapus
  15. Pengen juga masukkan anak ke pesantren.
    dah dibincangkan ke anaknya,
    tapi sepertinya kurang berminat.

    BalasHapus
  16. Saya pun membaca buku Grit nya mba. Banyak hal yang didapatkan dan semakin paham passion yang dijalani. Btw,anak-anak yang di pesantren memang harus sudah senang menjalani dari awal ya. Saya banyak juga melihat banyak yang gak bertahan hingga lama ketika masuk pesantren apalagi jadwal kegiatan padat sering buat gak betah dan lelah.

    BalasHapus
  17. Masyaallah sangat menginspirasi bukunya ya mbak, apalagi teori sangat bermanfaat untuk kedepannya insyaallah yang akan menjadi orang tua hihi

    BalasHapus
  18. MasyaAllah takjub dengan putra dan putrinya kak Mia yang sejak usia dini sudah mau masuk ponpes. Perjuangan berat juga buat kak mia pasti waktu awal-awal ditinggal mondok ya kan? Hehehe semoga kelak Putra-putrinya sukses dunia dan akhiratnya ya kak

    BalasHapus
  19. Jadi tahu apa itu grit. Ternyata kunci kesuksesan bukan cuma kepandaian dan kemahiran saja, ada yang lebih dari itu ya Mba. Kegigihan dan tekad yang kuat mendukung kemauan seseorang untuk terus maju dan berusaha meraih harapannya.

    BalasHapus
  20. Baru tau istilah grit dari artikel kak mia ini, kalau boleh tau dari usia berapa kita dapat menumbuhkan grit ke diri anak ya?

    BalasHapus
  21. Berarti Grit ini pelengkap dari passion ya. Tekun. Maju terus walau badai menghadang.

    Baca ini akhirnya aku paham kenapa kalo masuk pesantren, barang suka hilang. Soalnya dari cerita kakakku yang tinggal di pesantren, begitu memang. Tapi lama lama dia santai.

    BalasHapus
  22. memiliki mental grit memang harus sudah dibangun dari kecil ya mba, ini penting bangte buat saya nanti untuk mendidik anak-anak dari kecil untuk punya mental gigih seperti ini, karena memang menjadi salah satu faktor kesuksesan

    BalasHapus
  23. Wah bukunya bagus sekali jadi pengen beli.
    Ternyata kunci kesuksesan bukan cuma kepandaian dan kemahiran saja, ada yang lebih dari itu ya.
    Kalau boleh tau usia berapa ya diperkenalkan tentang grit, apakah anak mulai masuk SD atau masih di PAUD?

    BalasHapus
  24. Nah bener nih ketekunan dan kegigihan itu penting banget, masalahnya mbak anak zaman now suka yg instant ga sabar berproses dan terlalu menggampangkan. Jadi sebagi ortu atau orang dewasa pendamping anak perlu ekstra pehatian ya supaya ketekunan dan kegigihan anak terus terasah.

    BalasHapus
  25. Sangat beruntung anak jika memiliki orangtua yang menumbuhkan grit pd anak ini, krn bagaimana pengalaman masa kecil tentunya membentuk kala dewasa nanti. Setuju kl anak jarang dg gadget, krn mereka kan fast learner jadi lebih baik melakukan hal yg lebih bermanfaat saja

    BalasHapus
  26. unutk memperdalam kajian soal Grit, barangkali Atomic Habit yang ditulis James Clear atau Mindsetnya Carol S. Dweck bisa dicoba. kalau kepingin lebih dalam lagi, Deep Worknya Cal Newport dan The Power of Habit-nya Charless Duhigg juga bagus. hehe

    BalasHapus
  27. Tau GRIT setelah nonton TedTalk Angela Duckworth ini, tapi belum pernah baca bukunya. Masuk wishlist buku yg bakal dibaca supaya diri ini bisa tekun melakukan sesuatu yg disenangi dan akhirnya bisa jadi ahli di bidang itu.

    BalasHapus
  28. masyaAllah mantap kali kata2 suami kak Mia. bener kali ya kak, usaha bertahan itu lebih sulit ditumbuhkan dibandingkan mereka repor kehilangan barang2🙂 ada passion kalo males sama aja kurang maksimal, tapi ada kegigihan ditambah passion pula makin mantap ya kak. apakah GRIT ini cuma buat anak2 kak, bisa buat yg dewasa bukan sih?

    BalasHapus
  29. Wuah, saya jadi auto ikutan gigih juga nih. Masih belajar pun menjadi orang yang gigih. Sejak dulu pun ingin saya tularkan juga ke adik-adik. Hanya saja, karena saya sendiri sibuk dan mereka enggak bersama saya pas masa anak-anak. Lepas tangan deh. Sekarang nih saya dah besar, mereka pun juga sudah besar. Malah kayaknya ngerasa susah buat diberi tahu. Bingung pun cara mengomunikasikannya. Terlebih lagi enggak punya modal buat mancing mereka menjadi orang yang gigih.

    BalasHapus

Pesan dimoderasi, terima kasih telah meninggalkan komentar yang santun. Sebab bisa jadi Anda dinilai dari komentar yang Anda ketikkan.